Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027: Gatra yang Menangis
Tetapi bagi Ardi, malam itu adalah malam sebelum perang yang paling pribadi.
Pagi berikutnya, Pengadilan Agama Surabaya terasa lebih dingin daripada ruang operasi.
Di ruang tunggu, orang-orang duduk membawa map keluarga mereka sendiri: perceraian, nafkah, warisan, hak asuh. Tidak ada darah di lantai. Tidak ada monitor berbunyi. Tetapi di tempat itu, masa depan anak-anak bisa dipisahkan hanya oleh beberapa lembar putusan.
Ardi datang dengan jas sederhana dan map dokumen.
Pak Prabowo berada di sampingnya. Dua pengacara muda membawa berkas pendukung. Hartono tidak ikut masuk ke ruang mediasi, tetapi timnya berada di luar gedung, memastikan semua proses berjalan rapi.
Dewi datang dua puluh menit kemudian.
Ia tidak sendiri.
Ibu Sumiati berjalan di belakangnya dengan dagu terangkat, memakai kebaya rapi dan wajah yang siap menyalahkan dunia. Di sisi lain, dua pengacara Dewi membawa tas kulit mahal. Gatra dan Sari tidak langsung terlihat. Ardi baru melihat mereka di ujung koridor, bersama seorang asisten keluarga.
Gatra memakai kemeja biru.
Sari memeluk boneka kecil.
Jantung Ardi seperti ditarik.
Gatra melihatnya.
Mata anak itu membesar.
“Ay—”
Asisten keluarga cepat-cepat menunduk dan berbisik sesuatu. Gatra menutup mulutnya, tetapi matanya tidak lepas dari Ardi.
Ardi tidak bergerak mendekat.
Tidak di koridor pengadilan. Tidak dengan Ibu Sumiati yang menunggu kesalahan sekecil apa pun.
Ia hanya mengangkat tangan sedikit.
Gatra membalas dengan jari kecil yang hampir tidak terlihat.
Panggilan mediasi datang beberapa menit kemudian.
Ruang mediasi tidak besar. Ada meja panjang, kursi untuk para pihak, dan seorang hakim mediator yang wajahnya tenang tetapi matanya tajam. Di dinding, tulisan tentang perdamaian keluarga tergantung di atas rak dokumen.
Hakim mediator membuka sesi dengan suara datar.
“Sesuai prosedur, sebelum perkara hak asuh masuk pemeriksaan pokok, para pihak wajib menjalani mediasi. Tujuan mediasi adalah mencari kesepakatan terbaik untuk anak, bukan untuk memenangkan ego orang tua.”
Ardi menunduk hormat.
Dewi duduk di seberang, bibirnya rapat.
Ibu Sumiati duduk sedikit di belakangnya, tetapi tatapannya lebih agresif daripada pengacara.
Pengacara Dewi mulai bicara lebih dulu.
“Yang Mulia, anak-anak masih sangat kecil. Secara psikologis mereka membutuhkan ibu. Selama ini Gatra dan Sari tinggal bersama Ibu Dewi, terbiasa dengan rutinitas, rumah, dan lingkungan. Memindahkan mereka kepada pemohon yang memiliki riwayat pidana akan mengganggu kestabilan anak.”
Kata riwayat pidana diletakkan di meja seperti batu.
Ardi tidak bereaksi.
Pak Prabowo mencatat.
Hakim mediator menatap Ardi. “Pihak pemohon?”
Pak Prabowo menjawab tenang. “Kami tidak menutup masa lalu klien kami. Namun sejak bebas, dr. Ardi Pratama telah memulihkan izin praktik, bekerja stabil sebagai dokter spesialis, memperoleh posisi akademik, memiliki tempat tinggal layak, serta dukungan keluarga. Pertanyaan utama bukan masa lalu sebagai label, tetapi kondisi anak hari ini dan masa depan mereka.”
Dewi akhirnya bicara.
“Anak-anak sudah terbiasa tinggal dengan saya.”
Suaranya pelan, tetapi dingin.
“Saya ibu mereka. Saya yang menemani mereka tidur, makan, sakit. Ardi baru muncul lagi setelah semuanya sudah tertata. Anak-anak tidak bisa dipindahkan hanya karena dia sekarang punya uang.”
Ardi mengangkat mata.
“Saya tidak ingin membeli anak-anak,” katanya.
Dewi menatapnya tajam. “Tapi kamu membawa saham, profesor, semua itu untuk menunjukkan kamu lebih layak.”
“Saya membawa itu karena dulu kamu bilang saya tidak punya rumah, tidak punya pekerjaan, tidak punya masa depan.”
Wajah Dewi berubah sedikit.
Ibu Sumiati langsung menyela, “Memang benar! Anak kecil butuh ibu, bukan ayah yang pernah masuk penjara.”
Hakim mediator mengetuk meja pelan.
“Ibu Sumiati, harap bicara melalui kuasa hukum atau setelah diberi kesempatan.”
Ibu Sumiati menutup mulut, tetapi matanya tetap menyala.
Dewi menarik napas. “Saya hanya ingin anak-anak tidak bingung. Mereka sudah nyaman.”
Di luar ruang, terdengar suara kecil.
Awalnya seperti kursi bergeser.
Lalu suara anak menangis tertahan.
Ardi menoleh.
Pintu ruang mediasi terbuka tiba-tiba.
Gatra masuk dengan wajah basah. Asisten keluarga mencoba menahannya, tetapi anak itu lolos dan berlari lurus ke arah Ardi.
“AYAH!”
Semua orang membeku.
Gatra menabrak kaki Ardi dan memeluknya sekuat tenaga.
“Gatra mau ikut Ayah! Gatra nggak mau tinggal sama Nenek! Nenek jahat!”
Ruangan hening total.
Dewi berdiri. “Gatra!”
Ibu Sumiati lebih cepat. “Sini! Jangan bikin malu!”
Ia maju hendak menarik tangan Gatra.
Ardi bergerak setengah langkah, tubuhnya otomatis melindungi anak itu, tetapi ia tidak mendorong siapa pun. Ia hanya menunduk dan memegang bahu kecil Gatra.
“Nak, pelan-pelan. Ini ruang hakim.”
Gatra menangis lebih keras. “Nenek bilang Ayah nggak boleh jemput. Nenek bilang Ayah jahat. Tapi Ayah nggak jahat. Ayah punya kamar buat Gatra?”
Pertanyaan itu menghantam Ardi lebih keras daripada tuduhan mana pun.
Ia menelan napas.
“Ada, Nak. Ada kamar untuk Gatra dan Sari.”
“Ada warna biru?”
“Ada bantal biru.”
Gatra menempelkan wajahnya ke kaki Ardi.
Hakim mediator tidak langsung bicara. Ia memperhatikan anak itu, Ardi yang menahan diri, Dewi yang pucat, dan Ibu Sumiati yang masih ingin menarik cucunya tetapi kini ragu karena semua mata tertuju padanya.
Sari muncul di pintu, digendong asisten. Ia melihat Gatra menangis, lalu ikut merengek.
“Kakak... Yah...”
Dewi menutup mata sebentar.
Pengacaranya berbisik cepat, tetapi Dewi tidak menjawab.
Hakim mediator akhirnya berkata, suaranya lebih rendah, “Anak-anak dibawa keluar dulu. Jangan ada yang memaksa atau menarik dengan kasar.”
Ibu Sumiati membuka mulut, “Tapi Yang Mulia—”
“Saya bilang jangan.”
Nada itu menghentikan semua orang.
Ardi berlutut di depan Gatra.
“Gatra tunggu sebentar di luar, ya. Ayah tidak pergi.”
“Janji?”
Ardi mengangkat kelingkingnya.
“Janji.”
Gatra mengaitkan kelingkingnya dengan tangan gemetar.
Baru setelah itu ia mau dibawa keluar, tetapi matanya terus melihat Ardi sampai pintu tertutup.
Ruang mediasi tidak sama lagi.
Kalimat Dewi tentang anak-anak sudah terbiasa tinggal dengannya baru saja retak di depan hakim.
Hakim mediator menulis beberapa catatan.
“Saya melihat belum ada kesepakatan dan ada indikasi tekanan emosional pada anak,” katanya. “Mediasi dinyatakan belum berhasil. Perkara akan dilanjutkan ke pemeriksaan pokok.”
Dewi duduk perlahan.
Ibu Sumiati terlihat marah, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak langsung bicara.
Di koridor setelah sesi ditutup, pengacara Dewi berbicara cepat di dekat lift. Kata-kata seperti strategi, kontrol emosi, dan jangan bawa anak ke ruang sidang terdengar berpotongan.
Dewi berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia menatap Gatra yang duduk di kursi panjang, masih sesenggukan sambil memegang ujung baju asisten. Sari tertidur di pangkuan orang lain, pipinya basah.
Ardi ingin mendekat.
Pak Prabowo menyentuh lengannya pelan. “Jangan sekarang. Semua dilihat.”
Ardi berhenti.
Ia hanya menatap Gatra dari jauh.
Gatra melihatnya, lalu mengangkat kelingking kecilnya lagi.
Ardi membalas dari tempatnya berdiri.
Ardi menunduk, menahan napas yang terasa panas.
Ia tidak menang hari itu.
Belum.
Tetapi suara Gatra sudah masuk ke dalam ruang hukum.
Dan suara itu tidak bisa dimasukkan kembali ke balik pintu.
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭