NovelToon NovelToon
Penyihir X Regresi

Penyihir X Regresi

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Dunia Lain / Sihir
Popularitas:64
Nilai: 5
Nama Author: A Giraldin

Namanya Takeuchi Hideki. Dia hanyalah seorang pekerja kantoran biasa yang sudah bosan hidup.

Saking bosannya, apapun yang bakalan terjadi padanya takkan ia pedulikan. Hingga suatu hari, Hideki menemukan sebuah portal menuju dunia lain.

Yang dimasukinya adalah negara Inggris dan dirinya berada di dalam tubuh seorang bayi bernama James Darren.

Seorang anak terkutuk dan pria pekerja kantoran, benar-benar perpaduan yang sangat sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2.10: Pertukaran Kembali

Dia kembali duduk dan rasa sakitnya seperti ditahan sekali ya! Kedua matanya terisak.

Air matanya cukup deras dan badannya menggigil ketakutan. Tatapan kejam mengarah pada kami berdua.

“Benar-benar para anak muda jahat.”

“Bisa-bisanya mereka mengatakan hal seperti itu pada seorang nenek tua yang masih kelihatan segar bugar.”

“Sia*an! Aku pengen banget menghukum keduanya dengan push-up jutaan kali agar pada kapok.”

Hukuman yang sangat mengerikan ya! Semua orang itu bisik-bisik. Benar-benar kejam.

Tapi aku dan Yamada tak terlalu memedulikannya, karena aura nenek ini seperti tidak mau siapapun ikut campur dalam masalah harga diri kedua cucu perempuannya.

Aku tidak peduli mau mereka cantik atau jelek. Takkan membuatku kaget atau apa sih, hahaha.

Kecantikan, ketampanan, dan kejelekan adalah tiga hal utama yang ada di dalam diri setiap pria dan wanita.

Kedua gender ini pasti memiliki salah satunya. Bisa saja tampan atau cantik atau jelek.

Kalau aku... Jelek sih, hahaha. Aku takkan sombong dan mengatakan bahwa diriku ini tampan.

Orang-orang tampan menurutku menyebalkan seperti halnya Yamada. Satu saja sudah menyusahkan dan kalau bertambah lagi... Otakku bisa-bisa traveling ke segala penjuru dunia, fufufu.

Dia mengeluarkan ponsel dari saku rok kirinya. “Halo! Cepatlah datang ke sini, Kasumi, Yuino!!”

{Ba-baik laksanakan, Kotoko-bachan! Yuino-chan, ayo!!}

{O-oke, si-siap laksanakan, Ka-kasumi-neechan.}

Setelah telepon singkat itu, semua kesakitan yang dialami Nek Kotoko pudar dengan sangat cepat.

Menghilangnya cepat sekali ya! Nenek-nenek ini keren sekali. Hahaha, kayaknya aku bisa menjadi fansnya.

Karena aku terlihat senang, Yamada malah jadi sosok mengerikan lagi. “I-itu ditujukan padamu kok!”

Sekarang mukanya berseri-seri dan memerah padam. Benar-benar pria yang sangat aneh.

Te-terserahlah dan cepatlah datang ke sini, dua cucu perempuan Nek Kotoko! Aku pengen cepat-cepat mengunjungi klient selanjutnya dan menyelesaikan hari ini.

Kalau hari ini sudah selesai, selanjutnya aku bersama James Darren akan mengunjungi tempat di mana perpustakaan berada.

Di dalam perpustakaan, harusnya segala informasi akan kami ketahui tentang dunia ‘Bollorta’ dan ‘Magiort’.

Fokus utama sudah pasti ‘Regresi’ dulu. ‘Penyihir’ saja sudah beda, apalagi satunya lagi.

Aku benar-benar tidak mengerti dunia sana maupun dunia sini. Kedunya sama-sama ribet dan membuatku sangat muak.

Mau selamanya berada di dunia ini atau berpindah ke dunia sana aku sepertinya takkan memedulikannya lagi.

Dunia manapun itu pastinya bagus-bagus saja sih, hahaha. Lalu... Setelah 30 menit berlalu, kedua cucu perempuannya pun sampai di cafe.

Cafe lagi? Tentu saja. Kalau selanjutnya, pertemuan akan kami hadiri di Museum yang berbeda-beda sebanyak lima klient dan terakhir atau menurutku si paling spesial mau melakukan pertemuan klient seorang diri ketika bertemu kami berdua di sebuah kuburan.

Kuburan? Benar-benar sangat mengerikan dan bisa dibilang tempat itu tuh tempat di mana orang-orang dikuburkan. Kalau ada hantu bagaimana? Harusnya baik-baik saja diriku ini. Se-semoga saja sih, hehe.

“Hah... Hah... Hahh...! Ca-capek bangett!!”

Wanita yang cukup unik. bentuk tubuhnya kayak gitar dan... Aneh sekali ya! Dia bukan manusia kayaknya.

Satunya lagi normal dan bagian bibirnya kelihatan kering sekali. Kurang minum kah? Atau itu makeup? Soalnya lumayan tebal sih, hahaha.

Apakah mereka berdua cantik? Aku tidak tahu harus bilang apa, jadi jawabanku adalah... Biasa saja sih.

Oh benar! Kata-kata pertama keduanya dikatakan secara serentak. “Woah! Cantik banget!”

Ucap salah seorang pelanggan di cafe ini. “Kedua cucu nenek itu benar-benar membuat semua perempuan yang ada di cafe ini kalah.”

“Aku kesal mengakuinya, tapi sebagai seorang perempuan... Mereka berdua benar-benar sempurna.”

Bisa gitu ya! Aku sebagai laki-laki malah menganggap mereka berdua biasa saja dan nggak ada sempurna-sempurnanya, hahaha.

“Menurutmu mereka cantik atau tidak, Takeuchi-kun?”

Yamada menanyaiku dan suasananya terasa biasa saja. Aku jawab sejujurnya saja deh. “Menurutku biasa saja. Memangnya daya tarik seorang perempuan itu dilihat dari mana, Yamada?”

“Aku sendiri tidak tahu Takeuchi-kun. Apakah kau akan bilang bahwa semua yang ada di cafe ini... Maksudku para cowok kayak kita berdua sangat bodoh karena menganggap keduanya benar-benar cantik sekaligus sempurna sebagai seorang cewek?”

Pertanyaan yang menarik sekali. Aku tidak terlalu mengerti cewek yang cantik juga sempurna itu seperti apa.

Aku pun tersenyum manis dan mengingat kembali masa lalu sejenak. Tanpa ku ketahui, semua omonganku malah keluar dan terdengar oleh Yamada juga Nek Kotoko.

“Bingung sekali untuk menjawab pertanyaan itu. Yang benar-benar ku anggap demikian sampai detik ini hanyalah ibu kandungku seorang. Aku memang tidak mengerti tentang kenapa ayah dibunuh olehnya, tapi...”

Aku menatap keduanya bersamaan. “Perjuangan seorang ibu agar aku selamat, itu adalah letak kecantikan dan kesempurnaan dari cewek.”

Wanita atau perempuan atau cewek semuanya sama saja dan tidak terlalu masalah menurutku, hehehe.

“Sebagai seseorang yang sudah menjadi sosok ibu, itu benar apa adanya. Perjuangan membuat semua gender kayak diriku terlihat cantik dan sempurna. Ternyata kau juga mengerti perasaan perempuan ya, Takeuchi-kun!”

“Hahaha. Entahlah, aku sendiri tidak mengerti. Dia membawaku ke tempat Rei-san berada. Orang yang merawatku setelah ibuku. Salah seorang sosok ayah yang ku anggap ayah kandungku. Yang asli? Sepertinya tidak. Dia membawa perempuan lain dihadapan aku dan ibu soalnya.”

Mendengar semua ceritaku ini membuat Yamada terlihat sangat sedih. “Begitu ya! Entah kenapa... Aku jadi bisa membayangkan semua hal yang terjadi pada kehidupan senpaiku ini.”

“A-aku pun sama.”

Bukan hanya Yamada, bahkan Nek Kotoko sendiri. Omong-omong, kenapa mereka semua merasa sedih?

Apanya yang menyedihkan dari hal tersebut? Oh, benar juga. Manusia itu sangat mengekspresikan segala emosi di kejadian apapun itu.

Semisal ada sebuah kematian di hadapan mereka, padahal tidak saling kenal satu sama lain, pasti akan ikut berduka.

Beberapanya kemungkinan akan menelepon ambulance juga polisi. Kenapa harus ada polisi? Jika kematian tersebut disebabkan oleh contohnya ditabrak mobil dan si pengemudinya belum kabur, maka polisi dibutuhkan.

Pemikiranku bagus juga ya! Dan... Beralih dari itu semua, sekarang keduanya duduk di samping kiri juga kanan Nek Kotoko.

Mereka berdua terlihat sangat aneh juga agak menjijikkan saat melihat Yamada. “Bagaimana kalau perkenalan dulu, dua cucu perempuan Nek Kotoko?”

“Kamu tampan banget ya! Siapa namamu?”

Dia tidak mendengarkanku sama sekali rupanya. Terserahlah. Ini hal yang sangat wajar sih, hahaha.

“Jawab dulu pertanyaan dari Takeuchi-kun, cewek jelek!”

Cewek yang berpenampilan dengan tubuh kayak gitar langsung setengah menatapku dengan tatapan sinis, sisi lainnya senang sekali sambil terus melihat kepada Yamada.

“Nakamura Kasumi, 33 tahun.”

Nggak niat sama sekali ya! Bisa dibilang dia ini adalah adiknya. Satunya lagi pasti kakaknya kan? Soalnya lebih tua berarti masih muda, begitupun sebaliknya.

Hehehe, aku benar-benar seorang jenius beneran. Berapa kali lagi harus ku akui hal yang sama? Entahlah, mungkin... Sampai semua orang mengakuinya.

Atau... Ketika diakui oleh entah siapa. Aku ini ngomong apa? Hahaha, tidak tahu.

“Sudah tuh, tampan. Jadi... Siapa namamu? Kakak pengen tahu namamu soalnya, hehehe.”

Kakak di sini mengarah pada siapa? Dia atau kakaknya ini?. Lalu... Kakaknya juga sama saja.

Aku dan Nek Kotoko sepertinya sudah terlupakan dan kedua cucu perempuannya telah masuk ke dalam dunia Yamada.

Hal yang normal dan tak ada satupun orang yang harus disalahkan. “Aku lebih tua darimu, cewek jelek. Terus... Namaku Ryugami Yamada. Yang ku sukai hanya Takeuchi-kun seorang.”

“Kyaa!! Kata-katanya keren banget ya, Kasumi-neechan! Saat dihina olehnya, bukankah hatimu berdebar-debar!!??”

Aku tidak mengerti mereka ini lagi bahas ke arah mana. “Bagaimana kalau kita berbicara ke arah serius saja, Nek Kotoko?”

“Y-ya. Bo-boleh saja.”

Oke bagus. Beberapa saat berlalu dan saat kami meninggalkan mereka bertiga, Nek Kotoko pamit duluan, duanya lagi malah berada di belakang Yamada.

“Selain tampan, kamu juga keren Ryugami-san. Nakamura Yuino, 30 tahun. Aku adalah adik dari kakakku atau Kasumi-neechan.”

Ternyata aku salah rupanya. Yahh... Nggak seru dan dunia ini memang benar-benar membuatku sangat ternistakan.

“Tidak peduli dan mari kita kabur saja, Takeuchi-kun!”

Dia tiba-tiba mengangkatku menggunakan tangan kanannya saja dan berlari sekencang mungkin hingga keduanya retak dan terbang layaknya abu sisa pembakaran.

Hahaha, benar-benar kasihan sekali dan Yamada tumben sekali dirinya banyak bicara buruk pada cewek.

Apakah karena aku melakukan sebuah kesalahan? Entahlah dan bisa saja demikian.

Aku nya sendiri tidak tahu, jadi tidak perlu terlalu dipikirkan serta perjalanan kami selanjutnya adalah menuju... Museum.

Klient yang satu ini memberikan sebuah berkas yang sangat penuh akan informasi tentang dirinya beserta keluarganya.

Agak panjang kalau ku katakan semuanya dan singkatnya namanya itu Haruka Inoue, 22 tahun.

Ciri-cirinya berambut setengah pirang di sebelah kanan dan setengahnya lagi putih untuk kiri.

Wow! Perpaduan warnanya agak aneh, tapi menurutku bakal lumayan keren. Jarang-jarang ada orang yang punya dua warna rambut sekaligus.

Apalagi, itu adalah warna rambut asli lho! Bisa dikatakan dia adalah salah seorang yang sangat langka dalam hal tersebut.

Selama perjalanan menuju sana, Yamada terus menggendongku tanpa henti. Pria ini baik, cuman aneh saja.

Sekitar 1 jam kemudian, akhirnya kami sampai di Museum. Tepatnya... ‘Lepchota Kloreseto’.

Itu nama Museumnya dan bagian luar tampak begitu indah. Ada banyak sekali patung berjejer mengikuti tangga halus menjulang ke atas.

Perpaduan antara warna putih dan krem membuat Museum terasa sangat hidup. Sungguh aneh ya!

Mungkin karena Museum memang identik dengan warna tersebut. Untuk pintu masuknya, membentuk sebuah tabung.

Sangat luas dan banyak orang bisa masuk ke dalam sini. Saat ini saja, ada banyak sekali orang di hadapan kami.

Lalu, di bagian pertengahan pintu masuk super besar ini, Haruka Inoue berdiri tepat dihadapan kami.

Ia membungkuk dan meletakkan tangan kanannya di dada kirinya. “Saya sudah menunggu kedatangan kalian berdua.”

Ia mendongakkan kepalanya ke atas menghadap kami berdua dengan senyum memesona. “Fufufu.”

1
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




Saling support sabi kali ya😉
Ankani: 👍. Makasih udah mampir kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!