"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28 Taktik baru Daren
Begitu matahari terbit, Daren sudah bangun dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya karena kurang tidur. Dia menatap Nadia yang masih terlelap dengan posisi membelakangi dirinya.
Alih-alih langsung bersiap ke kantor seperti biasanya, Daren diam-diam turun ke lantai bawah dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara. Dia langsung menuju ke dapur dan mengumpulkan semua pelayan senior. Daren meminta mereka mengajarinya resep sarapan yang paling disukai Nadia, bertekad untuk membuat sendiri makanan yang aman dari alergi istrinya tersebut.
"Begini saja Tuan, Tuan akan saya ajari memasak bubur kesukaannya Non Nadia," ucap salah seorang Bibik yang lebih senior dari lainnya.
"Ya boleh itu, Ayo ajari aku sekarang resep bubur itu," kata Daren pada Bibik tidak sabar.
"Baik Tuan, saya siapkan dulu bahan-bahannya."
Daren mengangguk-anggukkan kepalanya dan memperhatikan tangan cekatan Bibik yang sedang mempersiapkan semua bahan untuk membuat bubur ayam tersebut.
Semua bahan-bahan sudah Bibik siapkan di atas meja dapur " Nah Tuan, ini bahan-bahannya untuk membuat bubur ayam nanti, ada beras dan ayam,"Bibik menjelaskan pada Daren sambil menunjukkan satu persatu nama bahan-bahannya.
"Baiklah Bik, ayo mulai memasaknya," ucap Daren penuh semangat.
"Pertama beras yang sudah kita takar tadi di cuci dulu Tuan."
Daren langsung mengambil beras yang sudah berada di dalam gelas takar dan kemudian memindahkannya ke dalam wadah untuk di cuci.
"Bagaimana caranya mencuci?" Daren menoleh pada Bibik yang berdiri di sampingnya dan Bibik pun maju ke depan menghidupkan kran kemudian memberikan contoh cara mencuci berasnya pada Daren "Begini Tuan." Daren memperhatikan cara Bibik yang sedang mencuci beras itu kemudian dia pun mulai mencuci beras itu menggantikan Bibik.
Setelah selesai mencuci berasnya kemudian Bibik mulai mengajari Daren untuk memasak beras itu di atas kompor.
"Sekarang berasnya di masukkan ke dalam panci Tuan, dan nyalakan kompornya untuk memasak beras itu dan jangan lupa untuk terus mengaduknya agar tidak gosong."Bibik kembali memberikan arahan pada Daren.
."Oh ya Tuan, apinya jangan terlalu besar yang sedang saja," lanjut Bibik.
"Ya," Daren mengangguk saja mengikuti arahan dari Bibik, kemudian Daren mengangkat panci kecil yang berisi beras itu ke atas kompor dan mulai mengaduk-aduknya menggunakan spatula yang barusan di berikan oleh Bibik padanya.
"Ini sampai kapan mengaduk-aduknya?" tanya Daren yang sudah mulai pegel tangannya.
"Sampai airnya habis dan berasnya sudah berubah bentuk menjadi bubur Tuan," ucap Bibik yang dengan sabar mengajari Daren.
"Hah. Lama sekali," dengus Daren yang mulai lelah tapi demi Nadia Dia harus rela mengerjakannya.
Daren yang biasa memegang pena mahal dan dokumen kontrak miliaran rupiah, kini harus memegang pisau dapur dan spatula. Suasana dapur menjadi agak kocak dan heboh karena Daren beberapa kali hampir membuat masakan gosong atau salah memasukkan bumbu.
"Sekarang masukkan setengah sendok teh garamnya Tuan," perintah Bibik yang sekarang menjadi gurunya.
Daren langsung mengambil salah satu toples yang berisi garam yang sudah di siapkan oleh Bibik tapi tiba-tiba saja Bibik memekik pada Daren saat melihat garam yang di masukkan Daren ke dalam bubur itu.
"Ya ampun Tuan...garamnya kebanyakan itu, tadi Bibik bilang kan setengah sendok teh kenapa sama Tuan Daren di kasih satu sendok teh?"
"Aduh, Bagaimana ini Bik? Aku kebanyakan ya? Apa perlu di ganti yang baru?" tanya Daren panik takut masakannya nanti jadi tidak enak.
"Sebentar Tuan, Bibik akan cicipi dulu rasanya," Kemudian Bibik mengambil sendok dan menyendok sedikit bubur yang masih ada di dalam panci itu.
"Bagaimana Bik?" Buru Daren tidak sabar.
"Tidak apa-apa Tuan, rasanya memang jadi asin tapi tidak terlalu sebaiknya di tambahkan gula saja untuk mengurangi rasa asinnya yang berlebihan.
"Atau di ganti saja Bik, buat bubur yang baru," ucap Daren.
"Tidak usah Tuan, nanti malah kelamaan dan Non Nadia keburu bangun."
"Benar juga."
"Biar saya tambahkan gula dulu Tuan," kemudian Bibik mengambil toples kecil yang berisi gula dan menaburkan satu sendok teh gula ke dalam bubur buatan Daren tadi kemudian Bibik kembali mengoreksi rasanya.
"Sudah Tuan, ini tidak terlalu asin kayak tadi," Bibik kemudian mematikan kompornya.
"Ini sudah matang ya?" tanya Daren.
"Iya Tuan, buburnya sudah matang tinggal memindahkannya ke dalam mangkok."
Daren mengambil mangkok yang sudah Bibik siapkan di atas meja dapur, kemudian Daren menyendok bubur yang ada di dalam panci dan memindahkannya ke dalam mangkok.
"Sekarang Tuan taburi Bubur itu dengan ayam suwir," kata Bibik pada Daren.
"Ya," lalu Daren mengambil piring yang berisi ayam suwir dan menuangkannya perlahan ke dalam mangkuk yang berisi bubur itu.
"Sudah selesai buburnya Tuan, sekarang tinggal susunya, Biar Bibik yang buatkan.
"Tidak usah Bik, aku saja yang buatkan susunya," cegah Daren pada Bibik.
"Baik Tuan." Lalu Daren pun mulai membuatkan susu putih untuk Nadia. Daren meletakkan susu dan bubur itu ke dalam nampan kecil.
Para pelayan hanya bisa menahan senyum melihat bos besar mereka yang terkenal kejam dan dingin di dunia bisnis, kini tampak begitu panik dan berantakan hanya demi sepiring sarapan sederhana untuk sang istri. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya sepiring bubur ayam hangat khas buatan Daren siap di sajikan.
Nadia terbangun dan terkejut karena tidak mendapati Daren di kamar maupun di sofa. Saat dia keluar kamar dengan tongkatnya, dia mencium aroma makanan yang sangat harum. Daren muncul dari arah pintu dengan membawa nampan berisi bubur buatannya, lengkap dengan segelas susu hangat.
Daren meletakkan nampan itu di meja nakas dengan canggung, wajahnya agak memerah. "Ini... aku membuatkan bubur untukmu. Tenang saja, aku sudah memastikan tidak ada bahan yang membuatmu alergi di dalamnya," ucap Daren sambil memalingkan wajah, menyembunyikan rasa gengsinya. Nadia menatap bubur itu, lalu menatap Daren yang pakaiannya agak kusut dan tangannya terkena sedikit noda kunyit. Nadia tertegun sejenak melihat usaha pria itu, namun dia tetap menjaga ekspresinya agar tetap datar.
Nadia mencicipi bubur itu perlahan. Meskipun rasanya agak sedikit keasinan, Nadia tetap memakannya tanpa berkomentar negatif. Melihat Nadia mau memakan masakannya, hati Daren langsung melonjak kegirangan. Strategi barunya tampaknya mulai menunjukkan sedikit titik terang.
Namun, momen manis itu tidak bertahan lama. Ponsel Daren berdering keras dari ruang kerja. Asisten pribadinya melaporkan sebuah kabar darurat dari kantor: Elsa, mantan kekasih Daren yang licik, ternyata nekat mendatangi kantor Wijaya Group dan membuat keributan besar di lobi, menuntut untuk bertemu dengan Daren demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hancur.
Daren yang langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat tajam dan dingin. Dia melirik Nadia, merasa cemas kalau kehadiran Elsa akan kembali merusak kepercayaannya yang baru mau dia bangun. Daren bersumpah akan menyelesaikan urusan dengan Elsa hari ini juga agar wanita ular itu tidak menggangu hidupnya dan Nadia lagi.
🤦
be smart don't be stupid alias i d i o t🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang