Azelia Jhonson gadis periang berusia 17 tahun, duduk di bangku sekolah menengah kelas sebelas, di usianya yang muda dia terlalu menjadi gadis ceroboh yang selalu mengalami hal-hal tak terduga dalam hidupnya, hingga dia bertemu dengan seorang pria bernama Andrew, semua berubah drastis dalam kehidupannya.
Dia lah Andrew Tan, pria satu sekolah dengan Azelia Jhonson bahkan mereka satu kelas, sifatnya berbeda dengan Azelia namun takdir mempertemukan mereka dengan cara-cara yang unik lebih tepatnya sebuah kesialan bagi keduanya bisa bertemu.
Karena kehendak sang nenek dan kakek mereka harus terjebak dalam pernikahan yang rumit, mulai dari pacaran palsu hingga perjodohan yang berakhir dengan pernikahan.
Kedekatan mereka berawal dari rumah yang bersebelahan,membuat keduanya terjebak dalam masalah yang lebih sulit.
Kisah cinta mereka akan di bumbui dengan persahabatan dan juga persaingan yang begitu mendebarkan, jadi tetap stay ya bersama author.
Mari kita simak kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dipta Erna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggoda
Pov Author
Zelia kini tengah duduk di ranjang mereka, saat ini Andrew sedang mandi di kamar mandi, pria itu menahan geloranya dengan susah payah setelah melihat pemandangan yang bisa membuatnya goyah, meski tak melihat seluruhnya namun Andrew bisa mengira bagaimana berisinya tubuh Zelia yang hanya di lilit oleh handuk tadi, meski dia tak secara terang-terangan melihat gadis itu, dia yang hanya melirik saja bisa merasakan panas dinginnya, apa lagi kalau sampai menyentuhnya.
"Matilah aku!" ucap Andrew sambil mengacak frustasi rambutnya,dia kini menghadapi masalah besar, terjebak satu rumah dengan wanita yang bisa menggoda keteguhannya.
"Kakek sialan!" ucap Andrew memaki kakeknya.
Haciiiuuh.
Sang kakek yang berada di rumahnya merasa ada yang sedang membicarakannya.
"Pasti anak nakal itu sedang berterima kasih padaku," batin sang kakek senang, bahkan senyumannya tak habis-habis setelah acara pernikahan Andrew dan Zelia.
Kembali ke kamar Andrew dan Zelia berada, Zelia yang sudah sangat lelah ingin segera tidur, namun dirinya merasa terancam akan keberadaan pria yang paling dia ingin hindari.
Andrew tampak keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di bagian pinggangnya, Zelia sempat melihat tubuh Andrew yang mulai terbentuk sempurna.
Saat sepasang mata milik pria itu mengetahui bahwa Zelia tengah menatapnya, gadis itu dengan cepat menelusup di balik selimut,mencoba menutup matanya agar segera terlelap.
Andrew hanya tersenyum simpul, usai memakai pakaiannya dia ikut merebahkan dirinya di samping Zelia, tak ada yang tahu bagaimana genderang jantung mereka berbunyi.
Pertama kalinya mereka berada dalam satu ruang,satu nafas dan bahkan satu selimut dengan lawan jenis.
"Zelia?" panggil Andrew pelan.
"Hemm," hanya deheman yang di lontarkan Zelia,dia sekarang sedang ketakutan jika saja Andrew akan mengambil hal paling berharga dalam hidupnya, kesuciannya, meskipun pria itu sangat berhak atas apa yang ada pada dirinya, namun Zelia belum rela jika yang mendapatkan adalah pria yang sama sekali tak dia sukai.
"Dengarkan aku!" ucap Andrew kembali.
Zelia membalikkan tubuhnya kini dia menghadap ke arah Andrew yang juga sedang berbaring miring ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Zelia penasaran.
"Mari kita buat perjanjian, jika hubungan kita ini hanya akan sampai kita lulus sekolah setelah itu kita kuliah dan bisa saling terbebas masing-masing."
Zelia sedang berfikir, terlihat dari kerutan di dahinya, entah wanita itu sadar atau tidak hal itu memancing Andrew untuk tidak gemas pada gadis itu, untung saja Andrew bisa menahannya untuk sementara.
"Baiklah aku setuju, tapi ada syarat yang ingin ku minta darimu!" ucap Zelia.
"Syarat? apa itu?"
"Jangan menyentuhku, kita menikah bukan atas dasar cinta dan juga kita bisa saling bebas jika di luar rumah, terserah kamu mau bersama siapa dan aku juga bersama siapa?" kamu paham?" Zelia tampak berekspresi kesal tapi malah terlihat imut di mata Andrew, bola mata gadis itu yang bulat sempurna, hidung mancung dengan bibir mungil yang tak berhenti berbicara membuat Andrew tak menghiraukan perkataan gadis itu, dia sedang sibuk menatap wajah Zelia yang begitu menggemaskan.
"Andrew!" panggil Zelia saat pria di depannya tak merespon ucapannya.
"Eh iya aku setuju!" entah apa yang Andrew setujui, bahkan dirinya tak begitu paham, yang dia ingat saling bebas di luar sana.
Mereka kemudian tidur saling memunggungi, lama mereka terjaga karena mata tak mampu menutup, padahal rasa lelah sudah menghinggapi mereka.