"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Latihan Keras, Dia yang Selalu Menunggu Pulang
Bulan demi bulan berlalu. Musim kemarau berganti menjadi musim hujan, namun rutinitas di lembah tersembunyi itu tidak pernah berubah. Setiap hari, saat fajar belum juga menyingsing, Li Yao sudah bangun dan memulai latihannya.
Hap! Hap! Hap!
Teriakan semangat bergema memecah kesunyian pagi. Li Yao kini tidak hanya berlatih menggunakan pedang kayu. Ia juga melakukan latihan fisik yang sangat berat—mengangkat batu-batu besar, berlari menanjak membawa beban, hingga memukul dinding batu keras dengan telapak tangannya sendiri.
Baju yang ia kenakan selalu basah kuyup oleh keringat, seolah-olah baru saja dicelupkan ke dalam air. Uap panas mengepul dari tubuhnya meski udara pagi terasa cukup dingin. Otot-ototnya yang dulu terlihat kurus kini telah menjelma menjadi padat dan berotot, penuh dengan kekuatan yang meledak-ledak.
Namun, latihan ini tidak mudah. Rasa sakit itu nyata. Seringkali tangannya memar, kakinya keseleo, dan napasnya terasa seperti terbakar.
"Akh..." Li Yao terhuyung setelah melakukan seribu kali ayunan pedang. Ia jatuh berlutut, tangan dan kakinya gemetar hebat karena kelelahan ekstrem. "Masih... belum cukup. Aku harus lebih kuat lagi!"
Ia mencoba berdiri, tapi kakinya tak sanggup menopang berat badan. Saat ia hampir jatuh, sepasang tangan yang lembut namun kuat menopang bahunya.
"Sudah cukup untuk hari ini, Yao. Istirahatlah."
Suara itu begitu menenangkan, seakan obat mujarab yang langsung menghilangkan setengah rasa sakit di tubuhnya.
"Qingyu..." Li Yao mendongak, melihat wajah cantik itu yang kini terlihat sedikit cemas. "Aku belum selesai. Aku masih bisa melakukannya seratus kali lagi!"
Ling Qingyu tersenyum tipis, namun ada kesedihan di matanya. Ia membantu pria itu duduk di atas batu besar, lalu mengambil sebuah handuk hangat yang sudah disiapkannya. Dengan lembut, ia menyeka keringat yang membanjiri wajah dan leher kekasihnya.
"Kau ini memang keras kepala," celanya lembut. "Tubuhmu ini bukan batu besi, Yao. Ia butuh istirahat untuk menyerap latihanmu. Jika kau memaksanya terlalu keras, justru kau akan melukai dirimu sendiri."
"Aku tidak peduli sakit," jawab Li Yao dengan napas terengah-engah. Ia menatap mata wanita itu. "Aku hanya tidak ingin membuang waktu. Setiap detik yang berlalu, aku ingin menjadi lebih kuat. Aku ingin cepat sampai levelmu, agar aku bisa benar-benar melindungimu."
Ling Qingyu menghela napas pelan. Ia menuangkan air dari teko ke dalam mangkuk, lalu menyuapkannya ke bibir Li Yao.
"Aku tahu kau berlatih demi aku. Dan itu membuatku bahagia, sangat bahagia. Tapi melihatmu menyiksa diri seperti ini... hatiku juga ikut terasa perih," ucapnya pelan.
Li Yao meneguk air itu, lalu menggenggam tangan wanita itu yang sedang membersihkan debu di bajunya.
"Maafkan aku... Aku hanya ingin kau bangga padaku."
"Aku selalu bangga padamu, setiap detiknya," kata Ling Qingyu tegas. "Lihatlah dirimu sekarang. Dari pemuda yang bahkan tidak bisa merasakan energi, kini kau sudah memiliki inti energi yang stabil. Kecepatan kemajuanmu ini sudah bisa dibilang iblis. Tapi ingat, perjalanan ini maraton, bukan lari sprint."
Ia tersenyum, menatap mata kekasihnya.
"Dan kau tahu apa hal yang paling kusukai?"
"Apa itu?" tanya Li Yao.
"Aku suka saat hari mulai gelap, saat latihanmu selesai," bisik Ling Qingyu. "Saat kau pulang, lelah dan kotor, tapi matamu selalu mencari keberadaanku. Saat kau duduk di dekat api unggun, memakan makanan sederhana yang aku masak, dan bercerita padaku tentang kemajuanmu hari ini."
Wanita itu menempelkan dahinya ke dahi Li Yao.
"Jadi berlatihlah dengan giat, tapi jangan lupa pulang. Karena di sini, selalu ada seseorang yang menunggumu dengan makanan hangat dan hati yang rindu."
Hati Li Yao meleleh mendengarnya. Rasa lelah di otot-ototnya seakan sirna digantikan oleh kehangatan yang luar biasa.
"Qingyu... kau benar-benar malaikat yang turun ke dunia untukku," ucapnya terharu. "Aku janji akan berlatih lebih cerdas, bukan hanya lebih keras. Dan aku janji, aku akan selalu pulang ke sisimu."
"Bagus," Ling Qingyu tersenyum puas. "Sekarang, diamlah dan biarkan aku mengobati otot-otot pegalmu ini dengan teknik penyembuhan ringan. Besok kita mulai lebih pagi lagi."
"Siap, Guru!" jawab Li Yao ceria.
Di bawah langit senja, di tengah kesunyian alam, terjalinlah sebuah ikatan yang indah. Dia berjuang di medan latihan demi masa depan, dan dia setia menunggu dengan kasih sayang yang tak bertepi. Bersama, mereka siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.