Sinopsis:
Choi Daehyun—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah 5 tahun menghindari dunia hiburan.
“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai kekasihku,” kata Choi Daehyun pada diriku yang di depannya.
Namaku Sheryn alias Lee Hae-jin—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Choi Daehyun sejak awal, namun sedikit pun aku tidak terkesan.
Aku mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.”
Awalnya Choi Daehyun tidak curiga kenapa aku langsung menerima tawarannya. Sementara aku hanya bisa berharap aku tidak akan menyesali keputusanku terlibat dengan Choi Daehyun.
Hari-hari musim panas sebagai “kekasih” Choi Daehyun dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun aku ataupun Choi Daehyun tidak menyadari kebenaran kisah lima tahun lalu sedang mengejar kami.
🌸𝐃𝐈𝐋𝐀𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐑𝐀𝐒 𝐂𝐎𝐏𝐘
🌸𝐊𝐀𝐑𝐘𝐀 𝐀𝐒𝐋𝐈 𝐀𝐔𝐓𝐇𝐎𝐑/𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓
🌸𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Ketika membuka mata keesokan harinya, Sheryn tertegun sejenak sebelum menyadari ia sedang berada di rumah Choi Daehyun. Ia bangun dan duduk bersila di tempat tidur.
Otaknya memutar kembali kejadian semalam. Ia tidak bisa melukiskan perasaannya ketika kebakaran itu terjadi. Sepertinya saat itu ia dalam keadaan setengah sadar karena entah bagaimana ia sudah keluar dari gedung dan berdiri di tepi jalan. Semuanya terjadi begitu cepat dan samar. Dalam sekejap ia sudah tidak punya apa-apa lagi.
Sejak menyadari gedungnya terbakar, hati Sheryn diserang rasa panik, namun ia tahu ia harus tetap kuat dan tenang karena ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Namun ketika ia berdiri kebingungan di tepi jalan sambil memandang apartemennya yang terbakar, Choi Daehyun datang. Sheryn merasa begitu lega melihat pria itu. Tiba-tiba ia tahu ia tidak perlu memasang sikap tegar dan tidak perlu berpura-pura takut. Ia bisa melepaskan sedikit ketegangan dalam dirinya. Ia tidak sendirian lagi.
Apa yang sedang kupikirkan? Sheryn menggeleng-geleng. Sudah jam berapa sekarang? Ia melihat jam kecil yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya. Ternyata sudah pukul 09.25
Sheryn turun dari tempat tidur dan memandang ke sekelilingnya. Kira-kira pintu apa di situ? Kamar mandi? Ketika Sheryn memutar kenopnya, ternyata memang benar itu pintu kamar mandi.
Kamar mandinya cukup besar, ada bak mandi dan pancuran. Di sana juga sudah tersedia keperluan dasar seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi, dan handuk. Ternyata mereka sudah mempersiapkan semuanya bagi tamu yang mungkin datang menginap.
Kemarin Sheryn tidak memakai kamar mandi yang ini, tapi kamar mandi lain di lantai bawah, jadi ia cukup terkesan. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, ia turun ke lantai bawah. Ia menuruni tangga dengan perlahan sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
“Sudah bangun?”
Sheryn terlompat kaget mendengar suara Choi Daehyun. Ternyata laki-laki itu sedang duduk di meja makan sambil tersenyum kepadanya. Ia tidak sendirian. Park Hyun-Shik juga duduk di sana sambil memegang surat kabar pagi.
“Oh, Paman sudah datang?” Sheryn menghampiri mereka berdua.
“Maaf, aku terlambat bangun.” Ia agak risih karena Park Hyun-Shik terus menatapnya dengan pandangan penuh arti.
Meski bisa menduga paman yang satu itu sedang memandangi pakaiannya, ia bertanya juga, “Paman, kenapa melihatku seperti itu?”
Park Hyun-Shik tersenyum dan menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku lega kau tidak terluka. Ayo duduk. Mau sarapan? Ini ada roti.”
“Terima kasih.”
Park Hyun-Shik melipat koran dan meletakkannya di meja. “Tadi pagi aku mampir ke gedung apartemenmu. Kelihatannya buruk. Kurasa tidak ada yang tersisa. Aku dengar dari Daehyun apinya berasal dari apartemen di sebelah apartemenmu?”
Sheryn mengangguk.
“Kalau begitu, kurasa tidak ada lagi yang bisa diharapkan.”
Sheryn mendesah dan mengerutkan kening dengan cemas.
“Apa rencanamu selanjutnya?” Park Hyun-Shik bertanya.
Sheryn memandangnya. “Belum tahu. Mencari tempat tinggal baru mungkin. Aku masih punya uang di bank, tapi…”
“Kau akan tinggal di mana? Bisa tinggal bersama teman?”
Sheryn berpikir-pikir. “Temanku hanya Na Minjie dan dia pasti akan mengizinkan aku tinggal di rumahnya untuk sementara. Masalahnya, rumahnya tidak besar dan selain dia dan orangtuanya, masih ada dua adik laki-laki. Kalau aku tinggal di sana, kurasa aku hanya akan merepotkan mereka.”
Park Hyun-Shik menatap Choi Daehyun, lalu kembali menatap Sheryn. “Bagaimana kalau kau tinggal di sini saja dulu untuk sementara?”
Sheryn tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke arah Choi Daehyun dan buru-buru menjawab, “Oh, itu tidak perlu. Itu—“
“Kenapa tidak di rumah Hyung saja?” sela Choi Daehyun.
Park Hyun-Shik tertawa kecil. “Kau tahu sendiri di apartemenku hanya ada satu kamar tidur. Kau mau dia tidur sekamar denganku? Di rumahmu ini ada banyak kamar, jadi seharusnya tidak ada masalah.”
Sheryn merasa wajahnya panas. Apa yang sedang mereka bicarakan? “Tidak, itu tidak perlu,” katanya.
“Aku akan segera mencari tempat tinggal baru.”
Choi Daehyun mengerutkan dahi dan memandangnya. “Kau kira kau bisa mendapatkan tempat tinggal yang cocok dalam satu hari?”
“Soal itu…” Sheryn tidak tahu harus berkata apa.
Choi Daehyun akhirnya mengangguk dan mendesah. “Kurasa yang dikatakan Hyung benar.”
Park Hyun-Shik menyandarkan punggung ke kursi dan melipat tangan di depan dada.
“Baiklah, kita putuskan begitu saja. Untuk sementara Sheryn akan tinggal di sini sambil mencari tempat tinggal baru. Tentu saja aku juga akan membantumu mencari. Katakan saja padaku tempat seperti apa yang kau inginkan.”
“Ini…,” Sheryn memandang Choi Daehyun.
“Tapi aku… Apakah tidak apa-apa?”
Choi Daehyun mengangkat bahu. “Kurasa kau tidak punya pilihan lain, kan? Atau kau mau pulang ke Indonesia?”
“Aku masih harus kuliah.”
“Kalau begitu, kau memang tidak punya pilihan,” kata Choi Daehyun.
“Tapi…”
Choi Daehyun menatapnya. “Kenapa? Kau takut padaku?”
Sheryn membelalakkan mata. “Ah, tidak. Bukan begitu.”
Park Hyun-Shik tertawa dan berkata pada Sheryn, “Kau boleh tenang, Sheryn. Kau pastinya juga sudah tahu Daehyun digosipkan sebagai gay, bukan playboy.”
Sontak wajah Daehyun menampilkan ekspresi kesal. Sheryn ikut tertawa melihat raut wajahnya. Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu. Choi Daehyun bangkit dari kursi dan berjalan
ke pintu.
Lalu, “Oi, Sheryn,” panggilnya.
“Ada apa?” Sheryn berdiri dan menyusulnya ke pintu.
Choi Daehyun menunjuk ke monitor kecil di samping pintu. Ternyata monitor itu menunjukkan siapa yang sedang berada di depan pintu rumah. Sheryn melihat wajah gadis bermata sipit dengan rambut dikucir dan tangan memeluk kantong kertas.
“Itu temanmu?” tanya Choi Daehyun memastikan.
“Ya. Itu Minjie,” kata Sheryn.
Sheryn bisa melihat temannya nyaris pingsan karena sesak napas begitu mendapati Choi Daehyun yang membukakan pintu untuknya. Mata Minjie yang sipit melebar dan salah satu tangannya langsung naik ke dada seakan untuk menahan jantungnya supaya tidak jatuh.
“Minjie, kau tidak apa-apa?” tegur Sheryn sambil menyentuh lengan Minjie yang tiba-tiba kaku.
Dengan agak tergagap-gagap, Minjie mengucapkan selamat pagi kepada Choi Daehyun sambil membungkukkan badan. Choi Daehyun membalas salamnya dan mempersilakannya masuk.
“Astaga, aku tidak percaya ini,” bisik Minjie ketika ia duduk di sofa panjang ruang duduk dan melihat ke sekeliling. Saat itu Choi Daehyun sudah berjalan kembali ke ruang makan, meninggalkan mereka berdua di ruang duduk.
“Kenapa kau ini?” goda Sheryn sambil menyikut lengan temannya.
Minjie menatap Sheryn dengan mata berbinar-binar. “Aku tidak percaya aku baru saja bertemu Choi Daehyun dan sekarang berada di dalam rumahnya. Aku duduk di sofanya. Aku menginjak lantai rumahnya. Astaga! Hei, kenapa kemarin kau tidak bilang kau berada di rumah Choi Daehyun?”
Sheryn meringis melihat tingkah temannya. “Hei, temanmu ini baru mengalami bencana.”
Minjie berpaling dengan cepat ke arah Sheryn. “Oh, ya, maaf. Aku lega kau tidak apa-apa. Ini ku bawakan beberapa pakaian. Pakaian dalam juga. Pakaian dalamnya baru ku beli tadi pagi. Baju-baju itu punyaku. Ukurannya pasti cocok untukmu.”
Sheryn menerima kantong kertas yang disodorkan Minjie. “Terima kasih banyak. Aku pasti akan mengembalikannya nanti.”
Minjie mengibaskan tangan. “Tidak usah dipikirkan. Lalu selanjutnya bagaimana?”
Alis Sheryn terangkat. “Mm?”
“Kau tahu kau bisa tinggal di rumah kami. Kami tidak akan keberatan sama sekali.”
Sheryn tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih banyak. Tapi kurasa tidak perlu. Aku pasti hanya akan merepotkan kalian.”
Mata Minjie melebar. “Merepotkan bagaimana? Kau boleh tidur denganku Na Mijoon dan Na Minho bisa pindah tidur di ruang tengah—“
“Mana mungkin aku membiarkan adik-adikmu tidur di ruang tengah?” sela Sheryn.
“Aku tahu kalian akan dengan senang hati menerimaku, tapi aku sendiri akan merasa tidak enak kalau begitu.”
Minjie terdiam sesaat, lalu berkata, “Kalau begitu kau akan tinggal di mana?”
Sheryn berdeham. “Aku akan mencari tempat tinggal baru.”
“Hei, kau kira kau bisa mendapatkan tempat tinggal baru dalam satu hari? Selama kau mencari kau akan tinggal di mana?”
Nah, kenapa kata-kata temannya ini persis seperti kata-kata Choi Daehyun? Sheryn memiringkan kepala dan berkata ragu,
“Kurasa aku akan tinggal di… sini…”
Sheryn melihat Minjie menahan napas dan menatapnya kaget. Lalu Minjie mengerjapkan mata. “Di sini? Di rumah Choi Daehyun?”
“Di sini banyak kamar kosong,” Sheryn mengulangi kata-kata Paman Park Hyun-Shik tadi.
“Jadi kurasa… Ah, lagi pula Choi Daehyun ssi yang menawarkan.”
Tidak, sebenarnya tidak persis begitu, tapi kira-kira seperti itulah.
“Kau yakin?” tanya Minjie ragu.
“Aku tidak punya pilihan lain.” Kali ini giliran kata-kata Choi Daehyun yang Sheryn pinjam.
Tepat pada saat itu Park Hyun-Shik masuk ke ruang duduk bersama Choi Daehyun. Minjie yang melihat kedatang mereka langsung melompat berdiri seperti disengah lebah.
Park Hyun-Shik pun menyunggingkan senyumnya yang menawan.
“Kau teman Sheryn?” tanyanya ramah.
“Apa kabar? Namaku Park Hyun-Shik.”
Sheryn agak geli melihat temannya yang biasanya begitu cerdas tiba-tiba berubah menjadi agar-agar di depan dua pria tampan.
“Ehm… Apa kabar? … N-nama saya Na Minjie.”
“Tidak usah bersikap resmi seperti itu,” kata Park Hyun-Shik.
“Kau teman Sheryn, itu artinya kau teman kami juga. Oh ya, apakah Sheryn sudah mengatakan padamu dia akan tinggal di sini untuk sementara?”
Minjie melirik Sheryn dan menjawab, “Sudah, tentu saja sudah. Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa.”
“Terima kasih banyak. Kami sangat menghargainya.”
Choi Daehyun juga ikut tersenyum kepada Minjie dan Sheryn merasa temannya sudah hampir ambruk ke lantai.
“Maaf, tidak bisa mengobrol denganmu. Kami harus pergi sekarang, tapi kau bisa menemani Sheryn di sini. Pasti kalian ingin mengobrol banyak. Anggap saja rumah sendiri.”
“Ooh… tentu saja. Terima kasih,” bisik Minjie sambil tersenyum lebar.
Choi Daehyunberpaling kepada Sheryn. “Apa yang akan kau lakukan hari ini?”
“Nanti aku akan keluar sebentar. Ada yang harus ku beli,” kata Sheryn.
“Aku juga ingin mampir dan melihat kondisi apartemenku.”
“Sendiri?”
“Oh, Minjie akan menemaniku. Ya, kan?”
Minjie cepat-cepat mengangguk dan memasang senyum termanisnya ketika Choi Daehyun berpaling memandangnya. Choi Daehyun mengangguk dan kembali menatap Sheryn.
“Baiklah, kunci cadangan ada di laci sebelah sana. Jangan lupa mengunci pintu kalau kau keluar. Aku akan meneleponmu nanti. Aku pergi dulu.”
Keempat orang itu saling bertukar kalimat “selamat jalan dan sampai nanti”
Lalu setelah kedua laki-laki itu pergi dengan mobil masing-masing, seperti air bah, Minjie menumpahkan semua kata yang dipendamnya sejak tadi, “Wah, mereka berdua tampan sekali. Yang satu lagi itu siapa? Artis juga?”
Sandy tertawa. “Bukan, paman itu manajer Choi Daehyun.”
Minjie mengangguk-angguk. “Manajernya? Namanya Park Hyun-Shik, ya? Tapi kenapa kau memanggilnya paman? Dia masih muda begitu.”
Sheryn hanya menggeleng dan tersenyum.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Sheryn ketika melihat Young-Mi menatapnya dengan mata disipitkan.
"Aku ingin tanya, kau yakin tidak ada hubungan istimewa antara kau dan Choi Daehyun? Kau hanya menjadi pacarnya dalam foto? Hanya itu?"
"Begitulah. Kenapa?”
“Kau yakin? Lalu kenapa aku merasa kalian terlihat seperti suami-istri. Dan— astaga, aku baru sadar kau memakai pakaian laki-laki. Pakaiannya?”
Sheryn menunduk memandang baju Daehyun yang kebesaran untuknya. Bingung.harus berkata apa. Untungnya Sheryn tidak perlu menjawab karena Young-Mi tiba-tiba berkata,
“Oh ya, aku hampir lupa memberitahumu Han Eunho meneleponku kemarin malam.”
Sheryn mengangkat wajahnya. “Oh?”
Minjie melanjutkan, “Karena tidak bisa menghubungimu, dia meneleponku untuk menanyakan kabarmu. Kukatakan padanya kau tidak apa-apa, tapi kemudian dia ingin tahu kau berada di mana.”
“Kau bilang apa?”
“Tidak bilang apa-apa. Kemarin malam kupikir kau bermalam di rumah salah seorang temanmu atau semacamnya. Itu yang kukatakan pada Han Eunho. Hari ini aku baru tahu kau ada di rumah Choi Daehyun.”
“Kau tidak akan memberitahunya, kan?”
“Memangnya aku bodoh? Tentu saja tidak,” sahut Minjie tegas.
“Sudahlah, jangan bicarakan Han Eunho lagi. Ayo, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin malam. Tentang kebakaran itu dan bagaimana kau bisa berakhir di sini. Ada lagi, apa yang harus kukatakan pada ibuku? Ibu menyuruhku memintamu tinggal di rumah kami.”