NovelToon NovelToon
One Sweet Day With You

One Sweet Day With You

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:138.9k
Nilai: 5
Nama Author: NonAden119

Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.

Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.

Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.

Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Menikahlah denganku, Ana

Waktu seakan berhenti bergerak saat tatapan lembut mata Hugo menyapu keseluruhan wajah Ana. Wajah lelaki itu mendekat, dengan gerakan tak terduga dan sama lembutnya ia melabuhkan bibirnya di bibir Ana yang setengah terbuka. “Ana,” bisiknya parau.

Satu-satunya hal yang melintas di dalam benak Hugo saat bibirnya menyentuh kelembutan bibir Ana dan merasakan bagaimana tubuh wanita itu bergerak perlahan dan merapat padanya adalah, ia ingin sesuatu yang lebih. Sesuatu yang sudah lama terkubur dalam-dalam di dasar hatinya, dan sekarang mendesak keluar ingin segera dituntaskan.

"Ana," ucap Hugo dengan napas terengah, ia melepas tautan bibir mereka dan menempelkan keningnya di kening Ana. Dalam hati bersorak karena Ana tak menolak ciumannya. Seperti gi la rasanya. Ia menginginkan Ana, begitu menginginkannya sampai-sampai ia melupakan kehadiran Livia dan mamanya di rumahnya. Sebuah keinginan yang muncul tiba-tiba dan Hugo tak mampu untuk menghentikannya.

Ana mendengar Hugo mende sah, dan itu mengejutkannya. Ia merasa seperti sedang bermimpi, tak mengira kalau kedekatan mereka saat ini bisa mempengaruhi pria itu. Setelah sekian lama, Ana selalu merasakan penolakan dari Hugo. Tentu saja perubahan itu sangat berarti untuknya, ia merasa memiliki arti kini di mata pria itu.

“Tu-an.” Ana mendongak, mengerjap dan menatap mata Hugo, hingga pandangan mereka pun bertemu.

Hugo meraih pinggang Ana, takut jika wanita itu berubah pikiran secara tiba-tiba. Ia bisa merasakan tubuh Ana menegang sesaat dalam pelukannya. Hanya sesaat, karena detik berikutnya tubuh Ana mulai rileks dan tangan wanita itu terulur begitu saja mengunci lehernya dan mulai membalas ciumannya lagi.

“Kalian! Apa yang kalian lakukan di sini?!”

Livia muncul dari balik pintu, terbelalak melihat pemandangan di depannya. Tante Bella menyusul di belakangnya, terperanjat dan tak bisa berucap apa-apa. Berdiri dengan mulut terbuka, dan baru tersadar begitu mendengar suara isak tertahan dari putrinya.

Ana merasa dejavu, memorinya membawanya ke masa lalu. Kejadian yang sama seperti terulang lagi saat papa Fitra melihatnya bersama dengan Hugo, dan kali ini Livia dan mamanya juga melihat mereka sedang berciuman. Jantung Ana berdegup kencang. Kalau dulu Hugo sempat menolak keinginan papanya untuk menikahi Ana, apa sekarang lelaki itu juga akan mengatakan hal yang sama pada Livia dan mamanya kalau di antara mereka tidak ada hubungan spesial dan apa yang terjadi barusan hanya sebuah kesalahan semata?

“Kalian sungguh keterlaluan!” ucap Livia dengan wajah memerah lalu balik badan dan berlari meninggalkan ruang kerja Hugo, sementara mamanya masih belum beranjak dari tempat itu. Tante Bella terlihat bingung tak tahu harus berbuat apa, apalagi saat melihat Hugo tak berniat mengejar Livia dan malah merengkuh erat bahu Ana seperti tak ingin membiarkan wanita itu pergi jauh darinya.

“Aku bisa jelaskan, Nyonya.” Ana akhirnya bisa bersuara setelah beberapa saat lamanya hanya terdiam karena sama terkejutnya dengan Livia dan mamanya. Seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, Ana merasa malu. Ia merasa perlu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu.

“Tidak perlu! Aku hanya ingin mendengarnya dari mulut Hugo, bukan dari mulut seorang pelayan murahan yang berusaha mengambil kesempatan untuk menggoda atasannya.” Sinis tante Bella menatap marah pada Ana.

“Cukup, Tante. Saya sudah cukup bersabar melihat sikap Livia dan Tante yang terus-terusan memojokkan Ana.” Hugo menatap tajam tante Bella, wanita itu tampak terkejut mendengar nada suara Hugo yang meninggi.

“Tuan tidak perlu membelaku.” Ana berusaha melepaskan pegangan tangan Hugo di bahunya. Ia merasa tak nyaman, terlebih saat pandangannya bertemu dengan mata tante Bella yang seperti ingin menelannya bulat-bulat. Tapi Hugo tak mengindahkan ucapannya.

“Seperti yang Tante lihat, Ana bukan pelayan di rumah ini. Dia asisten pribadiku sekaligus calon istriku dan sebentar lagi kami akan segera menikah,” ungkap Hugo sambil mengetatkan pelukannya di bahu Ana, membuat Ana kembali terdiam dan hanya mampu menatap Hugo sambil terus menggelengkan kepalanya.

“Tu-an,” kata Ana dengan suara serak. Ia ingin bicara banyak, tapi Hugo tidak memberinya kesempatan.

“Tante mengira kita akan memiliki hubungan yang lebih erat lagi di masa datang. Siapa mengira kalau kedatangan kami kemari justru membuat hubungan di antara kita merenggang.” Tante Bella tersenyum kecut, ia menegakkan punggungnya dan dengan gaya seanggun mungkin ia berjalan menemui putrinya yang duduk di sofa ruang tamu, menunggu dengan wajah ditekuk. Malam itu mereka memutuskan untuk tak jadi menginap di rumah Hugo.

Malam itu Livia dan mamanya pergi menginap di hotel, diantar pak Gani atas perintah Hugo. Meski pada awalnya menolak, tapi akhirnya mereka menerima karena Hugo pun tak terlihat ingin memaksa dan membiarkan saja jika mereka ingin naik taksi ke sana.

Ana menatap kepergian mereka dari balkon atas kamar Hugo, mengesah pelan dengan pikiran berkecamuk. Ia bisa melihat api amarah yang berkobar di mata Livia saat menatapnya tadi, sebelum wanita itu dan mamanya memutuskan untuk menerima tawaran Hugo pergi ke hotel dengan mobilnya. Ana pun tak menyangka Hugo akan mengatakan kalau mereka berdua akan segera menikah, sungguh di luar dugaan.

“Merasa lebih baik?” tanya Hugo, mendadak muncul di sebelah Ana.

Ana menggelengkan kepalanya, menoleh menatap Hugo yang berdiri di dekatnya. “Tadinya Aku pikir Aku akan senang mendengar pembelaan yang Tuan lakukan padaku. Tapi ternyata tidak. Musuhku bertambah, dan itu bukan sesuatu hal yang menyenangkan. Terlebih saat Tuan mengatakan kebohongan pada mereka kalau kita akan segera menikah. Hal itu sama sekali tidak benar, bukan?”

Hugo menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ia mengangkat sebelah tangan sambil mengarahkan pandangan menatap langit malam, banyak bintang berkerlip di atas sana. Sungguh pemandangan yang menakjubkan mata.

“Aku sedang tidak berbohong, Ana. Aku bersungguh-sungguh saat mengatakannya pada tante Bella.” Hugo menoleh pada Ana lalu meraih tangannya dan menyimpannya ke dalam saku jasnya.

Ana mendelik, berusaha menarik tangannya. Tapi sebelah tangan Hugo malah menarik bahunya dan tubuhnya tahu-tahu sudah berada dalam dekapan pria itu. “Ayo kita lakukan. Menikahlah denganku, Ana. Kau bisa memiliki rumah ini dan semua harta yang sudah diwariskan papa untukmu.”

"Tidak!" Ana berontak, ia menggeleng kuat. Ia lebih baik kehilangan warisannya daripada harus menikah dengan pria itu lalu setelah 6 bulan kemudian berpisah lagi. Hugo tak mencintainya, ia tak ingin kecewa untuk kedua kalinya oleh pria yang sama. "Aku tak akan menikah lagi denganmu, Tuan.”

Hugo meregangkan pelukannya, namun kedua tangannya masih memegang bahu Ana. “Jangan katakan kalau Kau punya banyak uang dan punya kehidupan yang lebih baik di tempat lain. Aku tahu Kau harus bekerja keras siang dan malam, menahan diri untuk tidak bersenang-senang seperti yang dilakukan rekanmu yang lain.”

“Aku menjalani hidupku dengan baik, dan Aku senang dengan pekerjaan yang Aku lakukan. Punya atasan yang baik dan peduli pada nasib karyawannya, juga teman yang saling menyayangi.” Balas Ana, ia jujur saat mengatakannya. Ia bersenang-senang bersama teman-temannya meski tak dipungkiri kalau ia memang lebih banyak menahan diri untuk berbelanja atau membeli sesuatu yang menurutnya bukan hal prioritas.

“Aku tahu benar kondisi tempat kerjamu saat ini, Ana. Kalian berusaha mengumpulkan banyak uang untuk membangunnya kembali. Atasanmu tidak punya cukup dana untuk mengatasi masalahnya. Sekarang pun, jika ia tak cukup pandai mengatur bantuan yang sudah diterimanya, Aku yakin sekali ia harus menjual kafenya yang lain.” Hugo mengajak Ana duduk di kursi dekat jendela kamarnya, lelaki itu menghela bahunya dan Ana tak bisa menolak. Ada meja bulat yang membatasi jarak di antara mereka.

“Aku punya cukup tabungan untuk membantunya dan Kila juga melakukan hal yang sama. Aku rasa kami berdua bisa membantu mengatasi masalah di tempat kerja kami,” balas Ana merasa cukup yakin dengan apa yang ia katakan.

Hugo menarik sudut bibirnya mendengar ucapan Ana. “Kau belum mendengar kabar terakhir dari temanmu itu. Apa yang terjadi sekarang dan bagaimana mereka mengatasinya.”

Ana mengernyit, “Memang apa yang terjadi di sana?”

Hugo menempelkan tangan ke telinganya sebagai isyarat pada Ana untuk menelepon sahabatnya. Ana menyadarinya dan segera menghubungi Kila. Baru saja ia mengambil ponsel dari saku gaunnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Kila menghubunginya.

Ana berdiri menjauh dan bicara pelan saat menjawab panggilan telepon dari Kila. Dari suaranya yang terdengar panik, Ana bisa menebak ada masalah sedang terjadi di sana.

“Aku harus bagaimana, banyak barang di gudang yang raib begitu saja. Belum lagi pemborongnya yang menghilang begitu saja. Aku bisa saja mengganti barang-barang yang sudah hilang, tapi bagaimana dengan pekerjanya yang jumlahnya puluhan. Mereka mogok karena gaji mereka belum dibayar. Aku gak bisa kerja sendirian di sini. Sementara bos harus pergi karena orang tuanya sakit keras,” keluh Kila pada Ana.

Cukup lama Ana bicara dengan Kila, mendengar tentang masalah yang terjadi di sana. Apa yang dikatakan Hugo ternyata benar, Ana menatap pria itu dan mulai berpikir tentang tawaran menikah dengannya. Jika mereka menikah, mungkin Hugo mau membantu mengatasi masalah di kafe tempatnya bekerja juga masalah para pekerja di sana.

“Tak mudah untuk mendapatkan bantuan dana saat Kau tak memiliki aset atau kepercayaan dari orang lain. Aku tahu Kau tak mungkin berdiam diri dan mengabaikan keluhan temanmu saat Kau punya jalan keluarnya, dan Aku yakin Kau tak akan mau melewatkan begitu saja kesempatan yang datang padamu sekarang.” Kata Hugo saat melihat Ana berdiri dan berjalan kembali ke arahnya.

“Aku berharap pernikahanku yang kedua akan berakhir bahagia, Aku menikahi pria yang juga mencintaiku. Tapi jika Aku melakukannya karena harta dan demi menyelamatkan nasib banyak orang, apakah Aku layak mendapatkan cinta dan kebahagiaan dari pria yang menikah denganku?” Ana menatap lekat mata Hugo, mencari sesuatu di sana. Apa sesuatu itu ada pada pria itu?

“Kau ingin tahu jawabannya? Maka menikahlah denganku, Ana.”

▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

1
Jetva
ini yg aq suka..ga perlu beranak pianak hingga ratusan episode..pe dek tp padat n sesuai tema..
Jetva
Ana kereeeen....biarkan dia tersiksa...udh dapat perawan tp marah krn merasa ditipu...ditipu juga tp balasanx lu dpt brg ori bukn bekasan...
Jetva
Hugo udh jatuh tp enggan mengakui klo dia terluk akibat jatuh☺☺☺..gengsi dipertahankan...entar ditinggal lagi bru kerasa...
Jetva
setelah tau cerita yg sebenarx..apakah Hugo masih membenci..??????
Bunga Cinta
Bagus bgt Karya mengandung kasih, sayang dan Cinta🌹❤️❤️❤️
Bunga Cinta
Terima kasih autor💕💕💕💕💕💕♥️
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹
Lenni Namora
Luar biasa
a57w
ceritanya bagus, tidak bertele-tele
Mba Wie
Luar biasa
Kadek Bella
smangat,, bagus ceritanya nggak bertele-tele,, trima kasih
Bunda
ikutan mampir Thor🙏🏻
Yulia
Luar biasa
reza indrayana
Mampir nich Thor ..., kisah yg menarik...👍🏻👍💙💙💛💙💙🫰🏻🫰🏻😘😘😘
Kinara (Hiatus)
saran Thor : menurut sy agak aneh dg kata "hampir lupa". Karena itu merupakan syarat utama & Ana adl org terdekat Ibu pemilik cafe tsb. Seharusnya justru itu menjadi pembahasan utama di awal. Kan sdh merasa aneh dl, knp syaratnya Ana harus jd ART di tmp pemberi dana. Jd seharusnya itu dibahas di awal saat membicarakan dg Ana. Maaf ya Thor 🙏
Kim Ye Jin
semangat say 😚
Seo Ye Ji
Top dah, good luck say 😙👍👍👍
@yo jung shi💖
menyalah akakku ❣❣❣❣
MrsJuna
❣❣❣❣❣
Juna murat
Terbaik untukmu say 🥰🤗💝😚💖
captain Ri 👨‍✈️
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!