Kisah triplets keluarga Rao dalam perjalanan cintanya.
Charusmita Rao atau Mita harus mengubur impiannya menjadi balerina akibat kecelakaan yang dialaminya. Dokter Vikram Gupta membantu gadis itu melewati masa-masa menerima kenyataan meskipun Mita tidak tertarik dengan orang India tapi dokter tampan ini berbeda.
Ararya Rao atau Arya bertemu dengan Riko Ichida, seorang dokter anak yang menderita lupus. Arya yang juga seorang dokter penyakit dalam, mendampingi Riko dalam pengobatannya hingga keduanya sama-sama jatuh cinta.
Benoit Rao atau Ben bertemu dengan dokter bedah judes, Ran Tsubasa saat bertugas di Tokyo. Keduanya saling membenci satu sama lain, hingga mereka harus terjebak saat membantu korban tsunami.
Generasi ketujuh klan Pratomo
Follow my IG @hana_reeves_nt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BR - RI - Bertemu di Tokyo
Paris Perancis
Mita duduk dengan nafas terengah-engah usai melakukan fisioterapi di dalam air. Vikram memang belum mengijinkan berenang tapi berjalan di dalam kolam dangkal dan berjalan disana. Beban massa air membuat Mita harus dua kali berusaha dibandingkan diatas terapi jalan biasa.
"Ya Allah capeknya ... " ucap Mita sambil mengelap keningnya dengan handuk kecil.
"Miss Mita ... Mau lanjut atau mau istirahat dulu?" tawar Lucy yang tersenyum melihat gadis itu tampak lelah. Mita memang memakai baju renang surfsuit pendek yang memperlihatkan bekas luka di kakinya yang dioperasi Vikram. Mita tidak perduli dengan kaki mulusnya yang jadi banyak bekas disana, yang penting dia bisa berjalan dan menari balet lagi.
"Istirahat dulu Lucy... Ternyata terapi di air lebih melelahkan..." senyum Mita ke terapis berbadan gemuk itu.
"Belum diijinkan berenang ya miss Mita?" tanya Lucy.
"Menunggu seminggu lagi kata dokter Gupta..." jawab Mita apa adanya.
"Kalau menurut aku sih sudah bisa diajak terapi renang tapi kan semua tergantung keputusan dokter Gupta..." Lucy memberikan botol minum air mineral ke Mita. "Kita beristirahat 15 menit lalu terapi lagi. Oke?"
Mita menatap judes ke Lucy. "Lucy jahat..."
Lucy tertawa kecil. "Mau sembuh nggak? Mau balet lagi nggak?"
"Oke lah ! 15 menit !" jawab Mita gagah menerima tantangan terapisnya.
***
Tokyo University Medical Faculty,Tokyo, Jepang
"Jadi kamu sekarang terapi dalam air? Bagus dong Mit... Vikram benar itu, menunggu kakimu terbiasa di air dulu baru berenang..." senyum Benoit yang menerima telepon dari adik kembarnya.
Ran melihat wajah Ben tampak bahagia di telepon, hanya melirik dan berjalan meninggalkan pria itu. Ben sendiri tampak bodo amat dengan sikap Ran karena dirinya masih asyik menerima kabar tentang Mita.
"Terus mantannya Vikram datang? Minta balikan?" tanya Ben saat Mita menceritakan tentang Denise.
"Dokter Gupta menolaknya mentah-mentah, Ben. Dia ingin bersama aku jadi dia menutup semua masa lalunya..." jawab Mita.
"Terus sekarang pertanyaan aku, kamu sudah mantap dengan Vikram ?"
"Insyaallah Ben...." jawab Mita.
"He's a nice guy, Mita. Kami kan sudah screening..." senyum Benoit. "Jika mantannya mengganggu..."
"Tenang Ben. Aku bisa menanganinya..."
"That's my sister ..." ucap Benoit senang.
***
Muenchen International Airport
Pagi ini Arya mengantarkan Riko kembali ke Jepang dan gadis itu tampak sedih harus meninggalkan pria yang sudah menemani dirinya liburan di kota yang dia tidak tahu sebelumnya. Arya benar-benar menjadi teman dan guide yang menyenangkan apalagi dia pintar berbagai bahasa.
"Hati - hati di jalan. Kembali ke kota yang sangat dinamis ... Jangan stress, ya Riko..." senyum Arya.
"Iya dokter Rao..." balas Riko sambil tersenyum.
"I'm gonna miss you little girl ..." ucap Arya yang tahu Riko sangat mungil, dengan tinggi 158 cm. "Imut banget !"
"Memang tinggi kamu berapa?" tanya Riko sambil mendongak.
"178 cm. Aku kalah tinggi dengan Ben, dia 188 cm."
"Bagaimana dengan Mita?" tanya Riko.
"168 cm. Hei, kenapa kita berhubungan dengan angka delapan?" kekeh Arya.
"Karena angka delapan kalau kita tidurkan mirip simbol infinity ♾️ .. Benar kan Arya?" senyum Riko.
"Exactly ..."
Suara pengumuman pesawat Riko sudah dibuka gate boardingnya terdengar, membuat keduanya saling berpandangan.
"Aku masuk dulu, Arya... Pulang dulu ya..." ucap Riko.
Arya memeluk Riko erat. "Jangan sakit ya. Oh, kamu bisa cari Ben di kampus... Nanti aku bilang sama anak itu."
"Aku akan sehat terus dokter Rao... Janji pasien... " senyum Riko sambil mendongak ke wajah Arya.
"Hati-hati..." ucap Arya sambil mencium kening Riko.
"Always. Aku akan kabari jika sudah sampai..." ucap Riko sambil mengurai pelukannya. "Akan aku cari Ben dan akan aku cerita soal pengalaman aku di Muenchen bersama kamu."
Riko melambaikan tangannya sebelum masuk gate ke arah Arya dan pria itu membalasnya. "Sayonara..."
***
Tiga Hari Kemudian, di Tokyo University Medical Faculty
Ben sedang memeriksa pasiennya dengan wajah serius di lorong rumah sakit Tokyo University saat seseorang memanggil namanya.
"Benoit Rao !"
Ben pun berbalik dan melihat seorang gadis Jepang mungil lengkap dengan sneli dan stetoskop di saku berdiri di belakangnya.
"Anatawa dare desu ka ( kamu siapa )?" tanya Benoit bingung karena belum pernah bertemu dengan gadis ini tapi dia tahu namanya.
"Riko Ichida. Aku kenal dengan kakakmu, Arya Rao... Kami bertemu di Muenchen..." senyum Riko.
"Aaaahhh jadi kamu yang jadi turis Jerman ... Arya cerita soal kamu tapi tidak menyangka kita bertemu disini... Makan siang bersama Ichida-san?" tawar Ben.
"Mochiron ( tentu saja )!" senyum Riko.
***
Semua teman seangkatan Ben bingung melihat pria itu asyik mengobrol dengan seorang gadis Jepang yang berasal dari divisi kedokteran anak. Mereka pun bertanya pada Takeshi yang makan bersama dengan kekasihnya yang mahasiswi perawat di kampus yang sama.
"Mana aku tahu... " jawab Takeshi Gosho saat ditanya oleh para teman angkatannya. "Kalian itu tidak suka Ben tapi kepo. Dasar julid !"
Kaori, kekasih Takeshi, sampai harus menepuk punggung tangan kekasihnya agar tidak emosi. "Taksehi-chan... Sudah ..."
"Nggak, Kaori-chan. Mereka itu munafik. Ben jauh lebih Jepang daripada orang Jepang sendiri !" omel Takeshi judes.
Ran pun melihat Ben tampak asyik mengobrol dengan gadis itu di meja pojok tempat dulu dia dan Ben makan siang bersama.
***
"Jadi kamu ada lupus? Bang Akito yang memeriksa kamu?" tanya Ben tidak percaya. "Wah, dunia sempit ya Riko..."
Riko mengangguk. "Aku sempat naksir dokter Shinoda.. Kan dia senior disini tapi kata Arya, percuma naksir dia..."
"Memang ! Dia bucin dengan adik kami... Padahal adik kami itu nuakalnya minta ampun. Hobinya gelut. Sepertinya salah pendidikan jasmani deh..." gumam Benoit dengan wajah serius membuat Riko cekikikan.
"Ternyata kamu itu bisa melucu ya Ben, sebab kata Arya, kamu orangnya irit bicara."
Ben menggaruk kepalanya. "Tergantung lawan bicaranya. So, kamu dan Arya. Apakah ada sesuatu?"
Pipi Riko memerah.
"Kamu Naksir Arya?" seru Ben dengan wajah dibuat sok terkejut. "Nggak heran sih, Arya cool dan lebih dewasa dari kita.. "
"Jangan bilang Arya, ya Ben ... Aku malu .." pinta Riko penuh harap.
"Ah, tapi rasanya Arya juga ada perasaan sama kamu. Soalnya setiap telpon sering cerita soal kamu juga..." senyum Ben.
"Hontou ( benarkah )?"
Ben mengangguk. "Kamu wait and see aja ..."
***
Ben sedang beristirahat di halaman rumah sakit usai membantu dokter senior melakukan tindakan operasi kecil. Dokter senior itu sangat suka dengan sikap cekatan dan sigap Ben, jadi dia meminta Ben sebagai asistennya. Ben sendiri merasa terhormat mendapatkan kepercayaan dari dokter senior yang sangat dihormati para mahasiswa kedokteran spesialis bedah.
Ran yang melihat Ben sendirian, langsung menghampiri pria itu.
"Shah Rukh Khan..." panggilnya.
Ben menatap Ran. "Ada apa Kapten Tsubasa?"
"Bisakah aku bicara serius?"
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Ahahhahaha