NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkannya, Lalu Menjadi Tawanannya

Aku Menyelamatkannya, Lalu Menjadi Tawanannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.

Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.

Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

"Tuan Muda... di mata Anda, sebenarnya aku ini siapa?" batin Viona.

Viona perlahan melepaskan diri dari ciuman itu.

"Tuan Muda, jangan... Anda sedang mabuk," ucapnya pelan.

Dylan terdiam menatap gadis itu.

"Apa yang kulakukan? Kenapa setiap kali menyentuhnya, aku selalu kehilangan kendali?" batin Dylan.

Ia mengusap pelipisnya.

"Antarkan aku ke kamar. Kepalaku sakit."

"Baik, Tuan Muda."

Viona segera memapah Dylan menuju lantai dua hingga ke kamarnya.

Keesokan paginya.

Beberapa karyawan dari butik ternama datang membawa deretan gaun mewah.

Berbagai model gaun digantung rapi. Ada yang tanpa lengan, ada yang memperlihatkan bahu, ada yang berbelahan tinggi di bagian paha, bahkan ada yang terbuka di bagian punggung.

Jay berdiri di samping Dylan.

"Tuan, ini koleksi terbaru dari butik tersebut. Kualitasnya sangat baik. Saya rasa gaun-gaun ini sangat cocok untuk Nona Lin."

Dylan yang duduk di sofa menyapu semua gaun itu dengan tatapan datar.

Beberapa detik kemudian, ia mengerutkan kening.

"Bagaimana kalau kau saja yang memakainya?" ujar Dylan sambil menoleh ke arah Jay.

Jay langsung membelalakkan mata.

"Ha?"

Karyawan butik tertawa canggung.

"Tuan, model-model ini sedang menjadi tren. Banyak nona muda yang menyukainya."

Dylan menggeleng pelan.

"Tidak cukup bahan."

Semua orang langsung terdiam.

Karyawan butik mencoba tersenyum.

"Tuan, maksud Anda?"

Dylan berdiri, lalu mengambil salah satu gaun yang bagian punggungnya terbuka.

"Bagian belakang terbuka."

Ia meletakkannya kembali, lalu mengambil gaun lain.

"Belahan sampingnya terlalu tinggi."

Kemudian ia mengambil gaun ketiga.

"Bagian bahunya juga terbuka."

Dylan meletakkan gaun itu dengan wajah tidak puas.

"Apa butik kalian kehabisan kain?"

Jay spontan menundukkan kepala agar tidak tertawa.

Karyawan butik hanya bisa tersenyum kaku.

"T-Tuan, model seperti ini memang sedang populer..."

"Aku tidak peduli."

Dylan menatap seluruh koleksi gaun itu.

"Semua gaun ini tidak boleh dipakai oleh Viona."

Jay berdeham pelan.

"Kalau begitu... Tuan menginginkan model seperti apa?"

Dylan menjawab tanpa ragu.

"Gaun yang sopan, elegan, lengan tidak terlalu terbuka, punggung tertutup, dan tanpa belahan paha."

Jay mengangguk.

"Baik, Tuan. Saya akan meminta mereka membawa koleksi lain."

Karyawan butik saling berpandangan.

Baru kali ini mereka bertemu pelanggan yang menolak seluruh koleksi terbaru hanya karena merasa... bahan gaunnya terlalu sedikit.

Tak lama kemudian, Viona menuruni tangga dan berjalan menuju ruang tamu.

Begitu melihat begitu banyak gaun memenuhi ruangan, ia langsung tertegun.

"Apa ini?" tanya Viona kebingungan.

"Viona, duduk di sini," ujar Dylan sambil menepuk sofa di sampingnya.

Viona menghampiri Dylan, lalu duduk dengan rapi di sampingnya.

Jay tersenyum tipis.

"Nona, malam ini Tuan akan menghadiri sebuah acara. Tuan ingin Nona ikut mendampingi beliau."

"Acara ?" Viona tampak ragu. "Apa bisa aku tidak ikut?"

Dylan menoleh ke arahnya.

"Malam ini kau hadir sebagai pasanganku."

Viona langsung membeku.

"Kalau kau tidak ikut..." Dylan melirik Jay sekilas. "Apa mungkin aku membawa Jay sebagai pasangan?"

Jay langsung berdeham pelan.

"Tuan, saya rasa saya lebih cocok berdiri di belakang daripada menjadi pasangan Anda."

Mendengar itu, Viona tidak bisa menahan senyumnya.

Dylan kemudian memandang para karyawan butik.

"Cepat bawa koleksi lain. Aku ingin gaun yang lebih sopan. Sekalian bawakan perhiasan dan sepatu yang serasi."

"Baik, Tuan," jawab salah seorang karyawan.

Beberapa saat kemudian, para karyawan kembali membawa beberapa gaun baru.

Kali ini modelnya jauh lebih elegan. Tidak ada lagi gaun dengan punggung terbuka atau belahan paha yang tinggi.

Mereka juga membawa beberapa kotak berisi kalung berlian, anting, gelang, serta sepatu hak tinggi dengan berbagai model.

Karyawan butik membuka satu per satu koleksi tersebut di hadapan Dylan.

"Tuan, apakah koleksi ini sesuai dengan keinginan Anda?"

Dylan memperhatikan semuanya dengan saksama.

Dylan bangkit dari sofa, lalu menggenggam tangan Viona dan membawanya menghampiri deretan gaun yang tergantung rapi.

Tatapannya menyapu satu per satu koleksi yang dibawa oleh butik tersebut.

Beberapa saat kemudian, ia mengambil sebuah gaun panjang berwarna biru muda dengan desain elegan. lengan dibuat sederhana, sementara rok panjangnya menjuntai dengan potongan yang lembut.

Dylan membentangkan gaun itu di depan tubuh Viona, lalu mengamatinya beberapa saat.

"Yang ini."

Karyawan butik langsung tersenyum.

"Tuan memiliki selera yang sangat bagus. Gaun ini merupakan koleksi terbaru kami dan dibuat secara eksklusif."

Dylan menyerahkan gaun itu kepada salah seorang karyawan.

"Bawa dia untuk mencobanya. Kalau ukurannya kurang pas, langsung lakukan penyesuaian."

"Baik, Tuan."

Beberapa saat kemudian

Viona akhirnya keluar dari ruang ganti.

Seluruh ruangan seketika hening.

Gaun panjang berwarna biru muda itu membalut tubuhnya dengan sempurna. Potongannya sederhana, tetapi justru membuat kecantikannya terlihat semakin anggun. Rambut panjangnya ditata setengah tergerai, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.

Beberapa karyawan butik langsung terpukau.

"Nona benar-benar cantik."

"Gaun itu seperti memang dibuat khusus untuk Nona."

Dylan yang berdiri di sana

Tatapannya tertuju pada Viona tanpa berkedip.

Untuk beberapa saat, ia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Jay yang berdiri di sampingnya tersenyum tipis.

"Sudah lama sekali saya tidak melihat Tuan terdiam karena seorang wanita," batinnya.

Dylan kemudian melangkah menghampiri Viona.

Ia mengamatinya dari dekat, mulai dari wajah hingga ujung gaun yang dikenakannya.

"Cocok," ucap Dylan singkat.

Tatapannya kemudian beralih ke kotak-kotak perhiasan di atas meja.

Ia membuka satu per satu hingga akhirnya mengambil sebuah kalung berlian dengan desain sederhana namun elegan, lalu sepasang anting yang serasi.

"Pilihan Tuan sangat tepat. Kalung dan anting itu memang satu set dengan gaun tersebut," ujar salah seorang karyawan butik.

Dylan berdiri di belakang Viona, lalu mengangkat rambut panjang gadis itu dengan hati-hati.

Jari-jarinya perlahan memasangkan kalung di leher Viona.

Setelah pengaitnya terkunci, Dylan merapikan liontin kecil yang berada tepat di tengah leher gadis itu.

Kemudian ia mengambil sepasang anting.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Dylan memasangkan anting itu satu per satu.

Seluruh gerakannya begitu lembut, seolah takut melukai Viona.

Para karyawan butik saling berpandangan.

Mereka terbiasa melihat pria membelikan perhiasan untuk pasangannya.

Namun, jarang sekali mereka melihat seorang pria memilih sendiri, lalu memasangkan sendiri kalung dan anting dengan perhatian seperti itu.

Jay hanya tersenyum kecil.

"Kalau Tuan terus bersikap seperti ini, cepat atau lambat Nona Lin pasti akan menyadari betapa berharganya dirinya di mata Tuan."

Dylan mundur selangkah dan kembali menatap Viona.

Tatapannya kali ini jauh lebih lembut.

"Jauh lebih cantik."

Tatapan Dylan perlahan menyapu penampilan Viona.

Gaun itu memang sangat anggun, tetapi saat pandangannya berhenti di bagian leher, alisnya langsung berkerut.

Belahan leher gaun itu memperlihatkan sedikit bagian dada Viona.

Ekspresi Dylan seketika berubah.

"Tidak."

Karyawan butik saling berpandangan.

"T-Tuan, apa ada yang kurang sesuai?" tanya salah seorang karyawan dengan gugup.

Dylan tidak menjawab.

Ia berjalan ke arah rak pakaian, lalu mengambil sebuah blazer pendek berbulu halus berwarna biru muda yang senada dengan gaun Viona.

Ia kembali menghampiri Viona.

Tanpa banyak bicara, Dylan membentangkan blazer itu dan memakaikannya dengan hati-hati di bahu gadis tersebut.

Setelah itu, ia merapikan bagian kerah hingga menutupi belahan gaun yang menurutnya terlalu terbuka.

Masih merasa belum puas, Dylan mengambil kaitan mutiara berwarna biru yang menghiasi bagian depan blazer.

Dengan jemarinya sendiri, ia mengaitkan mutiara itu satu per satu hingga blazer menutup rapi.

Dylan mundur selangkah, lalu mengamati penampilan Viona sekali lagi.

Baru kali ini ia mengangguk pelan.

"Jauh lebih baik."

Karyawan butik tersenyum canggung.

"Tuan, sebenarnya model gaun seperti tadi sedang menjadi tren..."

"Aku tidak peduli dengan tren," potong Dylan datar. "Yang penting, dia mengenakan sesuatu yang membuatnya nyaman."

Jay yang berdiri di samping hanya tersenyum kecil.

"Tuan benar-benar tidak suka jika ada orang lain melihat Nona Lin terlalu banyak," batinnya.

Salah seorang karyawan kemudian berjongkok di depan Viona sambil membuka beberapa kotak sepatu.

"Tuan, kami sudah menyiapkan beberapa sepatu yang serasi dengan gaun Nona."

Ia mengeluarkan sepasang sepatu hak tinggi berwarna putih dengan tumit ramping.

"Model ini paling banyak diminati. Tinggi haknya sekitar sepuluh sentimeter, sehingga akan membuat postur Nona terlihat lebih jenjang."

Dylan hanya melirik sekilas.

"Tidak."

Karyawan itu langsung terdiam.

"T-Tuan?"

"Haknya terlalu tinggi."

Kalau digunakan saat pesta, penampilan Nona akan terlihat lebih anggun," jelas karyawan itu.

Dylan menggeleng pelan.

"Aku tidak ingin dia kesulitan berjalan."

Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke kotak sepatu yang lain.

Beberapa saat kemudian, Dylan mengambil sepasang sepatu berwarna biru dengan hak yang lebih rendah dan desain yang sederhana.

"Yang ini."

Karyawan butik segera menerimanya.

"Tuan, haknya hanya sekitar lima sentimeter."

"Itu lebih baik."

Dylan menatap sepatu itu beberapa saat.

"Dia tidak terbiasa memakai sepatu bertumit tinggi. Aku tidak ingin dia terjatuh hanya demi terlihat lebih tinggi."

Jay tersenyum tipis.

"Tuan memang sangat perhatian kepada Nona Lin," batinnya.

"Malam pakai saja sepatu ini," kata Dylan menatap Viona

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
rasain
erviana erastus
sudah di warning dylon nih dua orang tolol masih nekat aza ckckck.... say good bye dunia ucapan ini buat kalian bertiga
erviana erastus
habisi aza mereka Dylan drpd buat susah 🤭
Maria Mariati
pasti dia siapa lagi, cari mati itu orang
erviana erastus
kelar hidupmu moly
erviana erastus
ais moly moly udah bosan hidup rupanya, 😏😏😏
Dini Anggraini
Q suka kak karakter Dylan ini teruskan usahamu ambil yang menjadi hakmu pelakor, putrinya dan delvin gak berhak dapatkan harta ibumu kalau perlu jual saja gara2 di rumah itu penderitaan ibumu di mulai sampai ibumu meninggal. 🥰🥰
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
iyalah mamanya meninggal gara gara kalian, anak mana yang tidak marah
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
setimpal sih dengan kelakuan mereka
erviana erastus
puas banget..... 😍😍😍
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
pengen banget berkata kasar, hey moly dan suaminya, pelayan itu manusia juga, bukan boneka, enak saja mau ambil organ organ orang
erviana erastus
pak tua ini 🤣 percaya diri kali
Maria Mariati
waduh belum sadar juga ini orang yakkk, pusing dahhhh 😁😁😁😁
Maria Mariati
tenang vioo bukan kamu pendonor nya pasti Dylan sudah persiapkan semua
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
makanya jangan pernah berbuat semena mena sama orang lain
erviana erastus
langsung kirim ke alam baka aza mereka bertiga 🤭 biar dunia aman
erviana erastus
sujud syukur aku....selamat atas kehancuran kalian, 👏🏻👏🏻👏🏻
merry
kejam nuga dilan wkkkk adik se ayah pun gk peduli krn perbuatan orgtua yg jdi penghianat dan pelakor,, mntp dil
merry
bnr tu Jay 😆😆klo bls budi cukup ksh uang yg bnykk beres knn ksh saham juga bisa,,, in dr segala bju pun di atur in mah menlebhin seorg suami yg syg bgtt sm istrinya,, pdhl tau sndri bis mu dan vio bukn pasutri pcr juga buknn
erviana erastus
senangnya aku lihat 3 orang ini hancur lebur 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!