"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"
Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.
Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dampak dari iri hati
...Jakarta, 12 Juni 2025...
Setelah menyudahi permainan PlayStation bersama Riza, Samuel segera membersihkan diri dan mengisi perutnya. Ia kemudian bersantai di ruang tengah sembari menunggu kedatangan Ahmad. Di sampingnya, Riza tampak tenang, sibuk memainkan ponselnya untuk menjelajahi media sosial.
Televisi di depan mereka menyiarkan saluran National Geographic yang sedang membahas fase hidup seekor kupu-kupu dari dalam kepompong. Sayup-sayup, suara narator di televisi membacakan sebuah kutipan yang entah mengapa terasa begitu dingin di telinga Samuel:
"Kepakan sayap yang super kecil: Kupu-kupu itu ciut dan ringan. Kepakan sayapnya cuma bikin angin sepoi-sepoi yang lembut banget, hampir tidak terasa. Anginnya jalan-jalan: Tapi, angin kecil dari sayap itu pelan-pelan tiup udara di sekitarnya. Udara itu tiup udara lain yang lebih besar, terus berjalan, berjalan, makin lama makin besar dan kuat! Jadi badai deh! Wah! Akhirnya, angin yang tadinya kecil banget berputar-putar dan berubah jadi angin topan yang besar di tempat yang jauh sekali."
Samuel tertegun. Riak kecil yang menciptakan badai besar di tempat lain...
14.00 WIB
DOR! DOR! DOR!
Pintu apartemen Samuel dihantam keras dari luar. Begitu Samuel membukanya, sosok Ahmad langsung menerobos masuk dan spontan memeluk tubuhnya.
"Samuel!!" seru Ahmad emosional.
Samuel sama sekali tidak membalas pelukan hangat itu. Dengan dingin, ia mendorong tubuh Ahmad hingga menjauh. Ahmad yang seolah sudah terbiasa dengan sikap kaku sahabatnya itu langsung menyodorkan sebuah kantong kresek berisi sayur oseng. Ahmad tahu betul, selama masa penyelidikan gila ini, Samuel pasti hanya menjejali perutnya dengan makanan instan.
"Makan ini biar sehat," ucap Ahmad perhatian.
Samuel membiarkan Ahmad melangkah masuk menuju meja makan untuk menaruh sayur oseng tersebut. Dari arah koridor, Ahmad sempat melambaikan tangan ke arah sofa ruang tengah, "Halo, Nyonya Riza."
Ahmad kemudian melangkah masuk ke dalam ruang kerja Samuel. Matanya langsung tertuju pada deretan analisis di papan tulis. "Keren juga lu, Sam," puji Ahmad dengan seksama sembari mulai memilah dokumen mana saja yang perlu disusun untuk laporan resmi besok.
Dari arah pintu, Samuel hanya memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu.
"Sam, main PS yuk," ajak Ahmad tiba-tiba, menoleh seraya tersenyum.
"Ayok aja, udah lama gak main kita," balas Samuel.
Dalam sekejap, atmosfer tegang di antara mereka mencair. Mereka seolah melupakan konflik kecil yang sempat menjararakkan mereka selama beberapa hari terakhir. Samuel berjalan lebih dulu, mengambil posisi duduk di samping Riza, sementara Ahmad tetap berdiri di area belakang sofa.
Pada detik itulah, Samuel melewatkan satu detail yang luar biasa krusial. Satu kelalaian fatal yang akan mengutuknya dengan penyesalan seumur hidup.
Samuel lupa kalau sahabat di belakangnya ini... adalah sang pembunuh di lini masa sebelumnya.
Fokus Samuel sepenuhnya terarah pada kontroler di tangannya, jempolnya menekan logo PlayStation untuk menyalakan mesin. Di saat yang sama, tatapan Ahmad terkunci lurus pada bagian belakang kepala Riza. Tangan kanannya merogoh ke balik pinggang, menarik keluar sebuah Glock 21 hitam yang ujung larasnya sudah terpasang silencer panjang.
Tus!
Suara desisan angin diredam robek oleh hantaman timah panas kaliber besar.
Peluru melesat brutal, mengoyak tepat di bagian belakang kepala Riza. Dampak kinetik dari tembakan jarak dekat itu seketika menghancurkan struktur kepala bagian atasnya. Tanpa sempat mengeluarkan suara atau reaksi pertahanan sedikit pun, tubuh wanita itu mematung dingin. Kepalanya terkulai hancur, menyisakan pemandangan mengerikan berupa cairan merah pekat dan jaringan lunak organ dalam yang langsung berceceran, menodai permukaan sofa apartemen.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Samuel. Matanya menangkap pemandangan yang hancur lebur di sampingnya. Detik itu juga, warisan emosi terkutuk meledak di dalam dadanya. Rasa amarah yang sangat luar biasa menyala hebat!
"ANJING!!"
Brak!
Samuel melemparkan kontroler di tangannya tepat ke arah wajah Ahmad. Tanpa memberi ampun, Samuel menerjang maju, menubruk tubuh Ahmad hingga terjungkal ke lantai. Dengan gerakan taktis yang liar, ia melumpuhkan tangan kanan Ahmad yang memegang senjata, menguncinya di lantai.
Bugh!
"Setiap lini masa kau terus membunuhnya!!" satu pukulan telak mendarat di rahang Ahmad.
Bugh!
"Kenapa, Ahmad?! Kenapa kau jadi anjing pemerintah?!"
Setiap kata yang meluncur dari mulut Samuel diiringi oleh satu hantaman mentah yang memecahkan kulit wajah Ahmad. Bersamaan dengan cipratan darah yang keluar dari mulut sahabatnya, rasa iri yang terpendam di dalam jiwa Samuel mendadak memuncak ke permukaan. Rasa iri yang luar biasa hebat melihat Ahmad yang bisa hidup tanpa tahu bagaimana perihnya siksaan penderitaan yang ia pikul sendirian.
Iri karena Ahmad bisa memiliki keluarga yang utuh...
Iri karena Ahmad selalu mendapatkan kepercayaan penuh dari Mas Dimas selama dua lini masa ini...
Rasa iri yang entah datang dari mana, merayap bak parasit, membuat dada Samuel terasa sesak dan terbakar. Iri. Iri. Iri. Iri!
Wajah Ahmad kini sudah hancur babak belur, bersimbah darahnya sendiri.
"Aku!" Plak! "Setiap!" Plak! "Kembali!" Plak! "Ke!" Plak! "Masa!" Plak! "Lalu!" Plak! "Kau selalu membunuh orang yang aku cintai!! Kau enak sudah punya istri!!" teriak Samuel histeris, melayangkan tamparan dan pukulan bertubi-tubi.
Ahmad yang sudah tidak berdaya di bawah kuncian Samuel hanya bisa menangis sesenggukan. Air matanya bercampur dengan darah yang mengalir dari pelipisnya.
"Sam..." ucap Ahmad terengah-engah di sela rasa sakitnya. Plak! Pukulan Samuel kembali mendarat.
"Aku selalu percaya kalau kau bisa ke masa lalu kok... Aku selalu percaya, Sam," bisik Ahmad dengan suara bergetar. "Dan aku... aku udah tahu bagaimana akhir takdirku sendiri... semenjak aku melihat ekspresi wajahmu pada tanggal 8 Juni kemarin."
Gerakan tangan Samuel mendadak terhenti di udara. Dadanya naik turun, napasnya memburu saat mendengar pengakuan lirih dari mulut sahabatnya.
"Tapi, Sam..." Isak tangis Ahmad semakin mengeras, berubah menjadi tawa masygul yang menyedihkan. "Kau... kau iri karena aku sudah berkeluarga, ya? Maafkan aku, Sam... Maaf..."
Volume suara Ahmad tiba-tiba meninggi, pecah oleh histeria yang tertahan. "Istriku diancam, Sam! Diancam! Hahahah! Diancam! Hahaha! DIANCAM! Hahaha!"
Samuel mematung. Jantungnya serasa copot mendengar kebenaran yang baru saja terucap. Seluruh kemarahan dan rasa irinya mendadak luruh, tergantikan oleh rasa syok yang teramat sangat.
"Maafkan aku, Kazu... tidak, maafkan aku, Samuel..."
Memanfaatkan kepanikan Samuel yang sedang lengang, tangan Ahmad yang sedari tadi merogoh kantong celananya dengan cepat mengeluarkan sebutir pil dan langsung menelannya bulat-bulat.
"Tidak! Tidak! Tidak! TIDAK!!"
Samuel tersentak, berusaha mencengkeram rahang Ahmad untuk memuntahkan pil tersebut, namun ia kalah cepat. Pil itu sudah tertelan.
Samuel tidak pernah menyangka jalannya waktu akan menjadi sekejam ini. Ia tidak tahu kalau memotong kompas penyelidikan justru membuat takdir kematian berputar dan bergerak jauh lebih cepat dari waktu yang seharusnya.
Samuel perlahan bangkit berdiri dengan tubuh gemetar, membiarkan tubuh Ahmad yang mulai kejang dan berangsur kaku di atas lantai akibat reaksi racun yang cepat.
Dengan sisa tenaga yang ada, Samuel memalingkan wajahnya ke arah kanan, menatap kembali ke arah sofa. Di sana, sisa-sisa bagian kepala Riza yang hancur dan berbau anyir menyengat langsung menusuk indra penciumannya. Perut Samuel bergejolak hebat. Rasa mual yang tak tertahankan naik ke tenggorokan.
"Uweeeekk!!" Samuel membungkuk, memuntahkan seluruh isi perutnya ke lantai.
Di tengah ruangan yang kini dipenuhi bau amis darah dan muntahan, ponsel di saku celana Samuel tiba-tiba bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama panggilan dari sang asisten.
Samuel menyambar ponsel itu dengan amarah yang kembali tersulut, berniat untuk memaki seisi dunia, namun belum sempat ia bersuara, petir lain kembali menyambar lewat speaker telepon:
"Pak Sam... tolon—"