NovelToon NovelToon
Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.

"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter: 35

Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mendalam di dalam kompleks kediaman mewah Kevin setelah iring-iringan kendaraan taktis Wijaya Holding melesat pergi menuju Bekasi.

Di area halaman depan yang luas, Sisa personel Regu Satu yang berjaga tampak berdiri kokoh bagai patung baja, mengawasi setiap jengkal perimeter gerbang utama dengan kewaspadaan penuh.

Tidak berselang lama setelah kepergian Kevin, sebuah mobil sedan premium berwarna hitam metalik tampak melambat dan berhenti di depan pos pemeriksaan gerbang.

Setelah melalui verifikasi identitas yang ketat oleh pasukan Tishon, gerbang besi setinggi tiga meter itu terbuka perlahan.

Dari dalam mobil, turunlah dua sosok yang sudah sangat akrab dengan kehidupan Kevin akhir-akhir ini: Viola, gadis cantik yang kini menjadi salah satu pilar bisnis Kevin, bersama ayahnya, Pak Herman Wijaya.

"Silakan masuk, Pak Herman, Non Viola. Nyonya Nabila dan Nyonya Amanda sudah ada di dalam," ucap salah satu penjaga dengan anggukan hormat yang tegas.

Nabila dan Amanda yang memang belum tidur langsung menyambut kedatangan mereka di lobi utama.

Langkah kaki mereka menggema di atas lantai marmer yang berkilau.

"Lho, Papa Herman, Viola? Kok malam-malam begini main ke sini? Ada urusan mendesak ya?"

tanya Nabila dengan senyuman ramah yang tulus, sementara Amanda mengangguk hormat di sampingnya.

"Iya, Nabila, Amanda. Maaf ya kalau Papa mengganggu waktu istirahat kalian," jawab Pak Herman dengan nada suara yang hangat namun menyiratkan ada sebuah beban pikiran yang cukup berat.

"Papa tadi kebetulan habis ada urusan logistik di sekitar Depok, lalu Viola bilang dia ingin menengok kondisi Ibu Sri.

"Sekaligus... ada sesuatu yang sudah lama mengganjal di hati Papa yang harus Papa sampaikan langsung kepada Ibu Sri."

Viola ikut tersenyum, melangkah mendekat dan memeluk lengan Nabila akrab.

"Iya, Kak Nab, Kak Amanda. Aku kangen sama Ibu Sri. Gimana kondisi beliau? Sudah agak mendingan?"

"Alhamdulillah, sudah agak mendingan, Vi. Ibu sedang istirahat di ruang tengah sambil menonton TV,"

jelas Amanda, menuntun para tamu itu untuk melangkah masuk ke area ruang keluarga yang megah.

Di sana, Ibu Sri yang mengenakan pakaian santai rajut berwarna biru muda tampak bersandar di sofa beludru.

Begitu melihat kedatangan Pak Herman dan Viola, wajah pucat sang ibu langsung dihiasi oleh binar kebahagiaan yang hangat.

"Aduh, Pak Herman, Viola... Mari, silakan duduk. Maaf ya, rumahnya agak berantakan," ucap Ibu Sri lembut, mencoba membetulkan posisi duduknya.

"Jangan repot-repot, Jeng Sri. Tetap bersandar saja, kesehatan Anda itu yang paling utama," ujar Pak Herman buru-buru,

mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Ibu Sri, sementara Viola duduk di samping Nabila dan Amanda.

Setelah beberapa menit berbincang ringan mengenai perkembangan bisnis holding dan bagaimana Kevin sukses membungkam kesombongan Tante Mira di Margonda siang tadi, atmosfer di dalam ruangan itu perlahan-lahan mulai berubah.

Tatapan mata Pak Herman yang semula hangat kini mendadak berubah menjadi redup, dipenuhi oleh rasa bersalah dan kedukaan yang mendalam.

Pak Herman menarik napas dalam-dalam, menatap guratan-guratan lelah di wajah Ibu Sri yang telah menjadi janda selama bertahun-tahun demi membesarkan Kevin di bawah bayang-bayang hinaan keluarga besar.

"Jeng Sri..." panggil Pak Herman, suaranya mendadak berubah menjadi berat dan bergetar kecil.

"Kevin tadi pergi ke Bekasi untuk merebut kembali pabrik peleburan baja milik almarhum suamimu, kan?"

Ibu Sri tersentak kecil, lalu mengangguk perlahan dengan tatapan mata yang sendu.

"Benar, Pak Herman."

"Kevin bilang dia ingin mengambil kembali apa yang menjadi hak almarhum ayahnya."

"Saya sebenarnya khawatir, tapi anak itu memiliki tekad yang sangat keras."

Pak Herman menundukkan kepalanya, jemarinya bertautan dengan erat.

"Memang sudah saatnya, Jeng. Sudah saatnya darah Wijaya bangkit."

"Tapi... ada satu kebenaran yang selama ini sengaja disembunyikan dari Anda dan Kevin."

"Sebuah rahasia kelam mengenai alasan sebenarnya di balik kematian kakak kandung saya... yang tidak lain adalah suami Anda sendiri, Mahesa Wijaya."

DEG.

Kalimat Pak Herman bagai petir di malam yang tenang.

Ibu Sri seketika menegakkan tubuhnya, wajahnya yang semula mulai membaik mendadak kembali memucat.

Nabila, Amanda, dan Viola bahkan langsung menghentikan obrolan mereka, menatap Pak Herman dengan napas yang tertahan.

"P-Pak Herman... apa maksud Anda?" suara Ibu Sri bergetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang mulai keriput.

"Selama ini... keluarga besar selalu bilang kalau Mas Mahesa meninggal karena kecelakaan beruntun di tol saat mengurus bisnisnya yang bangkrut."

"Mereka bilang Mas Mahesa ceroboh dan meninggalkan utang yang membuat kami diusir dari rumah lama..."

"Itu semua bohong, Jeng Sri! Itu fitnah keji yang sengaja disebarkan oleh orang-orang serakah untuk menghancurkan nama baik Mahesa!"

potong Pak Herman dengan nada emosi yang meluap-luap, matanya memerah menahan amarah yang terpendam belasan tahun.

Pak Herman menatap Ibu Sri dengan pandangan penuh penyesalan.

"Mahesa... kakak saya itu tidak pernah bangkrut karena salah urus. Dia adalah seorang pengusaha jenius yang memegang kendali atas pondasi finansial utama kakek Kevin, Jenderal Wijaya."

"Alasan sebenarnya mengapa Mahesa meninggal... adalah karena dia dibunuh secara berencana oleh aliansi hitam yang bergerak di bawah naungan Arta Group!"

NYUT.

Jantung Ibu Sri seolah berhenti berdetak mendengar kata 'dibunuh'.

 Setetes air mata yang begitu bening akhirnya luruh melewati pipinya yang gemetaran.

 Nabila yang berada di sampingnya langsung merangkul pundak mertuanya itu dengan erat, mencoba menyalurkan kekuatan, sementara Amanda menutup mulutnya dengan tangan, terkejut mendengar konspirasi berdarah di balik sejarah keluarga suaminya.

"Ya Tuhan... Mas Mahesa..." bisik Ibu Sri terisak, dadanya naik turun menahan rasa sesak yang luar biasa hebat.

"Jadi... suamiku dibunuh?"

"Benar, Jeng,"

Pak Herman melanjutkan dengan suara yang semakin serak.

"Arta Group saat itu mengincar formula peleburan baja dan kepemilikan tanah strategis di Bekasi yang dipegang oleh Mahesa."

"Karena Mahesa menolak keras untuk menjual dan menyerahkan aset warisan Jenderal Wijaya tersebut, mereka menyabotase kendaraannya dan menyewa pembunuh bayaran tingkat tinggi untuk memastikannya tidak selamat di jalur luar kota."

Pak Herman mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya menonjol.

"Keluarga besar kita... Tante Mira dan yang lainnya, mereka tahu sebagian dari rahasia ini! Tapi mereka memilih untuk menutup mata karena mereka menerima uang bungkam dari kaki tangan Arta Group."

"Mereka sengaja mengambinghitamkan Mahesa, mencapnya sebagai beban keluarga yang gagal, dan membuang Anda bersama Kevin ke jalanan agar mereka bisa menikmati sisa-sisa harta tanpa rasa bersalah!"

Mendengar kekejaman dan pengkhianatan yang begitu menjijikkan dari keluarga kandungnya sendiri, Amanda langsung mengepalkan tangannya di atas lutut, matanya memancarkan kilat kemarahan seorang wanita korporat yang tahu betul betapa kotornya dunia bisnis hitam.

"Keterlaluan... Tante Mira dan Gege benar-benar tidak punya hati nurani."

"Pantas saja Mas Kevin bertindak sedingin itu tadi siang."

Viola menggenggam tangan ayahnya, mencoba menenangkan.

"Pa... tenang dulu, Pa."

Pak Herman menghapus sudut matanya yang basah, lalu menatap Ibu Sri dengan penuh keteguhan.

"Jeng Sri, saya menceritakan ini hari ini bukan untuk menambah beban sakit Anda. Tapi karena saya tahu, putra Anda... Kevin Wijaya... sekarang bukan lagi pemuda lemah yang bisa mereka injak-injak."

"Kevin memiliki darah Jenderal Wijaya dan kecerdasan Mahesa di dalam tubuhnya. Pasukan yang dia bawa malam ini ke Bekasi... mereka bukan sekadar pergi untuk mengambil pabrik."

"Tanpa Kevin sadari, takdir sedang menuntunnya untuk menuntut balas atas darah ayahnya yang tumpah belasan tahun lalu!"

Ibu Sri menangis dalam pelukan Nabila, namun di balik tangisnya, ada sebuah kilatan keteguhan yang mendadak muncul di wajah keibuannya.

Beliau menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan oleh Amanda, lalu menarik napas dalam-dalam.

"Pak Herman... terima kasih karena sudah membuka kebenaran ini kepada saya,"

ucap Ibu Sri, suaranya kini terdengar lebih kokoh dari sebelumnya.

Beliau menoleh ke arah jendela besar yang menampilkan kegelapan malam ke arah koridor timur.

"Kevin... anakku... dia selalu bilang kalau dia ingin menaikkan derajat saya."

"Tapi sekarang saya tahu, tugas Kevin jauh lebih besar dari itu. Dia adalah keadilan yang dikirim oleh Tuhan untuk ayahnya."

Nabila mengelus punggung tangan Ibu Sri dengan lembut, matanya berbinar penuh keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Ibu jangan khawatir. Mas Kevin itu kuat banget. Dengan pasukan kakeknya, dengan Regu Tishon, Zidan, dan Eros di sampingnya... Mas Kevin pasti akan meratakan siapa saja yang sudah menyakiti keluarga kita."

"Bekasi malam ini akan menjadi saksi kalau nama Mahesa Wijaya tidak akan pernah bisa dihapus oleh orang-orang jahat itu!"

Amanda ikut mengangguk mantap, memancarkan aura perlindungan sebagai istri kedua yang siap mendukung penuh dari lini belakang.

"Benar, Ibu. Saya akan memastikan seluruh jaringan hukum dan korporasi Pratama Group siap membackup apa pun yang dilakukan Kevin di Bekasi."

"Arta Group akan membayar setiap tetes air mata yang Ibu keluarkan malam ini."

Di tengah suasana ruang keluarga yang dipenuhi oleh resolusi pembalasan dendam dan kebenaran masa lalu yang terungkap, di luar sana, konvoi kendaraan taktis Kevin Wijaya terus melaju membelah malam menuju perbatasan Bekasi.

1
Alfan
👍👍👍
Seti Dean
Up lagi Thor cepet
Seti Dean
pengen jadi Nabila🤭
Le Meneral
Semngat terus Thor,
saran dong kalau bisa bikin cerita dengan genre komedi atau genre dewasa gtu hehehehe......
Dhewa Shaied
ceritanya ok cm izin thor.. sejak kapan orang ditaro di bagasi 😭😭😭😭
irena
lanjut thor
Tri Wahyuni
iya maaf kak ada kesalahan untuk penamaan karakternya, Skrang sudah di perbaiki,makasih udah ngasih tau ya kak👍
ラマSkuy
wait bukannya di bab sebelumnya nama ayahnya Viola itu Herman ya kok dibab ini jadi Wijaya 🤔🤔
ラマSkuy
awalan yang menarik untuk di baca Thor semangat terus berkarya 👍
Hentri Gunawan
lanjut Thor walupun beda dr yg kemarin
Tri Wahyuni: iya maaf ya soalnya kak soalnya kena revisi total
total 1 replies
Tri Wahyuni
jangan lupa kasih likenya ya kak
Hentri Gunawan
lanjut lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!