"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Hidup dan Mati
Langkah kaki Senjani bergema gersang di dalam gedung bekas pabrik tekstil yang telah terbengkalai belasan tahun itu. Debu tebal beterbangan di udara yang pengap, berbaur dengan bau karat dari sisa-sisa mesin tenun raksasa yang mulai membusuk. Sinar matahari sore menerobos masuk melalui celah-celah atap seng yang bocor, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menyeramkan di atas lantai semen yang retak.
Senjani mencengkeram tas kecilnya dengan tangan yang terus gemetar hebat. Setiap detak jantungnya terasa seperti ketukan lonceng kematian yang kian mendekat mengintai.
"Masuklah lebih dalam, Nona Terapis yang suci!"
Sebuah suara parau dan melengking tiba-tiba menggema dari arah lantai mezanin di ujung ruangan.
Senjani mendongak dan menahan napasnya. Di atas sana, berdiri Grayson Nandotomo. Penampilannya sangat mengerikan. Jaketnya kotor, matanya melotot liar dengan lingkaran hitam pekat di sekelilingnya, dan tangan kanannya memegang sebuah pistol revolver hitam yang diarahkan lurus ke arah kepala Senjani. Kegilaan telah merenggut seluruh sisa kewarasan pria itu setelah semua kemewahannya dihancurkan oleh Jiro.
"Tuan Grayson! Saya sudah datang sendirian sesuai perintah Anda!" teriak Senjani, berusaha sekuat tenaga menekan rasa takutnya agar suaranya tidak terdengar goyah. "Tolong jangan sentuh Ibu saya di Singapura! Beliau tidak tahu apa-apa tentang masalah kita!"
"Hahaha! Ibu kamu bilang? Kamu masih memikirkan wanita tua yang penyakitan itu?!" Grayson tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat histeris dan bergema mengerikan di dalam pabrik tua yang sunyi. Pria itu berjalan menuruni tangga besi yang berkarat dengan langkah yang terhuyung-huyung, namun moncong pistolnya tetap terkunci pada tubuh Senjani.
"Dengar, Senjani! Orangku di Singapura sudah bersiap di depan pintu kamar ibumu. Jika aku menarik pelatuk ini sekarang, atau jika aku menekan tombol kirim di ponselku untuk memberi perintah, maka ibumu yang tercinta itu akan langsung menyusul ayahmu ke neraka!" ancam Grayson, kini jarak mereka hanya tersisa lima meter saja.
Senjani mundur satu langkah, air mata kecemasan akhirnya lolos membasahi pipinya yang pucat. "Kenapa Anda tega melakukan semua ini, Tuan? Ayah saya... Ayah saya meninggal karena sabotase rem yang Anda lakukan! Anda menghancurkan hidup keluarga kami, Anda melumpuhkan kaki Tuan Jiro, dan sekarang Anda mau membunuh Ibu saya?!"
"Karena kalian semua adalah penghalang bagiku!!!" bentak Grayson, wajahnya memerah padam karena murka yang meluap-luap. "Jiro si cacat itu seharusnya mati dalam kecelakaan enam bulan lalu! Dia seharusnya membusuk di atas kursi roda selamanya! Dan perusahaan Nandotomo Group itu seharusnya menjadi milikku! Tapi kamu... kamu datang sebagai pelayan sialan yang mengacaukan semua rencanaku! Kamu menyembuhkannya, kamu membongkar rahasiaku, dan kamu membuatnya membuangku ke hutan di Kalimantan!"
Grayson mengokang pistolnya dengan suara ceklikan logam yang sangat nyaring, mengirimkan sensasi dingin yang mematikan ke seluruh tubuh Senjani. "Hari ini, aku akan melenyapkanmu terlebih dahulu. Setelah kamu mati, Jiro pasti akan kembali hancur dan gila karena kehilangan istrinya yang paling dicintainya. Dan saat itulah, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi hakku!"
Senjani memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menghadapi desingan peluru yang mungkin akan merobek dadanya dalam hitungan detik. Dia meraba saku celananya, tempat ponsel pemberian Jiro yang layarnya masih menyala tersembunyi, ponsel yang sejak di dalam taksi tadi sengaja dia biarkan dalam kondisi panggilan aktif ke nomor Jiro agar suaminya bisa mendengarkan seluruh percakapan ini.
Brak!!!
Pintu gerbang besi pabrik tua yang terkunci mendadak didobrak hancur dari luar oleh hantaman bumper mobil sedan mewah hitam milik Jiro. Mobil itu melaju kencang masuk ke dalam area pabrik, menciptakan suara decitan ban yang sangat nyaring di atas lantai semen sebelum berhenti mendadak tepat di antara Senjani dan Grayson.
Pintu kemudi terbuka. Jiro melangkah keluar dari dalam mobil tanpa menggunakan tongkat penyangganya sama sekali. Dia memaksakan kedua kakinya yang baru sembuh untuk menumpu berat badannya secara penuh, melangkah maju dengan dada membusung tegap di depan istrinya. Netra elangnya berkilat tajam, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat dan berat hingga membuat atmosfer di dalam pabrik itu seketika terasa membeku.
Di belakang Jiro, Adriano dan belasan pengawal pribadi bersenjata lengkap langsung merangsek masuk, mengacungkan senjata laras pendek mereka lurus ke arah kepala Grayson.
"Grayson!!!" Raung Jiro, suaranya menggelegar layaknya petir yang membelah langit malam. "Turunkan senjatamu detik ini juga, atau aku pastikan tubuhmu akan dipenuhi oleh ratusan lubang peluru sebelum kamu sempat berkedip!"
Grayson terkesiap, mundur beberapa langkah dengan wajah yang seketika berubah menjadi pucat pasi melihat kedatangan Jiro yang begitu cepat di luar perkiraannya. Namun, kegilaannya segera mengambil alih kembali. Dia mengalihkan moncong pistolnya dari Senjani, kini membidik tepat ke arah dada Jiro.
"Jiro! Jangan maju satu langkah pun atau aku tembak wanita ini!" Teriak Grayson histeris, menunjuk ke arah Senjani menggunakan tangan kirinya yang gemetar hebat. "Aku tahu kamu sudah menyadap ponselnya! Tapi orangku di Singapura sudah siap mencabut selang oksigen ibunya jika aku tidak mengirimkan kode aman dalam waktu lima menit lagi! Kalian berdua sama-sama berada di dalam genggamanku!"
Jiro tersenyum sinis, sebuah senyuman dingin yang sangat tenang namun sarat akan penghinaan yang mutlak bagi sepupunya yang bodoh. Dia mengambil satu langkah maju lagi, sama sekali tidak takut dengan moncong pistol yang mengarah ke dadanya.
"Orangmu di Singapura?" tanya Jiro dengan nada mengejek yang sangat puas. Dia merogoh saku jas hitamnya, mengeluarkan sebuah tablet digital, lalu memutar sebuah rekaman video langsung menghadap Grayson. "Buka matamu dan lihat ini baik-baik, Grayson!"
Di layar tablet tersebut, terlihat sekelompok agen keamanan internasional berpakaian hitam, tim elit yang disewa Jiro dengan dana miliaran rupiah beberapa jam lalu sudah melumpuhkan dan memborgol dua orang pria sewaan Grayson tepat di koridor depan kamar rumah sakit ibunya Senjani di Singapura. Ibunya tampak aman di dalam kamar, dijaga ketat oleh empat pengawal baru.
"Seluruh tikus-tikusmu di Singapura sudah kubersihkan sampai ke akar-akarnya semenjak istriku mengaktifkan sinyal panggilan daruratnya di taksi tadi," desis Jiri, suaranya terdengar sangat rendah dan kejam. "Kamu sudah tidak punya kartu as lagi, Grayson. Kamu sendirian. Dan hari ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyelamatkanmu dari neraka yang sudah kubuat untukmu."
Grayson benar-benar lemas seketika. Kenyataan bahwa rencana terakhirnya telah dipatahkan secara telat membuat tangannya yang memegang pistol revolver gemetar hebat. Dia menggelengkan kepalanya histeris, menolak menerima kekalahan mutlak ini.
"Nggak! Nggak mungkin! Kamu pasti bohong, Jiro! Mati saja kamu dan pergilah ke neraka!!!" Teriak Grayson dalam puncak kegilaannya. Dia menarik pelatuk pistolnya dengan nekat.
Bang!!!
Suara letusan senjata api menggema memekakkan telinga di dalam pabrik tua itu.
Senjani memekik histeris, menutup matanya. Namun, peluru Grayson meleset beberapa sentimeter dari bahu Jiro karena cengkeraman tangan Grayson yang gemetar. Di saat yang bersamaan, tim pengawal Jiro bergerak dengan taktis yang mematikan.
Bang! Bang!
Dua tembakan peringatan yang tepat sasaran mengenai pergelangan tangan dan lutut kanan milik Grayson. Pria licik itu menjerit kesakitan yang amat sangat, pistolnya terlempar ke lantai marmer yang kotor sementara tubuhnya ambruk terkapar di atas lantai semen dengan darah yang mulai mengalir deras. Adriano dan para pengawal langsung bergegas maju, mengamankan senjata dan memborgol kedua tangan Grayson yang sudah tidak berdaya lagi.
Begitu ancaman berhasil dilumpuhkan, seluruh sisa kekuatan di kaki Jiro mendadak hilang akibat kelelahan otot yang luar biasa hebat setelah dipaksa melangkah cepat tanpa bantuan tongkat sejak tadi. Tubuh tegap sang CEO muda limbung ke arah depan.
"Mas Jiro!!!"
Senjani dengan sigap berlari maju, merentangkan kedua lengannya lebar-lebar dan menangkap tubuh kokoh Jiro sebelum suaminya itu menghantam lantai semen yang kotor. Mereka berdua jatuh bersamaan di atas lantai dengan posisi kepala Jiro yang bersandar aman di atas pangkuan paha Senjani.
Senjani mendekap tubuh suaminya erat-erat, air mata kebahagiaan dan kelegaan tumpah ruah membasahi wajah cantiknya yang kini mulai kembali merona. "Mas... Kamu baik-baik aja? Ada yang terluka ga?" Tanya Senjani dengan suara yang bergetar hebat menahan haru.
Jiro tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menumpu berat tubuhnya menggunakan satu lengannya yang kokoh, mendongakkan kepalanya untuk menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata jernih istrinya yang dipenuhi oleh ketulusan yang mendalam. Dia mengulurkan tangan kanannya, menyeka sisa-sisa air mata di pipi Senjani dengan gerakan jemari yang sangat lembut dan penuh kehangatan, seolah sedang menyembuhkan seluruh luka batin yang sempat dia goreskan pada wanita itu di masa lalu.
"Aku baik-baik saja, Sayang... Aku baik-baik saja selama kamu berada di dalam pelukanku," bisik Jiro dengan suara bariton yang serak dan penuh gairah kepemilikan yang mutlak. Pria angkuh itu menarik tengkuk Senjani perlahan, menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan yang sangat mendalam, manis, dan hangat di tengah riuh rendah suara sirine mobil polisi yang mulai berdatangan mengepung pabrik tua itu.
Momen mendebarkan di ambang maut itu menjadi penegasan akhir yang mutlak bahwa badai telah resmi berlalu dari kehidupan mereka, dan sang monster kini telah sepenuhnya pulang ke dalam pelukan hangat sang terapis penyembuh hatinya untuk selamanya.