Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.
Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?
Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 : Rekan Bisnis
Julukan status sebagai asisten rumah tangga membuat Anjani tidak baik-baik saja. Sedikit banyak telah memengaruhi hatinya. Seketika Anjani mengecek kembali penampilannya. Benar-benar seperti biasanya. Style gamis dan gaya berhijab Anjani pun tak berubah.
"Adakah yang aneh dengan penampilanku?" Anjani membatin.
"Maaf." Mario melingkarkan tangan ke pundak Anjani. "Perkenalkan. Ini istri saya. Namanya Anjani."
Begitu bangganya Mario memperkenalkan Anjani di depan Lovey. Sorot mata dan senyuman yang terarah untuk Anjani, menyiratkan bahwa Mario begitu nyaman dengan penampilan sederhana sang istri.
"Istri?" Lovey tampak belum percaya.
Mario mengangguk tanpa memudarkan senyuman. Situasi dan pengakuan Mario jelas membuat Anjani nyaman.
"Oh." Lovey ber-oh ria pada akhirnya.
Senyum simpul ditampilkan Lovey demi mengatasi situasi salah duga. Lovey memang tahu bahwa Mario telah menikah. Namun, sungguh Lovey tidak menyangka bahwa istri Mario penampilannya begitu jauh dari kata berkelas.
"Maaf," ucap Lovey pada Anjani. Mimik wajah Lovey lebih ramah kali ini.
"Bu Lovey sudah baikan?" Anjani perhatian.
"Hanya butuh istirahat sebentar," sahut Lovey yang kemudian berganti arah pandang lagi menuju Mario. "Maaf telah membuatmu repot."
"Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Lain kali usahakan untuk tidak melakukan perjalanan bisnis sendirian. Sewa bodyguard juga kalau mau." Mario memberi saran.
Lagi-lagi senyum Lovey mengembang. Kejadian semalam memang tidak pernah dibayangkan. Saran dari Mario memang patut untuk dipertimbangkan demi keselamatan ke depan.
"Akan kupertimbangkan lagi nanti. Terima kasih atas saranmu. Terima kasih juga telah menolong dan menjengukku. Dan ... " Lovey berganti melihat ke arah Anjani lagi. "Bu Anjani, mohon maaf sekali lagi atas kesalahpahaman tadi. Tidak seharusnya saya menyebut ...."
"Tidak apa-apa." Anjani lekas menyahuti sebelum Lovey mengulang kata asisten rumah tangga lagi.
Tidak mau berlama-lama, Mario mengajak Anjani pamit. Merasa berhutang nyawa, Lovey berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Mario. Seperti biasa, di akhir kalimat mereka tak jauh-jauh dari janji temu lagi dalam beberapa bulan ke depan demi bisnis yang mereka relasikan.
***
"Kalian sudah lama berelasi?" Anjani bertanya saat sudah di dalam mobil.
Mario tidak langsung menjawab. Dibantunya Anjani memasang sabuk pengamannya.
"Sejak kita pindah ke kota ini. Baru beberapa bulan."
"Oh."
Mario melirik Anjani. Sekilas memperhatikan mimik wajahnya yang terlihat sedang menyembunyikan rasa ingin tahu lebih.
"Lovey hanya rekan bisnis. Tidak lebih." Mario menjelaskan meski tak diminta.
"Ehehe. Kamu takut aku cemburu ya?" Anjani menebak pemikiran Mario.
"Iya. Belajar dari kesalahpahaman dengan Ayu dan Marisa, aku ingin lebih terbuka. Terutama dengan wanita-wanita yang cukup dekat keberadaannya."
"Jadi kamu sama Bu Lovey cukup dekat?"
"Kedekatan kami hanya sebatas rekan bisnis. Apa kamu ingin ikut bersamaku saat nanti ada pertemuan bisnis lagi dengan Lovey?" Mario menawarkan dengan senyuman.
"Tidak!" tolak Anjani.
Sungguh, Anjani tidak ingin bersikap sejauh itu. Sebisa mungkin Anjani menjauhkan diri dari sikap posesif. Memang, kecemburuan itu sesekali melanda. Namun, Anjani akan meredamnya dengan terus belajar untuk bersikap lebih dewasa.
"Aku percaya padamu," ungkap Anjani.
"Terima kasih, Sayang. Oya, sekarang kita jalan-jalan, yuk!"
"Kemana?" Anjani antusias menanggapinya.
"Kulineran mau?"
Senyum super manis ditampilkan. Anjani suka mendengar pilihan yang Mario tawarkan.
"Tau aja kalau aku masih doyan makan. Mie ayam boleh nggak?" Anjani penuh harap.
"Boleh, tapi sambalnya jangan sampai keterlaluan."
Mario mengingatkan. Mario tidak ingin Anjani mengeluh sakit perut akibat makan terlalu banyak sambal. Menyanggupi, Anjani pun mengangguk-angguk paham.
***
Masih terlalu pagi rupanya. Warung mie ayam yang dituju belum buka. Sembari menunggu, Mario menemani Anjani berbelanja di sebuah toko yang tidak jauh dari sana.
"Mas, kamu suka aroma body mist yang aku pakai, kan?" bisik Anjani.
"Suka. Asal kamu memakainya hanya saat bersamamu di rumah."
Anjani paham, kemudian meminta pramuniaga toko untuk membungkuskan sebotol body mist aroma Bunga Moringa, yang telah berhasil membuat Mario berlama-lama memeluknya.
"Mau beli apa lagi?"
"Sudah itu aja, Mas."
"Seriusan, nih?"
"Beneran."
Mario masih ingin menemani Anjani berbelanja. Namun, Anjani memilih untuk menyudahinya. Apa mau dikata, Mario pun akhirnya menurut saja. Apalagi Anjani memang tidak hobi menghambur-hamburkan uang untuk berbelanja.
Yang dinanti akhirnya buka. Warung mie ayam menjadi tempat tujuan selanjutnya. Sungguh tak disangka, rupanya di sana ada Riko, Isabel, dan Marisa. Ketiga teman kuliah Anjani itu tengah duduk bersama di satu meja.
"Mas, gabung sama mereka nggak masalah, kan?" Anjani khawatir Mario tidak nyaman.
"Tentu. Ayo duduk!" Mario mengekor di belakang Anjani.
Mario mengambil posisi duduk di dekat Riko. Sementara Anjani duduk berdampingan dengan Isabel dan Marisa.
"Kalian berdua lagi kencan, ya?" tebak Riko.
Mario-Anjani kompak tersenyum.
"Cuma jalan-jalan, kok. Kalian sendiri? Janjian bertiga, nih?" tanya Anjani yang tidak biasa-biasanya melihat Marisa ikut bergabung juga.
"Kak Bas lagi traktiran. Isabel ngajak aku. Pas jalan ketemu Marisa. Yaudah kuajak juga," jelas Riko.
"Hallo Pak Mario." Marisa justru menyapa Mario.
"Anjani, maaf aku nggak ajak-ajak kamu. Takut dimodusin kakakku," bisik Isabel.
Anjani terkekeh pelan. Sempat terheran dengan alasan yang Isabel sampaikan. Namun, menurut Anjani tindakan Isabel sudah benar. Beberapa waktu lalu Mario sempat salah paham karena Bastian. Akan mengkhawatirkan bila Anjani pamit pada Mario untuk traktiran makan bersama Bastian.
"Ternyata kita justru tetap ketemu di sini." Anjani masih berbisik.
"Untung kamu sama suamimu. Kakakku nggak bakal berani modusin kamu," sahut Isabel.
"Kayaknya Kak Bas nggak pernah modus, deh. Kamu ini pikirannya ada-ada aja."
"Anjani, kamu ini polos banget deh." Isabel tidak melanjutkan, karena Bastian datang.
Sontak saja semua mata tertuju pada kehadiran Bastian. Rupanya Bastian baru saja membeli minuman botol di minimarket seberang jalan.
Mario lekas mengenali Bastian. Masih membekas di benak Mario kala malam itu dirinya dilanda rasa cemburu karena melihat Anjani dan Bastian berada dalam satu frame potret.
"Ada Anjani juga rupanya. Dan ini pasti suami tampannya itu, ya?" Bastian langsung mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Mario."
"Terima kasih atas hadiah yang waktu itu, ya. Aku sudah menukar voucher-nya." Bastian membahas hadiah yang diberikan Mario lewat Anjani usai sidang skripsinya.
Mario hanya tersenyum lantas mengangguk. Diam-diam, Mario memperhatikan keakraban Anjani dan Bastian.
"Pak Mario, kalau misalnya saya magang di kantornya Pak Mario boleh nggak?" Marisa menyampaikan pemikirannya.
"Boleh-boleh saja. Segera ajukan saja pada pihak kampus. Kami dengan senang hati akan menerima." Begitu mudah Mario mengizinkan, karena dialah pemilik perusahaan.
"Iyes!" Marisa bersorak.
Riko dan Isabel rupanya tertarik juga. Riko tertarik karena ayahnya juga bekerja di sana. Sedikit banyak Riko bisa belajar dari sang ayah. Sedangkan Isabel, tertarik karena dirinya ingin satu tempat magang bersama teman-teman yang dikenal. Baik Riko ataupun Isabel lekas menyampaikan keinginannya untuk ikut magang di sana juga. Tentu saja Mario dengan baik menyambutnya.
Gurat bahagia di wajah Marisa, Riko, dan Isabel, rupanya tidak menular pada Anjani. Pikiran Anjani saat ini tengah menimbang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bila kantor Mario menjadi pilihan tempat magang. Anjani khawatir keberadaannya akan diistimewakan.
"Anjani, kamu berniat magang di kantor suamimu?" Bastianlah yang bertanya.
"Entahlah, Kak. Masih belum terpikirkan. Oya, kalian sudah pesan mie ayamnya?" Anjani mengganti topik obrolan.
"Sudah aku pesankan. Sebentar, aku pesankan juga untukmu dan suamimu." Bastian beranjak dari duduknya.
Anjani hendak mencegah Bastian memberikan traktiran yang sama, tapi isyarat kedipan mata dari Bastian seketika membuat Anjani bungkam. Alhasil, Anjani dan Mario ikut mendapat traktiran mie ayam.
"Silakan dimakan."
Bastian mempersilakan begitu mie ayam pesanan datang. Dengan suka cita Bastian mengambilkan sendok garpu untuk masing-masing teman. Namun, Anjanilah yang pertama kali diambilkan.
"Sambalnya jangan banyak-banyak, ya. Ntar sakit perut lho." Nasihat Bastian sama seperti nasihat Mario tadi.
"Iya, Kak." Anjani tetap menanggapi dengan ramah.
Acara makan-makan bersama tidak berlangsung lama. Anjani dan Mario pamit pulang lebih dulu usai mengucapkan terima kasih pada Bastian, serta tak lupa berpamitan pada Riko, Isabel dan Marisa.
Di perjalanan pulang, Anjani sempat terdiam beberapa menit lamanya. Semua itu tidak luput dari perhatian Mario.
"Sayang, adakah yang mengganggu pikiranmu?"
"Em ... soal magang di kantormu." Anjani memulai kalimatnya.
"Aku mengerti. Kamu bebas memilih tempat magangmu sendiri. Meski tidak di kantorku, aku tetap akan mendukungmu." Mario berbesar hati.
"Benarkah?"
"Sayang, apakah wajahku terlihat sedang bercanda?"
Menggeleng berulang, Anjani menyangkal temuan candaan. Refleks saja Anjani memberi kecupan di pipi sebagai ungkapan rasa senang.
"Terima kasih, Mas. Kamu memang baik."
"Baru tau ya kalau suamimu ini baik, hm?"
"Sudah tau dari dulu, kok. Cuma, kali ini tambah baik. Ihhihi. Mau dimasakin apa nanti, Mas?"
"Apapun, pokoknya bukan mie ayam. Sepertinya mie ayam akan menjadi makanan yang perlu kuhindari hingga beberapa waktu ke depan."
"Loh, kenapa Mas?"
Mario enggan memberitahukan alasannya. Sungguh Mario tidak ingin memancing perdebatan usai menyaksikan keakraban Anjani dan Bastian di warung mie ayam. Jelas-jelas Mario melihat betapa perhatiannya Bastian pada Anjani. Sempat mematik rasa cemburu di hati, tapi Mario lekas meredamnya dan percaya pada Anjani. Sama seperti Lovey yang hanya dianggapnya sebagai rekan bisnis, Mario percaya bahwa Anjani juga pasti menganggap Bastian hanya sebagai teman kampus.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku ingin makan masakanmu. Buatin tumis kacang panjang saja buat makan sore nanti, ya." Kalimat itulah yang akhirnya keluar dari mulut Mario.
"Lauknya mau apa, Mas?"
"Ikan pindang sepertinya enak."
"Ide bagus. Mau dibuatin cemilan juga. Ketela rebus mau nggak?" Anjani menawari.
"Boleh juga. Sekalian buat teman periksa dokumen nanti malam."
Anjani mengernyitkan dahi.
"Oh. Jadi maunya ditemenin sama ketela rebus, nih. Padahal aku juga bisa nemenin, lho." Anjani mengubah arah pandang menuju ke jalanan.
Senyum Mario mengembang. Mario langsung tahu bahwa sang istri sedang ingin diperhatikan.
"Nanti malam kerjakan tugas kuliahmu di ruang kerjaku. Kutemani sambil memeriksa dokumen kantor."
Perintah Mario begitu menarik hati. Biasanya Anjani akan mengerjakan tugas kuliahnya di ruangan tersendiri, karena khawatir mengusik konsentrasi sang suami.
"Em, nggak deh. Aku takut nggangguin kamu, Mas. Yang tadi cuma bercanda kok." Anjani senyum-senyum.
"Padahal aku serius lho. Mau saja, ya. Kubuatin teh hangat juga untukmu nanti." Mario menawari lebih.
"Itu kan tugasku. Hayoo. Jangan ambil alih jatah pahala kebaikan untukku sebagai istrimu." Anjani bersedekap sambil menunjukkan senyum manisnya.
"Baiklah. Akan kuraih pahala kebaikan untukku dengan menyenangkan hati istriku ini. Juga ..." Mario mengusap pelan perut Anjani. "Anak daddy akan selalu daddy perhatikan juga. Pasti anak daddy ikutan senang lihat bundanya senyum-senyum sendiri karena ulah jahil daddy nanti."
Anjani menutupi wajahnya yang merona.
"Iiih. Apaan sih, Mas. Udah, ah. Ayo antar aku ke pasar beli kacang panjang sama ikan pindang."
Anjani masih senyum-senyum sendiri. Beruntungnya memiliki suami seperti Mario adalah perhatian dan kata-katanya yang kerap sekali menggetarkan hati.
Mas, kamu kompeten dan sukses dalam pekerjaan, semoga tidak ada lawan yang akan menjatuhkan. Kamu tampan, semoga tidak ada wanita lain yang mengincar. Bersama hadirnya buah hati kita nanti, akan kujalani takdirku bersamamu dengan penuh cinta kasih. Semoga rumah tangga kita selalu diliputi berkah dan rasa bahagia, Mas. Aamiin. Doa Anjani dalam hati.
***
Seminggu terlewati, Sabtu telah bertemu Sabtu lagi. Anjani baru pulang dari kampus, menghadiri kegiatan amal yang digalang oleh adik angkatan. Anjani sempat mengantar Isabel pulang. Marisa yang mulai akrab dengan Anjani pun sempat diantar membeli beberapa buku bacaan. Sementara Riko yang masih perhatian meski sudah menganggap Anjani teman, terus mengekor jalan, khawatir Marisa akan berbuat macam-macam. Namun, semua itu hanya sebentar. Riko pulang setelah Anjani berhasil membujuknya untuk meninggalkan.
"Pak Gun, ini ada kue lapis. Dimakan bareng Mbak Surti sama Mbok Darmi, ya."
"Sepertinya enak. Makasih, ya Non. Saya tinggal masuk ke dalam dulu."
Usai menerima kue yang diberikan Anjani, Pak Gun bergegas ke dapur. Sementara Anjani masih kembali ke dalam mobil untuk mengambil barang yang tertinggal. Di saat itulah, terdengar mesin mobil berhenti di depan gerbang.
Sosok wanita cantik berpakaian casual langsung menjadi perhatian Anjani. Di mata Anjani, penampilan wanita itu sungguh elegan. Rambut yang tergerai panjang, jam tangan yang melingkar, dan high heels yang mendukung penampilan.
"Bu Lovey?" Anjani khawatir salah mengenal.
"Selamat siang, Bu Anjani." Lovey membuka kaca mata hitamnya. "Saya ke sini mau memberikan ini, sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan Pak Mario."
"Jadi repot-repot, nih." Anjani menerima paper bag yang disodorkan Lovey.
"Sungguh tidak merepotkan. Ini tidak ada apa-apanya dibanding kerelaan hati Pak Mario menyelamatkan nyawa saya. Oya, Pak Mario sudah tiba?"
"Belum. Sepertinya masih mengurus kerjaan di kantor."
"Oh. Atau mungkin masih perjalanan pulang? Sebelum ini saya sudah bilang kalau mau datang. Sebentar, saya telepon dulu."
Anjani hanya bisa mengangguk pelan. Niat hati Anjani, dialah yang akan menelepon, tapi Lovey lebih dulu mengeluarkan smartphone. Namun, belum sempat panggilan itu diterima, mobil Mario tiba.
"Aha, itu dia!" Lovey bersemangat menyambut kedatangan Mario.
Ada perasaan risih, tak nyaman di hati. Ekspresi Lovey saat menyambut kedatangan Mario tampak berlebih. Meski demikian, Anjani hanya memerhatikan Lovey dan Mario mengobrol dari jauh. Samar-samar, obrolan seputar bisnis terdengar. Sesekali gelak tawa dan canda menyertainya.
Aku tidak boleh mudah cemburu. Bu Lovey hanyalah rekan bisnis Mario. Ya, hanya sebatas itu.
Anjani masih bertahan hingga lima menit memperhatikan. Setelahnya, Lovey pamit pulang. Saat itulah Anjani berani mendekat sambil menjabat tangan.
"Sayang, minggu depan aku ada perjalanan bisnis." Mario memberitahu usai mobil Lovey berlalu.
Anjani mengangguk. Untuk seorang pebisnis seperti Mario, akan sangat wajar perjalanan bisnis dilakukan.
"Berapa lama, Mas?"
"Paling lama seminggu. Kali ini di luar negeri. Perusahaan yang lebih dulu bekerjasama dengan perusahaan Lovey, tertarik mengajakku bergabung. Jika jadi, pasti akan berdampak baik pada perusahaan."
"Oh. Bu Lovey ikut juga," ucap Anjani lirih.
Nada Anjani terdengar tak biasa di telinga Mario. Segera Mario tahu bahwa api cemburu mulai meraja kalbu. Mario lekas menggenggam tangan Anjani erat. Manik mata menatap dalam, hingga senyum Anjani pun akhirnya mengembang.
"Paman Li dan beberapa staf kantor akan ikut bersamamu. Jangan berpikiran macam-macam, ya Sayang." Mario meyakinkan.
"Maaf, Mas. Aku sempat cemburu. InsyaAllah aku percaya padamu. Pergilah. Jika rindu, kamu bisa video call kapan pun kamu mau." Anjani berbesar hati.
"Sepertinya istriku sudah jauh lebih dewasa. Terima kasih, ya Sayang. Kuliahlah yang sungguh-sungguh selama kutinggal." Mario berpesan.
"Hanya seminggu. Tentu aku akan bersungguh-sungguh sambil menunggumu."
"Ajak temanmu main ke sini jika mau, kecuali Kak Basmu itu."
"Ish. Jangan cemburu pada Kak Bas, ya Mas."
"Kamu juga. Jangan cemburu pada Lovey, ya Sayang."
Mario-Anjani telah sampai pada kesepakatan. Keduanya sama-sama meredam rasa cemburu dengan menghadirkan kepercayaan.
Akankah takdir di depan akan seindah yang dibayangkan? Atau justru ujian kesetiaan yang dikhawatirkan akan membayang? Nantikan!
Bersambung ....
Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kenal juga sahabat baiknya Anjani, Meli. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami 💙
***
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤