Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sentilan keras langsung mendarat di dahi Nila.
"Aduh!"
"La, Pak Al punya reputasi yang baik. Masa kamu menyuruh aku menyeret dia ke masalahku?" tegur Inara. "Keadaanku sudah cukup kacau tanpa harus melibatkan orang lain."
Nila mengusap dahinya sambil cemberut. "Justru karena reputasinya bagus."
"Inilah kenapa aku bilang kamu mulai tidak waras," sahut Inara.
"Serius, Ra. Coba pikirkan. Kalau orang seperti Pak Al berdiri di pihakmu, setengah fitnah itu langsung gugur dengan sendirinya."
"Iss..." Inara berdecak sambil bangkit dari sofa. "Sudahlah. Aku yakin masalah ini tidak akan berlangsung lama. Beberapa hari lagi orang-orang juga lupa."
Nila menatapnya ragu.
Sementara Inara sudah berjalan menuju kamar. "Aku mandi dulu."
"Ra!"
Namun wanita itu sudah menghilang di balik pintu. Nila mendesah panjang.
"Keras kepala. Benar-benar keras kepala," gumam Nila.
Beberapa saat kemudian ia meraih ponselnya. Tatapannya menyipit penuh perhitungan sebelum mencari satu nama di daftar kontak, Baba. Senyum licik perlahan muncul di bibirnya. Tanpa membuang waktu, ia segera mengetik pesan.
[Baba, mau bantu Tante Nila bikin Tante Inara nggak sedih lagi?]
Balasan datang hanya beberapa detik kemudian.
[Mau, Tan.]
Senyum Nila semakin lebar.
[Kalau gitu bantu Tante deketin Tante Inara sama Ayah Baba. Nanti Tante kasih tahu caranya.]
Kali ini balasannya datang lebih cepat.
[Oke.]
Nila langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan puas. Kalau Inara terlalu keras kepala untuk memikirkan kebahagiaannya sendiri, mungkin ia hanya perlu sedikit bantuan. Dan tidak ada sekutu yang lebih antusias daripada Baba.
***
Malam itu, di rumah yang berbeda, Baba sedang tengkurap di atas ranjang sambil memandangi layar ponselnya dengan wajah serius. Bocah itu membaca ulang pesan dari Nila berkali-kali hingga akhirnya mengangguk mantap.
"Deketin Tante Inara sama Ayah..."
Menurutnya, tugas itu tidak terlalu sulit. Yang jadi masalah justru ayahnya. Baba sampai menghela napas panjang seperti orang dewasa yang sedang memikirkan persoalan besar.
"Ayah memang susah."
Tak lama kemudian, matanya berbinar saat sebuah ide dari Nila muncul kembali di kepalanya. Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari keluar kamar menuju ruang kerja ayahnya.
Tok. Tok.
"Masuk."
Baba membuka pintu perlahan lalu menyembulkan kepala. Altaf yang sedang fokus menatap layar laptop mengangkat alis begitu melihat putranya.
"Belum tidur?"
"Baba mau tanya."
"Tanya apa?"
Baba melangkah masuk dan berdiri tepat di depan meja kerja. Dengan polos ia menatap ayahnya sebelum melontarkan pertanyaan yang membuat jemari Altaf seketika berhenti di atas keyboard.
"Ayah suka Tante Inara nggak?"
Ruangan mendadak hening. Altaf perlahan mengangkat kepala dan menatap putranya lekat-lekat. "Siapa yang mengajarimu bertanya seperti itu?"
"Nggak ada."
"Baba."
"Benaran."
Tatapan Altaf semakin menyipit. Wajah polos di hadapannya sama sekali tidak terlihat meyakinkan.
"Apa Tante Nila yang menyuruhmu?" tebak Altaf karena di ponsel Baba hanya ada nomor Nila dan nomornya saja.
Baba refleks menutup mulutnya sendiri. Sayangnya, gerakan itu justru menjadi jawaban paling jelas yang bisa diberikan.
Altaf mengembuskan napas panjang. "Nila."
Baba hanya terkekeh kecil sebelum kembali ke topik awal.
"Jadi Ayah suka?"
"Kembali ke kamar."
"Itu bukan jawaban."
"Baba."
"Oke."
Baba akhirnya berbalik, tetapi baru beberapa langkah berjalan ia kembali berhenti dan menoleh.
"Kalau Ayah suka, Ayah harus cepat."
Kening Altaf langsung berkerut. "Cepat apa?"
"Nanti Tante Inara diambil orang."
Setelah melontarkan kalimat itu, Baba langsung kabur sebelum sempat ditangkap atau diinterogasi lebih lanjut.
Brak!
Pintu tertutup, meninggalkan Altaf seorang diri di ruang kerja.
Pria itu menyandarkan tubuh ke kursi sambil memijat pangkal hidungnya. Entah sejak kapan seorang anak berusia kurang dari lima tahun dan seorang wanita bernama Nila merasa berhak ikut campur dalam hidupnya. Namun, meski terdengar menggelikan, ucapan Baba tadi berhasil membuat pikirannya melayang pada sosok yang sama, Inara.
Tanpa sadar, wajah wanita itu muncul dalam benaknya. Wajah yang beberapa hari terakhir terlihat lebih murung dari biasanya. Wajah yang tetap berusaha tersenyum dan bersikap tegar meski sedang dihujani tuduhan dari berbagai arah.
Tatapan Altaf perlahan mengeras. Ia memang memilih tidak ikut campur karena menghormati keputusan Inara yang ingin menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun, bukan berarti ia senang melihat wanita itu berjuang sendirian menghadapi semua serangan yang datang.
"Apa aku harus mengejarnya?" Altaf langsung menggelengkan kepalanya, "itu bukan gayamu, Al."
Altaf kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya yang sempat terhenti karena kemunculan Baba.
Sementara itu, begitu keluar dari ruang kerja ayahnya, Baba segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Jari-jari kecilnya bergerak lincah mengetik pesan untuk Nila.
[Tan, Ayah ada proyek baru. Kayaknya cocok kalau Tante Inara sama Ayah yang main.]
Di tempat lain, Nila yang baru saja membaca pesan itu langsung menyeringai puas. Kesempatan emas seperti ini tentu tidak boleh disia-siakan.
Setelah membalas pesan Baba, ia meletakkan ponselnya tepat saat Inara keluar dari kamar dengan rambut yang masih sedikit basah sehabis mandi.
"Ra, kamu masih mau jadi artis?" tanya Nila tiba-tiba.
Inara langsung menyipitkan mata curiga. "La, sekarang kamu punya ide aneh apa lagi?"
"Gak ada ide aneh." Nila mengangkat bahu santai. "Daripada kamu nganggur dan numpang terus di rumahku, mending kerja."
Inara mendelik. Meski terdengar menyebalkan, ia sudah terlalu lama berteman dengan Nila jadi untuk tersinggung sangatlah tidak mungkin. Sahabatnya memang memiliki bakat luar biasa dalam menyampaikan fakta dengan cara yang paling menyakitkan.
"Jadi sekarang aku mau diusir karena gak punya kerjaan dan cuma numpang?"
"Eh, jangan dipelintir gitu." Nila segera mengangkat kedua tangan. "Maksudku, daripada kamu capek-capek cari pekerjaan ke sana kemari, kenapa gak ikut casting saja? Siapa tahu dewi keberuntungan akhirnya kasihan sama hidupmu."
Inara mendengus lalu menjawab dengan tegas, "Gak mau."
"Kenapa?"
"Gak tertarik," jawab Inara.
Nila memutar bola mata. Ia sudah menduga jawaban itu.
"Inara, sampai kapan kamu mau hidup begini?" tanyanya lebih serius. "Apa kamu masih mau mencari pekerjaan sebagai ibu susu, lalu tanpa sengaja jatuh cinta lagi sama ayah si bayi?"
Langkah Inara langsung terhenti.
"Nila!" panggilnya dengan nada kesal.
"Apa? Aku cuma bilang kenyataan." Nila menatapnya tanpa rasa bersalah. "Ingat, Ra. Kita hidup di dunia nyata, bukan sinetron. Gak semua kisah ibu susu berakhir bahagia dengan ayah si anak."
Seketika wajah Inara berubah masam. Entah karena kesal atau karena ucapan itu menyinggung sesuatu yang selama ini berusaha ia abaikan.
Nila yang sadar perubahan raut wajah Inara ia langsung berkata kembali, "Fiks besok kamu ikut casting. Aku gak mau denger alasan apapun."
Run inara run