Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Ruangan nomor 101 itu benar-benar tenggelam dalam keheningan yang menyiksa. Tidak ada suara selain helaan napas berat Bonna yang tertahan dan detak jantungnya yang berdegup liar seperti genderang perang.
Nolan berdiri di hadapannya, menjulang bagaikan bayangan maut. Ekspresi pria itu benar-benar datar, tanpa riak emosi, tanpa kilat kemarahan—dan justru kekosongan di matanya itulah yang membuat Bonna seketika merinding hingga ke tulang sumsum.
Pria itu kemudian bersuara, pecah di udara dingin kamar tersebut. "Kau cukup berani sebagai seorang tawanan."
Belum sempat Bonna menarik napas, jemari Nolan yang berukuran besar dan dihiasi bekas luka serta tato yang merambat hingga ke pergelangan tangannya mendadak melayang, mencengkeram dagu Bonna dengan sangat kuat.
Bonna meringis kesakitan. Tekanan itu begitu keras hingga tulang rahangnya terasa seperti hendak remuk di bawah jemari sang mafia.
Cengkeraman itu semakin kuat, memaksa Wajah Bonna terangkat tegak mengadang tatapan kelam Nolan.
"Kau pikir kau istimewa hanya karena wajahmu ini?" bisik Nolan, suaranya terngiang amat dekat di telinga Bonna, dingin dan beracun. "Kau tidak seberharga yang kau kira. Kalau aku mau, aku bisa membunuhmu detik ini juga jika alasanku menyimpannmu hanya karena wajahmu. Aku cukup memasukkanmu ke dalam akuarium dan mengawetkan mayatmu agar aku bisa melihat wajahmu kapan saja tanpa perlu mendengar mulut sialanmu ini berbicara."
Sudut bibir Nolan perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum miring yang cukup menyeramkan—sebuah senyuman tanpa kehangatan yang penuh penjelmaan kemurkaan.
Dia kembali berkata, "Sepertinya perlakuanku kemarin padamu masih belum cukup untuk membuatmu sadar akan posisimu di rumah ini."
Nolan memalingkan wajahnya sedikit ke arah pintu, lalu memanggil anak buahnya.
"Masuk."
Pintu kamar 101 kembali terbuka lebar. Wajah Bonna mendadak pucat pasi. Seluruh persendiannya melemah, teror hebat menguasai pikirannya saat ingatan akan ancaman pria itu kemarin kembali berputar bak kaset rusak.
Jangan bilang Nolan akan...
Namun, Nolan tidak langsung memerintahkan mereka untuk menyentuhnya. Pria itu menunjuk ke sudut ruangan. "Angkat meja yang berada di pinggir ruangan itu kemari. Taruh tepat di depan pelacur ini," perintah Nolan dingin.
Dua dari empat anak buah Nolan yang baru masuk segera bergerak cepat. Mereka melangkah ke sudut, mengangkat sebuah meja kayu tebal berwarna hitam kelam yang amat berat, lalu meletakkannya tepat di hadapan Bonna. Setelah tugas itu selesai, kedua pria itu kembali mundur, berdiri berjejer rapi di depan pintu rapat bersama dua rekan lainnya.
Empat pasang mata akan menyaksikan Bonna yang tak berdaya.
Nolan kemudian melangkah mendekati Bonna. Tanpa peringatan, tangan kekarnya bergerak secepat kilat meraih rambut Bonna, menjambaknya dengan sentakan kasar, dan sedetik kemudian—
BRAKKKK!!!!
Kepala Bonna dihantamkan ke atas meja hitam tersebut dengan tenaga penuh.
Kening dan hidung Bonna menghantam permukaan kayu yang keras dan padat. Rasa sakit yang teramat sangat menjalar hebat bagai sengatan listrik di kepala dan wajahnya. Pandangannya seketika berkunang-kunang, berkilat warna putih dan hitam.
Bonna bahkan bisa merasakan cairan hangat dan pekat mengalir deras dari dalam hidungnya, merembes menuruni bibirnya yang gemetar.
Nolan tidak memberi jeda. Rambutnya kembali dijambak, menarik kepalanya ke atas secara paksa. Bonna mendongak pasrah, matanya yang setengah terpejam sempat menangkap bayangan darah segar dari hidungnya yang menetes, membasahi permukaan meja hitam yang mengkilap.
BRAKKK!
Tidak cukup sekali, Bonna dibenturkan kembali ke meja itu untuk kedua kalinya.
Pandangannya langsung buram seketika. Suara di sekitarnya terdengar berdengung jauh. Jelas bukan hanya hidungnya saja yang patah, tapi kulit keningnya juga robek dan bercucuran darah.
Rasa sakit yang pedih, berdenyut, dan pening luar biasa menghantam kesadarannya. Bonna tidak lagi punya cukup tenaga untuk mengelak atau sekadar mengangkat tangannya untuk membela diri.
Ia hanya bisa terdiam dan terkulai pasrah saat anak buah Nolan yang berada di dekatnya, Judas, melangkah maju atas isyarat mata sang atasan, lalu menyingkap pakaian bawahnya dan merobek celananya dengan paksa hingga terdengar bunyi kain terkoyak yang nyaring.
Mata Bonna terpejam rapat. Kesadarannya melemah ketika Nolan menyentuhnya kembali secara brutal, menginvasi dan menghujam tubuhnya yang terluka di depan mata anak-anak buahnya sendiri. Rasanya teramat memalukan.
Ia telah direndahkan sejadi-jadinya, ditelanjangi kehormatannya oleh pria iblis ini tepat di hadapan empat pria dewasa yang berdiri menonton.
Dalam pandangannya yang buram, Bonna tidak bisa lagi melihat bagaimana ekspresi wajah keempat anak buah itu.
Matanya benar-benar perih—bukan hanya karena air mata yang mengumpul menahan rasa malu dan sakit yang luar biasa, melainkan juga karena darah dari luka robek di keningnya mengalir turun, masuk ke dalam kelopak matanya, membuat jarak pandangnya berubah memerah tertutup darah.
Setelah melampiaskan kemarahannya dan memperlakukan Bonna secara semena-mena bagai barang tak berharga, Nolan akhirnya beranjak. Pria itu melepaskan dirinya, sekaligus melepas cengkeraman kasarnya pada rambut Bonna yang lengket oleh darah.
Tubuh Bonna terkulai tak berdaya di atas lantai, menempel pada kaki meja hitam yang dingin.
Nolan membetulkan letak celananya dengan tenang, merapikan pakaiannya seolah tak baru saja melakukan kejahatan keji, lalu melangkah santai melewati keempat anak buahnya yang masih berdiri sigap.
Saat tiba di ambang pintu, Nolan menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, ia berucap datar, "Kalian boleh pakai dia sekarang."
DUARRRRR!!!!
Dada Bonna rasanya meledak. Suara hatinya bergetar hebat diiringi rasa horor yang tak terlukiskan. Rasanya ia ingin mati saat itu juga daripada harus mengalami neraka tersebut.
Namun, sisa refleks pertahanan dirinya berontak. Bonna menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengabaikan rasa pusing dan sakit luar biasa yang mendera tengkorak kepalanya.
Gerakan menggeleng yang terlalu keras itu justru membuat rasa pening di kepalanya semakin parah hingga dunia terasa berputar baling-baling.
"No... please... no... Nolan kumohon... jangan..." bisik Bonna, suaranya parau, pecah, dan nyaris tak terdengar.
Namun, dalam keremangan pandangannya yang merah, Bonna melihat bagaimana keempat pria itu mulai mengayunkan langkah mendekatinya. Bayangan tubuh mereka menjulang, siap menerkamnya.
Dengan sisa tenaga terakhir dari jiwanya yang tercabik, Bonna berteriak sekuat-kuatnya sebelum kegelapan merenggutnya:
"AKU AKAN MEMBUNUHMU, NOLAN ASHFORD! AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU! AKU BERSUMPAH DEMI NYAWAKU AKAN MEMBUNUHMU! KAU BENAR-BENAR IBLIS!!!"
Teriakan itu melengking, penuh dengan dendam yang pekat dan kebencian murni. Pria itu benar-benar iblis. Atau mungkin, Ezequiel Nolan Ashford adalah penjelmaan iblis itu sendiri di dunia nyata.
Dan tepat sebelum kesadarannya benar-benar padam dalam kegelapan, di batas ingatan terakhirnya, Bonna sempat merasakan bagaimana keempat pria itu mengangkat tubuhnya yang lunglai dan meletakkannya di atas ranjang.
Sementara itu, dari balik kelopak matanya yang menutup, ia tahu Nolan telah melangkah keluar melewati pintu 101 tanpa berpaling.
Satu tetes air mata terakhir jatuh membasahi pipinya yang berlumuran darah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...