Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
Aroma cokelat manis masih melekat di ujung lidahnya. Naysilla duduk bersandar di kepala ranjang, perlahan menggigit potongan kue brownies kesukaan nya. Rasanya begitu pas, tak terlalu manis, tak terlalu pahit, persis seperti ketenangan yang baru saja ia temukan setelah berhari‑hari dihantui kegelisahan.
Angin malam menyapa, menyelinap lewat celah jendela, bagaikan pengantar pesan rahasia. Ia tersenyum tipis, seolah beban di dadanya perlahan terkikis.
Tangannya bergerak pelan meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya, sekadar ingin melihat waktu, tanpa di duga sedikit pun jika detik berikutnya dunianya akan kembali runtuh.
Getaran halus terasa di telapak tangannya. Sebuah pesan baru masuk.
Tanpa firasat apapun, ia membukanya. Sebuah grup yang baru ia ikuti, lewat tautan yang dikirim dari nomor misterius.
Tempat dibagikan penghinaan serta fitnah kejam mengenai dirinya. Dan potret Mohan yang tengah berbaring di pangkuan gadis yang menyerupai dirinya. Seolah menggiring opini jika dirinya melakukan asusila di lingkungan sekolah.
Namun detik itu juga, senyum di bibirnya membeku. Matanya menatap tajam ke arah layar yang memancarkan cahaya dingin. Foto itu? Foto kedua yang baru saja dikirim dengan posisi berbeda, wajah gadis itu tertangkap kamera, dan itu bukan dirinya.
Foto yang tak pernah ia harapkan akan melihatnya lagi, kini terungkap lebih jelas, lebih menyakitkan. Mohan, terbaring nyaman, kepalanya bersandar di pangkuan gadis asing itu, tangannya melingkar erat di pinggang ramping yang bukan miliknya.
Rasa manis yang tadi masih melekat di mulutnya seketika berubah menjadi pahit yang menjalar sampai ke tenggorokan. Jantungnya seakan berhenti berdetak, lalu berpacu begitu kencang hingga kepalanya terasa berputar hebat. Semua ketenangan yang baru ia rangkul hancur lebur dalam sekejap.
Tanpa berpikir dua kali, tanpa memedulikan rasa perih atau bahaya yang mungkin timbul, jari‑jarinya bergerak cepat dan gemetar. Dalam satu tarikan tajam, ia mencabut selang infus yang menancap di punggung tangannya.
Darah segar sempat menetes, namun ia tak merasakan apa‑apa dibandingkan rasa sakit yang tiba‑tiba merobek seluruh dadanya.
Ia melompat turun dari ranjang, kakinya terhuyung sedikit karena masih terasa lemas, namun matanya sudah berkilat dingin, penuh amarah dan kekecewaan yang tak lagi bisa dibendung.
"Naysilla...!" pekik pemuda yang tiba-tiba datang tanpa diduga.
Naysilla mengerjapkan kedua matanya, memandang pemuda berparas manis yang membopongnya, mengembalikan posisi nyamannya di atas pembaringan.
"Lo nggak apa-apa?" ucapnya dengan raut cemas.
"Gue nggak apa-apa kok. Satria... Eh, maksudnya kak Satria" gadis itu menutup mulutnya yang salah bicara.
"Nggak apa-apa, Nay. Lo bisa panggil gue Satria ajah" ucapnya dengan senyum manis. Ia mengacak rambut gadis itu, gemas.
"Kayaknya kurang etis deh"
"Senyaman lo ajah" ucapnya lembut, ia membetulkan posisi selimut, tapi matanya tak sengaja menangkap selang infus yang terlepas dengan tetesan darah di tangan si gadis.
"Kenapa bisa lepas? Gue panggilin perawat yah, buat pasang ulang" ia memegang tangan gadis itu, mengusap darah yang membekas di tangannya.
"Nggak usah, nggak apa-apa. Gue udah mau pulang kok, makanya sengaja di lepas" dusta nya.
"Mau jalan-jalan?"
"Hah, kemana? Ini kan udah malam"
"Keliling ajah, liat suasana malam"
Satria menangkap sinyal kebohongan. Ia tau gadis itu melepas selang infusnya secara sengaja, entah karena apa.
"Gue tau tempat yang banyak tukang jajannya" bisik Satria, mengeluarkan jurus terampuh bagi kaum hawa.
"Ayo..." ucapnya bersemangat. Ia turun dari ranjang dengan tergesa, tubuhnya hampir limbung ke kiri, untungnya Satria selalu sigap di sisi.
"Semangat banget neng, pake dulu jaketnya"
Waktu malam telah menunjukkan pukul sepuluh ketika dua pemuda mengendap-endap keluar dari area rawat inap.
Satria sangat pandai mengatur situasi, kapan ia harus bersembunyi dan kapan memutuskan jalan biasa tanpa beban.
Dan disini lah mereka, area alun-alun kota yang tak jauh dari rumah sakit. Sepanjang jalan Naysilla memandang dengan mata berbinar, seolah memasuki surga yang sangat indah.
"Gimana, Lo suka?"
"Suka banget, banyak jajanan enak-enak di sini" matanya tak pernah berhenti memandang satu persatu stand penjual yang berjejer rapi.
"Lo mau yang mana ajah? Nanti gue beliin"
"Hah... Serius?" ucapnya tak percaya. Ia pikir hanya dengan melihatnya pun tak apa, ia sudah bahagia.
"Nih..." ia memberikan selebar merah di tangan Naysilla, gadis itu melesat cepat, secepat kilat sudah tak terlihat.
Satria menggelengkan kepalanya pelan, merasa gadis itu semakin menarik saja baginya. Ia menunggu dalam diam, sampai tak lama kemudian sosoknya datang dengan kedua tangannya penuh belanjaan.
"Kak Satria, gue dapet banyak" ucapnya begitu sumringah. Rasanya orang lain takkan percaya jika gadis ini sebenarnya adalah seorang pasien.
"Lo beli apa ajah?" Satria menatap tak percaya.
"Ada Sempol ayam, telor gulung, batagor, martabat manis, sama jus alpukat" ia menghitung semua hasil buruannya, mengenalkan nama-nama mereka seperti sebuah presentasi materi penting.
"Sini duduk! Makan pelan-pelan yah, nanti kita balik ke rumah sakit" ia menuntun gadis itu, duduk santai beralaskan tikar di atas rerumputan.
Satria tak henti-hentinya tersenyum memandang gadis yang begitu lucu dengan jajanannya. Ia seperti anak kecil yang baru di ajak ke dunia luar. Matanya kalap, mengambil apapun yang menarik baginya, tapi tak menghabiskan semuanya.
"Kak, lo kok tau ada tempat kaya gini di sini" ucapnya di sela-sela makannya.
"Menurut lo? Lo nggak tanya kenapa gue bisa keluar malam dari asrama?" ia menaik turunkan alisnya.
"Eh iya lagi, kok bisa sih lo keluar malem gini?"
"Ya bisa, asalkan jangan sampe ketauan"
"Hah, maksudnya lo kabur kak?" ucapnya tak percaya, ia menutup mulutnya merasa begitu kagum.
"Ssttt... Jangan keras-keras, Nay"
"Eh, iya sorry. Apa lo sering lakuin ini kak Satria?"
"Ya lumayan lah, kalo lagi suntuk"
"Waaah... Seru banget. Besok gue ikutan yah!" ucapnya dengan mata berbinar.
"Aman, yang penting lo harus sembuh dulu. Kapan-kapan gue ajak ke tempat yang lebih indah" ia tersenyum penuh kemenangan, merasa menemukan jalannya. "Dan lo bakalan sadar, gue yang paling pantes ada disisi lo, Naysilla. Bukan si cupu itu" batinnya.
"Iyah, gue besok juga udah pulang kok" jawabnya santai. Ia menggigit batagor dengan nikmat, seolah tak ada beban berat yang tadi sempat meremukkan hatinya hingga nyeri tak tertahankan.
Di sini, di bawah cahaya lampu alun‑alun yang remang, rasa pahit yang menjalar di tenggorokan tadi perlahan tergantikan oleh rasa gurih dan hangat yang menenangkan. Seolah‑olah kebersamaan dengan Satria ini menjadi penawar paling ampuh untuk segala luka yang baru saja dirobek kembali.
Mereka terlihat semakin akrab, bercerita apa saja tentang pengalaman masing-masing, tertawa lepas dengan mulut Naysilla yang tak pernah berhenti mengunyah. Tanpa mereka sadari, ada sosok pria berhoodie hitam diam-diam merekam.
...***************...
Mohan mencengkeram ponselnya begitu erat hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam pada layar yang menampilkan Naysilla tertawa lepas, duduk begitu akrab di samping Satria, seolah tak ada beban apapun.
Wajahnya yang biasanya tenang kini berubah kelam, napasnya memburu seolah ada api yang membakar seluruh isi dadanya. Rasa cemburu yang meluap bercampur amarah yang tak tertahan membuatnya gemetar hebat.
"Lo yang mulai, Na..." Ia melempar ponselnya ke atas kasur, langkahnya tak sadar terasa berat namun penuh amarah.
Bayangan wajah gadis yang memangku dirinya, yang ia rengkuh pinggangnya, ternyata bukan Naysilla, kini terasa jauh lebih ringan dibandingkan kenyataan yang baru saja ia terima.
Baginya, foto yang ia terima sekarang ini jauh lebih nyata, jauh lebih menyakitkan, dan menjadi bukti yang tak terbantahkan.
cupu tuh apaan ?