Deanitha elisya merupakan Seorang mahasiswi cantik di salah satu universitas ternama di kotanya. memiliki kecantikan yang nyaris sempurna membuat banyak yang iri hati bahkan merasa tersaingi. namun begitu, Dea begitu biasa ia di sapa, sama sekali tidak peduli, baginya yang terpenting adalah ia segera menyelesaikan pendidikannya agar dapat membanggakan kakak laki-lakinya, yang merupakan satu satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya untuk selamanya.
Brian Jilbert, pria berprofesi sebagai CEO sekaligus pemimpin perusahaan miliknya sendiri. pria yang begitu menyayangi adik sepupunya, rela melakukan apapun demi adik sepupu kesayangannya itu. hingga suatu hari ia sengaja melakukan tindakan yang merugikan seorang gadis, yang dianggap sebagai perusak hubungan asmara adik sepupu kesayangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh pingsan.
Tesa semakin meragu dengan rencana pernikahan yang akan ia jalani nantinya ketika melihat Brian hanya sibuk sendiri dengan ponselnya seperti tak peduli dengan keberadaannya, sampai sampai pria itu tak mengindahkan ucapan pelayan toko perhiasan yang memintanya untuk mencoba sebuah cincin.
"Apa yang kau harapkan Tesa, perhatian Brian????batin Tesa. wanita itu hanya bisa tersenyum kaku ketika pandangannya bertemu dengan pandangan pelayan toko perhiasan.
Sampai urusan memilih cincin pertunangan mereka beres, Brian masih terlihat sibuk sendiri bahkan pria itu hanya mengiyakan cincin pilihan Tesa tanpa berniat mencobanya Sama sekali.
Sebenarnya brian ingin segera kembali setelah selesai dengan urusan pilih memilih cincin, namun Tesa memaksanya untuk menemani makan siang terlebih dahulu.
Di sebuah restoran yang masih berada di dalam area Mall keduanya terlihat menempati meja paling sudut sesuai dengan keinginan Tesa.
"Apa sebelumnya kau mencintai seorang wanita???." saat menunggu pesanan datang Tesa terdengar melontarkan pertanyaan yang mampu membuat raut wajah Brian berubah seketika.
"Sepertinya saya tidak harus menjawab pertanyaanmu itu." cetus Brian seolah tak suka dengan pertanyaan Tesa.
Tesa hanya bisa menghela napas dalam mendengarnya.
"Aku minta maaf jika pertanyaanku membuatmu tak senang." ucap Tesa yang tidak ingin merusak suasana makan siang mereka.
Brian diam saja tak berniat merespon permintaan maaf dari calon istrinya itu.
Sampai dengan selesai menyantap makan siang tak ada lagi percakapan bermakna di antara keduanya, sampai dengan Brian mengantarkan Tesa kembali ke rumah orang tuanya.
**
Di negara yang terbentang jarak cukup jauh dari tanah, Dea tengah disibukan dengan kegiatan perkuliahannya di kampus. Selama menempuh pendidikan di kampus tersebut Dea tak pernah merespon pria manapun yang mencoba untuk mendekatinya, termasuk bule tampan yang merupakan idola kampus. Rasa trauma saat bersahabat dengan Dani masih tergambar jelas di ingatan Dea, Di mana ia harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya akibat kecemburuan seorang gadis yang menaruh hati pada sahabatnya, Dani. Ya, sampai detik ini Dea berpikir jika apa yang dilakukan Brian padanya semua karena permintaan dari Lita.
"Kamu Kenapa De???." tanya Sasa ketika melihat Dea memegang kepalanya.
"Tidak apa apa, hanya sedikit pusing saja."
Wajah Sasa seketika berubah. "Pusing kok kamu bilang tidak apa apa, gimana sih. Mana wajah kamu pucat banget lagi, De." wajah Sasa seketika berubah khawatir.
Sasa meminta Dea untuk meminta izin pada pihak kampus, namun pada akhirnya Sasa hanya bisa menghela napas berat saat Dea menolak usulannya itu dan tetap ingin berada di kampus hingga semua mata kuliahnya hari ini usai.
Syukurnya Hingga semua mata kuliah mereka hari ini usai, Dea tidak sampai kenapa Napa, tapi tetap saja wajah wanita itu terlihat sangat pucat seperti tak dialiri darah.
Raut wajah Sasa dan Fana yang awalnya sedikit tenang kini kembali cemas saat Dea mengeluhkan tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas tak bertenaga, dan tak lama kemudian wanita itu pun jatuh pingsan. Untungnya selain mereka sudah tiba di rumah, Sasa juga masih dapat menyanggahnya hingga tubuh Dea tak sampai terkulai di lantai.
"De....Dea .....bangun De....." dengan paniknya Sasa menepuk pipi Dea berharap temannya itu segera merespon ucapannya dengan membuka matanya.
Tante Lili yang kebetulan mengantarkan makanan untuk ketiga gadis itu dibuat terkejut kala melihat tubuh Dea nampak lemas tak berdaya di pangkuan Sasa.
"Apa yang terjadi dengan Dea, Sa, kenapa Dea bisa sampai pingsan seperti ini????." cecar Tante Lili Dengan wajah paniknya.
"Sejak di kampus tadi Dea mengeluhkan kepalanya yang terasa pusing, Tante." jawab Sasa apa adanya.
Dengan cepat Tante Lili membantu Sasa dan Fana untuk membawa tubuh Dea yang belum sadarkan diri tersebut ke dalam kamarnya.
Setelah merebahkan tubuh Dea di atas tempat tidur, Tante Lili lantas merogoh saku celananya mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter pribadi keluarganya.
Belum juga dokter pribadi keluarga Tante Lili tiba Dea telah nampak membuka matanya.
"Dea, kamu sudah sadar Nak???." Tante Lili menggenggam tangan Dea, melihat raut cemas di wajahnya terlihat jelas jika wanita paru baya tersebut begitu menyayangi Dea dengan tulus.
"Apa kepala kamu masih terasa pusing, De???." pertanyaan Tante Lili di jawab Dea dengan gelengan kepala yang terlihat lemah.
Tak lama kemudian, seorang dokter wanita yang diantarkan oleh maid Tante Lili pun tiba.
"Selamat siang, nyonya." tutur seorang wanita bule yang nampak mengenakan jas putih kebanggaannya.
"Selamat siang Dokter, tolong periksa kondisi keponakan saya!!!." Tante Lili mengakui Dea sebagai keponakannya di depan dokter cantik yang bernama Maria tersebut.
"Baik, Nyonya." wanita itu lantas mengeluarkan stetoskop dari tasnya kemudian mulai memeriksa kondisi Dea.
"Kapan terakhir anda datang bulan, Nona???." pertanyaan wanita itu membuat Dea dan juga yang lainnya merasa bingung, terkecuali Tante Lili. Sebagai seorang wanita yang telah berkeluarga, Tante Lili mengerti ke mana arah dan maksud ucapan dokter Maria bertanya demikian. Apalagi saat dokter Maria menanyakan keberadaan suami pasien, hal itu semakin meyakinkan Tante Lili akan dugaannya.
"Tapi saya belum meni_" Dea tidak sempat melanjutkan kalimatnya sebab Tante Lili lebih dulu menyela.
"Suaminya sedang berada di luar negeri, dokter." sela Tante Lili, bukan apa apa, Tante Lili tidak ingin image Dea terlihat jelek di mata orang lain, jika sampai dugaannya benar.
Dea semakin bingung mendengar kalimat Tante Lili, namun begitu ia tak menepisnya tak ingin sampai di anggap tak sopan. Biarlah setelah dokter Maria berlalu barulah ia mempertanyakan maksud dari kalimat Tante Lili tadi.
Tapi sepertinya Dea tak perlu lagi menanyakan perihal ucapan Tante Lili ketika dokter memvonis dirinya tengah berbadan dua.
"Hamil?????." ulang Dea setelah mendengar penjelasan dari dokter. sementara kedua temannya yang saat itu turut mendengarkan penjelasan dokter nampak kaget setengah mati, akan tetapi, baik Fana ataupun Sasa memilih diam.
"Ini masih dugaan sementara Nona, untuk memastikan sebaiknya anda melakukan urine tes mandiri." dokter wanita tersebut mengeluarkan urine tes yang masih tersegel dari dalam tasnya kemudian menyerahkannya kepada Dea untuk digunakan.
Dea yang saat ini sudah merubah posisinya duduk bersandar pada bahu tempat tidur, lantas beranjak turun hendak menuju kamar mandi untuk melakukan himbauan dari dokter.
Sementara Fana dan Sasa, kedua gadis itu terlihat masih syok.
"Ya tuhan.....aku benar benar hamil." Air mata Dea berlinang tak tertahankan ketika melihat hasil urine tes di genggamannya menunjukkan dua garis merah.
"Sekarang masa depanku sudah benar benar hancur, kak Aris pasti sangat kecewa jika mengetahui semua ini." gumam Dea dengan tubuh terkulai lemas di lantai kamar mandi.
Ingin rasanya Dea berlama lama berada di kamar mandi untuk menumpahkan semua perasaannya yang kini telah hancur berkeping, jika saja di luar sana dokter Maria tak sedang menunggunya.
Dengan memaksakan kakinya melangkah, Dea nampak keluar dari kamar mandi.
"Selamat atas kehamilan anda, Nona." sebuah ucapan selamat dilontarkan dokter cantik tersebut saat melihat dua garis merah pada benda pipih yang baru saja di perlihatkan Dea padanya.
Dea hanya diam saja, tidak berniat merespon ucapan selamat dari dokter Maria. Jika saja saat ini ia sudah menikah mungkin kabar kehamilannya akan sangat membahagiakan bagi Dea, tapi kenyataannya ia hanyalah seorang wanita single yang hamil di luar nikah. lalu dari segi mana ia harus berbahagia???.
akhirnya armada di kasih jodoh juga sama Author🤭