Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 Dokumen Tercinta
Da Xie menatap ruang kerja dihadapannya. Kini dirinya sudah berada pada istana kekaisaran Han.
Kalau istana kekaisaran Zhang seperti stadion bola, maka istana kekaisaran Han lima kali lipat lebih besar dari itu! Ada banyak sekali paviliun didalam istana kekaisaran Han. Bahkan ruang kerja yang akan ditempatinya ini juga sungguh super luas dengan banyak hiasan cantik disekelilingnya.
Da Xie mendudukkan dirinya pada kursi empuk dibelakang meja kerja. Kini ruangan ini akan menjadi tempat kerjanya.
Seperti yang kalian ketahui, kini Kekaisaran Han telah ditaklukkan oleh Kekaisaran Zhang. Dan otomatis semua fasilitas yang dimiliki oleh Kekaisaran Han berpindah tangan pada Kekaisaran Zhang, termasuk istana Kekaisaran ini.
Mulai sekarang, istana Kekaisaran Zhang telah dipindahkan ke tempat yang ditempati Da Xie sekarang. Sedangkan istana Kekaisaran Zhang yang dulu telah dialihfungsikan untuk kegiatan yang lain.
"Hehe... Kalau tempatnya sebesar dan senyaman ini, mungkin aku akan betah bekerja." Da Xie menyenderkan kepalanya pada kursi dengan santai.
Da Xie menutup matanya. Ruangan ini memang benar-benar nyaman. Tidak seperti ruang kerjanya di istana kekaisaran Zhang yang pengap dan sempit karena penuh akan tumpukan dokumen.
Ketika Da Xie hendak tertidur karena mengantuk, seseorang membuka pintu ruang kerjanya membuat Da Xie terbangun.
"Maharani Agung~"
Suara seseorang yang sangat Da Xie kenal terdengar. Hal ini membuat Da Xie membuka mata dan bangkit dari duduknya.
"Ada apa– Hah?!!!"
Da Xie melebarkan matanya, yang datang memang hanya Dayang Ya Dan Dayang Ra saja. Tetapi apa yeng mereka bawa membuat Da Xie benar-benar terkejut.
"Wah~ Ruangannya besar yah." Dayang Ra melirik sekeliling.
"Ra, ingat tujuan kita datang kesini bukan untuk melihat-lihat." Dayang Ya berbicara dengan tegas.
"Maharani Agung, maaf sudah mengganggu anda. Tetapi kami kesini karena kami membawa dokumen yang harus anda kerjakan."
Bruk!!
Mendengar ucapan Dayang Ya itu saja sudah sangat mengerikan bagi Da Xie. Namun ketika kedua Dayang tersebut menaruh tumpukan dokumen yang menjulang amat sangat tinggi sampai melewati tinggi badan mereka, baru saat itulah Da Xie pingsan dan kejang-kejang.
"Ya ampun kenapa Maharani Agung pingsan dan kejang-kejang?!!"
******
"Aduh... Dimana aku?" Da Xie membuka matanya secara perlahan.
"Akhirnya anda bangun Maharani, bagaimana perasaan anda saat ini?"
Da Xie menoleh kearah sumber suara. Ternyata itu adalah seorang wanita yang sedang memeriksa kondisinya.
"Ugh. Aku seperti telah melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Ngomong-ngomong kau siapa?"
"Ah, saya belum memperkenalkan diri. Saya adalah Tabib Cia. Saya dikenal karena bisa menyelesaikan semua masalah yang berkaitan dengan tubuh manusia di daerah kekaisaran Han dulu. Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dengan Maharani Agung."
Da Xie menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia lalu menoleh kesana-kemari. Sepertinya sekarang dirinya berada dikamar Maharani Agung yang ada di istana kekaisaran Han.
Sama seperti ruang kerjanya, kamar ini juga sangat nyaman. Kasur yang digunakan Da Xie untuk berbaring juga sangat empuk.
Da Xie menutup matanya hendak beristirahat. Tetapi suara melengking seorang wanita ditambah suara pintu yang terbuka menghentikan kegiatannya.
"Maharani Agung, anda sudah bangun yah?"
Entah mengapa Da Xie merasa dejavu dengan semua ini. Ia lalu menoleh kearah sumber suara, dimana terdapat Dayang Ya dan Dayang Ra yang memasuki ruangan dengan tumpukan dokumen yang menjulang tinggi.
"A–A–A..."
"Syukurlah anda sudah bangun. Ngomong-ngomong kami sudah membawa dokumen anda dari ruang kerja. Siapa tau Maharani Agung ingin mengerjakan dokumen ini sembari berbaring." Dayang Ya berucap sembari tersenyum.
Kenapa di setiap dirinya ingin istirahat, dokumen itu selalu saja datang seperti hantu yang bergentayangan disekitarnya.
Bruk!!
Da Xie kembali pingsan karena tidak kuat menerima kenyataan dihadapannya.
"Eh?!! Kenapa Maharani Agung pingsan lagi?!! Tabib, apa kau yakin sudah benar-benar memeriksa kondisinya?!!"
Dayang Ra menaruh tumpukan dokumennya dengan asal. Ia lalu berdiri tepat disamping tempat tidur Da Xie.
"Tenang saja. Ini, kau tuangkan kepada mulut Maharani Agung. Dijamin, beliau akan langsung terbangun." Tabib Cia memberikan satu gelas cairan berwarna kuning.
Awalnya Dayang Ra ragu karena obat itu terlihat mencurigakan. Tetapi akhirnya ia menuruti permintaan sang tabib dan memasukkan cairan itu melewati mulut Da Xie. "Permisi, Maharani Agung."
Baru setengah air dari gelas tersebut dimasukkan, namun ajaibnya Da Xie langsung terbangun dari pingsannya walau dengan wajah yang mengkerut.
"Uekk!! Uhuk uhuk!! Apa ini?!! Kenapa asam sekali?!!" Da Xie terbangun sembari berteriak histeris.
"Itu adalah air perasa lemon, Maharani Agung." Jawab Tabib Cia.
Da Xie semakin mengerutkan wajahnya, "ughh!!! Air!! Aku butuh air!"
Tabib Cia dengan sigap memberikan segelas air kepada Da Xie, tapi baru satu tegukan Da Xie meminum air dari tabib Cia, dia langsung menyembur airnya keluar sampai mengenai wajah Dayang Ra.
"Aduh!!! Kenapa air yang ini asin sekali!! Ugh!! Uekk!!" Protes Da Xie.
"Ya ampun Maharani Agung, wajah saya jadi basah semua." Dayang Ra yang tiba-tiba terkena semburan rohani dari Da Xie langsung mengelap wajahnya.
Tabib Cia diam sejenak seolah ragu menjawab, ia lalu tersenyum cengengesan.
"Itu air garam Maharani Agung. Nenek saya bilang, campuran air garam dan air lemon bisa membuat orang mati sekalipun terbangun karena rasanya."
Da Xie langsung meludah kelantai. Sekarang rasa lidahnya benar-benar aneh. Intinya sangat menjijikkan dan tidak patut dicoba oleh para pembaca dirumah.
"Nah, karena sekarang Maharani Agung sudah bangun. Mari silahkan kerjakan dokumen-dokumen ini." Dayang Ya menaruh tumpukan dokumen dihadapan Da Xie, dia juga memberikan pena bulu kepadanya.
"Eh–eh... Bisa besok saja tidak? Aku masih merasa tidak enak badan." Da Xie mencoba untuk bernegosiasi.
"Besok? Tapi kalau begini dokumennya akan jadi tambah menumpuk. Ini saja masih ada setidaknya 10 tumpukan dokumen seperti ini."
Da Xie membelalakkan matanya. 10 tumpukan dokumen seperti ini? Ia tidak bisa membayangkan sebanyak apa itu. Rasanya bahkan tumpukan ini berkali-kali lipat lebih banyak daripada ketika dirinya belum menguasai Han.
"Hah? 10 tumpukan? Aku benar-benar tak percaya. Dulu tidak sebanyak itu."
"Tentu saja sekarang menjadi lebih banyak. Kekaisaran Zhang kita sudah meluas dan banyak sekali wilayah yang perlu ditangani oleh anda. Kalau anda mau, saya bisa membawakan semua dokumen itu kesini."
Da Xie hendak menolak, tetapi Dayang Ya sudah bersiul seperti seekor burung yang memanggil kawanannya.
"Priittt!!"
Tap!! Tap!! Tap!!
Seketika itu juga, satu pleton Dayang memasuki kamar Da Xie dengan membawa masing-masing dokumen yang sama tingginya seperti yang dibawa Dayang Ra dan Dayang Ya.
Da Xie menatap semua dokumen itu dengan horor.
Bruk!!
"Ya ampun!! Maharani Agung kenapa hobi sekali pingsan?" Dayang Ra yang sudah selesai mengelap wajahnya terkejut melihat Da Xie yang pingsan lagi.
"Sepertinya saya memerlukan perasan air lemon dan air garam lagi."