NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 27

Sejak saat menyadari bahwa namanya tak memiliki makna apa pun, gadis kecil itu selalu merasa takjub dengan nama kakaknya. Puncaknya adalah saat pertemuan pertama dengan Hanan, dia memperkenalkan diri sebagai Eleanor—nama belakang kakaknya yang akhirnya benar-benar dicintai oleh Hanan saat dia kembali setelah sekian lama.

“Bahkan nama pun tak bisa mengubah nasib menyedihkanku.”

Amelia berjalan cepat sembari mengingat kenangan menyedihkannya di masa lalu.

Dibenci oleh orang tuanya.

Dirundung teman-teman kakaknya karena dianggap pengganggu.

Dikhianati oleh janji orang yang dicintainya sejak dulu.

Memang kemalangan seperti sudah menjadi nama tengah Amelia.

Gadis itu meninggalkan taman agar menghindari rasa sesak berkepanjangan, tapi pada nyatanya, kebersamaan Hanan dan Rosa sudah melekat erat di kepalanya.

Amelia tak menyadari bahwa Hanan sudah mengetahui keberadaannya dan justru mencibir dalam hati.

“Teruslah berpura-pura dan aku berjanji akan menyingkirkanmu dari hidup istriku.”

“Mas, ada apa?” Rosa menggenggam tangan suaminya yang tampak termenung dengan pandangan dingin.

“Tidak apa-apa. Sudah merasa lebih baik?” Pria itu balas menggenggam tangan suaminya.

“Sudah.”

Beberapa saat yang lalu, Rosa memang meminta Hanan untuk menemaninya duduk di taman agar merasa lebih baik. Keduanya duduk sembari mengingat masa kecil mereka.

“Kamu ingat dulu pertama kali kita bertemu, kamu masuk ke bawah trotoar dan sampai sekarang belum memberi tahuku alasan mengapa kamu di sana.” Hanan tiba-tiba mengatakan hal yang sampai sekarang masih menjadi misteri di kepalanya.

“Oh, itu ....” Rosa tampak mengingat-ingat dan sedikit kebingungan. “Sepertinya saat itu aku sedang menyelamatkan seekor kucing.” Wajah Rosa tampak tak yakin.

“Apa kamu sudah melupakannya? Saat itu tubuhmu benar-benar dihiasi noda lumpur.”

Rosa mengernyit jijik tanpa sadar mendengar cerita suaminya. Dia adalah tipe orang yang sangat menyukai kebersihan, kotoran sedikit saja menempel di tubuhnya bisa membuat stres, apalagi ini dipenuhi oleh lumpur.

“Aku benar-benar tidak ingat lagi. Tapi sepertinya saat itu aku benar-benar kotor. Aku sedikit menyesalinya.” Rosa merasa tak nyaman dengan cerita Hanan, tentunya suaminya juga tak akan senang dengan anak kecil yang kotor.

“Sebenarnya tidak ada yang patut disesali. Jika bukan karena jika bukan karena kejadian itu, mungkin kita tidak akan bertemu. Lagi pula walau kotor, waktu itu kamu tampak lucu apalagi dengan roti cokelat yang kamu peluk seperti barang paling berharga.

Hanan tertawa di ujung kalimatnya. Dia selalu merasa terhibur saat mengingat masa-masa itu. Rosa sendiri tampak gugup dan tak tahu harus menanggapi seperti apa.

“Bisakah kita melupakannya? Itu memalukan.”

“Apanya yang memalukan? Itu kenangan manis yang tak akan pernah bisa diulang lagi.” Hanan mengelus pelan puncak kepala istrinya. Namun, ada sesuatu yang mengganggu benaknya.

Rosa bilang dia waktu itu dia menyelamatkan kucing, tapi tak ada kucing yang dibawa keluar oleh anak itu dan juga tak ada makhluk itu di sekitar mereka. Pria itu bertanya-tanya apa kucing yang akan diselamatkan istrinya telah kabur. Lagi pula jika menggali ingatan masa lalu, El kecil yang dia temui waktu itu menatap roti di pelukannya seperti harta karun.

Hanan enggan memikirkannya lebih jauh karena memang banyak hal yang telah berubah dari mereka.

***

Amelia merebahkan diri menghadap dinding. Lagi dan lagi saat pikirannya rumit. Matanya terpejam, tapi kesadarannya tak kunjung terbang ke alam mimpi hingga dia merasakan kamarnya terbuka pelan. Dia sadar jika itu kakaknya karena tak mungkin suaminya yang masuk ke sana. Akan menjadi sebuah keajaiban jika Hanan sudi menginjakkan kakinya ke kamar Amelia.

Rosa duduk di pinggir ranjang adiknya itu dan menatap punggung sempitnya yang bergerak pelan dengan napas teratur.

“Mel, kamu tahu, sampai sekarang aku masih sering iri denganmu. Aku iri karena kamu memiliki tubuh yang begitu kuat untuk pergi ke mana pun. Sementara aku ... aku harus terkurung di rumah dan rumah sakit. Aku ingin menjadi seorang penjelajah, tapi penyakit ini seolah mengikatku untuk diam di tempat. Aku iri dengan wajahmu yang selalu merona dan napasmu yang selalu teratur. Kira-kira di kehidupan lain, bisakah aku menjadi sepertimu—adikku yang sangat kuat?”

Mata Amelia yang terpejam terbuka perlahan. Dia tetap diam di tempatnya mendengar keluhan kakaknya.

“Mbak, bagaimana rasanya mendapat kasih sayang Ayah dan Ibu? Bagaimana rasanya dikelilingi cinta orang sekitar? Bagaimana rasanya mendapatkan cinta orang yang Mbak sukai? Sebelum aku menjawab pertanyaan Mbak, bisakah pertanyaanku dijawab lebih dulu? Aku penasaran.”

Rosa tersentak kecil menyadari adiknya yang tak benar-benar tidur. Tubuh Amelia perlahan berbalik dan duduk dengan tegak. Dia tersenyum tipis di bawah cahaya remang-remang lampu tidur. Matanya sama sekali tak memancarkan kesedihan, tapi netranya menampilkan rasa penasaran yang kuat.

“Maaf, aku pikir kamu sudah tidur.” Rosa menunduk, tak berani menatap mata adiknya itu.

“Apa Mbak benar-benar iri padaku? Coba kita lihat, siapa yang paling disayang oleh Ayah dan Ibu? Oh, tidak perlu menanyakan itu karena di mata mereka hanya Mbak Rosa yang anak mereka. Lalu, siapa yang selalu mendapat barang terbaik? Tentu saja Mbak Rosa, aku bahkan lebih sering tidak mendapat apa pun. Dan terakhir, siapa yang beruntung bisa mendapatkan pria incarannya dan diratukan? Itu kamu—kakakku yang paling disayangi semua orang.”

“Amel aku—“

“Jangan merasa iri padaku, aku ini tidak ada apa-apanya. Semua mata orang lain tertuju padamu. Tahu kenapa tubuhmu lemah? Itu karena kamu ditakdirkan memiliki orang-orang baik yang akan selalu menjagamu, sementara aku ... tubuh ini mungkin kuat, tapi itu karena aku ditakdirkan berjuang sendiri—tulangku harus cukup kuat untuk melawan dunia dengan kedua tangan dan kakiku sendiri. Jangan iri ... kumohon. Kecuali kamu siap menanggung semua rasa sakit diabaikan dan tersisih yang selama ini kurasakan.”

Rosa menunduk dalam dengan mata berkaca-kaca. Dia tak bisa menahan kesedihan dalam hatinya. Adiknya begitu menderita, tapi dia tak bisa menahan diri untuk terus menatap penuh harap pada sosok Amelia yang tampak kuat menghadapi dunia. Memang benar bahwa meskipun dia memiliki tubuh sehat adiknya itu, belum tentu dia siap menjalani apa yang ditakdirkan untuknya.

“Maaf, aku minta maaf.” Rosa merasakan pipinya yang basah.

“Jangan menangis, nanti dia pikir aku melukaimu lagi. Kembalilah ke kamarmu dan istirahat. Sudah larut.” Amelia menuntun kakaknya menaiki lantai dua.

Kedua perempuan itu tak sadar bahwa Hanan memperhatikan mereka sejak Rosa memasuki kamar Amelia. Pria itu terlalu khawatir dengan istrinya yang akan terluka lagi jika menghadapi Amelia sendirian, tapi pada nyatanya, semua perbincangan mereka dan apa yang dikatakan Amelia membuat pria itu terenyuh.

“Tubuh ini mungkin kuat, tapi itu karena aku ditakdirkan berjuang sendiri.”

Suara Amelia seolah terngiang dan menggema di telinga Hanan. Sebuah kenangan lama menyeruak ke ingat Hanan. Ingatan tentangnya dan El kecil.

“El, kenapa kamu suka sekali berlari tanpa alas kaki?” Hanan menghentikan aksi berlarian El dan memasangkan alas kakinya.

“Tidak masalah, tubuhku sudah terbiasa dan kuat.” Yang dinasihati tampak tak peduli.

“Jadi, kamu berpikir kamu kuat hingga bisa melakukan apa pun?”

El mengangguk cepat. “Aku kuat karena aku ditakdirkan berjuang sendiri.”

1
falea sezi
lu emank g cocok ma cwek baik lun cocok ma Rosa apalagi lu bekas si rosokan🤣🤣 najis amat
falea sezi
lanjut donkk😓 baguss q ksih hadiah deh
Yourfaa: Sabar, yah Kakak. Akan kulanjut, tapi setelah menghadapi dunia yang gonjang-ganjing ini. Ngetiknya cuma bisa pas malem doang, soalnya siang kita harus kembali ke realita dunia kerja😭
total 1 replies
falea sezi
rosa ini bner bner playing victim deh
falea sezi
menikahi kaka adek kandung mana boleh kecuali uda mati tuh kakak nya😒
Yourfaa: Terima kasih buat koreksinya yah, Kakak. Karena ini cerita pertama aku, jadi masih banyak salah dan kurangnya informasi. Next bakal aku perbaiki pelan-pelan supaya alurnya lebih masuk akal dan gak bertentangan sama fakta yang terjadi 🙏🏻☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!