Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021: Jangan Lihat Dia
Koko.
Kata tanpa suara itu membuat udara di sekitar Meilin berubah dingin.
Kevin tidak bergerak beberapa detik. Hanya rahangnya yang mengeras, dan kotak makan di tangannya sedikit penyok karena genggamannya terlalu kuat.
"Masuk ke mobil," ulangnya.
"Ko, dia panggil kamu..."
"Meilin."
Nada Kevin rendah.
Bukan marah pada Meilin. Lebih seperti peringatan agar dia tidak berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang berbahaya.
Di seberang jalan, pria berambut merah muda itu masih tersenyum. Santai. Hampir ceria. Tapi matanya terus menempel pada Kevin, seolah jalanan, motor, dan orang-orang yang lewat tidak ada.
Meilin merasakan bulu kuduknya naik.
Kevin membuka aplikasi taksi online dengan cepat. Sambil menunggu mobil mendekat, dia berdiri setengah langkah di depan Meilin, menutupi tubuhnya dari arah seberang jalan.
"Kamu kenal dia," kata Meilin pelan.
"Masuk mobil dulu."
"Dia panggil kamu Koko."
"Aku dengar."
"Lalu?"
Kevin menoleh. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak.
"Tidak semua orang yang memanggilku begitu perlu kamu kenal."
Kalimat itu seperti pintu yang ditutup.
Mobil datang. Kevin membukakan pintu belakang, memastikan Meilin masuk lebih dulu, lalu baru duduk di sampingnya. Saat mobil bergerak, Meilin menoleh ke belakang.
Pria berambut merah muda itu masih di sana.
Dia tidak mengejar.
Dia hanya mengangkat ponsel, seolah sedang memotret sesuatu, lalu memasukkannya ke saku.
Kevin melihatnya juga.
Sepanjang perjalanan kembali ke Kemang, Kevin hampir tidak bicara.
Meilin memegang kotak makanan kosong di pangkuannya. Dia ingin bertanya, tapi setiap kali melihat garis tegang di wajah Kevin, pertanyaannya berhenti di tenggorokan. Kevin yang dia kenal sekarang bisa menghadapi data rusak, kontrak kerja, rumah sakit, dan uang sewa dengan kepala dingin.
Tapi satu pria berambut merah muda membuatnya berubah seperti ini.
Itu berarti pria itu bukan masalah kecil.
Sesampainya di apartemen, Kevin langsung mengecek kunci pintu, jendela balkon, dan interkom. Meilin mengikuti dari belakang.
"Kamu menakutiku," katanya akhirnya.
Kevin berhenti.
Kalimat itu tampaknya lebih efektif daripada semua pertanyaan.
"Aku tidak bermaksud."
"Kalau begitu jelaskan sedikit."
Kevin mengusap wajahnya. Untuk beberapa detik, dia tampak jauh lebih tua daripada usianya.
"Dia dari masa lalu yang belum ingin kubawa ke sini."
"Masa lalu keluarga?"
Kevin menatapnya.
Meilin tahu dia menebak terlalu tepat.
"Belum," kata Kevin.
"Belum apa?"
"Belum waktunya."
Jawaban itu tidak memuaskan. Tapi tidak seperti dulu, Meilin bisa mendengar perbedaannya. Kevin bukan menolak karena tidak percaya padanya. Kevin menolak karena dia sendiri belum siap membuka pintu itu.
Meilin menarik napas.
"Baik. Belum."
Kevin menatapnya, mungkin tidak menyangka dia akan berhenti.
"Tapi kalau dia muncul lagi, kamu kasih tahu aku."
"Aku akan urus."
"Bukan itu." Meilin menatapnya. "Kamu kasih tahu aku."
Kevin diam cukup lama.
"Iya."
Satu kata itu cukup untuk malam itu.
Keesokan paginya, Jessica datang dengan energi yang berbanding terbalik dengan ketegangan semalam. Dia membawa folder acara charity dan satu brosur tebal.
"Mei, aku punya dosa baru," katanya begitu masuk.
Meilin yang sedang minum obat langsung curiga. "Dosa apa?"
Jessica meletakkan brosur di meja.
Jakarta Art Emerging Showcase.
Meilin membaca judul itu, lalu menatap Jessica.
"Ini apa?"
"Open submission untuk seniman baru. Aku punya kenalan panitia, tapi bukan berarti kamu dapat jalur belakang. Kamu tetap submit normal. Aku cuma kasih tahu sebelum deadline."
"Jess, aku baru mulai commission kecil."
"Justru itu. Karyamu punya cerita. Sketsa punggung laki-laki yang kamu unggah itu, aku masih ingat sampai sekarang."
Meilin hampir menoleh ke Kevin, tapi dia sedang di dapur membuat teh tawar. Atau pura-pura membuat teh tawar sambil mendengar semuanya.
"Aku belum pernah ikut pameran," kata Meilin.
"Selalu ada pertama kali."
"Kalau ditolak?"
"Ya sudah. Kita makan martabak tipis-tipis untuk merayakan penolakan."
"Aku tidak boleh makan sembarangan."
"Teh tawar dan pisang rebus, kalau begitu."
Meilin tertawa meski gugup.
Kevin datang membawa dua gelas. Dia meletakkan satu di depan Jessica, satu di depan Meilin.
"Deadline kapan?"
Jessica tersenyum seperti sudah menunggu pertanyaan itu. "Tiga minggu lagi. Perlu tiga sampai lima karya, statement pendek, dan portofolio digital."
Kevin mengambil brosur.
Meilin menatapnya. "Ko?"
"Kita bikin timeline."
Kita.
Jessica memukul meja kecil dengan telapak tangan. "Nah, ini pacar berguna."
Kevin mengabaikan komentar itu. Dia membuka ponsel, membuat daftar tanggal, lalu bertanya pada Meilin, "Karya mana yang paling kamu percaya?"
Meilin tidak langsung menjawab.
Di kepalanya muncul gambar punggung Kevin, cangkir retak, wajah pasangan commission, kucing oren, dan sketsa-sketsa kecil dari kos lama. Semua gambar itu lahir dari hidup yang nyaris berantakan.
"Aku mau gambar seri baru," katanya pelan.
Jessica mengangkat alis. "Tema?"
Meilin melihat jendela apartemen, lalu mengingat kamar kos yang lembap, token listrik yang hampir mati, dan Kevin yang pulang dengan mata lelah tapi tidak kalah.
"Tentang rumah yang pelan-pelan jadi tempat pulang."
Kevin berhenti mengetik.
Jessica tidak bercanda kali ini. "Itu bagus."
"Judul serinya?" tanya Kevin.
Meilin terdiam. Dia belum memikirkan sampai sana.
Kevin memutar ponsel ke arahnya. Di layar sudah ada daftar kosong: judul seri, karya satu, karya dua, karya tiga, statement, foto karya, deadline. Semuanya rapi, seolah mimpi yang baru saja keluar dari mulut Meilin langsung diberi tulang agar bisa berdiri.
"Jangan pakai judul yang terlalu menjelaskan," kata Jessica. "Biar orang penasaran."
"Pintu Kedua?" Meilin mencoba.
Kevin menatapnya. "Kenapa kedua?"
"Karena pintu pertama cuma membuatku masuk ke cerita yang salah."
Kalimat itu keluar terlalu jujur. Meilin cepat menambahkan, "Maksudku, kos lama."
Kevin tidak mengejar, tapi matanya menyimpan pertanyaan.
Jessica justru mengangguk serius. "Pintu Kedua bagus. Ada rasa pindah hidup."
Kevin mengetik judul itu ke daftar.
Melihatnya tertulis membuat Meilin tiba-tiba percaya bahwa pameran itu bukan hanya khayalan.
Meilin menatap brosur di meja. Ada rasa takut, tentu saja. Tapi setelah semua yang terjadi, rasa takut tidak lagi tampak seperti tanda berhenti. Lebih seperti pintu yang meminta diketuk.
Ponsel Kevin berbunyi.
Meilin langsung tegang, masih teringat pria berambut merah muda.
Kevin melihat layar.
"Bukan dia," katanya, seolah membaca pikirannya. "Kantor."
Meilin mengangguk.
Namun setelah Kevin pergi ke balkon untuk menerima telepon, ponsel Meilin ikut bergetar.
Nomor tidak dikenal mengirim satu foto.
Foto itu diambil dari seberang jalan kemarin.
Kevin berdiri di depan gedung kantor, tubuhnya setengah menutupi Meilin.
Di bawah foto itu, hanya ada satu kalimat.
Nomor tidak dikenal: Koko masih sama. Selalu melindungi orang yang tidak seharusnya dia lindungi. Bahkan sekarang pun masih begitu.