Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty One
Vote sebelum membaca 😘
.
.
"Menurut lo, Arabelle itu gimana?"
Arion mendelik tajam pada James yang duduk di depannya, mendengar nama perempuan itu di ucapkan temannya. Anehnya Arion merasa tidak suka, tapi mencoba bersikap biasa tanpa membuat curiga.
"Maksudnya?"
"Ya maksud gue, menurut lo, Arabella itu cewek gimana?"
"Baik."
"Itu aja?"
Arion mengangguk sekilas lalu meminum kopinya. Seksi, tambahnya di dalam hati sambil menyeringai.
"Gue mau nembak Dia buat jadi pacar gue."
Ukhuk!
James menatap aneh bosnya sekaligus sahabatnya yang sedang terbatuk-batuk. Pria itu hanya menggeleng pelan, merasa aneh.
"Apa lo bilang?!" teriak Arion keras.
"Hah? Gue mau jadiin Ara pacar gue," ulang James.
"Gak boleh!!"
"Yakk kenapa?!"
"Gak pokoknya," tegas Arion tak terbantahkan.
"Aneh lo."
Arion tak memperdulikan gerutuan kesal dari James, jangan sampai sahabatnya itu merebut Arabella darinya. Eh tunggu, miliknya? Ya tentu saja miliknya. Semuanya.
"Tanpa persetujuan dari lo juga, gue bakal tetap jadiin Dia jadi pacar gue." James pun pergi keluar ruangan itu meninggalkan Arion yang duduk tak nyaman ditempatnya.
Sial, umpat Arion. Tidak, jangan sampai James berpacaran ataupun memiliki hubungan yang spesial dengan Arabelle. Heol wanita itu hanya miliknya, sampai kapanpun juga!
***
Arabella dari tadi tak bisa berhenti tertawa mendengar cerita lucu dari James. Mereka sedang makan siang bersama di kantin kantor, hanya berdua. Hubungan mereka memang sudah akrab, tak seperti dulu lagi yang canggung.
Mata Ara sudah berair karena James terus bercerita, bahkan perutnya terasa sakit karena terus tertawa. Ia kira James adalah tipe pria dingin, tapi ternyata sangat humoris.
"Jangan berisik!"
Kedua orang yang sedang tertawa itu langsung menoleh pada seorang pria yang baru duduk di samping Ara. Terlihat Arion yang menatap tajam pada mereka berdua, sejak kapan pria itu di sana?
"Kalian itu ya, lihat semua orang memperhatikan kalian. Aneh," ketus Arion sambil mengunyah.
"Lo makan di sini? Tumben, biasanya pesen," ucap James menatap heran bosnya, ya mana mau Arion makan bersama di kantin. Pria itu sangat menjaga imagenya, untuk makan biasanya akan diantar oleh OB ke ruangannya.
"Bukan urusan lo!"
Ara hanya menggeleng mendengar nada suara Arion, Ia juga aneh karena pria itu mau makan di sini. Biasanya kan Ia yang akan membawakan makanan untuk pria itu sebelum makan siang, mau bagaimana lagi bukankah itu memang pekerjaannya?
"Oh iya nanti aku anterin kamu pulang ya?"
"Eh? Gak usah, aku bisa naik bus kok," tolak Ara tak enak, hampir setiap hari James mengantarnya pulang, Ia kan jadi malu.
"Gak papa, kan rumah kita jalannya searah. Sekalian aja."
"Em ya sudah."
Sungguh Arion yang mendengar percakapan itu tak lagi bernafsu untuk memakan makanannya. Padahal Ia sedang lapar, tapi mendengar percakapan mereka lidahnya langsung tak lagi berselera.
"Dia pulang sama gue," ucap Arion.
"Hah?"
"Ara harus jemput dulu putra kita lah."
Arabella membelakan matanya mendengar perkataan Arion, dadanya langsung berdetak cepat.
"Maksudnya?" tanya James bingung.
"Ma-maksud gue, Dia harus jemput dulu Finn di rumah gue."
"Kenapa Finn ada di rumah lo?" James memang tahu jika Ara sudah mempunyai anak laki-laki yang sudah besar, tapi Ia bingung kenapa Finn ada di rumah Arion. Bukannya mereka tak saling kenal?
"Kepo lo ah!" Arion lalu berdiri, tangannya menarik pergelangan tangan Ara.
"Ayo ikut gue, ada meeting jam satu."
"Tapi makanannya-"
"Ck nanti kita makan lagi!"
Dan Ara pun terpaksa mengikuti Arion, sebenarnya Ia masih lapar karena belum makan. Dari tadi hanya tertawa mendengarkan cerita James dan belum sempat makan.
Arion membawa Ara masuk ke ruangannya, lalu menghimpit tubuh wanita itu di pintu. Ia mengunci kedua tangan Ara dengan tangannya dan menatap tajam wanita itu.
"Lo gak boleh deket-deket James lagi," desis Arion.
"Kenapa?"
"Ck, lo itu cuma milik gue paham?!"
Ara merasa aneh dengan ucapan Arion, milik pria itu? Kata siapa?
"Lo gila ya, gue bukan siapa-siapa lo!"
"Ya dan sekarang mulai hari ini juga lo milik gue!" Arion lalu mencium bibir wanita itu dalam
Arabella awalnya terkejut mendapat ciuman tiba-tiba itu, tapi bodohnya Ia malah terbuai. Kedua tangannya sudah tak lagi ditahan, karena kedua tangan Arion sudah mengusap pinggangnya. Dan tanpa sadar, Ia malah mengalungkan tangannya di leher pria itu menikmati ciuman mereka.
"Emm.."
Ara mengerang saat pinggulnya dipijat lembut oleh Arion, sebenarnya Ia sudah kehabisan nafas tapi pria itu tak mau melepaskan ciumannya.
"Tu-tunggu hahh!" Ara melepas ciuman panas mereka, mengatur nafasnya yang memburu kencang. Dadanya naik turun karena sesak oleh ciuman tadi.
Wanita itu melihat ke bawah melihat tangan Arion di pahanya, Ia pun memukulnya kasar.
"Aww!" ringis Arion.
Arion berdecak mendapat pukulan itu, padahal Ia sangat menikmatinya tadi. Hampir saja tadi Arion lupa diri dan melakukan hal lebih. Pandangan Arion turun pada bibir Ara, bibir itu basah dan memerah karena mereka baru saja habis berciuman panas. Sial, Ia benar-benar tak bisa menahan diri.
Saat akan kembali mencium Ara, wanita itu dengan sigap menahan dadanya, "Mau apa?!"
"Lanjutin yang tadi lah," jawab Arion polos sambil mengusap pinggang Ara, tanda jika sudah tak bisa menahan.
"Gak mau! Awas gue mau-emmh.."
Tanpa menghiraukan penolakan Ara, Arion kembali mencium bibir merah itu. Ia tahu jika sebenarnya wanita itu juga menikmatinya hanya malu-malu. Memang dasar wanita, mau-mau tapi gengsi.
Keduanya mengerang disela-sela ciuman, perlahan tangan Arion membuka satu persatu kancing kemeja Ara sampai terjatuh.
"Emm jangannh.." Rengek Ara saat Arion mau melepas bra hitamnnya.
Arion mengalihkan ciumannya ke leher jenjang Ara, menciumi dengan gemas leher putih itu, tak lupa memberi tanda merah sebagai kepemilikan disana.
Tok tok!
Mendengar ketukan pintu dari luar Arion tak memperdulikannya, Ia masih asik dengan kegiatannya, sedangkan Ara membuka matanya perlahan karena mendengar. Wanita itu sudah terbuai oleh sentuhan Arion, kedua tangannya bahkan masih meremas rambut pria itu yang sedang asik menciumi kulitnya.
"Arion.. Ada orangg"
Arion menggeleng tanda tak peduli, Ia masih asik dengan kegiatannya.Leher wanita itu sudah penuh dengan tandanya. Ia akan menandai semua tubuh wanita itu, biar semua orang tahu jika Arabella hanya miliknya.
Tok tok!
"Tuan sepuluh menit lagi anda harus menghadiri meeting!" Teriak sekertaris Arion dari luar. Poppy merasa heran karena tak mendengar suara bosnya dari dalam, padahal seingatnya pria itu ada didalam bersama seorang wanita.
Saat kembali akan mengetuk pintu, Poppy bersyukur karena akhirnya pintu terbuka. Tapi langsung mengernyit melihat penampilan bosnya yang bisa di bilang cukup berantakan.
Kemeja yang dua kancing atas terbuka, lalu bagian tangan yang sudah di gelung sebatas siku. Rambut Arion juga sangat berantakan, tak rapih seperti sebelum masuk ruangan.
"Apa?!" Ketus Arion sambil mengatur nafasnya.
"Maaf Pak, sepuluh menit lagi kita akan menghadiri meeting di lantai lima."
"Ck, yaya. Mengganggu saja!" Arion kembali menutup pintu dengan kasar. Pria itu melihat Ara yang sudah kembali memakai kemejanya.
Sial, Ia merasa kesal sekarang. Padahal tadi sedang menikmati, tapi Ara malah menendang burungnya. Huh padahal Ia juga yakin jika Ara sedang menimati, tapi kenapa coba?
"KENAPA BANYAK SEKALI?!!" Pekik Arabelle keras sambil melihat banyak tanda merah di lehernya. Wanita itu menatap tajam Arion yang berdiri didekat pintu. "Kau.. kenapa banyak sekali?!" Tunjuknya.
Arion menggaruk belakang rambutnya, sambil tersenyum kecil, "Maaf."
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.