NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 22

Udara sore itu terasa sedikit lebih ringan bagi Zoya. Setelah perdebatan panjang mengenai jam malam dan aplikasi pelacak, Arvin tampak sedikit melunak, setidaknya itu yang dipikirkan Zoya.

Kelompok proyek besarnya baru saja dinyatakan sebagai yang terbaik di angkatan, dan mereka sepakat untuk mengadakan syukuran kecil di sebuah kafe bergaya vintage di dekat kampus.

Zoya telah meminta izin sejak dua hari yang lalu. Arvin tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Zoya dengan pandangan yang sulit diartikan sebelum akhirnya mengangguk.

"Aku yang antar. Dan aku yang jemput pukul tujuh malam tepat," ujar Arvin saat itu dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.

Bagi Zoya, itu sudah lebih dari cukup. Ia hanya ingin merasakan menjadi mahasiswi normal selama beberapa jam, merayakan hasil kerja kerasnya tanpa bayang-bayang ketakutan akan GPS yang terus memantau.

Pukul lima sore, mobil mewah Arvin berhenti di depan kafe. Zoya turun dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan gamis berwarna abu-abu muda dengan khimar yang senada, tampak sangat bersahaja namun memancarkan keanggunan yang alami.

"Ingat, Zoya. Pukul tujuh," Arvin menurunkan kaca mobilnya, menatap Zoya melalui kacamata hitamnya. "Jangan buat aku harus masuk ke dalam untuk mencarimu."

"Iya, Tuan. Terima kasih banyak," jawab Zoya lembut sebelum melangkah masuk.

Di dalam kafe, suasana sangat meriah. Teman-teman sekelompoknya, termasuk Liam, sudah berkumpul di sebuah meja besar di sudut ruangan. Tawa dan canda memenuhi udara, membuat beban di pundak Zoya seolah terangkat sejenak.

"Zoya! Sini!" panggil Sarah, salah satu teman dekatnya. "Kita baru saja mau potong kue."

Zoya duduk di tengah-tengah mereka. Percakapan mengalir lancar. Mereka membahas rencana setelah lulus, impian-impian masa depan, dan kekonyolan selama mengerjakan proyek. Untuk sejenak, Zoya lupa bahwa ia adalah istri dari seorang CEO yang memiliki kontrol luar biasa atas hidupnya.

"Zoya, ini bagianmu. Kamu yang paling banyak begadang buat analisis datanya," Liam menyodorkan sebuah piring kecil berisi potongan kue cokelat dengan senyum tulus.

Zoya menatap piring itu, lalu menatap Liam. "Terima kasih, Liam."

Tanpa sadar, Zoya tertawa mendengar banyolan Sarah tentang dosen pembimbing mereka. Itu adalah tawa lepas yang jarang sekali muncul sejak ia masuk ke dalam kehidupan Arvin.

Matanya yang jernih di balik cadar tampak menyipit karena senyuman yang lebar. Di momen itu, Zoya merasa hidup kembali.

Namun, di luar kafe, sebuah badai sedang terbentuk.

Arvin tidak benar-benar pergi. Ia memarkir mobilnya beberapa meter dari kafe, duduk dalam kegelapan kabin sambil menatap layar ponselnya yang menunjukkan titik GPS Zoya yang statis.

Namun, rasa penasaran atau mungkin ketidakpercayaan yang akut, mendorongnya untuk turun.

Ia berdiri di balik kaca besar kafe yang sedikit gelap dari luar. Matanya yang tajam memindai ruangan sampai ia menemukan sosok yang ia cari.

Rahang Arvin mengeras seketika.

Ia melihat Zoya sedang tertawa lepas. Dan yang membuat darahnya mendidih adalah keberadaan Liam yang duduk tepat di hadapannya, menyodorkan piring dengan gestur yang menurut Arvin terlalu intim.

Di mata Arvin yang sudah dibutakan oleh rasa memiliki yang ekstrem, tawa Zoya adalah sebuah pengkhianatan terhadap kesedihan yang seharusnya ia rasakan karena sedang dalam masa pengawasan.

Ego Arvin meledak. Ia merasa tawa itu bukan miliknya, dan ia tidak suka berbagi apa pun, bahkan sebuah senyuman.

Kring!

Bunyi lonceng pintu kafe yang terbuka dengan kasar membuat beberapa pengunjung menoleh. Arvin melangkah masuk dengan aura yang begitu pekat dan dingin, membuat musik jazz yang mengalun di kafe itu seolah berhenti seketika.

Langkah sepatunya di atas lantai kayu terdengar seperti dentuman vonis mati.

Zoya tersentak. Tawanya hilang dalam sekejap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh saat melihat sosok suaminya berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang seolah ingin menghancurkan segalanya.

"T-Tuan?" Zoya berdiri dengan gemetar.

Arvin tidak menjawab. Ia mengabaikan Sarah yang menyapa, mengabaikan teman-teman Zoya yang tertegun melihat pria asing yang tampak sangat berkuasa itu. Matanya hanya tertuju pada piring kue di depan Zoya dan tangan Liam yang masih berada di dekat meja.

Tanpa sepatah kata pun, Arvin menyambar pergelangan tangan Zoya. Cengkeramannya kuat, mencerminkan amarah yang ia tahan.

"Tuan, ini baru jam setengah tujuh..." bisik Zoya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena malu dan sakit.

"Aku tidak peduli," suara Arvin rendah namun tajam, memotong udara kafe yang mendadak sunyi.

"Pak, maaf, kami sedang ada acara syukuran..." Liam mencoba berdiri, bermaksud membela Zoya.

Arvin menoleh, menatap Liam dengan tatapan yang penuh kebencian. "Jangan pernah berani bicara padaku, anak muda. Urusi saja duniamu yang kecil ini."

Arvin kembali menatap Zoya, lalu kembali menarik tangan istrinya itu secara paksa, memaksa Zoya melangkah terseret-seret keluar dari kursi.

Di depan semua teman seangkatan Zoya yang kini menatap dengan ngeri, Arvin menegaskan dominasinya dengan kalimat yang menghancurkan harga diri Zoya berkeping-keping.

"Waktumu bermain-main sudah habis. Pulang sekarang!"

Zoya tertunduk dalam, air matanya jatuh membasahi cadarnya. Ia tidak berani menatap teman-temannya. Rasa malu yang luar biasa menghimpit dadanya.

Ia diseret keluar kafe seperti seorang anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan besar, atau lebih buruk lagi, seperti properti yang sedang ditarik paksa oleh pemiliknya.

Di dalam mobil, Arvin memacu kendaraannya dengan kecepatan gila. Keheningan di dalam kabin jauh lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun. Zoya hanya bisa menangis sesenggukan, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Kenapa, Tuan? Kenapa harus di depan mereka?" tanya Zoya di sela isakannya. "Aku hanya ingin merayakan hasil kerja kerasku. Aku tidak melakukan apa pun yang salah."

"Kau tertawa, Zoya!" Arvin memukul kemudi dengan tangan kirinya. "Kau tertawa dengan pria itu! Kau menerima pemberiannya dengan wajah yang begitu bahagia! Apa kau tidak sadar siapa dirimu? Kau adalah istriku!"

"Aku tertawa karena aku manusia, Tuan! Bukan karena aku mengkhianati Kamu!" Zoya berteriak dengan suara pecah. "Kau sudah merenggut kebahagiaanku satu per satu. Kau mempermalukan aku seolah-olah aku adalah wanita hina yang tidak punya harga diri!"

"Harga dirimu adalah aku!" Arvin mengerem mendadak tepat di lobi apartemen. Ia menatap Zoya dengan mata yang memerah karena amarah dan obsesi. "Jika kau ingin tertawa, tertawalah untukku. Jika kau ingin bahagia, bahagialah bersamaku. Aku tidak butuh kau berbagi keceriaan dengan dunia luar yang hanya akan membawa fitnah!"

Zoya membuka pintu mobil dengan tangan gemetar, ia lari menuju lift sambil terus menangis. Begitu sampai di dalam penthouse, ia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia duduk di balik pintu, memeluk lututnya, dan menangis sejadi-jadinya.

Malam itu, Zoya menyadari bahwa setiap inci perhatian Arvin bukanlah perlindungan, melainkan jeratan yang perlahan-lahan membunuh jiwanya. Air mata itu mengalir deras, meratapi sebuah cinta yang berubah menjadi racun posesif yang tak berujung.

Di luar pintu kamar, Arvin berdiri diam, menyandarkan kepalanya di kayu pintu, mendengarkan isak tangis istrinya dengan hati yang tersiksa namun ego yang tetap tak mau mengalah.

'Duh, Arvin makin parah! Kebahagiaan Zoya seolah dipasung sepenuhnya. Apakah Zoya akan terus bertahan dalam penjara emas ini? Dan bagaimana reaksi teman-teman Zoya setelah melihat kejadian mengerikan di kafe itu? Ikuti terus perjalanan air mata Zoya !'

...----------------...

To Be Continue .....

1
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
ρυтяσ kang'typo✨
sabar Zoya.... karna lama" es itu akan mencair dengan sendiri'y🤭
ρυтяσ kang'typo✨
apah masih sangat kokoh benteng di hati mu tuan🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!