NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Mati

 Riuh rendah suara wartawan yang berbisik panik di dalam aula hotel bintang lima itu mendadak terdengar seperti dengungan lebah yang menyiksa telinga Nicholas. Kakinya terasa seperti terpaku pada lantai marmer mewah, sementara tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat. Di seberang saluran telepon, suara Tuan Handoko sudah berubah menjadi raungan frustrasi, memaki-maki kebodohan Nicholas yang terlalu meremehkan pergerakan Rangga dan Cinta. Di bursa efek London, kehancuran reputasi keluarga mereka sudah tidak bisa dibendung lagi. Dokumen rahasia yang dirilis oleh Cinta telah membuka kotak pandora yang selama belasan tahun mereka sembunyikan dengan rapi di balik meja birokrasi.

Nicholas menurunkan ponselnya dengan perlahan. Matanya yang merah menatap nanar ke arah luar jendela kaca besar. Di seberang jalan, sosok Rangga yang mengenakan kemeja hitam kasual sudah berbalik arah, berjalan santai menuju motor matik yang dikendarai oleh Aldi lalu perlahan menghilang di balik kepadatan arus lalu lintas SCBD.

"Gak mungkin... gak mungkin anak haram Bina Karya itu bisa bikin keluarga gue hancur semudah ini!" desis Nicholas, giginya bergeletuk menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya. Seluruh wibawa anak elitenya runtuh, digantikan oleh kepanikan primordial dari seorang pemenang yang mendadak sadar bahwa dirinya telah berubah menjadi mangsa yang tak berdaya.

Nicholas membalikkan badannya dengan kasar, mengabaikan beberapa staf humas perusahaannya yang mencoba menahan langkahnya untuk memberikan klarifikasi kepada media. Dia berjalan setengah berlari menuju basemen hotel, tempat mobil *sport* mewah bertenaga besar miliknya terparkir. Di dalam otaknya yang mulai diselimuti oleh kabut dendam yang gelap, hanya ada satu pikiran yang tersisa: dia tidak akan membiarkan Rangga keluar dari Jakarta dalam keadaan hidup. Jika dia harus hancur, maka Rangga harus ikut terkubur bersamanya.

Di sisi lain kota, matahari siang Jakarta yang terik mulai bergeser ke arah barat, menyisakan hawa panas yang menyengat di atas aspal jalanan jalur arteri menuju kawasan industri Pulogadung. Aldi mengendarai motor matiknya dengan kecepatan sedang, membelah barisan truk kontainer dan bus kota yang sesekali menyemburkan asap hitam pekat. Di jok belakang, Rangga duduk dengan tenang, sesekali melirik layar ponselnya untuk memantau laporan perkembangan dari tim hukum perusahaan otomotifnya di London.

"Ngga, lu bener-bener gila ya," seru Aldi setengah berteriak agar suaranya bisa mengalahkan deru mesin truk di samping mereka. "Gue tadi lihat muka si Nicholas dari balik kaca hotel, sumpah udah kayak orang mau mati tahu gak! Pucat banget!"

Rangga tersenyum tipis, mengantongi ponselnya ke dalam saku celana. "Dia terlalu terbiasa menang karena uang bokapnya, Al. Orang kayak begitu gak pernah siap mental buat ngerasain gimana rasanya terpukul mundur di medan perang yang sesungguhnya. Dia pikir kekuasaan itu mutlak, padahal di dunia bisnis modern, adaptasi dan reputasi itu jauh lebih mahal daripada tumpukan modal lama."

"Tapi kita tetep harus hati-hati, Ngga," sahut Aldi, nada suaranya mendadak berubah menjadi agak serius. "Gue kenal tipikal orang kayak Nicholas sejak zaman kita SMA dulu. Dia itu tipe pengecut yang kalau udah kepepet dan gak bisa menang pakai otak, bakal pakai cara-cara kotor yang gak terduga. Lu inget kan pas dia nyewa anak-anak sekolah sebelah buat nyerang bengkel Mang Ojak dulu?"

Rangga tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya melirik ke arah kaca spion motor matik Aldi. Sejak mereka keluar dari kawasan jalur hijau Sudirman sepuluh menit yang lalu, ada sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam dengan kaca yang sangat gelap terus membuntuti mereka dari jarak sekitar lima puluh meter. Mobil itu melaju dengan manuver yang agresif, beberapa kali memotong jalur kendaraan lain dengan kasar demi menjaga jarak agar tidak kehilangan jejak motor Aldi.

"Al, belok kiri di depan. Masuk ke jalur alternatif yang arah ke perumahan tua," perintah Rangga dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat rendah dan dingin.

Aldi melirik kaca spionnya, dan seketika itu juga matanya melebar saat menyadari apa yang sedang terjadi. "Sialan, mobil hitam itu... itu mobilnya Nicholas kan, Ngga?!"

"Jangan panik. Tetap stabil, tarik gas lu sekarang," ucap Rangga tenang, namun tangannya refleks memegang erat besi pegangan belakang motor.

Aldi langsung memutar tuas gas motor matiknya dalam-dalam. Mesin motor menderu keras, melesat memotong antrean lampu merah dan berbelok tajam masuk ke dalam jalur alternatif yang lebih sepi, dikelilingi oleh bangunan pabrik tua dan dinding-dinding beton tinggi yang dipenuhi coretan grafiti. Jalur ini adalah kawasan industri tua yang lengang pada jam-jam kerja, membuat suara deru mesin kendaraan terdengar bergema dengan sangat jelas.

*VROOOMMM!*

Suara lengkingan mesin mobil *sport* V8 yang sangat bertenaga mendadak memecah kesunyian jalur alternatif tersebut. Mobil sedan hitam milik Nicholas melesat cepat, memotong jalur dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam. Ban mobilnya mencicit keras di atas aspal kering saat Nicholas memutar kemudi dengan brutal, sengaja memposisikan moncong mobilnya tepat di belakang ban motor Aldi, hanya menyisakan jarak kurang dari dua meter.

Dari balik kaca depan mobil yang transparan akibat sorotan matahari dari atas, wajah Nicholas terlihat sangat mengerikan. Matanya melotot, urat-urat di lehernya menonjol tegap, dan kedua tangannya mencengkeram setir mobil dengan sangat erat. Dia tertawa histeris, seolah-olah jiwanya sudah sepenuhnya terlepas dari akal sehat.

"Mati lu, Ngga! Mati lu hari ini di sini!" teriak Nicholas dari dalam kabin mobil, meskipun suaranya tidak terdengar keluar. Dia menginjak pedal gas lebih dalam lagi, sengaja menabrak bagian spakbor belakang motor Aldi hingga mengeluarkan bunyi benturan besi yang keras.

*BRAKK!*

Motor matik Aldi sempat oleng ke kanan dan ke kiri dengan sangat berbahaya. Aldi berteriak panik, sekuat tenaga menahan keseimbangan setang motornya agar mereka tidak terjatuh dan terlindas di bawah kolong mobil mewah tersebut. "NGGA! Iki wong gendeng, Ngga! Dia bener-bener mau ngebunuh kita!"

"Al! Jangan rem! Jangan pernah lu rem!" teriak Rangga, matanya menatap tajam ke arah depan. Di ujung jalan alternatif ini, sekitar dua ratus meter lagi, terdapat sebuah tikungan tusuk konde yang sangat tajam yang berbatasan langsung dengan dinding beton pembatas sungai besar. Sebagai mantan pembalap jalanan dan mekanik yang sangat memahami karakteristik bobot dan momentum kendaraan, Rangga tahu persis kelemahan mobil mewah bertenaga besar yang dikendarai oleh Nicholas.

Mobil Nicholas kembali melesat maju, mencoba menjepit motor Aldi ke arah dinding beton di sebelah kiri jalan. Jarak di antara bodi mobil dan motor kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Gesekan antara knalpot motor dan bemper mobil mulai mengeluarkan percikan api yang mengerikan.

"Al, dengerin instruksi gue!" bentak Rangga, suaranya menggelegar di sela-sela deru mesin yang memekakkan telinga. "Begitu gue bilang 'sekarang', lu langsung banting setang ke kanan masuk ke gang sempit di sebelah tikungan, terus rem tangan seketika! Jangan lihat ke belakang!"

Jarak menuju tikungan maut itu semakin menipis. Seratus meter. Lima puluh meter. Nicholas di dalam mobilnya semakin menggila, dia bersiap melakukan hantaman terakhir untuk melindas motor di depannya.

"Tiga... dua... SEKARANG, AL!"

Dengan insting yang sudah terlatih bertahun-tahun di jalanan, Aldi langsung membanting setang motornya ke arah kanan dengan sudut kemiringan yang sangat ekstrem. Ban motor matik itu selip, berdecit keras mengeluarkan asap tipis saat Aldi melakukan manuver *sliding* yang sangat berbahaya, melesat masuk ke dalam sebuah gang sempit di antara dua dinding pabrik tua yang hanya selebar satu meter setengah.

Nicholas yang sedang melaju dengan kecepatan penuh di atas seratus kilometer per jam sama sekali tidak menduga manuver ekstrem tersebut. Ketika motor Aldi mendadak menghilang dari jalur depannya, yang tersisa di depan mata Nicholas hanyalah sebuah tikungan tajam dan dinding beton setinggi dua meter pembatas sungai yang kokoh.

Nicholas panik. Dia refleks menginjak pedal rem sedalam-dalamnya hingga sistem pengereman mobilnya mengunci. Namun, hukum fisika tidak bisa dibohongi oleh uang atau kemewahan mobilnya. Bobot mobil sedan mewah yang sangat berat ditambah momentum kecepatan yang terlalu tinggi membuat mobil itu kehilangan traksi di atas aspal jalanan alternatif yang berdebu. Mobil sport mahal itu meluncur lurus seperti anak panah yang lepas dari busurnya, sama sekali tidak bisa berbelok.

*DUARRRRRR!!!*

Benturan yang luar biasa keras mengguncang seluruh kawasan industri tua tersebut. Moncong mobil sedan mewah milik Nicholas menghantam dinding beton pembatas sungai dengan kecepatan tinggi. Bagian depan mobil itu seketika ringsek total tak berwentuk, kap mesinnya tertekuk ke atas, dan ledakan kantong udara (*airbag*) putih langsung memenuhi seluruh ruang kabin mobil yang kini dipenuhi oleh kepulan asap abu-abu yang pekat dari radiator yang pecah.

Hening seketika merayap di jalur alternatif tersebut, hanya menyisakan suara desis uap panas dari mesin mobil yang hancur dan bunyi alarm mobil yang meraung-raung di dalam kesunyian.

Di dalam gang sempit, Aldi menjatuhkan motornya ke samping karena lemas. Napasnya memburu cepat, jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. "Gila... gila... kita hampir mati, Ngga..."

Rangga tidak menjawab. Dia langsung turun dari motor, melangkah cepat keluar dari gang sempit menuju ke arah mobil Nicholas yang hancur di tengah jalan. Langkah kakinya terdengar konstan, tidak ada ketakutan di wajahnya, melainkan sebuah ketegasan yang dingin.

Rangga berhenti tepat di depan pintu kemudi mobil yang sudah ringsek. Dari balik kaca yang retak seribu, dia melihat Nicholas yang terkulai lemas di atas setir, wajahnya dipenuhi memar akibat hantaman kantong udara, dan ada darah segar yang mengalir dari pelipisnya. Nicholas masih sadar, namun tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak. Matanya yang sayu menatap ke arah Rangga dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh rasa takut yang luar biasa.

Rangga menarik gagang pintu mobil dengan paksa hingga pintu tersebut terbuka dengan bunyi derit besi yang patah. Dia membungkuk sedikit, menatap lurus ke arah musuh lamanya itu tanpa ada sedikit pun rasa kasihan di matanya.

"Ini batas akhir lu, Nicholas," ucap Rangga, suaranya terdengar sangat rendah, stabil, namun membawa tekanan psikologis yang membuat Nicholas gemetaran di kursinya. "Lu pikir lu bisa selesaikan semua hal pakai kekerasan seperti dulu di sekolah? Lu salah besar. Hari ini lu gak cuma kehilangan saham diler lu, tapi lu juga baru saja memberikan alasan hukum yang sah bagi gue untuk menjebloskan lu ke dalam penjara atas tuduhan percobaan pembunuhan."

Rangga mengeluarkan ponselnya dari saku, menatap layar yang menampilkan panggilan internasional yang masih tersambung dengan Cinta di London sejak awal pengejaran dimulai. Suara napas Cinta yang cemas terdengar jelas dari pelantang suara.

"Cin, semuanya udah selesai di sini," ucap Rangga ke arah ponselnya dengan nada suara yang kembali melembut. "Nicholas sudah melakukan langkah matinya sendiri. Tolong minta tim hukum kita di London untuk segera berkoordinasi dengan kepolisian Jakarta sekarang juga. Kita bersihkan orang-orang ini sampai ke akarnya."

"Rangga... kamu gak apa-apa kan?" suara Cinta terdengar bergetar dari seberang telepon, penuh dengan rasa khawatir yang mendalam.

"Gue aman, Cin. Selama ada janji lu yang gue pegang, gak akan ada satu pun orang yang bisa jatuhin gue," jawab Rangga sambil menatap Nicholas yang kini hanya bisa memejamkan matanya pasrah, menyadari bahwa topeng dan seluruh kekuasaan kastanya telah resmi berakhir di dalam sel tahanan yang dingin.

Ksatria jalanan itu kini tidak hanya berhasil memenangkan perang bisnis di atas meja kerja, namun dia juga telah berhasil menghancurkan keangkuhan fisik musuhnya dengan ketenangan seorang pemenang sejati. Medan perang baru di Jakarta telah dia kuasai sepenuhnya, memberikan jalan yang bersih tanpa noda untuk langkah besar berikutnya menuju masa depan bersama sang putri di London.

1
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!