NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 034: Buah Longan untuk Lintang

Sari kembali ke kebun pagi itu.

Ia tidak pergi lama. Arman mengirim sopir, tetapi Sari tetap membawa buku catatan sendiri, memeriksa gudang sortir, dan memastikan Ayu tidak menerima pesanan lebih dari stok. Hidupnya tidak berhenti hanya karena ia tinggal sementara di rumah Kebayoran.

Pak Warto sempat muncul di dekat gudang, pura-pura menanyakan harga.

"Bu Sari sekarang tinggal di rumah orang besar, ya?"

Sari menimbang lengkeng tanpa menoleh. "Bapak datang beli buah atau beli gosip?"

Pekerja di dekat keranjang menahan tawa.

Pak Warto mendengus. "Hati-hati, Bu. Orang kaya kalau bosan, yang ditinggal ya perempuan biasa."

Sari mengangkat satu buah lengkeng, memeriksa kulitnya. "Terima kasih sarannya. Bapak juga hati-hati. Orang yang sibuk mengurus hidup orang lain sering lupa membayar utang pupuk."

Wajah Pak Warto berubah. Ia pergi tanpa membeli.

Ayu mendekat setelah lelaki itu menjauh. "Bu, mulut Ibu makin tajam."

"Bukan tajam. Efisien."

Sari memilih satu kotak kecil lengkeng paling manis untuk Lintang. Tidak banyak. Anak yang takut sering lebih mudah menerima sesuatu dalam jumlah kecil. Satu kotak, bukan keranjang. Satu tawaran, bukan pesta.

Saat kembali ke Kebayoran, rumah tampak tenang. Terlalu tenang.

Arman sedang bekerja di ruang kerja. Dini duduk di ruang keluarga dengan tablet di tangan, seolah membaca jadwal. Begitu melihat kotak buah, ia tersenyum tipis.

"Bu Sari bawa buah lagi?"

"Untuk Lintang."

"Dia sudah makan."

"Bagus."

"Kalau kebanyakan buah, nanti batuk."

"Maka kita tidak berikan kebanyakan."

Dini menutup tablet. "Ibu perhatian sekali."

Sari menatapnya. "Anak yang lapar memang perlu diperhatikan."

Senyum Dini hilang sebentar.

Sari naik ke lantai dua. Pintu kamar Lintang terbuka sedikit. Anak itu duduk di lantai dekat rak buku, menggambar dengan krayon kuning. Begitu melihat Sari, tangannya berhenti. Ia tidak menyembunyikan kertas, tetapi juga tidak menunjukkannya.

"Bu Sari bawa lengkeng," kata Sari dari pintu. "Mau lihat?"

Lintang melirik ke belakang Sari.

Dini berdiri di ujung koridor.

Sari menoleh. "Mbak Dini, tolong ambilkan air hangat di bawah."

"Di kamar mandi sini ada, Bu."

"Saya minta air hangat di bawah."

Dini menahan bibir, lalu pergi.

Baru setelah langkah Dini menjauh, Lintang menatap kotak buah lebih lama.

Sari duduk di ambang pintu. Ia tidak masuk tanpa izin. Ia membuka kotak, mengupas satu lengkeng, dan memakannya sendiri.

"Manis."

Lintang menatap.

"Kalau Lintang mau, ambil sendiri. Kalau tidak mau, Bu Sari makan. Tapi kalau Bu Sari makan semua, perut Bu Sari protes."

Jari kecil Lintang bergerak. Ia mendekat setengah lutut, lalu berhenti.

Sari tidak mengulurkan buah ke mulutnya. Ia meletakkan satu lengkeng yang sudah dikupas di tutup kotak.

Lintang mengambilnya cepat, memasukkan ke mulut, lalu mengunyah dengan mata tetap ke arah koridor.

"Pelan-pelan," kata Sari.

Anak itu menelan terlalu cepat.

Sari mengupas satu lagi, tetapi tidak langsung meletakkan.

"Yang pertama sudah turun ke perut?"

Lintang tidak menjawab.

"Kita tunggu sebentar."

Anak itu menatap buah di tangan Sari. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu seperti keinginan yang tidak langsung ditelan takut.

Sari meletakkan buah kedua. Lintang mengambilnya, kali ini sedikit lebih pelan.

Dini kembali membawa baskom kecil berisi air hangat.

"Lintang, jangan rakus. Nanti sakit perut."

Tangan Lintang berhenti.

Sari menutup kotak buah. "Cukup dua dulu."

Dini tersenyum. "Saya kan cuma mengingatkan, Bu."

"Mengingatkan tidak perlu memakai kata rakus."

"Ibu sensitif sekali."

"Mungkin. Tapi saya tidak membuat anak berhenti makan."

Udara koridor menegang. Lintang menunduk, jari-jarinya mencengkeram krayon kuning.

Sari mengambil baskom dari Dini. "Terima kasih. Saya turun sebentar."

Ia berjalan ke bawah, tetapi tidak jauh. Di belokan tangga, ia berhenti dan menyalakan perekam suara.

Beberapa detik kemudian, suara Dini terdengar dari kamar.

"Kamu senang, ya, ada yang belain? Makan buah dari dia, diam-diam lihat dia. Jangan pikir Pak Arman akan percaya kamu kalau kamu macam-macam."

Tidak ada suara Lintang.

"Anak aneh. Tidak bisa ngomong, tapi pintar cari perhatian."

Sari menggenggam ponsel.

Dini melanjutkan, lebih pelan tapi tajam. "Kalau kamu bikin saya kehilangan kerja, kamu juga tidak akan enak. Anak nakal bisa dikirim ke tempat jauh. Di sana tidak ada Bu Sari."

Sari menutup mata sebentar. Rekaman terus berjalan.

Ketika langkah Dini terdengar mendekat, Sari turun ke dapur seolah baru mengambil air. Ia tidak membuka konfrontasi. Bukti yang disimpan lebih berguna daripada kemarahan yang meledak terlalu cepat.

Di dapur, Rini sedang mencuci gelas. Sari mendekat.

"Rini, mulai hari ini jangan buang sisa makanan atau gelas dari kamar Lintang sebelum saya atau Pak Arman lihat."

Rini pucat. "Ada apa, Bu?"

"Catat saja. Jam berapa makan masuk, jam berapa keluar, sisa berapa."

"Kalau Mbak Dini tanya?"

"Bilang saya yang minta."

Rini menggigit bibir. "Bu, saya pernah lihat Mbak Dini bawa gelas kecil malam-malam. Katanya vitamin."

Sari berhenti. "Vitamin dari mana?"

"Saya tidak tahu. Botolnya tidak pernah saya lihat di dapur."

"Seberapa sering?"

"Tidak tiap malam. Tapi beberapa kali. Biasanya kalau Lintang sulit tidur."

Sari merasakan hawa dingin naik dari punggung.

"Mulai sekarang, kalau ada gelas seperti itu, jangan dicuci dulu. Panggil saya."

Rini mengangguk cepat.

Sore itu, Sari mengirim rekaman ancaman Dini kepada Arman. Ia menambahkan pesan:

Jangan konfrontasi sendirian. Ini sudah masuk ancaman langsung. Ada info dari Rini soal minuman malam yang disebut vitamin.

Balasan Arman datang singkat:

Saya pulang sekarang.

Saat Arman tiba, wajahnya tidak marah besar. Justru terlalu tenang. Ia meminta Rini mengulang keterangan. Ia mendengar rekaman sampai selesai. Lalu ia menelepon dr. Rafi dan Bu Hana.

"Saya perlu pemeriksaan lebih lengkap," katanya. "Termasuk kemungkinan obat atau zat yang diberikan tanpa izin."

Dini muncul di ruang keluarga ketika mendengar kata obat.

"Obat apa, Pak?"

Arman menoleh. "Saya belum bicara denganmu."

Wajah Dini memucat.

Sari melihat itu. Satu reaksi kecil, tetapi cukup.

Malam itu, pintu kamar Lintang tetap terbuka. Rini yang mengantar makan ditemani Sari. Dini tidak diizinkan mendekat dengan alasan "jadwal kerja diatur ulang".

Lintang makan sedikit. Tidak banyak. Tapi setelah makan, ia mengetuk meja dua kali.

Sari menoleh. "Mau air?"

Anak itu tidak menjawab. Ia hanya melihat gelasnya.

Sari menuang air dari botol baru yang masih tersegel, membukanya di depan Lintang.

"Ini air baru."

Lintang mengambil gelas dan minum.

Di ujung koridor, Dini melihat dari jauh.

Untuk pertama kalinya, bukan Lintang yang tampak takut.

Dr. Rafi datang malam itu juga, tidak untuk pemeriksaan besar, tetapi untuk memberi instruksi awal. Ia meminta semua obat, vitamin, jamu, sirup batuk, dan suplemen anak dikumpulkan di meja ruang makan. Rini membawa kotak obat resmi rumah. Arman mengambil obat dari kamar Lintang. Sari memperhatikan Dini.

Dini datang terakhir dengan dua botol vitamin anak.

"Ini saja yang biasa saya berikan, Dok."

Dr. Rafi membaca label. "Ini vitamin umum. Ada yang lain?"

"Tidak."

Rini menunduk, tetapi Sari melihat tangannya mengepal.

Arman berkata, "Rini pernah melihat gelas kecil malam hari."

Dini langsung menoleh. "Rini salah lihat. Kadang saya kasih madu."

"Madu dari mana?" tanya Sari.

"Dapur."

Rini mengangkat kepala. "Madu dapur masih tersegel, Mbak."

Ruang makan hening.

Dini tertawa kaku. "Mungkin saya lupa. Masa hal kecil begini jadi masalah besar?"

Dr. Rafi menutup kotak obat. "Pada anak dengan riwayat trauma dan pola makan buruk, semua yang masuk tubuhnya penting. Mulai malam ini, tidak ada obat, vitamin, madu, atau minuman apa pun tanpa dicatat."

Arman menambahkan, "Dan tanpa izin saya."

Dini menunduk. "Baik, Pak."

Namun saat ia menunduk, Sari melihat rahangnya mengeras.

Setelah dokter pulang, Arman berdiri lama di ruang makan. Kotak obat di depannya tampak seperti bukti bahwa rumahnya sendiri selama ini punya area yang tidak ia kenal.

"Saya ingin langsung memecatnya," katanya pelan.

"Saya tahu."

"Kenapa Ibu tidak bilang lakukan saja?"

"Karena kita belum tahu apa yang dia sembunyikan. Kalau dia pergi malam ini, jejak bisa ikut pergi."

Arman menatap Sari. "Ibu terbiasa berpikir seperti ini?"

"Saya terbiasa hidup dengan orang yang pandai membuat saya terlihat berlebihan."

Arman tidak menjawab. Mungkin ia baru mengerti bahwa pengalaman buruk Sari, yang sering ia ceritakan dengan nada datar, kini sedang menyelamatkan anak di rumahnya.

Malam itu, kepala keamanan diminta mengecek kamera area dapur dan koridor. Ada beberapa menit rekaman yang hilang dua malam sebelumnya. Alasannya belum jelas.

Sari menulis satu baris baru di catatannya:

Minuman malam. Madu tidak jelas. Rekaman hilang.

Di ujung halaman, anjing tetangga menggonggong sekali.

Rumah Kebayoran kembali sunyi, tetapi kali ini sunyinya penuh orang yang mulai berjaga.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!