NovelToon NovelToon
AKU DAN CEO

AKU DAN CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / CEO / Tamat
Popularitas:248.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ayu Fitrianingsih

Kisah cinta dua orang insan yaitu seorang pria irit bicara dan tampan/ sang pemilik perusahaan terbesar nomor satu dengan seorang sekertaris cantik yang memiliki sifat manja.
"Asisten Han, apakah kamu menemukan wanita yang ku cari selama ini?" Tanya Bian.
"Belum, Tuan Bian," Sahut Han.
"Yasudah, keluar lah. Satu lagi, selalu cari informasi tetang wanita itu sampai dapat," Kata Bian.
"Baik, Tuan," Sahut Bian.

Dukung ceritanya ya!
HAPPY READING...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Fitrianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Trauma

Bian terdiam mendengar ucapan Dokter itu.

"Baiklah, Dokter," Sahut Bian.

"Kalau boleh tahu. Apa yang membuatnya trauma seperti ini, Pak?" Tanya Dokter itu.

"Ceritanya panjang, Dok. Intinya, ia sangat takut tempat yang sangat gelap dan juga takut dengan api yang besar," Sahut Bian.

"Dan tadi malam...," Bian menceritakan kejadian tadi malam pada Dokter itu.

"Begitulah ceritanya, Dok," Ucap Bian.

Dokter pun mengangguk paham.

"Kalau begitu, coba bapak menghilangkan traumanya dengan menunjukkan tempat-tempat yang gelap atau api yang besar. Tetapi, jangan secara tiba-tiba. Jika ia takut dan terus menutup matanya, cobalah untuk menenangkannya, menyemangatinya dan perlahan menyuruhnya membuka matanya. Jangan pernah meninggalkannya saat trauma nya kambuh," Tutur Dokter itu.

"Baiklah, Dokter. Akan saya coba," Sahut Bian.

"Ini resep obat yang harus di tebus," Dokter itu memberi satu lembar kertas yang sudah bertulisan resep obat.

"Terimakasih, Dok," Sahut Bian.

"Ohiya, Dokter. Kapan pasien bisa keluar rumah sakit?" Sambungnya.

"Sampai keadaannya membaik baru bisa pulang," Sahut Dokter dengan sopan.

"Baiklah, Dok. Kalau begitu saya permisi dulu," Sambungnya.

Bian dan Dokter itu berjabat tangan tanda saling menghormati dan menghargai atar sesama. Setelah itu, Bian keluar ruangan dan langsung menebus obat untuk Zena.

*****

Setelah selesai dari ruang UGD. Zena di pindahkan ke ruang rawat inap yang berfasilitas VIP, sesuai keinginan Bian.

Didalam ruangan itu, Zena masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Dan ditangan kiri Zena terpasang infus untuk menambah cairan dalam tubuhnya.

"Dibalik kecerewetan mu, Ternyata kamu memiliki trauma," Bian bergumam. Ia sedang duduk di kursi sebelah ranjang tempat Zena terbaring.

Satu jam kemudian, Zena sudah sadar dari pingsannya.

"Auuh," Zena merasa sakit pada kepalanya.

"Aku ada dimana?" Zena bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia melihat-lihat sekeliling ruangan.

"Eh, kamu sudah sadar," Ucap Bian yang baru keluar dari kamar mandi. Lalu, ia menghampiri Zena.

"Pak Bian. Kita ada dimana?" Tanya Zena pada Bian.

"Kita dirumah sakit," Sahut Bian.

Tiba-tiba, Zena duduk dan berusaha untuk turun dari ranjang.

"Kamu mau kemana?" Bian bertanya pada Zena.

"Saya mau keluar. Saya tidak mau disini," Sahut Zena. Kemudian ia ingin melepas infus ditangannya.

"Apa yang kamu lakukan? Itu sangat berbahaya," Sahut Bian. Ia menghalangi Zena membuka infus ditangannya.

"Saya tidak mau memakai ini. Saya tidak mau!!" Ucap Zena. Ia berteriak.

"Tenanglah. Tidak apa-apa," Sahut Bian seraya menggenggam tangan Zena.

"Percayalah pada saya!" Sambungnya.

"Tidak, aku tidak mau," Sahut Zena. Lalu, ia menghempaskan tangannya. Dengan cepat kilat, Zena melepas jarum infus yang masih menancap dipunggung tangan kirinya.

"Aaarggghh," Zena berteriak kesakitan.

"Zena, tenang dulu!, kamu paham," Bian berteriak.

"Tidak. Saya tidak mau. Saya mau pulang," Zena tidak bisa mengontrol dirinya. Zena mendorong Bian sampai terjatuh, sedangkan ia berdiri ingin keluar ruang rawat itu.

"Aahhh," Tiba-tiba Zena terjatuh ke lantai.

"Zena," Ucap Bian. Lalu, ia mendekati Zena dan membantunya untuk berdiri.

"Lepasin!!" Perintah Zena. Ia meronta-ronta.

"Aku benci rumah sakit. Keluarkan aku dari sini!"Zena berteriak histeris.

Lalu, Bian memeluk Zena sampai tidak bisa lagi meronta-ronta.

"Tenanglah!" Perintah Bian. Ia mengelus punggung Zena dan menc**m pucuk kepala Zena.

"Aku benci rumah sakit, benci," Gumamnya. Lama-kelamaan suaranya hilang.

"Zena," Panggil Bian.

Karena tidak ada jawaban, Bian melihat Zena. Ternyata Zena sudah pingsan. Dan mengankat Zena ke ranjang rumah sakit. Setelah itu, Bian memanggil dokter dan dokter itu memeriksa Zena, lalu memberikan suntikan penenang.

Setelah dokter siap memeriksa keadaan Zena, Bian meminta izin membawa Zena ke Villa nya dengan alasan tertentu, dan merawat Zena disana. Dan dokter pun mengizinkannya asalkan memakan obat yang dianjurkan oleh dokter dengan teratur.

*****

Sesampai Villa, Bian menggendong Zena kedalam kamarnya dan meletakkannya di ranjang.

"Apalagi rahasia yang kamu miliki," Gumam Bian. Ia masih bertanya-tanya apa yang membuat Zena benci dengan rumah sakit.

Bian pun duduk dan menunggu Zena sampai sadar dari pingsannya.

Tiba-tiba Zena sadar dari pingsannya.

"Zena, akhirnya kamu sudah sadar," Ucap Bian.

"Aku mau pulang. Aku mau pulang," Ucap Zena. Ia ingin turun dari ranjang. Ia tidak sadae jika ada Bian.

"Tenang, kita sudah tidak dirumah sakit lagi. Kita berada di Villa," Tutur Bian. Ia menenangkan Zena.

"Lihatlah, ini dikamar mu," Sambungnya.

Zena pun melihat sekeliling kamar itu. Dan ternyata benar itu kamar yang ia tempati selama di Villa.

"Sekarang kamu istirahat ya!" Perintah Bian pada Zena.

Zena pun menurut apa kata Bian.

"Kamu istirahat dulu. Saya mau nyiapin makan siang untukmu," Ucap Bian pada Zena. Zena pun mengangguk.

Bian meninggalkan Zena dikamarnya. Ia menuju dapur dan menyiapkan bubur untuk Zena.

*****

"Zena, ini makan buburnya!" Perintah Bian pada Zena.

"Kenapa harus bubur. Saya kan tidak sakit," Sahut Zena pada Bian.

"Pokoknya sekarang kamu harus makan bubur," Ucap Bian.

"Saya tidak mau. Saya mau makan makanan yang lain," Sahut Zena.

"Kalau tidak mau, sekalian saja tidak usah makan," Celetuk Bian.

"Yasudah. Saya tidak mau makan," Ucap Zena. Ia mengerucutkan bibirnya.

"Dasar gadis keras kepala!!" Ucap Bian. Ia sangat kesal pada Zena.

Bian pun meletakkan mangkuk bubur dengan keras diatas meja. Lalu, Bian keluar kamar Zena dengan membanting pintunya. Ia pun masuk kedalam kamarnya sendiri.

"Pak Bian pasti marah padaku," Batin Zena. Ia terdiam sejenak.

"Aku harus minta maaf," Gumamnya.

Zena pun keluar kamarnya dengan sempoyongan.

"Auuhh, kepalaku sakit," Gumam Zena.

Tetapi, Zena memaksakan dirinya untuk menemui Bian. Ia berjalan dengan berpegangan dinding.

*****

Sesampai depan kamar Bian, Zena mengetuk pintu kamar Bian.

"Pak Bian," Zena memanggil Bian dengan suara lirih.

"Pak Bian buka pintunya. Saya mau minta maaf," Sambungnya. Ia terus mengetuk pintu kamar Bian. Tetapi Bian tidak mendengarnya.

Sudah dua puluh menit Zena menunggu Bian membuka pintu kamar untuknya.

'Tok tok,"

Zena mengetuk pintu kamar Bian lagi.

"Pak Bian," Zena memanggil Bian lagi. Karena sudah tidak tahan berdiri. Ia pun duduk di lantai dan bersandar di pintu.

Bian yang baru siap mandi, mendengar ada yang memanggil namanya dan mengetuk pintu kamarnya.

'Klek'

Bian membuka pintu kamarnya. Zena pun terjatuh mengikuti pintu itu terbuka.

"Zena, apa yang kamu lakukan?" Ucap Bian. Ia terkejut melihat Zena sudah berada didepan kamarnya.

Bian pun menggendong Zena dan membawanya masuk kedalam kamarnya.

"Pak Bian, saya minta maaf," Ucap Zen dengan suara lirih.

"Suuut, jangan bicara lagi," Ucap Bian. Ia pun meletakkan Zena di atas ranjangnya.

"Minumlah dulu!" Perintah Bian pada Zena.

Zena pun minum air putih yang diberi oleh Bian.

"Kamu sudah berapa lama di depan kamar saya?" Tanya Bian pada Zena.

"Sepuluh menit setelah kamu keluar dari kamar saya," Sahut Zena pada Bian.

"Dasar gadis bodoh. Ngapain kamu menunggu saya. Kenapa kamu tidak balik lagi kekamar mu," Tutur Bian.

"Saya ingin minta maaf pada mu, Pak Bian. Dan saya tidak balik kekamar saya karena kepala saya sakit. Saya kesini karena saya paksakan demi untuk meminta maaf pada Bapak," Sahut Zena pada Bian.

*

*

*

*

*

Like, coment, vote

Bersambung...

1
pink magenta
awal cerita menarik penulisan lumayan rapih mungkin sedikit saran thor, untuk percakapan langsung jangan di Italic hurufnya, kecuali kalo berbicara dalam hati bisa di Italic untuk membedakan kalimat langsung sama yang gak langsungnya gitu thor hehe
maap ya thor bukan mau menggurui cuma sebagai pembaca jujur agak terganggu sedikit dengan cara penulisannya. tapi buat ceritanya mah menarik kok thor👍 semangat!!
Yupit Upik
smangat
sylvia rachman
buat season 2 thor
AF_Cemong: Akan di usahaakan.
makasih kak, udah dukung dan baca karya ini 🙂
total 1 replies
Ramadani Sapitri
kenapa belum update kak
Adhelie
visualnya dunk thor
Wahyuni Yuni
suka dg critanya,apa sampai dsini j critanya?
AF_Cemong: ditunggu aja thor. ceritanya pasti berlanjut kok 🙂
total 1 replies
Chococips
10 like tertinggal untukmu Thor semangat 😍 maaf baru mampir Thor semangatt terusss yaa:3 jangan lupa feedback "IPA IPS Jadi Penghalang" dan "REVLA":3
Chococips
2 like episode terbaru author semangat 😻 jangan lupa feedback nya "IPA IPS Jadi Penghalang":3 atau kecerita aku yang lain terimakasih:)
Devi Ardiansyah
next
Echa Adreena Zulfa
lanjut
sofyan chanel
lanjut dong
Echa Adreena Zulfa
lnjut dong
Nayyira
lanjut
uchiha madara
lanjut thor
Vania Anindya
lanjut thor...
Evi Hopipah
lanjut
Widyasari official
ceritanya hampir sma dengan drama china yg pernah aku nonton kak
Nora Yunetra
lanjut,, penasaran nih,,,
Lusialyana Klementina
lanjut
Yeyen Dhevan
hmmmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!