Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Panji sudah tidak bisa dirubah
"Memangnya papa tidak bisa membayar po-lisi kalo aku nanti dilaporkan papanya Kian?" ketus Aditama ngga terima dengan keputusan papanya yang membiarkan Wanda tetap bersama Kian.
Harga dirinya langsung terbanting. Dia baru sadar kalo kekuasaan papanya Kian kebih tinggi dari pada papanya. Hal itu membuat dia semakin membenci Kian.
Istrinya pun menatap marah dan geram pada suaminya. Bisa bisanya nurut aja, batinnya merutuk.
Panji menggelengkan kepalanya.
"Mereka sudah punya bukti rekaman kamera cctv di sekolah." Panji sudah melhat perlakuan kasar Aditama terhadap putrinya Wanda. Hatinya masih terasa sakit.
Kalo Aditama tau yang sebenarnya, apakah dia bisa menyayangi Wanda?
Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benaknya.
Tapi kemudian dia menyangsikannya.
Mungkin keputusannya untuk membiarkan Wanda bersama Kian adalah keputusan yang paling tepat.
"Bukti apa? Jangan mencari cari alasan," sergah Mirelin naek darah sementara Aditama terdiam memikirkan kata kata papanya.
Panji menghela nafas panjang
"Dewa berhasil mendapatkan rekaman video cctv di sekolah," ulang Panji menjelaskan.
"Iya. Video.apa?" sentak Mirelin masih juga belum mengerti.
Kembali Panji menghela nafas panjang.
"Video ......" Panji menatap putranya yang mengalihkan tatapnya ke arah lain. Tidak mau menatap papanya.
"Video tentang kekasaran Tama pada Wanda." Panji susah payah menelan salivanya. Pahit dan getir. Menyesal karena dia tidak mau mengatakan yang sejujurnya tentang Wanda, sehingga anak lelakinya bisa masuk penjara kalo dia memperpanjang masalah ini.
"Aku hanya sesekali mendorongnya," sanggah Aditama kesal.
Masa gara gara itu dia bisa dipenjara? rutuknya dalam hati.
"Dia juga ngga pernah terluka akibat doronganku," tambahnya lagi.
"Mungkin Wanda mengadu macam macam dengan Kian. Mengarang cerita," tuding Mirelin dengan kemarahan memenuhi rongga dadanya.
Dasar! Pasti dia menggunakan kesempatan ini untuk hidup enak. Dasar anak licik. Mirelin memaki dalam hatinya
Panji menghela nafas panjang. Dia tau keputusan ini akan ditentang keluarganya.
"Jangan sampai keluarga kita bermasalah dengan keluarga papanya Kian. Circle keluarga itu telalu besar. Nanti perusahaan juga akan kena akibatnya kalo kita terus mempermasalahkannya. Lepaskan saja Wanda." Setelah mengatakannya Panji segera melangkah meninggalkan istri dan anaknya yang nasih menatapnya dengan kemarahan yang makin berkobar.
Tapi saat melangkahkan kakinya keluar dari ruang yang hampa oksigen itu, Panji tertegun karena melihat art seniornya yang berdiri di depannya. Bik Sunarmi yang dulu sudah mengasuhnya, sejak dia masih kecil. Orang tua Dana.
"Tu tuan muda ...., kalo boleh .... saya ingin bicara sebentar," ucap Bik Sunarmi sambil menundukkan kepalanya dalam dalam. Suaranya terdengar bergetar.
Sampai sekarang pun Panji selalu merasa bersalah pada pengasuhnya. Dia sudah menyakiti anak satu satu artnya itu, dan dia juga tidak mau mengakui cucu artnya ini sebagai anaknya.
Tapi pengasuhnya tidak pernah protes, malah membiarkan saja anak dan istrinya memperlakukan cucunya dengan kasar.
Panji mengambil nafas dalam.
"Ikut saya, bik." Panji melangkah duluan dan dikuti Bik Sunarmi di belakangnya.
Dia tau, pengasuhnya sudah tau di mana keberadaan cucunya.
Di sebuah taman yang agak jauh dari kamar putranya, Panji mengajak artnya duduk di sana.
Hening. Semilir angin berhembus menggoyangkan daun daun yang ada di pohon pohon rindang yang ada di sana.
"Bik Sunarmi pasti sudah tau, kan, kalo Wanda tidak tinggal bersama kita?' tanya Panji memecah keheningan yang melingkupi mereka.
Bik Sunarmi mengangguk, masih dalam posisi menunduk.
Panji menghembuskan nafas panjang dan lama.
"Maafkan aku, bik. Mungkin ini yang terbaik untuk Wanda."
Bik Sunarmi kembali menganggukkan kepalanya. Tangannya menyusut air matanya yang mau menetes.
"Iya, tuan muda. Terimakasih sudah membiarkan Wanda pergi."
Panji tak sanggup melihat kesedihan pengasuhnya. Rasa bersalah yang menggumpal di rongga dadanya membuatnya sulit menghirup oksigen.
"Saya .... sudah .... mengantarkan .... buku buku dan seragam Wanda."
Panji mengangguk.
"Bik Sunarmi mau ikut Wanda?" Panji menatap lekat Bik Sunarmi yang masih menunduk dalam.
Kalo artnya mau, nanti dia akan membicarakannya pada Dewa, pikirnya
Wanita tua itu menggeleng. Tangannya kembali menyusut air matanya.
"Saya .... saya .... akan tetap setia dengan tuan ..... dan nyonya. Juga tuan muda Aditama."
Panji menghembuskan nafasnya perlahan.
"Kalo bibik mau ikut Wanda, tidak apa apa. Urusan nyonya biar saya yang urus." Dia tau istrinya pasti akan tambah marah jika itu terjadi.
Bik Sunarmi menggelengkan kepalanya, pelan.
"Tidak ...., tuan muda. Saya ....saya tetap di sini bersama keluarga tuan muda."
"Baiklah kalo begitu .... Bik Sunarmi bebas kapan saja menjenguk Wanda,"
Bik Sunarmi tersenyum lega. Beban di dadanya berkurang.
"Terimakasih, tuan muda."
"Tidak perlu, bik. Saya malu karena hanya ini yang bisa saya lakukan untuk Wanda."
*
*
*
"Mau dinikahkan sekarang atau setelah lulus?" canda Alen yang menemui Kian di kantin rumah sakit.
Dia dan yang lainnya baru berada di sana setelah diobati memar memarnya karena adu fisik tadi, dan juga sudah selesai melakukan pemeriksaan seluruh anggota tubuh.
Kian tersenyum tipis melihat tawa berderai sepupu dan kerabatnya. Sedangkan Azka-kembarannya berekspresi datar.
"Siap siap aja besok Aditama bakal mengamuk," timpal Denish di sela derai tawanya. Malah tawanya semakin keras setelah menyelesaikan ucapannya.
"Tuh, anak maunya apa, sih. Artnya selalu dikasari, tapi tetap aja ngga mau pisah," sarkas Emil kemudian meneguk kopinya.
"Jangan jangan dia ngga sadar udah jatuh cinta dengan Wanda," cibir Alen menuduh.
"Mungkin aja," sahut Reyhan-sepupu Alen.
"Kasian," cibir Zio ngakak.
Kian masih tersenyum saja. Tapi perkataan Alen agak mempengaruhi kondisi hatinya.
"Lebih kasian lagi karena sudah pasti ditolak," sela Azka menambah panjang durasi tawa mereka.
Kian tersenyum miring.
Memang sangat kasian, decihnya mengejek dalam hati.
"Trus gimana? Udah ditembak belum?" Alen kembali ke topik awal setelah tawa mereka mereda.
"Secara eksplisit, sih, belum," jawab Kian kalem.
"Ngga perlulah. Kan, udah tinggal bareng juga," ejek Zio.
Kian masih tersenyum miring meresponnya.
Iya, mereka sekarang akan tinggal satu rumah, batin Kian dengan hati yang tiba tiba berdesir hangat.