NovelToon NovelToon
Kalau Gak Cinta,Kenapa PHP?

Kalau Gak Cinta,Kenapa PHP?

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alyra Senja

Tiga tahun menyimpan rasa dalam diam bukan hal yang mudah.apalagi kalau orang yang kamu cintai tidak pernah benar-benar melihatmu.
"gue Syakila adzkia putri.hanya ingin satu hal,yaitu bisa bersama kakak kelas yang selalu jadi alasan gue buat datang kesekolah setiap pagi".
Namun,takdir justru mempertemukan dia dengan seorang badboy yang penuh rahasia,namanya Galen athar wijaya.hingga terjadi suatu insiden yang membuat mereka harus menjalin kesepakatan yang dapat menguntungkan satu sama lain.
"Mari kita buat kesepakatan di mana lo harus tutup mulut soal kejadian barusan.dan gue bakal atur lo sama zayyan".
"Lo beneran?tapi sampai kapan?"
"Ya...sampai lo jadian sama dia.setelah itu kesepakatan kita selesai!"ucapnya serius.
"Deal..?"ucapnya mengulurkan tangan.
syakila meraih tangan itu dan kesepakatan pun di mulai.
setelah lama berlalu syakila berhasil dekat dengan zayyan bahkan lebih dari sekedar teman.namun perhatian itu...
kalau penasaran ikutin terus ya kelanjutannya.bye🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyra Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyatakan cinta

_________

Sementara itu...

Bianglala terus berputar perlahan,membawa setiap kabin naik semakin tinggi.dari balik kaca, gemerlap lampu pasar malam dan kota di kejauhan terlihat begitu indah.namun suasana di dalam salah satu kabin justru jauh dari kata tenang.

Lea duduk di seberang zaendra.sejak tadi gadis itu hanya menunduk.jemarinya meremas ujung rok yang dikenakannya hingga kusut.jantungnya berdegup begitu keras.

Haruskan sekarang ia menyatakan perasaannya?

Ia menarik napas dalam-dalam.kalau bukan sekarang,kapan lagi?

"Kak..."lirihnya,zaendra menoleh.

"Hm?"

Lea menggigit bibir bawahnya.suaranya nyaris tak terdengar."Sebenarnya..."

Ia menunduk,netranya tak sanggup untuk menatap manik zaendra yang tenang,lalu menghirup udara sejenak"sebenarnya—GUE UDAH LAMA SUKA SAMA LO,KAK."pekiknya tiba tiba,kalimat itu akhirnya keluar juga.

Hening.

Tiba-tiba hawa di sekitar terasa begitu dingin,lea perlahan mengangkat kepalanya.zaendra membeku di tempat,matanya membelalak bahkan mulutnya sedikit terbuka.

Otaknya seperti berhenti bekerja beberapa detik.tunggu—barusan...

Lea menyatakan perasaan,kepadanya?

Ia menggeleng pelan.

Enggak.

Pasti dia salah dengar.mungkin karna ini faktor usianya yang mulai nambah,jadi pendengaran juga mulai aneh.namun saat tatapannya kembali bertemu dengan mata lea yang dipenuhi harapan...

Zaendra menelan ludah.

Tidak.ia tidak salah dengar.gadis di depannya ini benar-benar baru saja menyatakan cinta padanya.

Zaendra mengembuskan napas panjang,berusaha menyusun kata-kata yang tepat."Lea."

"Iya?"

"Aku..."ia berhenti sejenak.

"nggak bisa."senyum tipis di wajah lea perlahan memudar.

Zaendra menatapnya dengan serius."Kita saudara."

Lea langsung menggeleng pelan."Tapi—kita kan cuma saudara tiri."suaranya mengecil.

Kalimat itu membuat zaendra memijat pangkal hidungnya.ia tahu perasaan seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu kalimat.karena itu,ia memilih berbicara setenang mungkin.

"Lea.kamu itu tetap adikku meskipun kita nggak sedarah,aku udah menganggap kamu sebagai adik kandung aku sendiri."ucapnya dengan tegas.

Dia menghela napas kasar."Dan status itu nggak pernah berubah,hanya karena kita nggak punya hubungan darah."

Lea menunduk,air matanya mulai menggenang."Gue nggak pernah ngelihat Kakak sebagai kakak kandung gue."

"Aku tahu.tapi aku tetap melihatmu sebagai adik kandungku."suara zaendra terdengar tenang dan tegas tetapi tidak meninggi.

Justru penuh kesabaran."Aku nggak mau memberi harapan yang nggak bisa aku penuhi."

Lea menggigit bibirnya agar tidak menangis.zaendra kembali melanjutkan. "Perasaan suka itu nggak salah.tapi—"

Ia menatap lea dengan lembut."Nggak semua perasaan itu harus dibalas."

"Aku menghargai keberanianmu buat jujur.dan aku juga berterima kasih karena kamu percaya sama aku.tapi jawabanku tetap sama—"

Zaendra menggeleng pelan."Aku menolak.karna aku hanya menganggapmu sebagai adik kandungku."

Tak terasa bulir-bulir bening itu berjatuhan tanpa bisa di cegah.dadanya terasa sesak.

"Maaf..."ucap zaendra.

Lea membuang muka,menatap keluar jendela.air matanya tak bisa ia bendung entah kenapa bulir bening itu terus mengalir tanpa henti.

Padahal dia tahu risikonya sendiri dan tahu zaendra bakal menolaknya.tapi entah kenapa kata-kata yang keluar dari bibir laki-laki itu membuatnya tak sanggup menahan gejolak aneh di dalam dada.

Zaendra menghela napas.bianglala terus berputar.kabin mereka perlahan mulai turun.

Sementara di dalamnya...

Lea hanya tersenyum tipis.meski senyum itu terasa jauh lebih pahit daripada biasanya.

________

Sepanjang perjalanan pulang...

Tak ada satu pun yang membuka percakapan.

Mesin mobil menjadi satu-satunya suara yang terdengar di dalam kabin.

Lea duduk di kursi belakang,matanya menatap pada kaca jendela.tatapannya kosong.

Lampu-lampu jalan yang berlalu begitu saja tak benar-benar ia lihat.pikirannya masih tertinggal di atas bianglala.

"Aku nggak bisa."kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Di kursi depan,zaendra sesekali melirik ke arah kaca spion.pandangan mereka sempat bertemu. Namun gadis itu segera mengalihkan wajahnya kembali ke luar jendela.

Zaendra mengembuskan napas pelan.ia tahu...

gadis itu sedang berusaha menahan tangis.

tak lama kemudian,mobil memasuki halaman rumah.

Cklek.mesin dimatikan,namun tak seorang pun ada yang bergerak.

Lea masih diam,pandangannya masih keluar jendela,entah apa yang ada di pikirannya sampai-sampai gadis itu tak sadar kalau mereka sudah di depan rumah.zaendra menghela napas,menggenggam dashboard beberapa saat sebelum akhirnya berdeham pelan.

"Ehem."Lea tetap menatap keluar.

"Lea."

"Hm?"suara gadis itu terdengar pelan.

"Kita sudah sampai."lea akhirnya menoleh.

Zaendra tersenyum tipis."masuklah.kakak masih ada urusan."

Gadis itu tak menjawab ia hanya diam,ia sudah tahu saat di pasar malam tadi,ponsel zaendra sempat berdering.setelah menerima telepon itu, zaendra langsung mengajaknya pulang.

"Ada kerjaan yang harus kakak selesain malam-."

Brak!

Pintu langsung tertutup lebih keras dari biasanya.ia tak ingin mendengar suara itu lagi.tanpa menoleh,ia berlari kecil menuju rumah.

Pintu rumah terbuka lalu tertutup kembali.zaendra masih duduk di kursi kemudi.matanya terus menatap ke arah pintu rumah yang kini sudah tertutup rapat.

Beberapa detik berlalu.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.

kedua tangannya menutupi wajah sebentar sebelum akhirnya turun memegang dashboard mobil.

"huh.."ia mengembuskan napas panjang.

"Sejak kapan anak itu,punya perasaan seperti itu pada ku?"gumamnya lirih lalu memejamkan mata sejenak.

Bukan karna marah dan bukan pula merasa jijik.ia hanya merasa bersalah karena harus melukai perasaan seseorang yang selama ini sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri.

"Maafin kakak."ia menatap kembali ke arah rumah.

"Kakak nggak bisa membalas perasaan kamu."suara itu nyaris tak terdengar.

"Tapi kakak harap..."zaendra tersenyum tipis, meski senyum itu terasa berat.

"Suatu hari nanti,kamu ketemu seseorang yang bisa bikin kamu tersenyum lebih lepas."

"Seseorang yang memang pantas buat kamu."ia menyalakan kembali mesin mobil.

Malam semakin larut.dan mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah,sementara di dalam salah satu kamar,seorang gadis tengah menangisi cinta pertamanya yang harus berakhir bahkan sebelum sempat dimulai.

Brak!!

Pintu kamar tertutup.

Lea menyandarkan punggungnya di balik pintu, mencoba menarik napas panjang,tapi percuma karna perasaan sesak itu tetap ada.

Perlahan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai.air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh begitu saja.

"Kenapa-"suaranya bergetar.

"Kenapa lo nolak gue,kak...huuuuuaaa....hiks."tangisnya pecah.ia menjambak pelan rambutnya sendiri,berusaha melampiaskan rasa sesak yang memenuhi dada.

"Gue tahu...hiks...kita saudara."ia terisak.

"Tapi—"lea memejamkan mata erat.

"Hikss...gue nggak pernah nganggap lo cuma sebagai saudara."tangisnya semakin menjadi.

Di balik kelopak matanya,kenangan-kenangan lama bermunculan satu per satu.

Pada saat zaendra kecil yang menggandeng tangannya,mengajaknya untuk pertama kali melihat dunia di luar rumah.

Zaendra yang dengan sabar mengajarinya memancing di tepi danau,meski hasil tangkapannya tak seberapa.

Zaendra yang datang ke sekolah saat SMP hanya karena mendengar ada yang berani mengganggunya.

Sejak dulu...

Orang itu selalu ada.selalu menjadi tempat paling aman untuknya pulang.dan mungkin...di situlah semuanya bermula.

Lea mengusap air matanya dengan kasar lalu tatapannya kemudian berhenti pada sebuah benda di atas meja belajarnya.

Ia terdiam beberapa saat dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun,ia bangkit berdiri lalu tangannya meraih benda itu,sebuah gunting. ia menggenggamnya dengan erat,memejamkan mata sejenak sembari menghela napas lalu setelah itu berjalan menuju kamar mandi.

Ceklek.

Bersambung~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!