Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.
Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.
Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 – Keputusan yang Tidak Bisa Ditunda
Sudah hampir dua minggu sejak Rudi menawarkan kerja sama kepada keluarga Arga.
Namun hingga sekarang, belum ada keputusan yang benar-benar diambil.
Bukan karena mereka tidak tertarik.
Justru sebaliknya.
Semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa tawaran tersebut memiliki potensi besar.
Dan itulah masalahnya.
Keputusan kecil biasanya mudah dibuat.
Tetapi keputusan yang bisa mengubah arah usaha sering kali jauh lebih sulit.
Pagi itu, Arga sedang membantu menyusun stok minuman ketika ayahnya tiba-tiba bertanya.
"Kamu masih memikirkan tawaran Rudi?"
Arga tidak langsung menjawab.
Karena sebenarnya ia memang masih memikirkannya.
"Iya."
Ayahnya mengangguk pelan.
"Ayah juga."
Suasana menjadi tenang.
Di dapur, ibunya dan Bu Rina masih sibuk menyiapkan gorengan.
Sementara di depan warung, beberapa pekerja proyek mulai berdatangan seperti biasa.
Rutinitas berjalan normal.
Namun di balik rutinitas itu, ada keputusan besar yang terus menunggu.
Menjelang siang, jumlah pelanggan mulai berkurang.
Cuaca hari itu cukup panas.
Bahkan para pekerja proyek memilih berteduh lebih lama di bawah terpal yang dipasang beberapa hari lalu.
Salah satu dari mereka, Beni, sedang menikmati kopi ketika berkata,
"Pak, gorengannya makin cepat habis sekarang."
Ayah Arga tertawa.
"Itu kabar baik."
"Iya."
Beni mengangguk.
"Kemarin teman saya datang agak siang, sudah habis."
Setelah mendengar itu, Arga langsung memperhatikan.
Ini bukan pertama kalinya ia mendengar komentar seperti itu.
Dalam beberapa hari terakhir, beberapa pelanggan juga mengatakan hal yang sama.
Produksi mereka mulai mendekati batas.
Bukan karena kekurangan bahan.
Tetapi karena kapasitas kerja.
Bu Rina membantu.
Ibunya bekerja lebih efisien.
Namun tetap saja ada batas yang tidak bisa dilewati.
Dan itulah yang membuat tawaran Rudi kembali muncul di pikirannya.
Kalau penjualan diperluas ke minimarket, apakah mereka mampu memenuhi permintaan?
Kalau tidak mampu, reputasi bisa rusak.
Kalau mampu, usaha bisa berkembang lebih cepat.
Risiko dan peluang berjalan berdampingan.
Malam itu, keluarga kembali mengadakan diskusi.
Sudah menjadi kebiasaan baru.
Dulu mereka jarang membicarakan usaha bersama.
Sekarang hampir setiap minggu ada pembahasan baru.
Ayah Arga membuka percakapan.
"Kita tidak bisa menunda terus."
Ibunya mengangguk.
Bu Rina juga terlihat setuju.
Semua mata akhirnya tertuju kepada Arga.
Ia sudah menduga hal itu.
Beberapa saat ia memandang buku catatannya.
Kemudian berkata,
"Aku tidak setuju kalau langsung kerja sama penuh."
Ayahnya mengernyit.
"Maksudnya?"
"Kita terlalu kecil."
Ruangan menjadi sunyi.
Arga melanjutkan.
"Kalau gorengan kita langsung dijual setiap hari di minimarket, produksi harus naik cukup banyak."
"Itu bagus, kan?" tanya ayahnya.
"Belum tentu."
"Kenapa?"
Arga menunjuk ke arah dapur.
"Karena dapur kita masih sama."
Kemudian menunjuk ke arah ibunya.
"Tenaga kerja kita juga masih sama."
Lalu menunjuk ke arah catatan produksi.
"Dan kapasitas kita belum berubah."
Semua orang terdiam.
Karena mereka tahu itu benar.
Dalam beberapa bulan terakhir, usaha memang berkembang.
Tetapi fondasinya belum berubah secara drastis.
Mereka masih menggunakan dapur yang sama.
Masih menggunakan peralatan yang sama.
Masih mengandalkan orang-orang yang sama.
Kalau permintaan meningkat terlalu cepat, masalah lama bisa kembali muncul.
Kelelahan.
Penurunan kualitas.
Kekacauan produksi.
Hal-hal yang selama ini berusaha mereka hindari.
"Lalu bagaimana?" tanya ibunya.
Arga tersenyum tipis.
"Kita coba kecil dulu."
Bu Rina langsung terlihat tertarik.
"Seperti sebelumnya?"
"Iya."
Menguji terlebih dahulu.
Melihat hasilnya.
Baru mengambil keputusan lebih besar.
Metode yang sudah beberapa kali menyelamatkan usaha mereka dari kesalahan.
Keesokan harinya, Arga memutuskan menemui Rudi.
Minimarket sedang tidak terlalu ramai ketika ia datang.
Rudi sedang memeriksa stok minuman di rak depan.
Melihat Arga masuk, pria itu tersenyum.
"Akhirnya datang juga."
Seolah sudah menduga alasan kedatangannya.
Arga ikut tersenyum.
"Kami sudah membahas tawaranmu."
Rudi menutup buku stok yang sedang dipegangnya.
"Lalu?"
"Kami tertarik."
"Bagus."
"Tapi ada syarat."
Rudi tertawa kecil.
"Nah, ini bagian yang menarik."
Arga menjelaskan idenya.
Mereka tidak akan langsung memasok gorengan dalam jumlah besar.
Sebaliknya, mereka ingin melakukan uji coba kecil.
Jumlah terbatas.
Waktu terbatas.
Kemudian melihat respons pelanggan.
Selama Arga berbicara, Rudi mendengarkan dengan serius.
Tidak memotong.
Tidak menyela.
Saat penjelasan selesai, pria itu justru tersenyum lebih lebar.
"Aku setuju."
Kali ini giliran Arga yang sedikit terkejut.
"Langsung setuju?"
"Kenapa tidak?"
Rudi menyandarkan tubuhnya ke rak.
"Sebagian besar orang terlalu sibuk mengejar pertumbuhan."
"Tapi kamu malah sibuk mengendalikan pertumbuhan."
Arga tidak menjawab.
Karena sebenarnya itulah pelajaran terbesar yang ia dapatkan sejak kembali ke masa lalu.
Tumbuh terlalu cepat bisa sama berbahayanya dengan tidak tumbuh sama sekali.
"Berapa jumlahnya?" tanya Rudi.
Arga sudah menyiapkan jawabannya.
"Dua puluh porsi per hari."
Jumlah yang cukup kecil.
Tetapi cukup untuk menguji pasar.
Rudi berpikir beberapa saat.
Kemudian mengangguk.
"Bisa."
Mereka akhirnya sepakat memulai minggu depan.
Saat Arga pulang ke rumah, perasaannya campur aduk.
Sedikit bersemangat.
Sedikit gugup.
Dan sedikit khawatir.
Karena ini adalah langkah berbeda dibanding sebelumnya.
Selama ini pelanggan datang ke warung.
Kini produk mereka akan masuk ke tempat usaha lain.
Artinya standar mereka juga harus meningkat.
Malam itu, ia kembali membuka buku catatannya.
Kemudian menuliskan daftar baru.
Kualitas.
Kemasan.
Waktu pengiriman.
Jumlah produksi.
Semua harus diperhatikan.
Tidak boleh ada yang terlewat.
Karena pelanggan minimarket tidak mengenal siapa Arga.
Mereka tidak mengenal ibunya.
Mereka tidak mengenal Bu Rina.
Yang mereka lihat hanya produk.
Dan produk itulah yang akan menentukan apakah kerja sama ini berhasil atau gagal.
Tiga hari menjelang uji coba dimulai, sebuah masalah baru muncul.
Bu Rina datang dengan wajah sedikit cemas.
"Arga."
"Iya, Bu?"
"Ada yang perlu dibicarakan."
Ekspresi wanita itu membuat Arga langsung serius.
"Ada apa?"
Bu Rina tampak ragu beberapa saat.
Kemudian berkata pelan,
"Anakku diterima kerja di kota sebelah."
"Itu kabar bagus."
"Iya."
"Tapi mungkin aku harus sering menemaninya beberapa minggu ke depan."
Jantung Arga langsung berdetak sedikit lebih cepat.
Karena ia segera memahami arti kalimat tersebut.
Kalau Bu Rina tidak bisa membantu secara penuh...
Kapasitas produksi mereka akan berkurang.
Dan itu terjadi tepat ketika mereka sedang bersiap memulai kerja sama dengan minimarket.
Masalah baru kembali muncul.
Dan kali ini, waktunya sangat tidak tepat.
Malam itu, saat menatap catatan produksinya, Arga menyadari satu hal.
Bisnis tidak pernah menunggu sampai semua siap.
Kadang-kadang peluang dan masalah datang bersamaan.
Dan kemampuan mengambil keputusan di tengah ketidakpastian itulah yang membedakan usaha yang bertahan dengan usaha yang gagal.
Di luar rumah, angin malam berembus pelan.
Sementara di dalam kamar, Arga menatap halaman kosong berikutnya di buku catatannya.
Karena ia tahu.
Besok pagi, ia harus mulai mencari solusi lagi.