NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 "LOH? SIAPA ANAK ITU?"

((Kembali ke sudut pandang Nisa))

.....

.....

"Huuufff... Alhamdulillah... Sampe rumah juga..." gumamku dalam hati.

Hari ini, aku diizinkan untuk pulang kerja lebih awal. Tepat jam 12 siang.

Karena di kantorku bekerja, ternyata mulai hari ini ada karyawan baru, yang sama-sama mengisi pekerjaan di bagian administrasi pabrik.

Sehingga, hari ini dan seterusnya, aku bekerja dengan cara shift (bergantian) dengan karyawan baru itu.

Dan untungnya, gaji bulananku tetap jumlahnya. Tak dikurangi sedikitpun.

Aku sih merasa sangat senang malah, karena keputusan Pak Jihan dan Bu Gina untuk memberikan jadwal shift itu.

Di satu sisi, aku jadi lebih ringan beban kerjanya. Dan di sisi lain, gajiku masih dengan jumlah tetap.

Aku melihat ke jam dinding di ruang tamu, menunjukkan pukul 12.46 WIB.

Dengan segera, aku mandi terlebih dahulu. Karena seluruh badanku terasa berkeringat terkena hawa panas matahari siang ini, selama di perjalanan pulang dari pabrik.

Setelahnya, aku pun melaksanakan sholat Zhuhur di kamar.

Rumahku siang ini sepi. Bapakku masih berada di perkebunan milik bosnya. Masih bekerja dia disana siang ini.

Dan juga Harum, anakku itu, masih belum pulang dari sekolah. Tapi aku tahu, sedikit lagi dia pasti akan sampai. Karena jam pulang sekolahnya adalah pukul 13.00 siang.

Sejenak, aku menyiapkan peralatan mengaji anakku itu di tasnya.

Seperti biasa, Harum berangkat mengaji setiap jam 14.00 siang, mulai Senin sampai Jum'at. Dan hari Sabtu serta Minggu nya biasa libur.

Setelah semuanya siap, aku pun memeriksa ke dapur. Memastikan apakah masih ada makanan untuk Harum kalau ia sudah sampai di rumah, sepulangnya dari sekolah.

Alhamdulillah, masih ada ternyata.

Aku pun menyeduh dua gelas teh manis hangat. Satu untukku, satu lagi kusiapkan untuk Harum

Setelah dua gelas teh itu siap, aku berjalan santai menuju ke halaman rumah. Disana, sudah ada beberapa pakaian yang sedang dijemur. Mungkin Bapakku tadi pagi pas aku dan Harum berangkat, ia mencucinya sebelum pergi ke perkebunan bosnya itu.

Ketika aku sedang memeriksa jemuran, ku lihat Harum, anakku itu pun pulang di kejauhan.

Akan tetapi...

Kedua mataku menangkap pemandangan yang membuatku terkejut dalam hati.

Dia berjalan pelan bersama seorang anak perempuan.

Namun, yang membuatku terkejut bukan karena anak perempuan itu mengantar Harumku.

Melainkan, anak perempuan itu, hampir mirip dengan anakku.

Aku pun jadi terpaku di antara barisan jemuran. Perhatian kedua mataku seperti terbius.

Dengan sangat jelas, saat semakin dekat mereka berdua ke arah halaman rumah...

Wajah anak perempuan itu benar-benar hampir mirip dengan anakku.

Tinggi badannya sama.

Memakai seragam SMP yang sama.

Bahkan, model kerudungnya pun sama.

Hanya saja, yang membedakan adalah kedua mata mereka.

Anak perempuan itu matanya normal, tak seperti anakku.

Dan aku jadi bertanya dalam hatiku sendiri.

"Loh? Siapa anak itu?"

.....

.....

Ketika mereka berdua sudah sampai di halaman rumah, aku sambut mereka.

"Harum..." sapaku.

"Eh? Loh, Ibu? Ibu udah pulang?" tanya anakku sambil mencium tangan kananku.

"Iya, Ibu pulang cepet hari ini, Nak." jawabku.

Namun, pandangan kedua mataku tak bisa lepas dari anak perempuan yang mengantar Harumku pulang.

Anak perempuan itu pun tersenyum padaku, sambil mengangguk pelan penuh hormat.

Sungguh, sampai bentuk senyuman bibir anak perempuan itu pun mirip dengan senyuman anakku!

"Ibu, kenalin, ini temen baru aku, Bu!" kata anakku dengan wajah yang ceria.

Dan, anakku pun mengarahkan tubuhnya pada anak itu.

"Harum, kenalin juga, ini Ibuku..."

Sontak, aku semakin terkejut saat mendengar anakku menyebutkan nama yang sama dari anak perempuan itu.

"Assalamu'alaikum... Ibu, salam kenal, saya Harum." kata anak perempuan itu, sambil ia mencium tangan kananku.

Dan, dengan polosnya, anakku berkata.

"Oh iya, Bu! Di sekolah, Pak Koko kasih panggilan buat kita berdua, Haruma-Harumi. Hehehe..."

"Haaah? A-ammm... Apa? Apa, Rum?" terbata-bata ucapanku, karena otakku masih mencoba mencerna ini semua.

"Iya, Bu! Di sekolah, aku mulai di panggil Haruma! Dan temen baruku ini, dipanggil Harumi! Hehehehe..."

Ku tatap wajah anakku yang cengengesan dengan polosnya. Dan ku tatap juga wajah anak perempuan itu, sama-sama cengengesan pula dia padaku!

Rasanya...

Seperti akan konslet otakku mencoba mencerna apa yang baru saja ku lihat dan ku dengar siang ini!

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!