Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Dokter Juga
Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Apartemen kecil milik Jihan yang dulu terasa sunyi kini berubah jauh lebih hidup. Penyebabnya cuma satu. Siapa lagi kalau bukan Davin?
Bayi kecil itu kini sudah berusia tujuh bulan. Pipinya semakin chubby, matanya bulat cerah, dan suaranya mulai memenuhi ruangan hampir setiap hari. Tangannya kecil tapi aktif sekali, seolah tidak bisa diam sedetik pun.
“Ma… ma… ma…”
Naomi yang sedang melipat pakaian langsung membeku.
Matanya membesar. “Ji!” teriaknya panik sekaligus bahagia. “JIHAN!”
Jihan yang sedang makan mi instan di meja langsung kaget. “Apaan sih?! Kebakaran?!”
“Davin ngomong!”
Jihan langsung menoleh ke arah bayi kecil yang sedang duduk di playmat itu. Davin menepuk-nepuk lantai sambil tertawa kecil. Air liurnya bahkan keluar sedikit.
“Ma… ma…”
Naomi langsung menutup mulutnya sendiri. Matanya berkaca-kaca.
“Ya Tuhan…” suaranya bergetar. “Dia manggil aku…”
Jihan mendelik. “Itu juga bisa karena dia asal ngoceh.”
“Tapi tetep mama!” balas Naomi cepat. Ia langsung mengangkat Davin dan memeluknya erat. “Anak pintar…” bisiknya sambil menciumi pipi bayi itu berkali-kali.
Davin malah tertawa geli. Perkembangannya memang sangat pesat. Setelah operasi dan masa pemulihan panjang, Davin tumbuh jauh lebih sehat. Nafsu makannya bagus. Tidurnya mulai teratur, dan yang paling membuat Naomi bersyukur, wajah kecil itu kini tampak normal sepenuhnya.
Bekas operasi Junie sangat halus. Bahkan nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan dekat. Banyak orang yang baru bertemu Davin sama sekali tidak menyangka bayi itu pernah lahir dengan kondisi bibir sumbing.
Kadang Naomi masih suka menatap wajah anaknya lama-lama saat malam. Bukan karena sedih lagi. Tapi karena bangga.
“Dulu Mama takut banget…” tuturnya suatu malam sambil mengusap rambut halus Davin yang tertidur. “Tapi sekarang lihat kamu…”
Dadanya selalu terasa hangat setiap kali melihat senyum anaknya. Namun bersamaan dengan pertumbuhan Davin, tantangan Naomi juga ikut berubah.
Sekarang bayi itu mulai aktif merangkak ke mana-mana. Itu benar-benar melelahkan.
“DAVIN JANGAN MASUK KOLONG MEJA!”
“ASTAGA KABEL!”
“JIHAN TOLONG PEGANGIN DIA!”
Suasana apartemen hampir setiap hari ricuh. Suatu pagi, Jihan baru keluar kamar dengan rambut acak-acakan saat melihat Naomi mengejar Davin yang merangkak cepat menuju dapur.
“Kenapa dia lincah banget sih?!” keluh Naomi.
Jihan malah ngakak. “Turunan emaknya.”
“Apanya?!”
“Dulu waktu koas kau juga barbar.”
Naomi langsung melempar bantal sofa ke arah Jihan. Davin malah tertawa melihat mereka.
Karena Davin semakin aktif, Naomi akhirnya mengambil keputusan besar. Ia berhenti bekerja di perusahaan cleaning service.
Bukan karena tidak kuat. Tapi karena dia sadar Davin sekarang membutuhkan perhatian penuh. Bayi seusia itu tidak bisa lagi sekadar ditaruh tenang di stroller selama berjam-jam. Jujur saja, tubuh Naomi mulai kelelahan.
“Kamu yakin?” tanya Jihan waktu itu.
Naomi mengangguk pelan. “Iya. Kayaknya memang sudah waktunya cari kerja lain.”
“Terus nanti gimana?”
Naomi menghela napas kecil. “Belum tahu…”
Itulah masalah barunya. Mencari pekerjaan ternyata tidak semudah yang dia pikirkan.
Statusnya sebagai mantan dokter residen terasa rumit. Nama baiknya dulu sudah hancur karena fitnah keluarga Zayn. Banyak orang memandangnya aneh. Belum lagi kondisi Davin membuat Naomi harus mencari pekerjaan yang fleksibel.
Beberapa kali dia mencoba melamar. Beberapa kali pula gagal.
Hari itu, siang terasa cukup tenang. Naomi sedang membereskan ruang tamu saat bel apartemen berbunyi.
“Ting tong.”
“Aku buka!” seru Jihan.
Begitu pintu terbuka, sosok Junie berdiri di sana sambil membawa paper bag besar.
“Dokter Junie?” ujar Jihan.
Junie tersenyum tipis. “Siang.”
Naomi yang mendengar nama itu langsung keluar dari dapur. Sedikit kaget.
“Dok? Kok tiba-tiba?”
Junie mengangkat paper bag di tangannya. “Saya lagi lewat daerah sini. Sekalian mau lihat keadaan Davin.”
Davin yang duduk di lantai langsung menoleh. Begitu melihat Junie, bayi itu malah tertawa kecil.
Junie ikut tersenyum tanpa sadar. “Dan ini…” katanya sambil menyerahkan kantong itu. “Buah-buahan.”
Naomi langsung merasa tidak enak. “Dok, nggak usah repot-repot…”
“Nggak repot kok,” jawab Junie santai.
Jihan yang berdiri di samping hanya memperhatikan dengan mata menyipit tipis. Makin lama dia makin yakin. Cara Junie memandang Naomi itu beda. Halus memang, tapi tetap terlihat. Tatapan yang terlalu lama. Perhatian yang terlalu personal. Dan sekarang datang bawa buah?
“Hmm…” gumam Jihan.
Sementara itu, Junie sudah duduk di karpet bersama Davin.
“Apa kabar jagoan?” tanyanya sambil mengangkat bayi itu.
Davin langsung tertawa senang.
Naomi sampai tersenyum melihatnya. “Dia sekarang aktif banget, Dok,” bebernya.
“Saya bisa lihat,” sahut Junie sambil terkekeh kecil saat Davin menarik kerah bajunya.
Lagi-lagi, Jihan melihat sesuatu. Junie terlihat sangat nyaman di dekat Naomi dan Davin. Terlalu nyaman untuk ukuran “sekadar dokter”.
Tapi Jihan memilih diam. Dia hanya duduk sambil minum kopi dan mengamati.
Naomi kemudian masuk ke dapur untuk membuat minuman. Dari sana suaranya masih terdengar.
“Dokter mau teh atau kopi?”
“Kopi saja.”
“Oke.”
Tak lama kemudian Naomi kembali membawa nampan kecil. Saat duduk, dia menghela napas panjang tanpa sadar.
Junie langsung menangkap itu. “Capek?”
Naomi tersenyum tipis. “Lumayan.”
“Masih susah cari kerja?” tanya Junie.
Naomi terlihat sedikit malu. “Iya…”
Junie terdiam mendengar nada lelah itu.
“Sebenarnya ada beberapa tempat yang aku coba,” lanjut Naomi. “Tapi…”
Dia tidak melanjutkan. Namun semua orang di ruangan itu mengerti maksudnya. Masa lalunya masih menghantuinya. Jihan yang sejak tadi diam akhirnya tiba-tiba buka suara.
“Dokter Junie nggak bisa bantu ya?”
Naomi langsung menoleh cepat. “Ji—”
“Kan koneksi dokter luas,” lanjut Jihan santai seolah tidak merasa bersalah. “Siapa tahu ada lowongan cocok.”
Naomi langsung salah tingkah. “Udah, jangan ngerepotin Dokter…”
Tapi Jihan belum selesai.
“Lagian Naomi juga sebenarnya dokter.”
Hening sejenak. Ruangan langsung sunyi beberapa detik.
Naomi membelalak. “JIHAN!”
“Lah apa? Salah ya?”
“Apaan sih kamu—”
Junie yang sejak tadi memegang Davin langsung menatap Naomi penuh keterkejutan.
“Dokter?” ulangnya pelan.
Naomi langsung memejam mata sebentar seolah ingin menghilang dari dunia.
Jihan malah santai menyeruput kopi. “Iya,” katanya enteng. “Mantan residen bedah.”
Junie benar-benar terdiam sekarang. Tatapannya kembali pada Naomi. Pikirannya seperti memutar banyak hal sekaligus. Cara Naomi cepat memahami instruksi medis. Cara dia merawat Davin dengan detail. Cara dia selalu paham istilah-istilah yang dia gunakan. Semua tiba-tiba masuk akal.
“Kamu…” Junie akhirnya bersuara pelan. “Kenapa nggak pernah bilang?”
Naomi terlihat canggung luar biasa. “Karena itu sudah masa lalu,” jawabnya lirih.
Junie masih menatapnya. Entah kenapa dadanya terasa aneh sekarang. Kagum sekaligus terkejut.
Junie bahkan agak sedikit marah. Bukan marah pada Naomi. Tapi pada keadaan yang membuat perempuan seperti dia harus bekerja membersihkan apartemen orang lain sambil membawa bayi ke mana-mana.
“Kamu residen bedah?” tanya Junie lagi memastikan.
Naomi mengangguk kecil. “Dulu,” ungkapnya.
Junie bersandar perlahan ke sofa. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Perempuan yang selama ini dia lihat sebagai ibu muda pekerja keras ternyata seorang dokter. Perlahan Junie menatap lekat Naomi.
Jihan melirik Junie diam-diam. Lalu dalam hati dia bergumam kecil. 'Nah kan. Mukamu kelihatan banget sekarang, Dok.'