Diperbarui 27 September 2020
_______________________________
Perjodohan dengan lancar tidak ada kebencian. Eliana dipaksa namun dengan rela hati menerima, sebab kesabaran Arsya merubah status mereka dari adik kakak menjadi sejoli penuh cinta.
Ujian menimpa selalu pada Arsya, sejak awal sabar dengan hubungannya, kemudian takdir membawanya pada penyakit yang tidak disangka.
Eliana tidak menyesali dengan kehidupan barunya. Gadis yang semula manja, menjadi sangat tegar, sebab ujian yang menimpa Arsya --suaminya-- menuntut dia untuk menerimanya juga dan seakan menjadi single parent.
Pesan moral dari cerita ini = tidak ada sesuatu yang berjalan sesuai keinginan kita, jika pun itu ada, ujian akan tetap ada untuk mengingatkan pada kita bahwa dalam hidup itu selalu ada dua sisi -- Hitam & Putih, Sedih & Bahagia, Ujian & Kedewasaan, DLL--
Selamat menikmati untuk teman-teman yang sudah mampir pada novel ini. Terima kasih sebelumnya. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Nurcahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Arsya
Dalam perjalanan menuju pulang, Arsya dan Eliana tidak banyak bicara. Sepertinya hanya alunan musik yang berhak bersuara mengiringi perjalanan mereka. Kebetulan mereka sama-sama menyukai musik mellow, mungkin saat itu juga mereka sedang mencerna dan menikmati setiap bait lirik lagu yang keluar dari tape audio mobil.
Arsya yang memilih lagu untuk diputar. Tentu saja Eliana tidak mungkin banyak melakukan kegiatan, dia berpikir serba salah. Untuk bersikap biasa-biasa saja tak bisa, jadi lebih baik diam.
Arsya sengaja memutar lagu romantis dari penyanyi duo ternama, Yovie & Nuno. Siapa yang tak kenal dengan mereka? lagu-lagunya mudah diikuti, liriknya selalu mewakili setiap perasaan insan yang sedang jatuh cinta. Seperti yang sedang mengalun saat ini, sebuah lagu dari mereka yang berjudul, "Janji Suci." Kurang lebih seperti ini liriknya.
*Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu*
Arsya melirik pada Eliana dengan senyum yang mengembang, lagu itu sangat mewakili perasaanya saat ini. Bahkan Arsya ikut berdendang melantunkan lagu itu, begitu menghayati sekali. Seakan-akan lirik dari lagu itu adalah kalimat yang memang ingin Arsya sampaikan pada Eliana.
Eliana cuek saja, atau memang pura-pura tidak peduli dengan apa yang ia dengar.
TERRRT ... TERRRT ....
Ponsel Arsya yang berada pada dasbor mobilnya bergetar. Arsya tidak mengetahui ada panggilan untuknya. Cukup lama panggilan itu terus berdering, sehingga Eliana menyadari ada panggilan masuk pada ponsel Arsya.
"Puput ...?" batin Eliana.
Sedikitpun Arsya tak bergeming dari menikmati lagu dan fokusnya memegang setir. Berulang kali Eliana melihat kontak yang tertera pada layar ponsel itu, benar namanya Puput. Eliana tak salah melihat, bahkan dia hapal betul nomor ponsel sahabatnya itu.
"Ada apa Puput menghubungi kak Arsya? tentang kegiatan Pramuka? sepenting itu kah, sehingga harus menelepon?" Eliana menduga-duga.
"Ah sudahlah, aku tak peduli. Nanti juga Puput cerita jika ada hal penting tentang kak Arsya. Aku percaya Puput sahabat sejati, dia tidak mungkin melakukan hal buruk untuk sahabatnya sendiri. Lagian kenapa pikiranku kemana-mana sih?" Batin El masih sibuk dengan rasa penasaran yang ia lihat.
Eliana hendak menerima panggilan itu, tapi ragu. Meski itu adalah ponsel Arsya, yang sudah dia anggap seperti kakak nya sendiri dan panggilan itu dari sahabatnya juga. Namun Eliana masih memiliki rasa menghargai, dia tidak boleh lancang terhadap privasi orang. Arsya bukan siapa-siapa Eliana saat ini, tidak ada alasan untuk Eliana masuk lebih jauh ke dalam urusan Arsya.
Halaman rumah Eliana sudah terlihat, musik pun dimatikan. Terlihat pak Agus membuka pintu pagar dan memberi senyum kepada El dan Arsya yang akan masuk ke halaman rumah itu.
"Kak Ars, makasih ya udah antar aku. Sekarang aku mau tau, di mana ponselku Kakak simpan?" tanya Eliana datar.
"Lebih baik turun saja dulu, nanti aku tunjukkan!"
Eliana semakin bingung, "apa sih yang sedang terjadi? bahkan hari sudah hampir sore, Aku hanya ingin ponselku kembali. Kenapa ribet banget sih?"
Arsya sudah keluar dari mobilnya sejak tadi. Dia menoleh kembali karena Eliana belum keluar juga. Dihampirinya gadis manis itu yang masih berwajah muram. Kemudian dibukakan pintu mobil untuk Eliana, bak seorang putri turun dari kereta kencana, Arsya mempersilahkan Eliana untuk segera turun dan memasuki rumah.
Eliana hanya merengut kesal, dia tidak suka sebenarnya perlakuan berlebihan seperti itu. Tapi, apa mau dikata, Eliana benar-benar kesal, hari itu adalah hari yang tidak jelas untuk Eliana. Satu hari itu perasaanya kadang sedih, kesal, bahagia, kecewa, bahkan Eliana sampai heran.
"Kok bisa dalam satu hari perasaannya mudah berubah seperti itu. Benar benar tidak dapat di mengerti." Eliana
Eliana dan Arsya masuk ke dalam rumah, di sana sudah berada ayah dan ibunya Arsya. Mereka menyambut dua sejoli ini dengan senyuman yang begitu bahagia, tak terlihat aneh memang, mereka itu kan bertetangga, wajar kalau datang kapan pun untuk sekedar silaturahmi.
Setelah menyapa kedua orang tua Arsya, Eliana pamit untuk ke kamarnya, tetapi Bu Ratna melarangnya. Eliana diminta ibunya untuk gabung bersama mereka, termasuk Arsya. Dari sini Eliana merasa ada sesuatu yang penting, bahkan mungkin serius.
Arsya meminta Eliana duduk disampingnya, kebetulan hanya sofa di sebelahnya yang kosong, entah semua memang sudah diatur sedemikian rupa. Eliana semakin gugup ketika Arsya menarik tangannya untuk duduk.
Ada apa ini? perasaanku ngga enak. Aku seperti akan disidang atas kesalahan terbesar yang tak pernah aku lakukan. batin Eliana.
Pak Sanjaya membuka pembicaraan, "Baiklah Pak dan Bu Permana, saya singkat saja. Sebagai pihak dari keluarga pria ...."
El yang sejak tadi hanya menunduk melihat lantai keramik yang tak menarik untuk dipandang, langsung mendongak ke arah sumber suara yang membuatnya bisa menebak tujuan kedua pihak keluarga ini berkumpul. Kemudian menoleh pada Arsya yang berada disampingnya.
Arsya pun menoleh pada Eliana dengan kemudian mengangguk dan tersenyum, diusapnya lembut tangan El yang sejak tadi di genggamnya erat.
"Ini acara lamaran, kenapa mendadak begini?" Eliana
Pak Sanjaya selesai membuka pembicaraan, sekaligus menyampaikan tujuan keluarga mereka untuk meminta Eliana sebagai menantunya. Khususnya niat Arsya untuk melamar Eliana.
Pak Permana sebagai orang tua dari Eliana tidak dapat memutuskan untuk menerima atau tidak, keputusan diserahkan pada Eliana.
"Bagaimana Nak, apakah kamu menerima niat Nak Arsya ingin mempersuntingmu? Ayah tidak akan memberi saran apapun, semua tergantung dengan kesiapanmu." Permana meyakinkan Eliana untuk memberikan jawaban atas maksud kedatangan keluarga Arsya.
Eliana gugup, terlebih tangannya tak lepas dari genggaman Arsya sejak tadi. Eliana benar-benar bingung, dia hanya bisa tersenyum masam penuh kebingungan.
Arsya mengusap punggung tangan Eliana, seraya tersenyum dia berkata, "bagaimana De? berikan jawabanmu, apapun keputusannya kami akan terima."
Ya Tuhan, bantu aku mengeluarkan suara sepatah kata saja. Aku tidak ingin secepat ini, tapi sulit sekali suara ini keluar dari tenggorokan ku. Batin Eliana.
"Terserah Ibu dan Ayah saja." Eliana berkata lirih dengan senyuman tipisnya.
Aduh ... kenapa aku bilang terserah sih? Eliana ... ada apa dengan dirimu? (Eliana perang batin)
"Baiklah, rencana baik tentunya jangan ditunda lebih lama lagi. Ayah anggap kamu setuju dengan lamaran keluarga Nak Arsya. Jika kamu keberatan, bisa disampaikan nanti juga nggak apa-apa. Ayah tidak ingin kamu secara terpaksa menerimanya!" Pinta Permana pada putrinya.
Dua keluarga suka cita dengan keputusan Eliana yang secara tidak langsung menyetujui keinginan mereka. Pak Sanjaya mengucapkan rasa terima kasih atas penghormatan yang sangat berarti untuk keluarganya. Begitu pun sebaliknya dengan kelurga Permana. Pembicaraan pun berlanjut pada tingkat yang lebih serius, antara para orang tua kedua belah pihak.
"Terima kasih sayang ...." Dengan lirih, Arsya membisikan rasa gembiranya ke telinga Eliana.
Eliana hanya menoleh dan menatap dengan tatapan rasa benci yang tidak dapat diartikan oleh Arsya. Kebencian yang terlihat dari mata Eliana, apakah karena tidak suka dengan perjodohan itu, atau dengan cara yang begitu mendadak.
"Maaf semuanya, saya permisi. Silakan Om, Tante dilanjut saja mengobrol dengan Ibu dan Ayah." El berhasil mengucapkan kalimat yang sedari tadi ingin dilontarkan.
Pak Sanjaya mempersilakan Eliana untuk meninggalkan mereka. Tentu saja Arsya mengambil kesempatan ini mengikuti Eliana, dia ingin lebih jelas mendengar keputusan Eliana atas lamaran kejutan ini.
"Em ... Om, Tante. Maaf saya juga mohon permisi, sepertinya Eliana belum berhasil menemukan ponselnya. Saya akan bantu dia!" Arsya segera bangkit dari tempatnya kemudian pergi menyusul Eliana.
Bu Ratna mempersilakan Arsya untuk pergi. Sedangkan yang lainnya ada yang bertanya tentang permasalahan apa yang di alami Eliana dengan ponselnya?
Bu Ratna kemudian menjelaskan tentang kejadian kemarin malam. Ketika Eliana tertidur di motor. Sehingga mereka yang belum tau akhirnya mengerti maksud pamit Arsya barusan.
BERSAMBUNG...
_________
Author mohon pada teman-teman readers semua, untuk dukung, komen, like dan vote novel ini.😊🙏
semoga kebaikan kalian menjadi amal baik pula.
Terima Kasih Sebelumnya.
dimana letak moral novelmu jika tindakan2 tidak bermoral kau bela dan kau benarkan
ini tindakan2 tidak bermoral yang kau benarkan
*genta selalu sok baik dan mencari perhatian pada istri sahabatnya sendiri,
*eliana seorang istri yang selalu terbuka dan menerima kehadiran genta
*interaksi genta dan eliana, kontak fisik, perhatian, curhat, suap suapan, papah, bahkan ada yang pakai perasaan kau benarkan
dimana letak moralmu saat kelakuan pebinor dan istri yang mudah menerima kebaikan lelaki kau benarkan
miris sekali
*apakah interaksi eliana dan genta masih wajar thor
gini aja thor jika ada wanita lain kayak genta yang baik pada suamiku kayak kebaikan dan perhatian genta pada eliana, apakah kau anggap wanita itu wanita baik2
thor adil lihat pelakir dan pebinor
jangan pelakor kau laknat tapi pebinor dan sok baik pada istri orang kau muliakan
egois yang terkesan munafik
sukses
semangat
mksh
Buat tmn2 yg baru/mau belajar nulis kudu bgt baca tulisannya kaka Author ini deh❤
maaf baru sempat mulai baca..
edisi, suka baca yg sudah the end biar ga pinisirin.. Tetap semangat berkarya 😘