NovelToon NovelToon
Aku Hidup Kembali

Aku Hidup Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Kai

Bab 24

Malam itu, rumah keluarga Wirawan terasa hangat. Aroma sayur sop dan ayam goreng memenuhi ruang makan ketika Wirawan membuka pintu rumah.

"Papa sudah pulang." Sapa Hesti, lalu membawakan tas kerja suaminya.

"Iya, Ma. Karin mana?"

Karin segera menutup laptopnya lalu keluar dari kamar. Tak lama kemudian Pak Wirawan berjalan mendekati meja makan sambil melonggarkan dasinya.

"Capek, Pa?" tanya Karin.

"Sedikit. Tapi hilang kalau lihat makanan buatan Mama."

Hesti tersenyum kecil.

"Kalau begitu cepat cuci tangan."

Mereka bertiga akhirnya duduk mengelilingi meja makan. Suasana rumah terasa tenang. Pak Wirawan sesekali menceritakan kegiatan di kantor, sementara Karin lebih banyak mendengarkan.

Di tengah makan malam, Pak Wirawan tiba-tiba teringat sesuatu.

"Oh ya..."

Beliau menoleh kepada putrinya.

"Bagaimana kabar Kai?"

Sendok yang dipegang Karin berhenti di udara.

"Hah?"

"Kai," ulang Pak Wirawan. "Pacarmu."

Pipi Karin langsung memanas.

"I-iya... baik, Yah."

Hesti yang melihat reaksi putrinya hanya tersenyum tipis.

"Masih kerja di bengkel?"

"Iya, Ma. Hampir setiap sore."

Pak Wirawan mengangguk pelan.

"Berarti dia masih kuliah sambil bekerja."

"Iya."

"Berat juga."

Karin mengangguk.

"Iya."

Beberapa detik suasana menjadi hening.

Pak Wirawan lalu berkata pelan, "Ayah suka anak yang mau bekerja keras."

Karin menoleh.

"Maksud Papa?"

"Zaman sekarang tidak banyak anak muda yang mau kuliah sambil mencari biaya hidup sendiri."

Beliau mengambil segelas air putih sebelum melanjutkan.

"Kalau memang keadaannya mengharuskan begitu, lalu dia tetap bertahan... berarti mentalnya kuat."

Hesti ikut mengangguk setuju.

"Mama juga melihat dia sopan. Setiap datang ke rumah selalu menghormati orang yang lebih tua. Kelihatannya sederhana, tapi itu penting."

Karin hanya diam. Entah mengapa, mendengar kedua orang tuanya memuji Kai membuat hatinya terasa hangat.

Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.

Hesti memperhatikan putrinya sambil tersenyum jahil.

"Kenapa senyum-senyum?"

Karin langsung gugup.

"Nggak kok."

"Yakin?"

"Iya."

Pak Wirawan tertawa kecil.

"Kalau memang nanti ada waktu, ajak Kai makan di rumah lagi."

Karin membelalak.

"Di rumah?"

"Iya."

"Biar Mama masakin makanan yang enak," sahut Hesti.

"Kasihan anak itu. Kuliah sambil kerja pasti makannya sering tidak teratur."

Jantung Karin berdetak sedikit lebih cepat.

"Iya... nanti Karin sampaikan."

Dalam hati ia bertanya-tanya.

Kenapa rasanya aku jadi senang sekali mendengar mereka membicarakan Kai?

-

-

-

Keesokan harinya...

Kelompok tiga kembali berkumpul di perpustakaan untuk menyusun hasil observasi.

Raka datang paling terakhir sambil membawa kamera.

"Tenang..., aku bawa dokumentasi."

Nia memutar bola mata.

"Syukurlah kali ini benar-benar dikerjakan."

"Jangan remehkan aku."

Kai membuka laptop.

"Hasil wawancara sudah lengkap."

Karin mengeluarkan buku catatan.

"Aku juga sudah merapikan data pelayanan pelanggan."

"Nanti tinggal digabung."

Mereka mulai bekerja.

Raka yang biasanya banyak bercanda kali ini ikut serius memilih foto-foto hasil observasi.

"Yang ini buram."

"Hapus saja."

"Oke."

Melihat perubahan itu, Nia sempat tersenyum tipis.

"Ternyata kalau niat, kamu juga bisa kerja."

Raka terkekeh.

"Kan sudah kubilang. Proses jadi mahasiswa teladan."

"Belum lulus."

Raka pura-pura sedih dengan menghela napas panjang.

"Berat juga ya jadi mahasiswa teladan."

Nia terkekeh.

"Tapi sudah ada kemajuan. Makanya jangan bolos lagi."

"Siap, Bu Dosen."

Semua tertawa kecil.

Tak lama kemudian, seseorang menghampiri meja mereka.

"Permisi."

Maureen kembali muncul.

Kali ini ia membawa beberapa lembar kertas hasil revisi administrasi observasi.

"Ada tanda tangan yang kurang."

Kai menerima berkas itu.

"Oh... terima kasih."

"Sama-sama."

Maureen tidak langsung pergi.

Ia melihat laptop Kai yang berisi laporan.

"Kalau butuh format presentasi, aku punya contoh dari tahun lalu."

Kai mengangguk sopan.

"Boleh."

"Nanti aku kirim."

"Terima kasih."

Percakapan mereka sebenarnya sangat singkat.

Namun tanpa sadar, Karin memperhatikan sejak awal. Ia sendiri tidak tahu kenapa pandangannya terus mengikuti Maureen.

Setelah semua urusan selesai, Maureen akhirnya pamit.

"Sampai ketemu."

"Iya."

Kai kembali melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Seolah pertemuan itu tidak berarti apa-apa. Namun berbeda dengan Karin.

Entah kenapa, ada perasaan kecil yang mengganjal di dalam dadanya.

-

-

-

Di sisi lain...

Gio duduk di sebuah kafe sambil membaca laporan keuangan perusahaan peninggalan ayahnya.

Keadaan perusahaan ternyata jauh dari yang ia bayangkan. Beberapa proyek dihentikan. Beberapa aset bahkan terpaksa dijual untuk menutup utang. Ia semakin terdesak.

Gio mengembuskan napas panjang.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Maureen masuk.

Aku sudah mulai sering berbicara dengan Kai. Tapi dia masih menjaga jarak.

Gio tersenyum tipis.

Tidak perlu terburu-buru. Tetap lakukan seperti biasa.

Ia yakin, sekuat apa pun seseorang menjaga jarak, lambat laun pasti akan lengah. Yang dibutuhkan hanyalah waktu.

Sementara itu, tanpa diketahui Gio, hubungan Karin dan Kai justru berkembang secara alami.

Dan sesuatu yang tumbuh secara alami sering kali jauh lebih kuat daripada hubungan yang dibangun dengan tipu daya.

-

-

-

Bersambung...

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kali ini jalanmu tak kan mulus gi
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mungkin jalanmu akan berubah mulai sekarang gi..
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh gercep juga si gio ya, udah sampai ke bengkel
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
kita liat
Author.N.
Untunglah ada saksi
Author.N.
pasti ini orang suruhan Gio
Author.N.
Dasar licik Gio 😏
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
semoga bisa merubah semua yg lalu
Author.N.
alhamdulillahnya tuh ayah ibunya menyambut baik
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
mau apa? bikin gentar kai?
Author.N.
lahhh dianya beneran 😅
Author.N.
pikirkan cara lagi buat menghancurkan Gio, Rin. Cari tau kehidupan dia
Author.N.
huwaaa misteri lagi. Gio dari awal licik sih ya,
Author.N.
cieee belum2 udah perhatian nih 😍
Author.N.
hati2 abang Kai ada yg lagi mengawasimu
Author.N.
Kasian 🤣
Author.N.
thoorr kasih visualnya cepetaaann 😍
Author.N.
mau es teh jumbo yang 4rebuan apa 5rebuan nih bang
Author.N.
ganteng tapi nyakitin 😌😌
Author.N.
eh mendadak ada teka teki
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!