NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Tangis setelah kata sah

Malam perlahan datang menggantikan hangatnya sore. Langit di luar mulai gelap, menyisakan lampu-lampu jalan yang menyala samar di sepanjang kota.

Namun di dalam kamar itu, suasana justru terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya.

Tya duduk diam di depan cermin dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuannya. Gaun pengantin putih yang ia kenakan malam ini bukanlah gaun baru, melainkan milik ibunya dulu.

Gaun yang pernah dipakai wanita itu di hari pernikahannya bertahun-tahun lalu. Kini, gaun itu berpindah pada Tya. Lengkap dengan riasan rambut dari MUA yang sejak tadi berusaha membuatnya cantik seperti pengantin pada umumnya.

Namun, meski wajahnya sudah dipoles se-rapi mungkin, mata Tya tetap menyisakan sembab yang tidak bisa disembunyikan. Karena malam ini ia bukan hanya calon pengantin, ia juga seorang anak yang sedang ketakutan kehilangan ibunya.

Starla dan Megan berdiri tak jauh dari sana, setia menemani sejak tadi tanpa benar-benar meninggalkan Tya sendirian.

Sesekali, keduanya membantu merapikan bagian kecil dari penampilan sahabatnya itu. Meski mereka tahu yang berantakan sebenarnya bukan penampilannya, melainkan hatinya.

"Tya," ujar Megan pelan sambil berjongkok di depan sahabatnya. "Lo cantik."

Tya tersenyum samar, senyuman yang terlihat rapuh. Di luar kamar, suara ayahnya terdengar pelan memberi tahu bahwa mobil sudah siap menuju rumah sakit.

Dan seketika, dada Tya kembali terasa sesak. Semuanya terasa terlalu cepat sampai Tya sendiri tidak tahu bagaimana cara menenangkan pikirannya malam ini.

Starla perlahan menggenggam tangan Tya, "Kami temenin."

Kalimat sederhana itu berhasil membuat mata Tya kembali memanas. Di titik serendah ini, setidaknya ia masih punya dua sahabat yang tetap berdiri di sisinya.

Tya akhirnya berjalan keluar rumah dengan langkah pelan. Gaun pengantin itu bergerak lembut mengikuti langkahnya. Sementara Starla dan Megan berjalan di samping kanan kirinya, seolah takut gadis itu tiba-tiba runtuh jika ditinggal sendirian.

Mobil sudah menunggu di depan rumah. Ayah Tya berdiri di samping pintu mobil dengan wajah yang terlihat jauh lelah dari biasanya. Tatapannya sempat berhenti sepersekian detik pada putrinya yang kini berhenti di hadapannya dengan memakai gaun pengantin.

Dan untuk sesaat, mata pria paruh baya itu terlihat memerah. Karena sejujurnya, ia juga tidak pernah membayangkan pernikahan putrinya akan terjadi seperti ini.

Bukan di gedung penuh tamu, bukan juga di tengah kebahagiaan lengkap, melainkan di tengah rasa takut kehilangan seseorang yang paling mereka sayangi. Namun meski berat, ia tetap mencoba kuat demi istrinya dan juga Tya.

"Ayo sayang," ujar ayahnya lembut.

Tya mengangguk lemah, lalu masuk ke dalam mobil bersama Starla dan Megan, sementara ayahnya duduk di sisi kemudi.

Beberapa menit berlalu dalam diam, hingga akhirnya mobil itu melaju meninggalkan rumah. Di sampingnya, Megan perlahan menyentuh punggung tangan Tya perlahan, memberi dukungan tanpa perlu banyak kata.

Sementara Starla mengusap lembut punggung sahabatnya itu, berusaha menenangkan Tya yang sejak tadi terlihat menahan dirinya sendiri agar tidak kembali menangis.

Tidak ada percakapan. Hanya keheningan yang terasa penuh dengan pikiran masing-masing.

Tak berapa lama, mobil itu akhirnya tiba di rumah sakit. Tya menatap bangunan besar di hadapannya dengan perasaan yang campur aduk. Entah mengapa malam ini rumah sakit terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

Ayahnya turun lebih dulu, lalu membantu membukakan pintu untuk Tya dengan hati-hati agar gaun itu tidak tersangkut. Starla dan Megan ikut turun menemani di sisinya.

Dengan langkah pelan, mereka berjalan memasuki rumah sakit. Beberapa orang sempat menoleh heran melihat seorang gadis memakai gaun pengantin di lorong rumah sakit malam hari.

Namun, Tya sama sekali tidak peduli. Pikirannya terlalu penuh untuk memperhatikan siapapun.

Tiba di ruangan ibunya, langkah Tya perlahan terhenti. Dadanya kembali berdebar tidak tenang.

Ayahnya membuka pintu ruangan perlahan. Dan begitu masuk ke dalam, semuanya langsung membuka Tya menahan nafas sesaat.

Di dalam ruangan itu sudah ada seorang penghulu yang duduk dengan wajah tenang. Beberapa dokter dan perawat juga berada di sana, diminta menjadi saksi malam ini.

Tak lama setelahnya, pintu ruangan kembali terbuka. Suara langkah terdengar masuk, membuat beberapa orang di dalam ruangan langsung menoleh.

Faris muncul di ambang pintu dengan kedua orang tuanya. Ia mengenakan jas rapi, sesuatu yang jarang sekali terlihat pada dirinya.

Tapi bukan itu yang paling mencolok, melainkan wajahnya. Ekspresinya terlihat jelas tidak rela. Rahangnya mengeras, tatapannya tajam tapi kosong, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan.

Ayah dan ibunya berjalan di belakangnya dengan wajah serius, sementara Faris sendiri berhenti sejenak di dekat pintu.

Tatapan Faris langsung bertemu dengan Tya. Dan untuk sepersekian detik, ruangan itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Ibu Tya yang sejak tadi terbaring lemah perlahan membuka mata lebih jelas begitu melihat putrinya.

"Ty... Tya..." Suara ibunya terdengar putus-putus.

Tya langsung melangkah mendekat tanpa ragu, "Mama," lirihnya.

Wanita itu tersenyum tipis, sangat tipis, namun penuh arti. "Ma-makasih," ucapnya pelan, terputus di tiap kata. "Udah... Nurutin... Mama."

Air mata Tya langsung jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Ia segera menggenggam tangan ibunya dengan hati-hati, seolah takut menyakiti.

"Jangan ngomong gitu, Ma," suara Tya bergetar. "Tya cuma mau Mama bahagia."

Ibunya mencoba mengusap tangan Tya meski tenaganya sangat terbatas. "Tya..."

"Janji ya, Ma," potong Tya cepat, sambil menunduk menahan tangis. "Mama harus sembuh."

"Mama harus sembuh, ya," ulang Tya lagi, hampir seperti memohon.

Ibunya menatap Tya lama, tanpa kata. Isak Tya masih terdengar pelan, tertahan di samping ranjang ibunya.

Di sudut ruangan, Faris berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celananya. Awalnya, ia berusaha mengabaikan semua yang terjadi di ruangan itu. Menganggap malam ini hanya sesuatu yang harus segera selesai agar hidupnya bisa kembali normal.

Namun tanpa sadar, tatapan Faris sempat tertuju pada Tya. Malam ini, untuk pertama kalinya, ia melihat sisi yang berbeda. Tya terlihat begitu rapuh.

Untuk sesaat, Faris hanya diam. Lalu ia segera memalingkan wajah. "Ck! Bukan urusan gue," pikirnya.

"Kalau begitu," ujar penghulu memecah keheningan, sambil menatap kedua keluarga itu. "Apakah kita bisa memulai akadnya sekarang?"

Keempat orang tua itu saling pandang sejenak, tidak ada yang benar-benar siap menghadapi malam ini. Namun, keadaan tidak memberi mereka banyak pilihan.

Beberapa detik berlalu dalam diam, hingga akhirnya ayah Faris mengangguk pelan. "Mulai saja, Pak."

Ayah Tya berjalan dan duduk di samping penghulu. Wajahnya terlihat tegar, meski matanya tidak mampu menahan kesedihan yang sejak tadi ia tahan.

Di hadapan mereka, Faris dan Tya duduk berdampingan. Faris duduk dengan tegak, tatapannya lurus ke depan, berusaha menahan kegugupan yang perlahan mulai muncul.

Sementara di sampingnya, Tya duduk diam dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuan.

Penghulu itu mulai merapikan berkas yang ada di meja kecil. Kemudian beliau mengulurkan tangan. Faris menatap tangan itu sepersekian detik, sebelum akhirnya menjabatnya erat.

Penghulu menarik nafas pelan. Lalu, mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan seakan menahan waktu.

"Saya nikahkan..."

Seketika, jantung Faris dan Tya sama-sama berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Wajah Tya memang terlihat tenang dari luar. Namun, hanya dirinya yang tahu bahwa kepalanya mulai terasa berat, merasa pusing.

Awalnya hanya sedikit, tapi perlahan semakin mengganggu. Sejak pulang sekolah tadi, ia bahkan belum memakan apapun.

Kabar tentang ibunya yang drop membuatnya menuju rumah sakit tanpa memikirkan dirinya sendiri. Semua berjalan begitu cepat, dan sekarang akad nikah. Semuanya terasa hanya seperti mimpi, mimpi buruk yang ingin ia akhiri segera.

Tubuh Tya mulai kelelahan, tapi ia tetap memaksakan diri untuk tetap bertahan. Ia tidak boleh terlihat lemah malam ini, demi ibunya tercinta.

"Sah!"

Suara itu terdengar jelas di ruangan. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat semuanya terasa nyata.

Dokter dan beberapa perawat langsung mengucapkan syukur pelan. Ada yang mengangguk lega, ada juga yang mengusap sudut matanya yang mulai basah.

Namun, Tya hanya terdiam. Entah mengapa kata itu terdengar begitu jauh di telinganya. Air mata kembali jatuh tanpa bisa ia tahan.

Tya menundukkan kepalanya, dadanya terasa sesak. Sah, satu kata sederhana yang baru saja mengubah hidupnya.

Kini, statusnya telah berubah. Ia bukan lagi hanya seorang siswi SMA, tapi seorang istri. Dan yang membuat semuanya terasa semakin tidak masuk akal, suaminya adalah Faris.

Di tengah ketakutan kehilangan ibunya dan di tengah ruangan rumah sakit yang sunyi itu, Tya resmi menjadi istri dari musuhnya sendiri.

Setelah akad itu selesai, suasana ruangan dipenuhi keheningan yang berat. Atas arahan ayahnya, Tya mendekat ke arah Faris.

Dengan gerakan kaku dan canggung, Tya menunduk lalu mencium tangan suaminya itu sekilas.

Tidak ada senyum atau tatapan malu-malu seperti pengantin pada umumnya. Hanya dua remaja yang masih berusaha memahami kenyataan yang baru saja mengubah hidup mereka.

Ibu Tya memperhatikan dengan senyum lemah. Kemudian wanita itu mengangkat tangannya sedikit.

"Ty... Tya..."

Suara yang terputus-putus itu langsung membuat keduanya menoleh. Tya segera menghampiri ranjang ibunya. Sementara Faris sempat ragu sejenak sebelum akhirnya ikut mendekat.

Ibu Tya menatap mereka bergantian, matanya terlihat berkaca-kaca. Seolah ada banyak hal yang ingin ia sampaikan, tapi tubuhnya sudah terlalu lelah untuk mengucapkannya satu per satu.

"Tya..."

Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Tya. "Iya Ma..."

Ibunya menggenggam tangan Tya pelan. "Lain kali... Jangan keras kepala... Terus."

Tya langsung menunduk, tangisnya pecah lagi. Tatapan wanita itu perlahan bergeser ke arah Faris. Untuk pertama kalinya, Faris terlihat kehilangan sikap santainya. Ia berdiri kaku di tempat.

"Fa-Faris..."

Faris mengangguk kecil. "Iya Tante."

Nafas wanita itu terdengar sedikit lebih berat, namun ia tetap berusaha melanjutkan. "Mama... Gak minta kalian langsung... Saling sayang."

"Ma-Mama cuma mau..." Ibu Tya berhenti sejenak, menarik nafas perlahan. "Jangan saling nyakitin."

Faris terdiam. Entah mengapa, sejak ia datang ke rumah sakit itu ia tidak bisa menemukan satu pun kalimat untuk membalas.

Wanita itu menatap keduanya sekali lagi, lalu tersenyum tipis namun penuh ketenangan. Seolah setelah melihat mereka duduk berdampingan malam ini, ada satu beban yang akhirnya bisa ia lepaskan dari hatinya.

"Fa... Ris." Panggil ibu Tya lagi.

"Iya Tante." Sahut Faris.

"Tolong..." Nafas ibu Tya mulai terdengar tidak teratur. "Tolong jaga... Tya."

Tya langsung menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang hampir kembali pecah. Sementara Faris tidak mengatakan apa-apa, ia hanya berdiri di sana mendengarkan.

Namun tiba-tiba dada ibu Tya naik turun lebih cepat. Nafasnya terdengar semakin berat.

"Yunita?" Panggil ibu Faris yang langsung menyadari perubahan itu.

Wanita itu mencoba menarik nafas panjang, tetapi terdengar tersengal.

"Yunita!" Panggil ibu Faris lagi, kali ini terdengar panik.

Dokter yang berada tidak jauh langsung bergerak cepat menghampiri ranjang. "Mohon beri ruang." Ujarnya tegas.

Beberapa perawat segera membantu. Tya langsung berdiri tegak dengan wajah pucat. "Ma?" Suaranya bergetar.

Ayahnya segera merangkul bahu Tya, meski tangannya sendiri ikut gemetar. Sementara di sampingnya, Faris merasakan dadanya ikut menegang melihat ketakutan yang terpancar jelas dari gadis itu.

Dokter dan perawat bergerak cepat di sekitar ranjang. Suara alat monitor terdengar samar di tengah ruangan yang kini dipenuhi kecemasan.

Tya berdiri mematung. Matanya tidak pernah lepas dari sosok ibunya. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Ia masih berharap, masih memohon dalam hati agar semuanya baik-baik saja.

Namun, harapan itu perlahan runtuh. Di atas ranjang, ibunya terlihat semakin lemah. Pandangannya perlahan memudar. Lalu matanya terpejam, dan kali ini tidak terbuka lagi.

Dokter memeriksa denyut nadi wanita itu sekali lagi. Hingga akhirnya tangan itu perlahan terlepas dari pergelangan pasien.

Dokter itu menghela nafas panjang, lalu menatap keluarga yang berada di ruangan tersebut.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin," suara dokter itu terdengar hati-hati. "Tapi takdir berkata lain..."

"Ibu Yunita telah meninggal dunia."

Ruangan mendadak sunyi, seolah dunia berhenti berputar untuk beberapa detik. Jantung Tya seolah berhenti berdetak, air matanya jatuh tanpa diminta.

"Innalilahi wa innailaihi raji'un," ucap suara di ruangan itu hampir bersamaan.

Tya langsung menghampiri ibunya. Tangannya gemetar saat menggenggam jemari ibunya yang kini terasa begitu dingin.

"Ma, bangun Ma..." Isaknya. "Mama bilang mau sembuh. Jangan tinggalin Tya, Ma."

Tanpa sadar, air mata Starla dan Megan ikut jatuh. Mereka tahu betapa Tya begitu menyayangi ibunya. Dan malam itu sahabatnya baru saja kehilangan satu bagian terpenting dalam hidupnya.

Ayah Tya memejamkan mata sesaat, berusaha untuk tidak menitikkan air mata di depan putrinya. Ibu Faris menangis pilu, kehilangan sahabatnya, sementara ayah Faris mencoba menenangkan. Faris sendiri hanya diam di tempatnya, ia tidak tahu harus mengatakan apa.

Malam itu, sebuah akad telah selesai. Dua nama resmi dipersatukan dalam satu ikatan. Namun di malam yang sama, sebuah perpisahan juga terjadi. Perpisahan yang meninggalkan luka yang begitu dalam.

Di antara kata sah yang baru saja terucap beberapa menit lalu, terselip tangis seorang anak yang harus merelakan ibunya pergi untuk selamanya.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!