NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Mangga muda

Narendra membaca deretan kalimat panjang sarat ancaman itu dengan helaan napas panjang yang pasrah. Kerutan tebal langsung muncul di dahi perfeksionisnya.

Cara Bianca Sterling mengajak seorang pria untuk pergi bersama benar-benar berada di luar batas kewajaran dunianya yang lurus dan terstruktur.

Wanita itu tidak sedang menawarkan ajakan kencan atau meminta kesediaannya, melainkan sedang menerbitkan sebuah maklumat hukum dari dinasti mafia tanpa celah bantahan.

Namun, di sela kejengkelannya yang mendalam karena waktu istirahatnya diganggu, Narendra merasakan detak jantungnya kembali berdegup sedikit lebih cepat. Ingatannya memutar balik memori saat Bianca mencondongkan tubuh dengan binar mata penuh kepemilikan yang sangat berani di depan dadanya tadi.

Narendra menarik napas dalam-dalam, lalu jemarinya dengan cepat mengetik balasan singkat yang dingin, namun menjadi tanda kekalahan keduanya malam ini.

"Saya mengerti, Nona Bianca. Tidak perlu mengirimkan barikade pengawal ke apartemen saya. Jam sembilan kurang lima belas menit, saya sudah akan menunggu di lobi bawah. Dan tolong, simpan gaya ancaman pelacakan aset Anda untuk musuh keluarga Anda saja, bukan untuk saya."

Sambil melempar ponselnya kembali ke atas kasur, seulas senyum tipis yang sangat samar, nyaris tak terlihat, akhirnya terukir di sudut bibir dingin Narendra. Pria yang selama ini selalu risih dengan wanita, malam ini resmi terpaksa menyerah pada keteraturan hidupnya yang baru saja diacak-acak oleh kegilaan sang putri mafia Sterling.

***

Pukul enam pagi, sinar matahari baru saja mengintip dari balik tirai kamar hotel mewah tempat Gavin dan Aruna menginap. Di atas ranjang, Gavin baru saja memejamkan matanya selama satu jam setelah menghabiskan sisa malam dengan memeluk wastafel kamar mandi. Wajah ketampanannya masih sedikit pucat, dan sebuah handuk kecil hangat masih bertengger di dahinya.

Tepat saat suasana kamar mulai tenang, ponsel pintar milik Gavin di atas nakas bergetar hebat. Nada deringnya yang tegas dan monoton memecah keheningan pagi.

Aruna yang terbangun duluan dengan kondisi tubuh yang justru sangat segar langsung meraih ponsel tersebut. Begitu melihat huruf "D" menyala di layar, Aruna buru-buru membangunkan suaminya.

"Gavin... Kak Dom telepon."

Gavin mengerang lemas, mengambil ponselnya dengan tangan kanan yang terasa kaku, lalu menggeser tombol hijau ke telinganya.

"Halo, Kak..." suara Gavin terdengar sangat serak, parau, dan sama sekali tidak bertenaga.

Keheningan sempat tercipta selama dua detik di seberang telepon, sebelum suara tawa rendah, berat, dan sangat puas dari Dominic terdengar begitu nyaring memenuhi speaker ponsel.

"Gavin Alexander Sterling. Pemimpin penyerangan, adik bungsu kebanggaanku yang sanggup melumpuhkan puluhan musuh dalam hitungan menit, peretas andalan," ucap Dom dengan nada suara baritonnya yang penuh wibawa namun sarat akan ejekan.

"Aku baru saja membaca laporan medismu. Bagaimana rasanya memeluk wastafel semalaman?"

Gavin memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri akibat ledekan sang kakak.

"Kak, kalau Kakak telepon jam segini cuma buat ngejek gue, mending gue tutup. Kepala gue beneran masih muter. Gue mual banget, mana kamar ini mendadak bau banget lagi."

Di seberang telepon, terdengar suara dentingan halus sendok perak yang mengaduk cangkir kopi mahal. Dominic tampaknya sedang duduk santai di ruang kerja mewahnya.

"Jangan ditutup dulu, Papa Muda," kekeh Dom. Tawanya terdengar sangat jarang terjadi, namun kali ini terdengar begitu lepas.

"Max bahkan sampai harus menahan diri agar tidak tertawa saat mengawal dokter keluar dari kamarmu tadi. Darah murni keluarga Sterling dikenal kejam dan tak kenal takut di dunia bawah, Lex. Tapi kamu... kamu justru mencetak rekor baru sebagai pria pertama di keluarga kita yang tak berkutik hanya karena kalah oleh hormon kehamilan istrimu sendiri."

"Ini namanya ikatan emosional tingkat tinggi, Kak! Kata dokter, gue terlalu protektif sama kandungan Kak Aruna!" bela Gavin dengan sisa-sisa harga diri berondongnya yang terluka, meskipun matanya terpejam menahan rasa mual yang mendadak naik lagi ke tenggorokan.

"Terserah apa nama medisnya, Lex," potong Dom santai, namun nadanya berubah menjadi sedikit geli yang hangat.

"Aku sudah mengirimkan satu kurir khusus ke hotelmu pagi ini. Aku menyuruhnya membawakan dua keranjang mangga muda mentah langsung dari perkebunan legal kita. Lengkap dengan bumbu rujak kacang pedas kesukaan wanita hamil. Siapa tahu, ya kan... adik bungsuku yang malang ini mendadak ngidam itu setelah lelah muntah semalaman."

Gavin mendengus kencang, menahan rasa dongkol yang luar biasa.

"Gue nggak ngidam mangga muda, Kak!"

"Kita lihat saja nanti, Alex," sahut Dominic dingin namun penuh keakraban seorang kakak tertua.

"Istirahatlah yang cukup, Lex. Pekerjaanmu sementara digantikan oleh Four dan Will di VSDN. Aku tidak mau reputasi kita turun hanya karena pemimpinnya pingsan akibat sindrom ngidam simpatik di depan klien. Sampaikan salamku pada Aruna."

Klik. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Dominic.

Gavin menurunkan ponselnya dengan wajah merah padam bercampur pasrah, lalu menjatuhkan kembali tubuh tegapnya ke atas tumpukan bantal dengan helaan napas panjang yang frustrasi.Aruna yang sejak tadi mendengarkan percakapan dari balik selimut tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya. Ia merangkak mendekat, lalu dengan sangat gemas mengecup pipi pucat suaminya.

"Tuh, dengerin kata Kak Dom, Dek Gavin," goda Aruna manis, senyum cantiknya merekah sempurna memamerkan deretan gigi rapinya.

"Nanti siang mangga mudanya datang, biar Kakak yang kupasin khusus buat suami ksatria Kakak yang lagi ngidam simpatik ini, ya?"

Gavin melirik Aruna dengan mata elangnya yang sayu. Lalu dengan manja, ia menarik pinggang Aruna agar mendekat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.

"Jangan diledekin terus, Kak... Kepala gue beneran muter banget nih..." gumam Gavin lirih, menyadari bahwa di balik kejamnya dunia mafia yang ia pimpin, di dalam kamar ini ia hanyalah seorang calon ayah muda yang sedang bertarung habis-habisan dengan hormon cinta demi buah hati mereka.

****

Begitu pintu suite hotel diketuk dengan ritme yang teratur, Aruna beranjak membukanya dan mendapati Max berdiri di koridor. Pria itu membawa dua buah keranjang anyaman bambu berukuran besar. Di dalamnya, berjejer rapi buah mangga muda berwarna hijau segar yang tampaknya baru dipetik. Tak lupa, ada satu mangkuk besar berisi bumbu rujak kacang pedas pekat yang aromanya langsung menusuk masuk ke dalam kamar.

"Kiriman dari Tuan Dom, Bu Aruna," ucap Max dengan wajah sedatar papan tulis, walau sudut matanya berkedut menahan senyum.

"Beliau berpesan agar Bos Kecil menghabiskan semuanya agar pusingnya reda."

"Terima kasih, Pak Max. Sampaikan salam balik saya ke Kak Dom," jawab Aruna sembari sekuat tenaga menahan tawa saat menerima hantaran rujak tersebut.

Begitu pintu ditutup, Aruna membawa satu piring mangga muda yang sudah dikupas dan diiris tipis menuju area ruang tengah kamar hotel. Di atas sofa, Gavin sedang berbaring lemas dengan kaus oblong hitamnya, menatap langit-langit dengan pandangan hampa. Wajah pucat sisa semalaman muntah-muntah masih terlihat samar di paras tampannya.

"Gavin, rujak mangga muda dari Kak Dom sudah datang, nih," panggil Aruna riang.

Ia sengaja duduk di dekat kaki Gavin sembari menusuk satu irisan mangga menggunakan garpu kecil.Gavin langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, mendengus ketus.

"Singkirkan, Kak. Gue nggak mau makan itu. Taruh di kulkas aja atau Kakak aja yang makan. Gengsi gue sebagai adiknya Dominic Sterling runtuh total kalau sampai ketahuan makan rujak mangga muda siang-siang gini."

Aruna terkekeh geli. Ia tahu betul suaminya memiliki harga diri setinggi langit.

"Ya sudah, kalau nggak mau. Padahal aromanya segar banget, lho. Mangganya masih garing dan bumbunya pas."

Aruna dengan sengaja mengunyah satu irisan mangga muda tersebut di depan Gavin. Suara garing dari kunyahan mangga yang kriuk beradu dengan aroma bumbu rujak pedas yang menyengat indra penciuman mereka.

Detik berikutnya, sebuah fenomena ganjil terjadi di dalam tubuh Gavin.Begitu aroma asam segar itu menusuk hidungnya, air liur Gavin mendadak menumpuk secara drastis di dalam mulutnya. Rasa mual dan pusing berputar yang sejak pagi tadi menyiksanya, seketika digantikan oleh sebuah desakan aneh yang teramat sangat kuat dari dalam perut. Lidahnya tiba-tiba terasa sangat hambar, dan otaknya memancarkan satu sinyal yang tak bisa dibantah.

Gue harus makan mangga itu sekarang.

Gavin menelan ludahnya dengan susah payah. Mata elangnya perlahan bergerak, melirik tajam ke arah piring rujak di pangkuan Aruna.

"Kak..." panggil Gavin. Suaranya mendadak berubah menjadi sangat pelan dan sedikit ragu.

"Itu... bumbunya... kelihatannya enak banget. Boleh... gue coba satu iris?"Aruna menahan senyum kemenangannya, pura-pura menatap Gavin dengan polos.

"Eh? Bukannya tadi ada yang bilang gengsi keluarga Sterling bisa runtuh kalau makan rujak siang-siang?"

"Nggak ada Sterling di depan mangga muda, Kak. Tolong suapin, kepala gue lemes banget ini," potong Gavin pasrah, meruntuhkan seluruh harga diri mafianya demi memenuhi rasa ngidam yang luar biasa menggelitik lidahnya.

Aruna akhirnya tertawa lepas. Ia menyuapkan satu irisan mangga berbalur bumbu kacang pekat itu ke dalam mulut suaminya. Begitu rasa asam, manis, dan pedas itu meledak di lidah Gavin, ekspresi wajah pucat sang bos muda mafia mendadak berubah menjadi sangat rileks dan puas, sebuah pemandangan langka yang membuat Aruna bersumpah akan mengingat momen ini seumur hidupnya.

****

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!