Vano dan Nindy menentang hubungan putranya dengan Kila, dengan alasan tak mau sejarah lama terulang kembali yang terjadi pada mereka di masa lalu. Namun keduanya luluh juga setelah melalui beberapa konflik yang menegangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Ahza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 21
Malam itu menjadi malam yang sangat bahagia buat Nindy. Satu yang ia lupakan, bahwa hari itu adalah hari ulang tahunya. Tiada kado terindah selain kasih sayang yang begitu tulus dari suaminya. Tidak salah Tuhan mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan suci. Adapun Vano sangat menyayangi Nindy. Bahkan saking sayangnya, tiada tempat untuk wanita lain di hatinya. Walaupun ia sudah tidak mempunyai orang tua, namun ia masih mempunyai kakak yang mampu mendidiknya menjadi seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab.
Dari kejauhan, Axel, Zia, Ari, Kristal beserta kedua orang tua Nindy nampak berjalan ke arah mereka.
"Selamat ulang tahun Nak, panjang umur dan sehat selalu..." ucap Ayah Nindy lalu memeluk putrinya itu. Kemudian di susul Axel, Zia dan juga dari Ari. Kebahagiaan Nindy sangat lengkap malam itu.
Mereka semua berbincang sambil makan hidangan yang sudah terhidang di satu meja besar, yang khusus di siapkan untuk keluarga hang punya acara. Para tamu, setelah memberi ucapan kepada Nindy, mereka bersantai sambil makan dan ngobrol.
"Jadi kalian semua tau acara ini, termasukayah dan ibu juga...?" tanya Nindy di sela-sela makan bersama.
"Tau Nin, ini semua ide dari suami kamu, Ayah dsn ibumu di suap untuk tidak memberitahumu..." jelas Ayah Nindy.
Nindy melirik Vano yang ada di sebelahnya.
"Ampu Yank, aku ngaku salah..." jelas Vano tersenyum manja.
"Terus si Keke itu siapa, katanya ini acara dia, kok jadi aku yang jadi bintang jadinya...." imbuh Nindy.
"Ehheeemmm, rupanya ada yang cemburu, Ri..." ledek Vano.
"Iya nih bang, kebiasaan lama....." ucap Ari di susul dengan tawa ledekanya.
"Gini nih, si Keke itu, bukan klien aku sayank, tapi dia adalah orang yang aku tunjuk untuk menyiapkan semua ini. Untuk membuat surprise istri aku ini di hari spesial kamu..." jelas Vano.
"Ohh, kirain..." jawab Nindy lega.
"Ririn mana Pa, kok belum datang juga...." tanya Nindy.
"Iya, udah lama ibu nggak keremu sama Ririn..." sahut nenek Zia.
"Maaf Bu, kak Ririn nggak bisa datang, lag idi Australi..." jawab Vano.
Begitulah, malam itu Vano sukses memberi kejutan kepada Nindy. Acara demi acara sudah berlalu. Hingga larut malam acara itu pun selesai. Vano Nindy Zia dan juga Axel segera pulang ke rumah karena sudah capek banget, namun di sisi lain Nindy sangat bahagia.
Sementara Ari, Kristal, juga ayah dan ibu Ari, pulang ke rumah ayah mereka. Dari pernikahan Ari dan juga Kristal, sampai sekarang belum juga di kasih momongan. Sudah usaha ke sana kemari, dari ramuan jawa hingga dokter ahli kandungan, semuanya belum ada hasil. Keduanya sudah pasrah. Hanya bisa menanti keajaiban dari Tuhan.
****
"Hueeekkkk, hueeekkkk...."
Tiba-tiba Kristal bangun dari tidur dan langsung ke kamar mandi. Perutnya terasa mual sekali. Rasanya pengen muntah, tapi yang keluar cuma air. Ari yang mendengar suara Kristal, segera bangun dan menghampirinya ke kamar mandi.
"Yank, kenapa....?" kata Ari dengan Panik. Ia dengan spontan memijit tengkuk Kristal, agar berkurang rasa mualnya. Isi dari perut Kristal yang berupa air itu sebagian sudah keluar. Kini rasa lemas mendera badanya. Ari memapah Kristal ke ranjang.
"Kamu kurang enak badan yank...?" tanya Ari yang menyelimuti tubuh Kristal dengan selimut.
"Aku nggak tau yank, tau-tau perutku rasanya mual, mungkin iya juga aku lagi masuk angin." jawab Kriistal. Panik. Itulah yang sedang di rasakan Ari. Nggak seperti sebelumnya. Kalau Kristal sakit sih cuma demam biasa, namunkali ini, pakai muntah berkali-kali. Lalu ia berinisiatif membuatkan Kristal air hangat di kasih madu. Karena ayah dan ibunya masih beristirahat, dansaat itu masih sekitar jam 04.00 wib, mautak mau Ari harus berusaha sendiri, karena juga tak ada pembantu di rumahnya.
Tak berapa lama Ari kembali dengan membawa secangkir air hangat yang di kasih madu. Dengan pelan Kristal menyeruputnya. Setelah itu kembali berbaring. Tak tega melihat istrinya begitu lemas dan pucat, Ari ijin tak masuk kantor hari ini. Ia ingin menemani istrinya yang sedang sakit dan pastinya akan sangat membutuhkanya.
"Tumben hari ini kamu tidak masuk Ri....?" tanya ibunya.
"Kristal sakit bu..." jawab Ari.
"Nanti mau periksain ke rumah sakit..." jawabnya lagi.
"Oh iya, segera saja di bawa periksa, biar tau sakit apa..." Ari mengiyakan ucapan ibunya.
Nindy menatap Vano yang masih tidur pules. Di amatinya setiap inci dari wajah suaminya. Tak sedarah, namun kasih sayangnya begitu tulus kepadanya. Itulah suaminya. Rela berkorban apa saja demi kebahagiaannya dan anak-anaknya. Nindy mencium kening suaminya dengan lembut. Sebagai tanda bahwa begitu sangat mencintainya.
"Emmm, sayank....." ucap Vano yang terbangun karena merasa ada sesuatu yang lembut menyentuh keningnya.
"Pagi suamiku..." kata Nindy dengan jari-jarnyai yang membelai wajah Vano.
"Pagi juga istriku, kamu cantik pagi ini..." balas Vano memuji Nindy, membuatnya seolah mendapat energi semangat yang begitu besar.
"Iiihhh, bisa saja, cantiknya udah berkurang..." lanjut Nindy.
"Kata siapa, malah tiap hari makin tambah..."
"Iiiiiiiihhh, tapi bo'ong...." ucap Nindy menyangkal namun di dalam hatinya sangat berbunga jika suaminya berucap seperti itu kepadanya.
"Nindya Putri, kamu makin buat aku gemes deh kalau kayak gini..." ucap Vano yang meraih tubuh istrinya ke dalam pelukanya. Lalu memeluknya dengan erat.
"Sayank, lepasin iiihhh...., mau buat sarapan buat anak-anak..." kata Nindy meronta dengan manja.
"Gak mau!! Biar si bibi yang buatin sarapan, kamu pokoknya harus di sini temani aku..." jawab Vano yang berulang kali menciumi tengkuk Nindy.
"Iya, iya, tapi please Yank, lepasin aku dulu, kebelet pipis nih..."
Mendengar istrinya berkata seperti itu, barulah Vano melepaskanya. Nindy segera ke kamar mandi melaksanakan hajatnya.
Pagi itu semua sudah siap-siap akan melakukan aktifitas masing-masing. Axeldan Zia sudah rapi dan duduk di meja makan. Sedangkan Vano, hari ini tidak berangkat ke kantor karena sengaja ia libur untuk menemani istrinya. Zia berangkat belakangan, karena kuliahnya agak siangan juga.
"Pah, Mah berangkat dulu.." pamit Axel.
Segera saja setelah pamit, ia segera meluncur ke kampusnya. Lagi enak-enaknya ia menikmati perjalanan dengan santai, ia melihat kerumunan yang menyita peehatianya. Ia penasaran dan menghentikan motornya. Lalu berjalan membelah kerumunan tersebut. Ia kaget setelah melihatnya.
"Mbak Kila...?" ucap Axel yang melihat Kila terduduk dengan kaki terluka. Helmya sudah terlepas dari kepalanya. Otomatis orang-orang yang mengerumuni Kila mengalihkan pandangan mereka kepada Axel. Lalu Axel jongkok tepat di hadapan Kila.
"Axel...?" jawab Kila menahan rasa sakitnya.
"Mbak Kila kenapa, apa yang terjadi....?" tanya Axel.
"Mbak di serempet orang..." jawab Kila yang memegangi kakinya.
"Ya sudah, mbakaku antar ke rumah sakit terdekat..." ucap Axel yang iba kepada Kila.
"Eh anu..., Eng...Nggak usah Xel, kamu mau kuliah kan, mbak nggak mau repotin kamu..." ujar Kila menolak halus.
"Enggak mbak, tenang saja, enggak ngerepotin kok. Pokoknya saya akan bawa mbak ke rumah sakit.." jawab Axel yang tak mengindahkan ucapan Kila.
Bersambung....