NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

THIS CEGIL

Pulang dari rumah Mireya, kondisi Luz kembali anjlok. Badannya panas tinggi, ngedrop parah, akhirnya harus dirawat beberapa hari di rumah sakit terdekat. Bukan karena penyakit berat, lebih ke arah pikirannya yang babak belur. Stres, capek, dan terlalu banyak mikir.

Selama di opname, Luz juga merasa sendirian. Dia sempat meminta Karel menemaninya. Nyatanya Cuma suster yang ganti-ganti infus dan ngecek suhu tubuh.

Sesekali Karel datang, itu pun dengan ekspresi serba salah, duduk bentar, lalu cabut lagi. Ya paling dia juga sibuk kerja dan bersenang-senang. Luz ngerti, ia kan ada di lingkaran ini karna untuk Karel bisa bebas bersamanya, tapi tetap aja ada rasa kosong yang ngeganjel di dadanya.

Setelah sembuh, Luz ngerasa dirinya butuh sesuatu yang lebih ‘hidup’ daripada Cuma ngabisin waktu di kasur sambil ngelamun. Padahal sebelumnya kenalan Luz banyak banget. Kok sekarang kerasa sepi banget.

Waktu ngaca, Luz nyadar kulitnya udah gak sekilau dulu. Warna tan keemasan yang dia banggain habis-habisan mulai pudar, pelan-pelan balik ke kulit awal—putih pucat bawaannya.

Tapi bukan senang, dia justru ngerasa asing. Putihnya bukan putih yang cantik. Putihnya pucat, berantakkan, kayak sisa badai yang belum kelar di beresin. Kayak orang abis sakit parah, bukan cewek yang punya semangat besar buat hidup.

Jadi ada rasa kehilangan aneh yang susah dijelasin. Bukan dia nggak suka kulit aslinya — cuma, kulit tan itu udah jadi semacam simbol buat dia. Tanda bahwa dia masih kuat, masih bisa ceria, masih bisa merasa ‘hidup’ di tengah semua kekacauan hidupnya.

Sekarang pas liat bayangan dirinya sendiri, Luz ngerasa kayak... kosong. Kayak semua warna dan keberaniannya ikut luntur bareng warna kulitnya. Tan buat Luz bukan cuman soal warna kulit tapi soal jati diri. Seolah tunjukkin, dia masih kuat masih bertahan.

Dan sekarang liat kulit pucatnya sendiri. Luz ngerasa... hampa.

Sampai bare face kelihatan pucat kayal hantu. Kalau tan skin, tanpa make up pun auranya keluar. Keliatan badas, lebih berkarakter terkesan strong tapi cantik yang bikin dia kelihatan hidup dan penuh energi. Jadi ini semua soal ekspresi diri. Biar keliatan berani.

Dia ingin kembali menjadi dirinya yang bersinar bukan bayangan pucat yang mengambang di depan kaca. Agar tidak aneh tiap bercermin. Wajah tampak kosong seakan ada yang hilang. Freckles di pipinya makin terlihat karna putihnya kulit dia. Genetik itu ia dapatkan dari neneknya.

Kalau Tan, freckles ada malah justru keliatan seksi natural nyatu sama tone kulit yang hangat, berani, bukan kayak anak kecil yang polos.

Sejak kecil, Luz suka jadi perhatian karna kulitnya, seperti salju yang baru jatuh dari langit. Freckles tipis bertabur di sepanjang pipinya, mempermanis wajah polosnya. Sepertinya ia mewarisi genetik itu terlalu berlebihan. Hingga freckles nya terlalu mencolok seperti cat di kanvas bersih.

Dulu Luz tak terlalu peduli, tetap bertahan walau di puji kadang di ejek mayat. Tapi semakin dewasa ia sadar—warna putih itu justru membuatnya terlihat rapuh. Ia ingin lebih dari sekedar tampak manis. Ia ingin terlihat hidup, liar dan kuat.

Makanya, tanpa pikir panjang, keinginan buat tanning lagi langsung muncul.

Dia pengen ngerasain lagi panasnya matahari, butiran pasir nempel di badan, hawa asin laut yang menyelusup ke kulit.

Dia pengen ngingetin dirinya sendiri — bahwa dia masih Luz. Masih si cewek barbar, keras kepala, penuh tawa, walaupun dunia kayaknya lagi serempak jatuhin dia.

Makanya, begitu dapet lampu hijau dari dokter, hal pertama yang dia lakuin adalah ngubek-ngubek aplikasi tiket dan beli dua tiket ke Bali.

Pantai di Bali itu mataharinya lebih teriak dan stabil di banding banyak tempat lain, apalagi daerah kayak kota besar atau dataran tinggi. Karena Baki dekat dengan garis khatulistiwa, sinar UV-nya kuat--- jadi buat orang yang mau dapet Tan skin alami, Bali tuh salah satu tempat paling efektif.

Tanpa mikir panjang, tanpa nanya Karel mau atau nggak, Luz langsung booking. Dalihnya, tiket satunya buat ‘sahabat’— padahal niat sebenarnya, emang buat pergi sama Karel. Mau nggak mau harus ikut, pikirnya sambil nyengir sendiri.

‘Kalau nunggu dia inisiatif, kagak bakal berangkat-berangkat gue,’ batin Luz sambil memandangi tiket yang udah dikonfirmasi.

Dia nyengir puas. Healing ala Luz — liburan sekalian perang urat syaraf sama Karel. Mungkin ide yang baik untuk melepas beban pikiran.

Luz tertawa cekikikan. Saat ia hendak rebahan, suara ketukan pintu membuatnya bangkit. Siapa sih yang datang? Pas di buka ternyata ada yang mengantar dokumen penting. Setelah mengucapkan terima kasih, Luz masuk lagi dan membuka map coklat itu. Kartu keluarganya sudah jadi ternyata. Barusan dari kantor Pos baru mengirimkannya.

Tak lama Luz ngakak kenceng. Ya ngakak aja. Melihat nama Karel tertera sebagai kepala keluarga, kayak kocak gitu. Cuman ia makin salah fokus pas liat tanggal lahir Karel. Saking gak percayanya, ia melototin dan deketin deket banget. “What? Gue sama Karel beda 11 tahun---“

Tak percaya, sama sekali tidak. Luz menelan ludahnya dengan wajah melongo. “Dan bisa-bisanya muka dia kayak anak SMA?!”

Saking gak percayanya juga, Luz nyari buku nikahnya. Di samain, bener ternyata. Ia sampe nelpon Karel cuman buat nanya hal yang gak penting itu.

Karel juga heran dengan nada bicara Luz. “Emang kenapa? Bener kok itu.”

“Kirain kita seumuran. Soalnya---“ Luz memilih mengakhiri panggilan dan nanya di grup chat keluarga. Jawabannya benar.

...--✿✿✿--...

Sekarang Luz bener-bener excited menunggu Karel pulang. Sampe mandi dulu, dandan cantik, siapin makanan yang khusus dia buat sendiri. Meskipun banyak drama, gosong lah, lupa masukin salah satu rempah atau bumbu tapi ia pastikan rasanya enak.

Saking senengnya, ia sampe bukain pintu. Ambilin tasnya, bukain jas sama dasi. Senyum lebar, suara manja. Layaknya istri menyambut suami.

Melihat tingkahnya aneh. Karel jadi ngerti. “Gausah gini dulu kalo minta sesuatu. Bilang aja, mau apa?”

Kedua tangan Luz di letakkan di belakang, ia menggigit bibirnya dan mesem-mesem. “Jadi gini---“ Luz masih ragu.

Sampe Karel menatapnya heran. “Apa cepet cil!” Ia acak-acak rambutnya.

Dia menunjukkan layar handphone sambil ketawa kecil, ngomong setengah bercanda, padahal dalam hatinya deg-degan banget. “Gue beli dua tiket. Tadinya mau pergi sama besti, tapi... dia gabisa, sayangkan. Jadi lo aja ikut temenin gue, mau gak?” Padahal dia emang niat banget ngajak Karel.

Karel bengong sejenak, nanya lolos. “Gue?” — karena dia tahu Luz orangnya bukan tipe yang gampang berbagi rencana, langsung aja pergi biasanya juga tiba-tiba udah dimana.

Dalem hati Luz: ‘emang buat lo bego. Pake nanya.’

Udah ada firasat bakalan di tolak mentah-mentah, Luz langsung nemplok, meluk Karel dan merengek. Menangkup wajahnya dengan perasaan campur aduk. “Plis pliss ya lo gamaukan gue ke bawa ombak? Di culik om bule.”

Karel tertawa. Ia menurunkan tangan Luz. “Nah gitu dong heboh lagi aja gausah nangis cil.”

Dahi Luz mengerut. “Oke jadi ikut?!”

Karel tak menjawab, melengos pergi ke dapur ambil minum. Luz pun berjingkrak kegirangan padahal belum tahu jawabannya.

“Jangan girang dulu, gua gatau soalnya. Gak bisa ambil cuti kerja gitu aja, harus ambil jadwal. Gak mungkin semua kerjaan penting di tinggalin.” Karel tak sengaja melihat banyak makanan di meja, matanya melihat Luz yang berjalan menghampirinya.

Luz kecewa, jangan sampe rencananya gagal. “Itu gue yang masak, makan ya.” Setelah bicara langsung duduk. Niatnya mau nemenin makan doang sih.

Karel menghargainya, lagi pula udah laper. “Gak makan?” Luz menggeleng, dengan wajah tertekuk. “Udah?”

“Gamau.”

Karel berhenti mengambil makanan. “Kalo gitu gausah ke Bali, ntar lo sakit gara-gara gak makan.”

“Tapi kalo gue mau makan, kita ke Bali oke?” Luz sangat antusias, wajahnya balik berseri.

Karel memandangnya letih. “Gatau, tapi makan dulu. Sakit lagi, repot yang ada.”

Jadi gak tega liatnya. Dia kegirangan banget, kek gak ada beban hidup. Enjoy juga makan dengan lahap. Sampe lamunan Karel buyar, ia tersadar.

“Hm?”

“Jadi?” Luz melipat kedua tangan di atas meja dan duduk rapih, bola matanya sangat berbinar.

Karel spontan tersenyum dan mengangguk. Tanpa tahu konsekuensi yang akan ia hadapi saat mengambil keputusan, tanpa berpikir panjang.

“Emang berangkatnya kapan?”

“Besok.”

Karel langsung melotot. “B-besok? Kenapa mendadak banget, Cil?!”

Luz malah cengengesan kayak anak kecil habis ketahuan nyolong permen. “Kan lo tau sendiri, kalo nunggu gue mikir panjang, bisa batal mulu. Ini mumpung nekat.”

Karel mengusap wajahnya yang lelah. “Cil, kerjaan gue—“

“Ada internet di Bali, kan? Lo bisa remote!” potong Luz cepat, kayak udah siap sama semua jawaban Karel.

Karel mendesah panjang. Mau marah juga percuma, ngeliat Luz yang sumringah gitu, kayaknya udah nggak bisa dilarang lagi.

“Yaudah. Tapi janji, lu harus sehat, jangan bandel, jangan ngilang-ngilang.”

“Yeees, Boss!” Luz hampir melompat dari kursi, saking senengnya. Dia bahkan menoyor lengan Karel pelan dengan gemas.

“Jangan nyesel ya, ngajak gue,” gumam Karel sambil garuk-garuk kepala, setengah nyengir.

“Yang ada lo yang bakal ketagihan jalan bareng gue!” sahut Luz, percaya diri.

Di dalam hatinya, Luz berjanji ini bukan Cuma soal tanning, bukan cuma soal pantai atau sinar matahari. Ini tentang dirinya. Tentang menghidupkan lagi bagian dari dirinya yang hampir hilang.

Tentang mengingatkan dirinya sendiri. Kalau ia masih hidup. Masih Luz. Dan mungkin, tanpa sadar, ini juga tentang menghidupkan lagi sesuatu yang perlahan mulai tumbuh di antara dia dan Karel.

“Gue mau prepare dulu abis itu mau maskeran. Bye-bye!” Dia melambaikan tangan.

...--To Be Continued--...

Luz masih terdengar bersenandung ria dan tertawa cekikikan. Sementara Karel bimbang di kamar satu lagi yang ia jadikan ruang kerja, penuh berkas penting dan buku. Dia meremas jasnya, nahan napas lama.

Dia sempat mau batalin, ngerasa kayaknya ini bukan tempatnya tapi... entah kenapa, dia ragu. Apa harus ia mendadak cuti dan minta asistennya buat handle semuanya tapi dia juga gak enak buat nolak, dia ngerasa kayak berat malah cuti mendadak.

Karyawan-karyawan bisa sampe heboh, karena Karel jarang banget kayak gitu.

Karel nelpon asistennya sambil bernafas berat. “Saya titip semua jadwal. Urgent call aja yang boleh masuk. Yang lain... tahan dulu.”

“Tapi besok ada meeting penting sama investor. Kehadiran bapak sangat di perlukan.”

“Saya akan kirim file buat persentase besok, biar lancar.”

Setelah nelpon, dia diem lama. Ada perasaan berat, gak enak, gak yakin. Kaya bertanya ke dirinya sendiri kenapa gue ngelakuin ini buat dia?

Kenapa berat? Karena Karel tipe yang biasa kerjaan nomor satu.

Liburan mendadak demi perempuan yang dia sendiri juga belum tahu mau dibawa ke arah mana hubungan mereka.

Tapi dia tetep ngelakuin.

Diam-diam Karel pengen ada untuk Luz, apalagi setelah ngeliat Luz ngerasa sendirian banget. Dia merasa kasihan kalau adiknya apa-apa sendiri.

Mukanya datar, tapi tangannya gemetaran pas cek tiketnya.

Luz malah ketawa-ketawa, becandain dia yang keliatan kayak anak ilang.

“Tidur udah malem, besok liburan.”

Karel hanya meliriknya sekilas dan memijat kepala lagi, merasa di seret ke dunia Luz yang penuh warna, dan anehnya... dia enggan melihatnya sedih.

Yaudahlah udah terjadi. Ia keluar dari ruang kerja. Setelah konfirmasi ke asistennya ia bisa tidak hadir. “Oke ayo, tapi palingan cuman 3 hari.”

Luz langsung berlari dan naik ke tubuhnya meluk dia erat dan diem-diem ngerasa lega banget. “Thank you.”

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!