NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Namaa yang Hilang

"Aku tahu siapa bayi ketiga itu," ujar Bintang sambil menggenggam foto tersebut erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Siapa?" tanya Rania sambil menahan napas.

"'Rania, Raka, dan Bima,'" baca Bintang dengan suara berat sambil menatap tulisan di belakang foto itu. "'Tiga anak yang harus dilindungi dengan nyawa kita.'"

Suasana di ruang tamu langsung membeku karena tidak ada seorang pun yang mengenal nama itu. Semua orang saling bertukar pandang, sedangkan Gavin hanya berdiri tenang seolah sudah memperkirakan reaksi mereka.

"Bima?" tanya Raka sambil mengernyit. "Aku tidak pernah mendengar nama itu."

"Aku juga tidak," jawab Arsen sambil menggeleng pelan.

Rania memperhatikan foto yang masih berada di tangan Bintang, jantungnya berdegup semakin cepat karena ia merasa semakin dekat dengan jawaban yang selama ini dicari, tetapi pada saat yang sama misteri yang muncul justru semakin banyak.

"Siapa Bima?" tanya Rania sambil menatap Gavin.

"Aku tidak datang untuk menjawab pertanyaan," jawab Gavin sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.

"Kalau begitu untuk apa kau datang?" tanya Leonard sambil menyipitkan mata.

"Aku datang untuk menyampaikan pesan." Gavin tersenyum tipis.

"Pesan yang sangat menyebalkan," gerutu Damar sambil melipat kedua tangan di dada.

"Aku hanya kurir." Gavin mengangkat bahu santai.

"Kalau kau hanya kurir, siapa yang mengirimmu?" tanya Bintang sambil melangkah mendekat.

"Orang yang menulis nama itu." Gavin menunjuk foto yang masih berada di tangan Bintang.

"Di mana dia sekarang?" tanya Viktor sambil menatap tajam.

Gavin tidak langsung menjawab, ia justru berjalan perlahan menuju jendela dan melihat hujan yang kembali turun di luar rumah.

"Dia sudah menunggu sangat lama," ujarnya pelan sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket.

"Itu bukan jawaban." Bintang menyipitkan mata.

"Aku tahu."

"Bintang benar," ujar Septian sambil melangkah maju. "Kami butuh lokasi."

"Kalau aku memberi tahu lokasinya, kalian akan mati sebelum matahari terbit."

"Jangan putuskan itu untuk kami," balas Leonard sambil mendengus pelan.

"Aku tidak memutuskan apa pun." Gavin menoleh ke arahnya. "Aku hanya mengatakan fakta."

Rania mengamati pria itu tanpa berkedip, sejak awal kedatangannya terasa aneh. Ia tidak tampak takut, padahal berada di tengah orang-orang bersenjata, ia juga tidak terlihat seperti anak buah Ezra.

"Kau mengenal pria yang ada di foto itu?" tanya Rania sambil menunjuk gambar lama yang masih terpampang di layar.

"Aku mengenalnya." Gavin mengangguk pelan.

"Siapa dia?"

"Seseorang yang kehilangan segalanya dalam satu malam."

"Itu masih bukan jawaban."

"Karena nama tidak penting." Gavin mengembuskan napas panjang. "Yang penting adalah apa yang dia lakukan setelah malam itu."

Semua orang terdiam, bahkan Viktor terlihat semakin tegang.

"Apa yang dia lakukan?" tanya Raka sambil mengernyit.

"Dia mencari tiga anak yang hilang."

Kalimat itu membuat suasana kembali berubah.

"Selama dua puluh lima tahun?" tanya Arsen sambil mengangkat alis.

"Selama dua puluh lima tahun," jawab Gavin sambil mengangguk.

Viktor berjalan ke arah meja lalu mengambil foto yang berada di tangan Bintang, tatapannya tertuju pada tulisan di bagian belakang sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Aku pernah melihat tulisan ini," ujarnya pelan.

Semua orang langsung menoleh.

"Kapan?" tanya Rania cepat.

"Malam kebakaran itu."

Jantung semua orang langsung berdegup lebih cepat.

"Apa kau serius?" tanya Bintang sambil menyipitkan mata.

Viktor mengangguk pelan.

"Seorang pria memberikannya kepadaku sebelum semuanya hancur."

"Dan kau baru mengatakannya sekarang?" bentak Bintang sambil mengepalkan tangan.

"Aku tidak tahu foto itu masih ada."

"Itu alasan yang buruk."

"Aku tahu." Viktor mengusap wajahnya kasar.

"Kalau kau pernah melihat tulisan itu, berarti kau tahu siapa Bima," ujar Leonard sambil menatap Viktor lurus.

"Tidak." Viktor terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng.

"Kau bohong." Leonard mendengus pelan.

"Aku tidak berbohong." Viktor menatapnya balik. "Aku hanya tahu bahwa nama itu sangat penting."

"Itu jawaban yang sama buruknya."

"Kalau kau punya jawaban yang lebih baik, silakan." Viktor menyilangkan tangan di dada.

Leonard langsung terdiam karena untuk pertama kalinya malam itu, bahkan dia tidak memiliki bantahan.

Suara notifikasi tiba-tiba terdengar dari salah satu monitor ruang keamanan, semua orang langsung menoleh. Salah seorang penjaga yang berjaga di ruangan itu berlari masuk dengan wajah tegang.

"Tuan Viktor," ujarnya sambil terengah-engah.

"Ada apa lagi?" tanya Viktor sambil mengerutkan kening.

"Kami menemukan sesuatu di server kamera."

"Perlihatkan."

Mereka segera berpindah ke ruang pemantauan, puluhan layar menampilkan berbagai sudut rumah sedangkan salah satu monitor memperlihatkan rekaman beberapa menit sebelum Gavin masuk.

"Putar," perintah Viktor sambil berdiri di depan layar.

Rekaman mulai berjalan, semua orang memperhatikan dengan saksama. Awalnya tidak ada yang aneh kemudian sesuatu muncul.

"Tunggu." Rania menunjuk layar.

Operator segera menghentikan video, jantung Rania langsung berdegup semakin cepat karena pada sudut layar terlihat seseorang berdiri di balik pagar luar rumah. Seseorang yang tidak pernah masuk ke area kamera utama.

"Perbesar." Bintang menunjuk layar.

Gambar diperbesar perlahan, wajah orang itu masih samar karena hujan namun satu hal terlihat jelas. Pria itu mengenakan kalung yang sama seperti yang ada di foto lama.

"Sial..." gumam Septian sambil kehilangan warna di wajahnya.

"Itu dia, bukan?" tanya Damar sambil menoleh.

Septian tidak menjawab, tetapi ekspresinya sudah cukup menjadi jawaban.

"Siapa dia?" tanya Rania sambil menatap mereka satu per satu.

Tidak ada yang langsung menjawab.

"Jangan mulai lagi," ujar Bintang sambil menggeleng pelan. "Aku sudah muak dengan semua rahasia ini."

"Kalau aku benar..." Septian menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Kalau?" ulang Leonard sambil mengangkat alis.

"Kalau aku benar, orang itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah berhasil ditemukan."

Ruangan langsung hening.

"Pria yang ada di foto?" tanya Raka sambil mengernyit.

"Ya." Septian mengangguk.

"Itu tidak mungkin," ujar Viktor sambil menatap layar. "Kalau dia masih hidup, kenapa baru muncul sekarang?"

"Karena sekarang ketiga anak itu sudah berkumpul." Gavin menjawab sambil menyandarkan tubuhnya ke pintu.

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

"Itulah yang ditunggu selama ini," lanjut Gavin sambil menatap Bintang, Rania, dan Raka bergantian.

"Kalau begitu katakan satu hal," ujar Bintang sambil melangkah mendekati Gavin. "Apakah aku Bima?"

Tidak ada seorang pun yang berbicara, bahkan suara hujan di luar seolah menghilang.

"Itu pertanyaan yang salah." Gavin menatap Bintang beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

"Apa maksudmu?" tanya Bintang sambil mengernyit.

"Kau bertanya apakah dirimuGavin tertawa kecil. Bima."

"Ya."

"Padahal pertanyaan yang seharusnya kau ajukan adalah..." Gavin berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "siapa sebenarnya Bintang Mahardika?"

Jantung Bintang langsung berdegup keras, Rania membeku sedangkan Viktor terlihat seperti baru saja kehilangan seluruh kekuatannya karena dari reaksi pria itu... semua orang tahu bahwa pertanyaan tersebut memiliki jawaban dan jawaban itu tidak akan mereka sukai.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!