Zea telah berjanji pada dirinya untuk menutup hatinya rapat-rapat dan tidak ingin menjalin sebuah hubungan baru, dia tidak ingin lagi mengenal apa itu Cinta karena penghianatan yang pernah di alaminya.
Tapi karena ancaman yang di lakukan seorang pria asing yang tidak dia kenal dan memaksanya untuk menikahi dirinya dan pada akhirnya zea dengan terpaksa menikah.
Namun siapa sangka pernikahan yang di alami zea adalah sebuah neraka baginya, karena pria yang telah me jadi suaminya tersebut memiliki tujuan balas dendam pada keluarga zea hingga zea harus menjalani takdir hidup yang begitu menyakitkan hati dan fisiknya.
Next....
NB: ini cerita menguras air mata gaes siapkan tissue yah, dan menguras emosi dengan kelakuan bejat alvaro
•
•
•
•
Selamat membaca karya pertamaku 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Mdf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Mengapa kamu tidak melepasku, bertahan pun rasanya seolah asing, aku bahkan tidak mengenalmu. jika kau tak dapat membuat bahagia setidaknya jangan membuat luka...
✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰
Keesokan harinya tepat pukul 09.00 zea terlihat sedang sibuk untuk berkemas di kamarnya memilih barang yang akan di bawanya ke rumah alvaro.
"Tidak perlu membawa banyak barang, asisteku sudah menyiapkan pakaian untukmu di rumahku." ucap alvaro ketika melihat zea yang sedang fokus menyiapkan barang barangnya.
Zea menjawab dengan anggukan saja, dan setelah zea mengemas barang yang akan di bawanya zea segera membawa kopernya keluar kamar dan turun ke lantai bawah untuk menemui mama rini.
Alvaro yang hanya melihat gerak gerik zea sejak tadi sama sekali tidak berniat untuk membantunya.
"Aku sudah membayar suster dan asisten rumah tangga untuk merawat ibumu, jadi kamu tidak perlu khawatirkan ibu mu." Ucap alvaro.
Langkah zea terhenti ketika mendengar ucapan alvaro dan berbalik badan untuk melihat alvaro.
"Terimakasih." Balas zea.
"Jadi tidak ada alasan untuk menolak apa pun perintahku ketika aku membutuhkanmu saat sudah berada di rumah milik ku." Seru alvaro dengan penuh penakan.
Zea hanya diam mendengar penuturan alvaro, itu artinya dia tidak di ijinkan untuk leluasa menjenguk mama rini.
"Kenapa hanya diam, cepat bawa barang barang mu menuju mobil kita akan berangkat sekarang."
Zea langsung melangkahkan kakinya meninggalkan kamarnya tanpa membalas ucapan alvaro.
Ketika sampai ke lantai bawah untuk menemui mama rini zea melihat dua orang wanita, yang satunya seorang wanita paruh baya dan yang satunya seorang wanita yang masih terlihat cukup mudah dan menggunakan seragam suster.
mungkin ini yang di maksud oleh alvaro. pikir zea
"Mama, apa mereka yang akan mengurus mama nanti di sini?" Tanya zea
"Iya nak mereka ada orang orang suruhan suamimu yang akan mengurus dan menemani mama di rumah ini selama kau berada di rumah alvaro." jawab mama rini.
"Tapi tetap saja mama akan kesepian ketika tidak ada kamu nak."
Zea yang mendengar penuturan mama rini merasa sedih.
"Aku janji akan se sering mungkin akan menemui mama di rumah ini, dan zea minta restu mama ijinkan zea untuk mengabdi pada suami zea ya ma." Ucap zea seraya menggenggam tangan mama rini.
Mama rini hanya mengangguk paham akan ucapan anaknya.
"Mama akan mendukung apapun keputusanmu, semoga kamu berbahagia dan jangan pernah membantah apapun kata suami mu selagi itu hal hal yang baik dan jadilah istri yang baik nak."
Zea langsung memeluk mama rini rasanya tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian di rumah ini.
"Oh iya perkenalkan ini bi siti dia yang akan mengurus dapur dan yang akan menghendel rumah dan yang ini mbak Dewi suster yang akan merawat mama dan mengantar mama ke mana mana jika ingin kontrol atau keperluan lainnya." Ucap mama rini memperkenalkan dua orang wanita yang aka mengabdi bersamanya.
"Dan di luar ada supir juga untuk mengantar mama jika ingin berpergian, jadi kamu tidak perlu menghawatirkan mama." Kata mama rini lagi.
Zea sedikit merasa lega sekarang ada yang menemani ibunya di tambah lagi dengan supir, jadi zea tidak perlu terlalu hawatir.
"Mama baik baik ya di rumah, insyaallah kalau zea ada waktu aku akan sering sering berkunjung ke sini dan bi siti bersama mbak Dewi tolong jaga mama ya." seru zea.
*******
Supir sudah menunggu sejak tadi di depan rumah zea untuk membawa mereka menuju kediaman alvaro.
Alvaro menemui mama rini untuk berpamitan
"Kami akan berangkat sekarang, saya dan zea akan pamit." ucap alvaro tanpa basa basi.
Mama rini hanya tersenyum menanggapi alvaro.
"Tolong jaga zea baik baik." Ucap mama rini.
"Dia akan aman bersamaku, tante tidak perlu mengkhawatirkannya, dan dua orang wanita ini akan menemani tante di rumah ini dan menyiapkan segala keperluan tante, ada supir yang akan mengantar tante jika ingin berpergian." Tutur alvaro.
Tidak lama setelah itu alvaro dan zea sudah menaiki mobil dan meninggalkan halaman rumah zea.
selama perjalan zea dan alvaro tidak berniat untuk mengeluarkan suara, keduanya saling berdiam.
Dua puluh menit menghabiskan waktu di perjalanan zea dan alvaro telah sampai.
Alvaro yang lebih dulu beranjak dari mobil dan menuju ke dalam rumah tanpa menghiraukan zea untuk membawa kopernya.
"Selamat datang tuan dan nona." Ucap seorang ART menyambut majikannya melihat alvaro memasuki kediamannya yang di susul oleh zea di belakangnya.
"Apa kamarku sudah di siapkan." Saut alvaro datar.
"Sudah tuan, kami sudah menyiapkan kamar nona zea juga."
Kemudian alvaro melenggang pergi meninggalkan ART tersebut, dan segera menuju kamarnya.
Seorang ART menawarkan bantuan kepada zea yang sedang membawa kopernya.
"Biar saya saja yang membawanya non, karna sudah menjadi tugas saya." Kata Art tersebut.
Zea hanya menggeleng dan menampilkan senyumnya.
"Terimakasih bi, biar saya saja bi." sahut zea.
ART tersebut merasa tidak nyaman dengan penolakan zea, karena bagaimana pun itu sudah menjadi tugasnya.
Zea sejenak menghentikan langkahnya mengedarkan pandangannya.
"Bi kamar ka alvaro di mana.?" Tanya zea.
"Kamar tuan alvaro ada di lantai atas non, kamar nomor dua dari sebelah kanan." Jelas bi muna.
Zea mengangguk dan melanjutkan langkahnya untuk menuju kamar alvaro.
Setelah sampai di depan pintu kamar yang di sebutkan oleh bi muna tadi, zea menghentikan langkahnya. ada rasa ragu yang mengganggunya.
Tok tok tok..
"Kak apa zea boleh masuk.?"
Alvaro yang sedang fokus dengan leptopnya merasa terganggu dan langsung beranjak untuk membuka pintu.
"Ada perlu apa dan kenapa kamu membawa kopermu ke kamar ku .?" tanya alvaro dengan nada datar.
Pertanyaan alvaro membuat zea merasa heran.
"Apa saya boleh masuk, saya akan menata pakaian." sahut zea dengan percaya diri.
"Apa maksudmu, jangan berharap kamu bisa tidur di kamar ini, sampai kapan pun aku tidak akan mengijinkan mu tidur di kamar ini, apa lagi sekamar dengan mu." Ucap alvaro yang membuat zea kaget mendengarnya.
'Maaf kak, jadi kamar zea di mana.?" Sahut zea.
Zea yang mendengar pernyataan seperti itu dari alvaro rasa ingin sekali menumpahkan air matanya, apa tujuannya alvaro menikahinya jika perlakuannya hanya seperti ini. pikir zea
"Bi munaa..!!! " suara alvaro dengan nada emosi dia memanggil seorang ART.
Tidak membutuhkan waktu lama bi muna dengan segera menghampiri alvaro.
"Tunjukan kamar untuk wanita ini, jangan biarkan dia berkeliaran di lantai atas ini aku tidak suka melihatnya." Sarkas alvaro dengan penuh emosi.
Bi muna yang mendengarkan hanya mengangguk patuh.
Sementara zea sebisa mungkin menahan tangisnya agar tidak tumpah di depan dua orang yang ada di hadapannya sekarang.
"Ayo non, saya tunjukan kamarnya." Ucap bi muna sambil mengambil alih koper yang di bawah oleh zea dan melangkah menuju lantai bawah.
Zea hanya mengangguk mengikuti arah langkah bi munah.
"Jangan tempati kamar tamu." Titah alvaro lagi. dan segera menutup pintu kamarnya.
Bi muna menunjukan pada zea sebuah kamar yang tidak jauh dari dapur, tepatnya alah satu kamar seorang aisten rumah tangga. tapi tidak pernah di gunakan. karena semua Art yang ada di rumah alvaro ada kamar khusus yang terletak di halaman belakang rumah milik alvaro.
Kamar yang tidak pernah di tempati, memiliki satu lemari yang hanya dua pintu dan juga tempat tidur yang ber ukuran kecil hanya bisa menampung satu orang saja.
"Non tunggu di luar saja ya biar bibi yang membersihkan dulu." Ucap bi munah.
"Biar zea saja yang bersihkan bi." sahut zea merasa tidak enak dengan bi muna.
"Ini sudah tugas saya non."
Zea dengan terpaksa menuruti perkataan bi munah dan menunggu di luar saja.
"Ya allah apa maksudnya ini, kenapa hidupku semakin rumit seperti ini dan sampai berapa lama aku akan hidup dalam ikatan pernikahan yang seperti ini." batin zea dalam hati, berusaha kuat menerima takdirnya.
★
★
★
★
★
Bersambung...
Terimakasih sudah baca kelanjutannya,, jangan lupa like dan koment sebelum next ya kak, dan mohon ke ikhlasannya untuk beri vote. 😊🙏🙏