Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
urgent
Setelah palu terakhir diketukkan dan acara lelang resmi ditutup, para tamu mulai bangkit dari kursi masing-masing. Suara gesekan kursi, langkah kaki, dan bisik-bisik pelan memenuhi ruangan besar itu.
Fengyun berdiri lebih dulu.
Ia merapikan manset jasnya dengan gerakan tenang, lalu menoleh singkat ke arah Qinglan dan Xinyao.
“Ayo,” ucapnya singkat, nadanya datar namun mengandung perintah.
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi menyusuri lorong VIP di samping ruang lelang. Qinglan segera bangkit dan mengejar langkah kakaknya, sementara Xinyao mengikuti dari belakang—langkahnya santai, namun matanya terus bergerak, mengamati sekeliling dengan penuh kewaspadaan.
“Gege,” Qinglan mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya diturunkan,
“sebenarnya kita mau ke mana, sih?”
Fengyun bahkan tidak menoleh.
“Ikut saja,” jawabnya ketus,
“jangan banyak tanya.”
Qinglan langsung mengatupkan bibirnya.
Ia melirik Xinyao sekilas, seolah meminta dukungan, namun gadis itu hanya mengangkat bahu kecil sambil terus berjalan.
Berbeda dengan Qinglan, perhatian Xinyao justru tertuju pada lingkungan sekitar.
Kadang ia mendongak, menatap ukiran di dinding dan lampu-lampu kristal yang menggantung indah.
“Wah…” gumamnya pelan, berdecak kagum.
Namun tak lama kemudian, keningnya berkerut.
Ia berhenti sesaat, mengendus udara, lalu berdecak lagi—kali ini berbeda.
“CK… aura di sini busuk banget,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar oleh dua orang di depannya.
Langkah mereka terus berlanjut, melewati beberapa lorong sunyi, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna hitam mengilap, dengan ukiran halus di bagian tengahnya. Dua orang bodyguard bertubuh tinggi besar berdiri tegap di kanan dan kiri pintu.
Begitu melihat Fengyun, kedua bodyguard itu langsung menundukkan kepala.
“Tuan Li,” ucap salah satu dari mereka dengan sopan,
“nona sudah menunggu di dalam.”
Dengan gerakan serempak, mereka mendorong pintu itu terbuka.
“Silakan.”
Fengyun melangkah masuk lebih dulu. Langkahnya tenang, punggungnya tegak, aura wibawanya terasa kuat. Qinglan mengikutinya, sementara Xinyao melangkah terakhir—tatapannya langsung menyapu isi ruangan begitu kakinya menginjak lantai dalam.
Ruangan itu luas namun tertata rapi.
Rak-rak buku tinggi memenuhi dinding, berisi buku-buku tebal dengan sampul klasik. Lampu kristal di langit-langit memancarkan cahaya lembut—tidak terlalu terang, namun cukup untuk menerangi setiap sudut ruangan dengan elegan.
Di salah satu sofa, tampak dua gadis telah menunggu.
Luoli duduk dengan punggung tegak, tangan bertumpu anggun di pangkuannya. Sementara Mingyu duduk di sampingnya, sikapnya lebih kaku, seolah menyimpan kegelisahan.
Begitu melihat mereka masuk, Luoli berdiri perlahan.
“Silakan duduk,” ucapnya lembut.
Namun di balik kelembutan itu, ada tekanan halus yang sulit diabaikan.
Mereka pun mengambil tempat duduk masing-masing.
Namun sejak pertama kali matanya tertuju pada Luoli, Xinyao tidak langsung duduk dengan tenang.
Tatapan gadis itu berubah.
Senyum cerianya memudar, digantikan oleh ekspresi serius.
Ia melirik Luoli… lalu Mingyu… lalu kembali ke Luoli.
Perlahan, Xinyao mengangkat tangannya ke depan dada.
Jari-jarinya bergerak satu per satu, menghitung dengan teliti. Nafasnya menahan sesaat.
“……”
Beberapa detik berlalu.
“Hah—!”
Xinyao tiba-tiba berseru keras.
Semua orang tersentak.
“Itu… astaga…”
serunya lagi, lebih pelan namun sarat keterkejutan.
Ia bangkit sedikit dari duduknya, mata membelalak menatap Luoli seolah baru saja melihat sesuatu yang tak seharusnya ia lihat.
Sekejap, seluruh perhatian di ruangan itu tertuju padanya.
Qinglan menoleh cepat ke arah Xinyao.
Bibirnya terbuka, seolah hendak bertanya, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Nafasnya tercekat—ketegangan di ruangan itu menekan dadanya hingga suaranya seakan terkunci.
Ia mengepalkan jari-jarinya di atas paha, menelan ludah, lalu kembali terdiam.
Keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh suara lembut Luoli.
“Ada apa, nona?”
Nada suaranya halus, namun jelas terdengar kewaspadaan di baliknya.
Xinyao mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk situasi setegang ini.
“Tangan,” ujarnya singkat.
Luoli sedikit terkejut. Alisnya terangkat, matanya melirik sekilas ke Mingyu. Meski kebingungan, ia tetap mengulurkan tangannya ke depan meja—telapak tangannya terbuka, jari-jarinya sedikit gemetar namun tetap terjaga anggun.
Xinyao menerima tangan itu.
Ujung jarinya menyentuh telapak Luoli dengan ringan, lalu menekan perlahan di beberapa titik. Matanya terpejam sesaat, wajahnya serius. Udara di ruangan itu seakan membeku.
Tak ada yang berbicara.
Fengyun duduk diam, punggungnya bersandar santai, namun sorot matanya tajam mengawasi setiap gerakan Xinyao. Qinglan menahan nafas, sementara Mingyu menggenggam ujung pakaiannya tanpa sadar.
Beberapa detik berlalu—terasa seperti menit.
“Ouh…”
Xinyao akhirnya bersuara.
Ia melepas tangan Luoli begitu saja, seakan hasil bacaannya sudah cukup. Tanpa menjelaskan apa pun, ia berbalik dan kembali duduk di sisi Fengyun, menyilangkan kaki dengan santai seolah tak baru saja menjatuhkan bom tak kasat mata.
Luoli menarik tangannya kembali, menatap telapak itu dengan bingung. Mingyu menoleh ke arahnya, lalu ke Xinyao—keduanya saling bertukar pandang, sama-sama tak mengerti.
Qinglan membuka mulut, tak tahan lagi.
Namun sebelum sempat bertanya, suara Fengyun lebih dulu memecah kesunyian.
“Yao Yao,” ucapnya lembut,
“ada apa?”
Nada suaranya tenang, namun cukup kuat untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu.
Xinyao menghela nafas pelan.
Ia bangkit dari duduknya perlahan, tatapannya beralih dari satu wajah ke wajah lain.
“Pertama,” ujarnya tenang,
“kepala keluarga Lin sedang sakit.”
Luoli dan Mingyu sama-sama terkejut, namun Xinyao tak memberi mereka waktu untuk bereaksi.
“Kedua—”
Xinyao melangkah satu langkah ke depan, suaranya sedikit lebih dingin,
“rumah lelang ini memiliki aura yang buruk. Seseorang sudah melakukan sesuatu yang keji di tempat ini.”
Udara terasa semakin berat.
“Ketiga.”
Xinyao mengeluarkan giok yang ia dapatkan dari lelang tadi. Giok itu berkilau redup di bawah cahaya lampu kristal.
“Kalian hampir menjual salah satu simpul dari masalah yang sedang dialami keluarga Lin saat ini.”
Ia memutar giok itu di antara jari-jarinya dengan santai, lalu kembali duduk di samping Fengyun—seolah bom yang ia jatuhkan bukan urusannya lagi.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Tiba-tiba—
“Dari mana kau tahu ayah kami sedang tidak baik-baik saja, Feng?”
Suara Luoli meninggi.
Nada akhirnya menekan, tajam, jelas ditujukan langsung pada Fengyun.
Fengyun mengangkat pandangannya dengan tenang.
“Anda menatap saya terlalu intens, Nona Lin,” ujarnya dingin,
“saya tidak pernah memberitahu Yao Yao.”
Ia menarik nafas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang.
“Namun satu hal yang harus Anda ketahui,” lanjutnya pelan,
“Yao Yao bukanlah gadis biasa. Setiap perkataannya pasti memiliki sebab.”
Nada bicaranya rendah, tegas, dan tanpa sadar menciptakan tekanan yang membuat ruangan itu terasa semakin sempit.
Tiba-tiba—
GEDUBRAK!
Pintu ruangan terbuka paksa.
Seorang pria menerobos masuk, tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya jatuh tersungkur ke lantai. Nafasnya terengah-engah, dadanya naik turun hebat akibat berlari tergesa-gesa.
Semua mata langsung tertuju padanya.
“Bangkitlah,” suara Mingyu terdengar tegas,
“atur nafasmu, lalu bicara.”
Pria itu baru hendak membuka mulut—
“Lama kalau menunggu dia bicara.”
Xinyao sudah berdiri. Ia menarik lengan Fengyun tanpa ragu.
“Ayo. Tuan Li sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya ringan, namun matanya memancarkan urgensi.
“APA?”
Luoli dan Mingyu berseru bersamaan.
“Benar, nona,” pria itu akhirnya berhasil bicara,
“tuan besar tidak sadarkan diri. Dokter bilang tidak ada tanda-tanda penyakit yang jelas, namun—”
“Lama. Ayo.”
Xinyao menarik Fengyun lebih kuat. Qinglan langsung berdiri, diikuti Luoli tanpa pikir panjang.
“Cepat, Feng,” seru Xinyao, nada suaranya mulai panik.
Mereka berlari menyusuri lorong menuju parkiran. Sepatu mereka bergema keras, langkah-langkah cepat memecah keheningan malam.
Di dalam mobil, Luoli menyebutkan lokasi rumah sakit tempat ayahnya dirawat.
Mesin mobil hitam itu meraung, melaju kencang menembus jalanan kota—meninggalkan lampu-lampu malam yang berkelebat di belakang mereka.
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...
lbh kasihan hauron, uangnya sia2 😜