NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatuh nya Sang Penguasa Bayangan

Roda mobil sedan hitam itu berputar mulus membelah jalanan kota yang lengang di dini hari.

Lampu-lampu jalan memantul di kaca jendela kendaraan yang melaju dengan kecepatan konstan.

Di dalam kabin yang senyap, tidak ada suara selain deru mesin mobil yang halus.

Kirana duduk bersandar di kursi belakang sambil menatap keluar jendela kaca.

Gedung-gedung tinggi menjulang gelap di bawah naungan langit malam yang kelam.

Pikiran wanita itu masih melayang mengingat perjalanan panjang yang baru saja mereka lalui.

Dari gubuk nelayan yang sunyi hingga kembali ke jantung kota metropolitan ini.

Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang perlahan berubah menjadi kenyataan baru.

Andra duduk di sampingnya dengan tatapan lurus ke depan penuh konsentrasi.

Wajah pria itu tampak tenang namun memancarkan aura ketegasan yang kuat.

Ponsel satelit di tangannya menyala menampilkan data pergerakan musuh secara real-time.

"Kita akan langsung menuju ke markas pribadi Rian di kawasan Menteng, Tuan?" tanya pengemudi di depan.

Suara pria berjas rapi itu memecah keheningan di dalam kabin mobil yang remang-remang.

Andra menganggukkan kepalanya pelan merespons pertanyaan pengemudi tersebut.

"Ya, langsung ke sana," jawab Andra dengan suara berat berwibawa.

"Pastikan tim penyergap sudah mengepung akses keluar masuk gedung."

"Semua sudah sesuai instruksi, Tuan. Tidak ada satu pun celah pelarian bagi Rian."

Kirana menoleh ke arah suaminya mendengar percakapan taktis tersebut.

Ia bisa merasakan betapa matangnya persiapan yang sudah dirancang oleh Andra.

"Mas... apa Rian benar-benar sudah tidak punya jalan keluar lagi?" tanya Kirana pelan.

Andra menoleh ke samping, lalu merangkul pundak istrinya dengan lembut.

"Imperium yang ia bangun di atas kebohongan dan darah orang lain tidak akan bertahan lama, Kir," jawab Andra.

"Malam ini, semua topeng kekuasaannya akan kita runtuhkan seketika."

Mobil sedan mewah itu mulai memasuki kawasan perumahan elit di pusat kota.

Suasana di sekitar lokasi tampak sangat sunyi dan dikawal ketat oleh penjagaan privat.

Namun, di balik kemewahan rumah besar milik Rian, kepanikan luar biasa sedang melanda.

Lampu-lampu di setiap lantai bangunan megah itu menyala terang benderang.

Beberapa mobil mewah terparkir berantakan di halaman depan rumah utama.

Rian mondar-mandir di ruang kerjanya dengan raut wajah yang sangat kusut.

Rambutnya tampak berantakan dan kemeja mahalnya berkerut di sana-sini.

Ia baru saja mendapat kabar bahwa seluruh rekening perusahaannya dibekukan secara mendadak.

Para mitra bisnis kelas atas menolak mengangkat telepon darurat darinya.

Orang-orang yang dulu menjilat dan memujanya kini mendadak menjadi musuh tak kasat mata.

"Sialan! Siapa yang berani mempermainkan aku seperti ini?!" teriak Rian frustrasi.

Ia melemparkan dokumen penting ke atas lantai marmer dengan penuh amarah.

Napasnya memburu tidak beraturan mencerminkan keputusasaan yang mendalam.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu ruang kerjanya terdengar digedor dengan keras.

"Tuan Rian! Gawat! Keadaan di luar sudah dikepung orang tidak dikenal!" teriak pengawal pribadi panik.

Gedoran pintu ruang kerja pribadi Rian terdengar semakin brutal dan tidak sabaran.

Suara panik dari pengawal utamanya memecah keheningan malam di dalam rumah mewah tersebut.

Rian yang sedang dilanda amarah seketika menghentikan langkahnya di atas lantai marmer.

Jantung pria angkuh itu berdegup kencang bukan lagi karena amarah, melainkan ketakutan.

Ketakutan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya yang penuh kuasa.

"Ada apa?! Kenapa kamu berteriak seperti orang kesurupan di depan pintu?!" bentak Rian tajam.

Ia berusaha menutupi rasa gugupnya dengan meninggikan suara sekencang mungkin.

Pintu ruang kerja itu didorong terbuka secara kasar dari luar oleh pengawal pribadinya.

Wajah sang pengawal tampak sangat pucat pasi dipenuhi butiran keringat dingin sebesar biji jagung.

Napas pria bertubuh kekar itu terengah-engah seolah baru saja berlari dari kejaran maut.

"Tuan... kita benar-benar dalam bahaya besar!" lapor pengawal itu dengan suara bergetar.

"Seluruh akses jalan keluar di sekitar kompleks rumah mewah ini sudah dikepung."

"Orang-orang tak dikenal berpakaian serba hitam dan bersenjata lengkap menutup semua jalur."

Mendengar laporan itu, mata Rian membelalak lebar hingga urat-urat di pelipisnya terlihat jelas.

"Kepung? Siapa yang berani mengepung rumahku di kawasan elit ini?!" teriak Rian tidak percaya.

"Mana aparat kepolisian? Panggil penjagaan sektor!" sambungnya dengan nada histeris.

Pengawal pribadi itu menggelengkan kepalanya lemah dengan tatapan penuh keputusasaan.

"Tidak ada guna, Tuan... saluran komunikasi kita sudah dilumpuhkan total sejak sepuluh menit lalu."

"Bahkan pos keamanan gerbang depan sudah diambil alih tanpa ada suara letusan senjata sedikit pun."

"Mereka bergerak sangat profesional seperti pasukan militer bayangan."

Kaki Rian mendadak lemas seketika mendengar penjelasan mengerikan tersebut.

Ia terhuyung ke belakang hingga punggungnya membentur rak buku besar di ruangannya.

Beberapa buku tebal jatuh berserakan ke lantai menimbulkan suara dentuman keras.

Imperium bisnis ilegal yang ia dirikan dengan cara merampas hak orang lain kini runtuh.

Kerajaan kekayaan yang ia banggakan mendadak lenyap dalam hitungan malam.

Sementara itu, di luar halaman rumah megah tersebut, mobil sedan hitam yang ditumpangi Andra baru saja tiba.

Kendaraan mewah itu berhenti tepat di depan pintu utama halaman rumah Rian.

Pintu mobil terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Andra yang melangkah turun dengan tenang.

Di sampingnya, Kirana berjalan anggun mengenakan mantel hangat berwarna gelap.

Sorot mata Andra memancarkan ketegasan dingin yang siap menagih seluruh hutang masa lalu.

Para pengawal bayangan yang mengepung tempat itu langsung membungkuk hormat saat melihat kedatangan Andra.

"Selamat datang, Tuan Muda. Situasi di dalam sudah sepenuhnya terkendali," lapor pemimpin pasukan pengawal.

Andra menganggukkan kepalanya pelan, lalu merangkul pundak Kirana untuk memberikan ketenangan.

"Mari kita masuk, Kir. Pertunjukan babak akhir akan segera kita mulai," bisik Andra lembut.

Mereka berdua berjalan melintasi halaman luas menuju pintu utama rumah musuh mereka.

Pintu kaca besar berukir emas di hadapan mereka terbuka lebar menyambut kedatangan sang pemilik sejati.

Langkah kaki Andra bergemerincing tegas di atas lantai marmer putih bersih.

Setiap sudut ruangan besar itu tampak lengang karena para pengawal Rian telah dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti.

Kirana berjalan tepat di sisi kanan suaminya dengan dagu terangkat tinggi.

Ia tidak lagi merasakan sisa-sisa ketakutan yang sempat mencekam jiwanya di pelabuhan malam tadi.

Kehadiran Andra memberikan perlindungan mutlak yang tidak bisa digoyahkan oleh siapa pun.

Di ujung koridor utama, pintu ruang kerja pribadi Rian tampak setengah terbuka lebar.

Cahaya lampu meja kuning temaram terpancar keluar dari celah pintu tersebut.

Suara napas terengah-engah dan barang-barang yang berserakan terdengar jelas dari dalam ruangan.

Andra menghentikan langkahnya sejenak tepat di depan ambang pintu ruang kerja itu.

Ia melepaskan rangkulannya dari pundak Kirana dengan gerakan tenang dan terukur.

Tangan kanannya mendorong daun pintu kayu jati itu hingga terbuka sepenuhnya secara perlahan.

Kriek...

Suara derit engsel pintu terdengar memecah keheningan malam di dalam rumah megah tersebut.

Rian yang sedang terduduk lemas di lantai marmer seketika mendongakkan kepalanya ke arah pintu.

Mata pria angkuh itu terbelalak lebar saat melihat siapa sosok yang berdiri tegak di hadapannya.

Wajah Rian mendadak pucat pasi bagai disambar petir di siang bolong.

Ia mengenali sosok pria di hadapannya dengan sangat baik.

Pria yang selama ini ia pandang sebelah mata sebagai suami miskin tidak berguna.

Pria yang sering ia hina, injak-injak, dan singkirkan dari lingkaran keluarga besar.

Kini berdiri tegak mengenakan pakaian rapi dengan memancarkan wibawa tingkat tinggi.

"An... Andra...?! Bagaimana mungkin?!" suara Rian terbata-bata nyaris tak terdengar.

Kedua tangan Rian bergetar hebat menumpu tubuhnya di atas lantai yang dipenuhi pecahan kaca.

Ia mengucek matanya berulang kali seolah tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.

"Kau... kau seharusnya sudah mati di teluk karang bersama kapal itu!" teriak Rian histeris.

Andra melangkah masuk ke dalam ruangan dengan senyuman dingin tersungging di bibirnya.

Ia menatap rendah ke arah musuhnya yang kini tak berdaya bagai seekor tikus terjebak.

"Mati? Kau terlalu meremehkan kemampuanku, Rian," ucap Andra dengan suara berat berwibawa.

"Semua rencana busukmu, manipulasi dokumen, hingga usaha pembunuhan itu..."

"...sudah kusimpan rapi sebagai bukti sah untuk menghancurkan hidupmu."

Kirana turut melangkah masuk ke dalam ruangan mewah tersebut dengan tatapan penuh kebencian.

Wanita itu menatap tajam ke arah pria yang hampir merenggut nyawa serta masa depannya.

"Kau benar-benar manusia paling serakah yang pernah aku kenal, Rian," kata Kirana dingin.

"Semua harta dan kekuasaan yang kau banggakan ini tidak akan bisa menyelamatkanmu sekarang."

Rian merangkak mundur hingga punggungnya kembali membentur dinding kaca besar.

Ia menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam perangkap besar yang dirancang oleh Andra.

Semua kekayaan, koneksi, dan kekuasaan yang ia miliki runtuh dalam waktu semalam.

Tidak ada lagi bala bantuan yang akan datang menyelamatkan muka dan harga dirinya.

"Jangan... kumohon jangan bunuh aku..." rintih Rian mulai kehilangan seluruh kesombongannya.

Ia mencoba merangkak maju hendak memegang ujung sepatu Andra untuk memohon ampun.

Namun, seorang pengawal bayangan dengan cepat menodongkan laras senjata ke arah lantai dekat tangan Rian.

Seketika itu juga Rian mengurungkan niatnya dan menarik kembali kedua tangannya gemetar.

"Membunuhmu hanya akan membuat tanganku kotor," ujar Andra dengan nada datar tanpa emosi.

"Biarkan hukum dan seluruh kerugian finansial yang kau sebabkan menghukum mu seumur hidup."

Beberapa saat kemudian, suara sirene mobil polisi mulai terdengar mendekat dari kejauhan.

Suara bising itu semakin lama semakin nyaring memecah keheningan subuh di kawasan elit tersebut.

Pintu utama rumah besar itu didobrak masuk oleh aparat penegak hukum berpakaian lengkap.

Mereka langsung merangsek masuk ke ruang kerja pribadi Rian dengan surat penangkapan resmi.

Pemimpin aparat kepolisian tersebut langsung membungkuk hormat saat melihat kehadiran Andra.

"Semua perintah Tuan Muda sudah kami laksanakan.

Tersangka resmi ditahan atas kasus korupsi dan percobaan pembunuhan," lapor sang perwira.

Andra menganggukkan kepalanya singkat memberikan izin kepada aparat untuk membawa pergi musuhnya.

Rian diseret berdiri secara paksa oleh dua orang petugas kepolisian dengan borgol besi melingkar di pergelangan tangannya.

Pria itu terus menerus meronta dan meneriakkan sumpah serapah sepanjang koridor rumah.

Namun, teriakan keputusasaan itu lama-kelamaan menghilang seiring langkah mereka keluar gedung.

Di dalam ruangan yang kini kembali sunyi, Andra menghela napas panjang untuk melepaskan beban berat.

Ia berbalik badan, lalu menatap lekat-lekat ke arah istri tercinta yang setia menanti di sisinya.

Kirana tersenyum manis sambil menyeka bulir air mata kelegaan di sudut matanya.

Badai besar yang menerpa biduk rumah tangga mereka akhirnya benar-benar berakhir tuntas.

Andra merangkul pundak Kirana erat-erat dan mengecup puncak kepala wanita itu penuh kasih.

"Semua sudah selesai, Kir. Mari kita pulang ke rumah kita yang sebenarnya," bisik Andra lembut.

Mereka berdua berjalan berdampingan keluar dari ruangan megah tersebut menuju fajar baru.

Matahari pagi mulai menyingsing indah di ufuk timur kota, menyambut awal kehidupan baru mereka.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!