NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Malam Penantian yang Menegangkan

   ​Malam menjelang semakin larut di atas kubah Istana Agung Kekaisaran bawah. Udara dingin yang berhembus di antara celah-celah pilar marmer membawa aroma wewangian lilin dahlia hitam yang mulai dinyalakan di sepanjang koridor utama.

   Di dalam ruang utilitas bawah tanah yang sempit dan remang-remang, Kapten Alden dan Clara duduk berdampingan di atas sebuah peti logistik kayu jati tua yang usang. Dua prajurit elite mereka bersiaga penuh di dekat celah pintu besi, mengawasi setiap pergerakan di luar dengan mata yang tak berkedip.

   ​Ini adalah malam penantian yang paling panjang bagi mereka. Sidang Agung Kekaisaran baru akan digelar esok malam, yang berarti mereka harus bertahan di dalam ruang persembunyian ini selama hampir dua puluh empat jam ke depan tanpa terdeteksi oleh patroli Divisi Zirah Hitam.

   ​"Tanganmu masih terasa dingin, Clara," bisik Alden lembut. Pria itu meraih jemari tangan kiri Clara yang tidak terluka, menyelimutinya dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat. Mata abu-abu badainya menatap sang istri dengan gurat kekhawatiran yang mendalam.

   ​Clara tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Alden yang dilapisi jubah hitam militer. "Ini bukan karena dinginnya udara istana, Alden. Aku hanya terus memikirkan Leo, Rin, dan Toby di atas kapal. Berada sejauh ini dari mereka di tengah situasi sekritis ini membuat hatiku tidak tenang."

   ​"Mereka aman bersama Bernet," hibur Alden, mengecup puncak kepala Clara dengan kelembutan yang hanya ia miliki untuk wanita itu. "Leo adalah anak yang kuat. Api Phoenix di dalam dirinya telah matang setelah melewati ujian di gua utara. Dia tahu bagaimana cara melindungi adik-adiknya jika ada tikus sekte yang mencoba mendekati hutan anggrek raksasa."

   ​Clara menghembuskan napas panjang, mencoba mengusir kecemasan yang menggelayuti pikirannya. Ia meraba botol kristal kecil berisi sisa esensi kutukan hitam yang tersimpan aman di dalam saku gaun wolnya. "Kebenaran harus ditegakkan besok malam, Alden. Kita sudah melangkah sejauh ini, menembus badai es utara dan menyusup ke dalam pipa hidrolik istana. Marsekal Vane tidak boleh lolos dari kejahatannya."

   ​Sementara itu, beberapa lantai di atas posisi mereka, suasana di koridor utama Sektor Barat istana tampak jauh lebih sibuk. Mayor Cakra melangkah tegap dengan langkah boot militernya yang mantap, membelah barisan pengawal zirah berat yang berjaga di depan ruang kerja para perwira tinggi.

   Di belakangnya, Hana berjalan dengan kepala tertunduk hormat, membawa nampan berisi teko perak dan cangkir teh herbal penyamarannya.

   ​Sebagai seorang perwira senior, Mayor Cakra tahu bahwa tugasnya malam ini belum selesai. Ia harus memastikan bahwa perhatian pasukan keamanan istana tetap tertuju pada batas luar, menjauh dari ruang utilitas tempat Alden dan Clara bersembunyi.

   ​"Mayor Cakra." Sebuah suara bariton yang parau menghentikan langkah mereka di tikungan koridor.

   ​Cakra langsung menghentikan langkah, menegakkan tubuhnya, dan memberikan penghormatan militer dengan sempurna.

   Sosok pria paruh baya dengan jubah kebesaran berwarna merah tua dan zirah emas melangkah keluar dari kegelapan pilar. Di dadanya tersemat belasan lencana penghargaan kekaisaran, ia adalah Marsekal Vane, sang Menteri Pertahanan Luar sekaligus dalang di balik konspirasi ini.

   ​"Marsekal Vane," sapa Mayor Cakra dengan suara yang tenang tanpa riak emosi sedikit pun.

   ​Marsekal Vane menatap Cakra dengan sepasang mata elangnya yang licik dan penuh selidik. Pandangannya sempat beralih sesaat ke arah Hana yang berdiri di belakang Cakra, sebelum kembali mengunci wajah sang Mayor. "Kau masih berkeliaran di sektor barat pada jam begini, Mayor? Bukankah tugas pemeliharaan sistem hidrolik darurat sudah selesai sepuluh menit yang lalu?"

   ​"Benar, Marsekal," jawab Mayor Cakra tegap, tidak menunjukkan setitik pun kegugupan di depan pria yang paling berkuasa di jajaran militer tersebut. "Saya baru saja memastikan bahwa seluruh katup tekanan hidrolik di menara barat telah terkunci dengan aman agar tidak ada gangguan pasokan air selama jalannya Sidang Agung besok malam. Saya sedang dalam perjalanan kembali ke markas komando utama."

   ​Marsekal Vane tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat dingin dan penuh intrik politik. "Bagus. Aku suka perwira yang sangat detail seperti dirimu, Cakra. Tapi, apakah kau sudah mendengar kabar terbaru dari perbatasan utara terlarang?"

   ​Jantung Hana sempat berdesir tajam mendengar pertanyaan itu, namun ia tetap mempertahankan posisi kepalanya yang tertunduk erat demi menjaga penyamarannya sebagai pelayan istana.

   ​"Kabar tentang Kapten Alden?" tanya Cakra dengan nada suara yang dibuat sedikit terkejut namun tetap profesional.

   ​"Ya. Tikus pembangkang itu tampaknya menyadari bahwa posisinya sudah terkunci," desis Marsekal Vane sembari melipat kedua tangannya di balik jubah merahnya. "Intelijen kami melaporkan bahwa kapal induk The Sky Leviathan telah menghilang dari radar pemindai utara setelah menghancurkan tiga kapal sekoci patroli perbatasan. Dia mungkin mencoba melarikan diri ke wilayah langit selatan atau bersembunyi di balik sabuk awan."

   ​"Pembangkangan terhadap perintah dewan tinggi adalah pelanggaran berat, Marsekal. Jika Kapten Alden nekat memasuki wilayah udara ibu kota tanpa izin, armada pertahanan utama kita siap untuk menjatuhkannya," sahut Mayor Cakra, memberikan jawaban sandiwara militer yang sangat klop untuk menyenangkan ego sang Marsekal.

   ​Marsekal Vane tertawa rendah, sebuah tawa yang sarat akan kemenangan prematur. "Dia tidak akan berani, Cakra. Dan kalaupun dia nekat datang, surat perintah eksekusi mati atas namanya sudah ditandatangani oleh dewan menteri. Besok malam, di hadapan Kaisar Tertinggi, aku sendiri yang akan mengumumkan pembelotannya dan mengambil alih komando penuh atas The Sky Leviathan demi keamanan Kekaisaran."

   ​Setelah memberikan tatapan peringatan yang tersirat, Marsekal Vane berbalik dan melangkah pergi meninggalkan koridor bersama empat pengawal zirah hitamnya.

   Begitu sosok sang Marsekal menghilang di balik pintu aula utama, Mayor Cakra menghembuskan napas panjang secara perlahan. Ia melirik ke arah Hana, memberi isyarat dengan anggukan kepala agar mereka segera bergerak meninggalkan area berbahaya tersebut.

   ​"Kita harus lebih berhati-hati, Hana," bisik Mayor Cakra dengan sangat rendah saat mereka berjalan menuju tangga turun. "Vane sangat percaya diri dengan rencananya. Besok malam akan menjadi medan pertempuran yang sesungguhnya."

   ​"Saya mengerti, Mayor. Kapten Alden dan Nyonya Clara sudah berada di dalam posisi aman. Kita hanya perlu menjaga situasi ini tetap senyap hingga sidang dimulai," jawab Hana dengan tekad yang bulat. Pelayan setia itu tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil malam ini adalah taruhan nyawa demi keadilan keluarga yang ia hormati.

   ​Kembali ke ruang utilitas bawah tanah, malam semakin larut dan keheningan kembali menyelimuti Alden dan Clara. Di bawah temaram lampu minyak esensial, sang Kapten Langit terus menggenggam erat tangan istrinya, menyalurkan kehangatan mutlak di tengah dinginnya malam penantian yang penuh dengan ketegangan konspirasi politik.

Badai kebenaran telah siap dilepaskan, dan mereka berdua akan menghadapinya bersama sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Mohon dukungannya ya. Dan mohon follow akunnya. Terima kasih... 🙏🙏

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!