Anyelir, gadis pekerja keras yang tak mengandalkan orangtuanya dalam menata masa depan pilihannya sendiri. Tiba-tiba harus mengabulkan satu-satunya permintaan papanya yaitu menikah dengan anak teman papanya.
Diandra, seorang pengusaha yang ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya. Apakah kehadiran Anyelir mampu melupakan kekasihnya itu?
Atau mereka akan memilih jalan berbeda?
#slow update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jojo Natasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Doa Bersama (2)
Acara doa bersama dilaksanakan hari Sabtu, sekalian mengisi acara di malam Minggu. Orang tua Anyelir dan Diandra datang sejak pagi, membantu mempersiapkan segala sesuatu demi kesuksesan acara tersebut. Bi Asih juga ikut serta. Raditya, Bunga dan ibu mereka juga datang kemudian. Tak berapa lama, Kaisar datang bersama Mia dan dua bocil kesayangan Anyelir diikuti Bu Iyah dan Mang Udin, membawa bermacam-macam bahan makanan yang dipersiapkan oleh Bu Siti dan Pak Ahmat langsung dari PV. Mereka semua datang sebagai bala bantuan yang cukup handal. Selain itu Roni juga mengirim beberapa orang dari PF, dia tidak bisa hadir karena sedang mempersiapkan kelahiran anaknya yang tinggal menghitung hari. Belum lagi urusan PF yang harus dia selesaikan sebelum cuti.
Sebuah kejutan datang, adik Diandra yang selama ini belum pernah Anyelir temui karena sedang menempuh pendidikannya di Aussie bisa hadir di acara ini padahal waktu mereka menikah, gadis itu tidak bisa menghadirinya. Rumah kecil ini penuh sesak dengan kehadiran beberapa keluarga dan tetangga yang ternyata juga meluangkan membantu. Tapi menjadi saat yang menyenangkan bagi semua orang.
Mahardika hadir sebagai juru kunci ketika acara sore itu hampir dimulai. Namun kehadirannya tetap menjadi saat yang ditunggu semua orang. Anyelir begitu bahagia ketika Diandra membantu mengasuh Tiara dan Sidiq ketika Mia ikut disibukkan dengan keadaan di sana. Dua bocil itu begitu mudahnya akrab dengan Diandra, padahal selama ini mereka agak sulit untuk menerima kehadiran orang yang belum pernah mereka temui.
***
Hari telah begitu larut ketika semua orang pamit dari rumah mereka. Yang tinggal cuma Kaisar dan dua bocil yang sedang asik tertidur di kamar karena kelelahan. Mia memutuskan tinggal bersama Bi Iyah dan Mang Udin dan tidur di atas sofa ruang tamu setelah memastikan Kaisar bersedia tidur bersama dua bocil itu. Dan sekarang Anyelir dan Diandra berbaring di atas ranjang kamar mereka. Merebahkan tubuh mereka yang lelah.
" Ternyata seru ya Fir ketika kita mempersiapkan sebuah acara sendiri. Ada kepuasan yang berbeda ketika kita melihat hasil dari apa yg sudah kita kerjakan."
" Bener banget Mas. Itulah sebabnya, aku selalu berusaha melakukan segala sesuatu sendiri kecuali memang sudah tidak mampu."
" Kamu sering menyibukkan dirimu seperti ini Fir?"
" Ya beberapa kali."
" Terimakasih ya." Ucap Diandra sambil memeluk Anyelir begitu erat.
" Untuk apa Mas."
" Untuk semuanya karena kamu sudah mau menjadi bagian dari hidupku." Ucap Diandra tulus.
" Terimakasih juga Mas, sudah mau menerima aku menjadi bagian dari hidupmu." Anyelir membalas pelukan Diandra sama eratnya.
" O ya Mas. Gimana rasanya kenal dengan anak-anakku?" Tanya Anyelir sambil mendongakkan kepalanya di bawah dagu Diandra.
" Mereka anak-anak yang istimewa. Aku rasa aku mulai paham alasan kamu memilih mereka."
" Ada kebahagiaan ketika bersama mereka Mas."
" Aku tahu itu. Ayo kita istirahat. Kamu pasti lelah. Selamat tidur Zafira." Ucap Diandra sambil mengecup kening Anyelir dan semakin erat membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.
" Selamat tidur Mas."
***
Keesokan paginya mereka disibukkan dengan kegiatan beberes di beberapa bagian. Mengembalikan rumah itu ke keadaan semula. Diandra lebih memilih bermain dengan dua bocil yang mulai memanggilnya Ayah. Entah mengapa Diandra begitu menyukainya ketika mereka memanggilnya Ayah. Diandra berpikir apakah begini rasanya memiliki seorang anak? Ada perasaan begitu bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dan saat itu Diandra mulai berpikir untuk memiliki anak dengan Anyelir. Perempuan yang sangat pantas untuk menjadi ibu dari anak-anaknya. Sebab anak orang lain saja begitu dia sayangi, apalagi anak mereka sendiri. Tentu Anyelir akan lebih mencurahkan seluruh kasih sayangnya.
" Ayah...Tiara mau juga digendong, masak sidiq aja yang digendong." Rengek gadis kecil dismping Diandra.
" Anak Ayah. Mau gendong juga ya? Sini sayang." Diandra membawa gadis itu dalam gendongannya.
" Ku..da..kuda..Ayah ku..da." pinta Sidiq yang seperti tidak rela melihat Tiara yang juga digendong oleh Anyelir.
" Kuda?"
" Sidiq pengen Ayah jadi kuda?"
" Ya..ya..ya..kuda."
Untuk pertama kalinya dalam hidup Diandra bertingkah seperti kuda yang ditunggangi dua bocil yang begitu kegirangan. Walau terasa sakit di pinggangnya, Diandra begitu menikmati momen ini. Melihat wajah Diandra yang sudah begitu terlihat lelah sedang dia bocil itu masih dalam semangat yang berkobar membuat Anyelir merasa iba dan menghampiri mereka.
" Tiara, Sidiq kita makan puding dulu yuk. Ayah juga mau makan puding kan yah?" Perkataan Anyelir seperti pertolongan yang sangat dinantikan Diandra. Dua bocil itu langsung turun dari pinggang Diandra, kemudian berlari menuju puding yang dibawa Anyelir.
"Mandilah dulu Mas. Pasti kamu capek mengurus mereka. Pekerjaan rumah juga udah selesai."
" Bentar lagi lah masih keringatan." Diandra mengibas-ngibaskan tangannnya dengan maksud menambah angin yang bisa menyegarkannya, padahal AC menyala di tempat itu.
" Maaf ya kalau mereka merepotkan kamu. Dua bocil ini memang lebih atraktif dari yang lainnya."
" Tapi aku suka Fir. Dah gak sabar pengen punya anak sendiri sama kamu."
Anyelir tak mampu berkata-kata untuk menjawab perkataan Diandra. Ada sesuatu yang terasa belum benar. Mengapa mereka membicarakan anak saat ini. Sedang cinta di antara mereka belum benar-benar ada. Baru saling merasa nyaman. Apa ini tidak terlalu cepat?
***
Senin pagi banyak orang disibukkan dengan rutinitas kerjanya yang biasanya padat. Diandra dan Anyelir hampir berbarengan keluar rumah menuju perusahaan masing-masing. Hari ini Anyelir ada beberapa agenda rapat yang sudah dia tunda beberapa hari ini. Untuk beberapa hari ke depan Anyelir harus menyelesaikan pekerjaannya sendiri karena Monica dikabarkan akan menjalani operasi hari ini. Jadi Roni akan total menjaga istrinya sesuai perintah Anyelir yang juga harapan Monica.
~Mas, kelihatannya beberapa hari ini aku bakal gak bisa pulang. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Roni sedang cuti. Jadi aku yang harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sendiri~
Sebuah pesan masuk ke telepon Diandra. Diandra sedikit merenung sebelum membalas pesan istrinya itu.
~Iya gak papa. Selesaikan aja dulu kerjaan kamu. Mungkin selama kamu gak pulang aku bakal tidur di apartemen aja. Selamat bekerja istriku~
Anyelir tertawa-tawa sendiri membaca pesan Diandra. Tapi jarinya tetap juga mengetik balasannya.
~Baiklah suamiku. Jangan rindu ya~
Balas Anyelir dengan tambahan emot lucu. Mereka terlihat begitu bahagia dengan percakapan kecil mereka pagi ini. Tak berapa lama sebuah pesan masuk kembali ke telepon milik Diandra. Diandra mengira Anyelir masih melanjutkan menggodanya. Tapi ternyata pesan itu bukan berasal dari orang yang diharapkannya.
~Di. Aku pulang. Aku kangen.~
tbc
Dukung author dengan like 👍, vote 🌟 dan komen 🗣️ ya😀😀
lanjut ya author aku menunggu mu😘
kirain dah pada pindahan semua 🤭