Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Benjamin dan Rasa Traumanya
Dengan tangan gemetar, Evelyn meraba-raba kedua pundaknya yang tadi terkena tusukan brutal mata tombak. Ia menyingkap paksa sweter pink-nya demi memeriksa luka tersebut.
"Hilang..."
Evelyn terbelalak sempurna, menyentuh kulit bahunya yang kini kembali mulus tanpa cacat sedikit pun. "Bagaimana bisa semua luka ini hilang?"
Evelyn bangkit berdiri, lalu menepis kasar butiran pasir yang mengotori pakaiannya.
"Masa bodoh dengan apa yang sebenarnya terjadi," desis Evelyn pada kegelapan malam. "Toh, sekarang aku masih hidup dan berhasil lolos dari cengkeraman ikan duyung sialan itu. Setelah study tour ini selesai, aku bersumpah akan membalaskan semua rasa sakit ini pada iblis dan merman bajingan itu. Lihat saja nanti, kalian berdua akan mengemis maaf dan bersujud di bawah kakiku."
"Evelyn!"
Sebuah teriakan melengking memecah keheningan pantai dari kejauhan. Sesosok gadis berlari terengah-engah menghampirinya dengan wajah sembab akibat terlalu banyak menangis. Itu Sofia, sahabatnya.
"Ya ampun, Eve! Kau dari mana saja?! Huhu... aku, anak-anak, dan para guru mencarimu keliling pantai selama dua jam penuh! Ini sudah larut malam, Eve. Kau tidak apa-apa, kan?" cecar Sofia dengan napas memburu, kedua matanya membelalak panik.
Evelyn memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirnya yang masih terasa kaku. "Aku... aku tadi sedikit tersesat setelah mencari toilet umum. Hehe, maaf ya kalau aku sudah membuatmu dan yang lainnya panik," dustanya.
Ia menelan ludah dengan susah payah, berharap detak jantungnya yang berpacu liar tidak membongkar kebohongannya di hadapan Sofia.
Sofia menyipitkan mata. Ia memperhatikan penampilan Evelyn dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sahabatnya itu tampak sangat pucat, dengan tatapan mata yang entah mengapa terlihat jauh lebih dingin dan tajam dari biasanya.
"Kau serius tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali."
"Aku baik-baik saja, Sofia. Hanya kelelahan," potong Evelyn cepat, berusaha menyembunyikan denyut nyeri di kepalanya akibat penyakit glioblastoma yang mulai mengusik lagi. "Ayo, sebaiknya kita segera kembali ke bus. Kasihan para murid dan guru sudah menunggu terlalu lama."
Evelyn langsung menarik tangan Sofia, membimbing gadis itu menjauh dari pesisir pantai yang menyimpan memori berdarah menuju area parkir bus resort.
"Syukurlah kalau kau selamat," keluh Sofia dengan langkah lesu. "Gara-gara mencarimu, aku bahkan tidak sempat menikmati jagung bakar yang baru kubeli tadi."
"Kita masih punya waktu dua hari lagi di sini. Besok malam, setelah acara api unggun selesai, kita bisa pergi ke festival itu lagi," bujuk Evelyn, mencoba mengalihkan perhatian Sofia sepenuhnya.
Begitu melangkah masuk ke dalam bus, Evelyn langsung disambut oleh tatapan menuntut dari guru pendamping dan teman-sekelasnya. Sesuai dugaan, ia harus merangkai kebohongan yang sama berulang kali demi meredam kemarahan dan kecemasan mereka.
Evelyn terpaksa menelan kebenaran itu bulat-bulat. Tidak mungkin ia mengatakan hal yang sejujurnya; bahwa beberapa jam lalu ia ditarik ke dalam laut, diseret ke istana bawah air yang megah, dipasung di altar kuno, lalu disiksa secara brutal oleh Kaelen, sang pangeran merman.
Tidak. Evelyn tidak bodoh. Ia sama sekali tidak berniat dicap sebagai gadis gila yang sedang berhalusinasi atau membual tentang dongeng takhayul di hadapan orang-orang fana ini.
****
Sementara itu, di sebuah rumah kayu sederhana milik Benjamin yang bertengger sunyi di atas bukit Hutan Perak Vespera.
Pria itu tengah duduk di bingkai jendela kamarnya sembari memutar-mutar botol kaca kecil. Di dalamnya, cairan berwarna merah terang berpendar berkilauan diterpa cahaya bulan. Itu adalah ramuan penyembuh khusus yang ia racik beberapa jam lalu—tepat setelah insting naganya menyadari bahwa gadis bernama Evelyn itu tengah mengidap penyakit yang menggerogoti nyawanya.
Benjamin terkekeh hambar pada dirinya sendiri. "Aku benar-benar sudah gila... Kenapa pula aku harus repot-repot meracik obat ini untuknya?"
Ia mengalihkan pandangannya, menatap hamparan langit malam yang ditaburi miliaran bintang. Namun, entah mengapa, konstelasi bintang itu justru membentuk siluet wajah cantik Evelyn di benaknya.
Dalam bayangan itu, sang gadis tampak tersenyum manis, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Benjamin tersentak dan mengerjapkan matanya berulang kali. "Aish! Kenapa aku jadi memikirkan gadis menyebalkan itu lagi?"
Ia melompat turun dari ambang jendela, lalu memasukkan botol ramuan tersebut ke dalam saku jubah peraknya.
"Berhenti memikirkan dia... Hilanglah dari kepalaku!" serunya frustrasi pada kesunyian kamar.
Namun, sial. Semakin keras ia menolak, bayangan wajah Evelyn justru kian tercetak jelas di pelupuk matanya. Rasa penasaran dan ketertarikan magis yang kuat terus-menerus menggedor dinding egonya.
"Sialan. Aku harus menemuinya lagi," umpat Benjamin menyerah.
Ia melirik jam dinding kuno di kamarnya. Jarum jam tepat menunjukkan pukul dua belas malam.
"Aku hanya akan melihatnya sebentar. Hanya untuk menuntaskan rasa penasaran ini," gumamnya membela diri.
Sebelum merapal mantra teleportasi, Benjamin memilih untuk berhati-hati. Tubuh tingginya perlahan menyusut, memancarkan pendar keemasan hingga berubah wujud menjadi seekor kunang-kunang kecil yang berkilau. Dalam sekejap mata, ia menghilang dari kamarnya, menembus dimensi menuju kamar resor Evelyn.
Zzttt! Sring!
Benjamin mendarat dengan mulus di dalam kamar dalam wujud samarannya. Beruntung, sesaat setelah meninggalkan Pesisir Blue Waves tadi, ia sempat melacak dan mengunjungi resor tempat anak-anak SMA Vesperania menginap, sehingga ia bisa mengunci koordinat ruangannya dengan mudah.
Makhluk kecil itu terbang rendah, lalu hinggap di pojok langit-langit ruangan. Dari atas sana, ia mengamati dua gadis yang sedang terlelap di atas ranjang masing-masing. Itu Sofia dan Evelyn. Keduanya tampak tertidur sangat pulas.
Sebelum kembali ke wujud manusianya, Benjamin mengarahkan antenanya. Ia merapal mantra penenang tingkat tinggi secara berbisik agar kedua gadis itu masuk ke fase tidur yang lebih dalam, memastikan kehadirannya tidak akan mengacaukan malam.
Wusshhh!
Serpihan cahaya keemasan yang lembut melayang turun, menyelimuti tubuh Sofia dan Evelyn. Setelah memastikan mantranya bekerja dengan sempurna, kunang-kunang itu terbang turun, hinggap di sisi ranjang Evelyn, lalu perlahan merubah wujudnya kembali menjadi manusia.
Sring!
Dalam sekejap mata, sosok pria tampan berambut merah menyala dengan manik mata hijau zamrud yang jernih kini berdiri di samping ranjang. Benjamin menatap lekat-lekat wajah Evelyn yang sedang memejamkan mata.
"Apakah kau akan berbeda dari yang lain?" bisik Benjamin lirih, suaranya sarat akan kerapuhan.
"Apakah kau tidak akan pernah mengkhianatiku jika aku benar-benar menerimamu sebagai mate-ku?"
Dinding pertahanan Benjamin sebenarnya runtuh akibat trauma masa lalu yang kelam. Belasan tahun lalu, ia pernah menyerahkan seluruh hatinya pada Valeria, sesosok Rusalki—gadis penunggu air terjun di Hutan Perak Vespera. Ia telah menghabiskan waktu puluhan tahun demi wanita itu, namun pengkhianatan pahit yang ia terima. Valeria berselingkuh dengan seorang pria dari ras Elf Hutan di Alfheim.
Rasa kecewa dan luka menganga itulah yang membuat Benjamin mengunci rapat hatinya dari wanita mana pun, memilih menenggelamkan diri dalam kesibukan sebagai seorang Mage.
"Aku hanya takut... Takut jika suatu saat nanti kau juga akan berkhianat," gumam Benjamin lagi, jemarinya bergetar samar di udara. "Aku tahu takdir pasanganmu lebih dari satu. Aku takut kau akan pilih kasih nantinya, lalu mengabaikan aku begitu saja."