Ryana menikah dengan Dipta Narendra karena dijodohkan. Cinta tumbuh seiring berjalannya waktu.
Sampai pada suatu malam, Ryana merasakan seseorang naik ke atas tempat tidurnya. Ia mengira sosok tersebut adalah Dipta, suaminya. Mereka menghabiskan malam yang panas.
Malam telah berlalu, Ryana terbangun dari tidurnya dan mendapati lelaki yang tidur di sampingnya bukan lah suaminya, melainkan Barra Kakak iparnya.
Karena kesalahan yang telah mereka perbuat, Ryana dan Barra sepakat untuk melupakan malam itu.
Tidak mudah bagi Barra untuk melupakan malam panasnya dengan Ryana. Ia selalu teringat oleh Adik iparnya itu.
Barra selalu mendekati Ryana, tapi wanita itu selalu menghindar dan menjaga jarak dengan Barra.
Ryana menghormati Dipta sebagai suaminya, walaupun ia selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Dipta dan Barra lah yang selalu membela Ryana.
Sampai pada akhirnya Ryana mengetahui perselingkuhan antara Suaminya dan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faustina Maretta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Dipta dan Febby saling menatap satu sama lain seolah mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Ini pasti rencana Mas Barra!" ucap Febby berasumsi. Dipta mengangguk setuju dengan ucapan Febby.
"Mas Barra pasti berniat untuk menguasai harta Kakek," sahut Dipta.
Dipta dan Febby membalikkan badannya menatap dinding saat Barra dan Danu melewatinya. Tidak lama kemudian, mereka di kejutkan kembali dengan melihat Ryana keluar dari ruangan itu. Ryana melangkah lalu Febby menangkap lengan Ryana.
"Apa-apaan sih?!" ucap Ryana kesal saat Febby menarik lengannya.
"Ada hubungan apa kau dengan Isabella Smith?" tanya Febby langsung ke intinya, sedangkan Dipta menjaga istrinya agar tidak mencelakai Ryana.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," sahut Ryana.
Febby memutar bola matanya tidak puas mendengar jawaban dari Ryana. Ia yakin Ryana pasti mengenal Isabella Smith. Ryana yang kesal langsung menepis tangan Febby yang sedari tangi mencengkeram lengannya.
"Aku tidak tahu apa maksudmu, jangan ganggu Aku lagi!" ancam Ryana.
Febby yang tersulut emosi dengan ucapan Ryana membuatnya melayangkan tangannya hendak menampar Ryana, namun tangannya di tangkis oleh Barra dan Febby mundur perlahan.
"Ada apa ini?!" tanya Barra dengan nada marah.
"Tau nih Mas, Febby asal menarik tanganku dan menanyakan tentang Isabella Smith," Ryana mengadu kepada calon suaminya.
Dipta langsung melangkah dan berhenti persis di depan wajah sang Kakak. Dia menatap Kakaknya dengan penuh emosi. Mata mereka bahkan tidak berkedip sekali pun.
"Aku tahu ini rencana Mas Barra untuk menghancurkan perusahaanmu kan?" ucap Dipta.
Karena mereka berbicara dengan nada tinggi, akhirnya seorang satpam mendatangi mereka dan melerai antara Dipta dan Barra. Dipta menggandeng Febby yang tengah memegangi perutnya untuk pergi dari hadapan sang Kakak.
****
Anthony melihat keributan antara Dipta dan Barra dari depan ruangan Gea, dia menyilangkan kedua tangannya seolah sedang menonton sebuah opera. Setelah melihat mereka bubar, Anthony kembali masuk ke dalam ruangan.
"Apa rencana papa selanjutnya?" tanya Gea.
Anthony menyunggingkan senyumnya, "tunggu sampai Kakakmu sah menikah dengan Ryana,"
****
Hari pernikahan telah tiba. Pernikahan yang digelar sangat sederhana dan hanya di hadiri oleh kerabat dan beberapa teman dekat saja. Hari itu, Ryana dan Febby sah menjadi menantu di keluarga Narendra.
"Selamat ya sayang," ucap Sinta sembari mencium Ryana dan Febby secara bergantian.
Hubungan Barra dan Dipta masih bersitegang karena Dipta menganggap Barra akan merebut warisan dari Kakek. Mereka sama sekali tidak saling bertegur sapa. Keduanya sibuk dengan pasangan masing-masing.
Malam ini adalah malam pertama Barra dan Ryana sah sebagai pasangan suami istri. Barra tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Ia terus menempel pada istrinya saat mereka sudah dikamar.
"Ada apa denganmu, Mas? tanya Ryana heran melihat tingkah suami barunya.
" aku bahagia sekali, akhirnya aku bisa memilikimu," ucap Barra dan ia pun mengecup bibir istrinya.
Ciuman mereka berlanjut di atas ranjang, mereka menghabiskan malam yang panas sebagai pasangan suami istri.
Malam cepat berlalu berganti pagi, matahari mulai muncul menyinari bumi. Cahaya matahari menembus sela-sela gorden di kamar Ryana. Ia mulai membuka matanya dan membangunkan suaminya untuk bersiap berangkat kerja.
Sebelum berangkat kerja, seperti biasa tradisi di keluarga Narendra untuk bersarapan bersama, termasuk dengan Dipta dan Febby yang sudah bersiap di meja makan.
"Febby masih bekerja atau sudah di rumah saja?" tanya Sinta kepada menantu barunya.
"Sudah di rumah kok, Ma," sahut Febby bersikap malu-malu membuat Ryana ingin tertawa.
"Baguslah, kita bisa pergi shopping bertiga," ucap Sinta sembari menatap Ryana.
"Ide bagus, nanti kita ajak Febby ke tempat nongkrong kita ya, Ma," ucap Ryana.
Tiba-tiba saat sedang makan, ponsel Dipta berdering, ia permisi untuk mengangkat teleponnya.
"Halo?" ucap Dipta.
"Halo, this is Isabella Smith,, can we meet?" tanya Isabella di ujung telepon.
Dipta yang tidak menyangka Isabella akan meneleponnya sangat senang, karena ia ingin membeli saham yang telah Isabella beli. Dengan senang hati Dipta menerima ajakan pertemuannya dengan Isabella. Ia juga ingin menanyakan perihal Kakaknya apakah mengenalnya atau tidak.
"Siapa Dipta?" tanya Febby saat suaminya telah kmbali bergabung di meja makan.
"Ada klien sayang," sahut Dipta.
Ryana melirik ke arah Dipta yang bersikap lembut kepada istrinya sedangkan dulu saat bersamanya Dipta bahkan sering pulang terlaambat. Barra memegang tangan Ryana saat ia tahu istrinya sedang mengamati mantan suaminya yang sedang bersama dengan istri barunya. Ryana tersenyum menatap suaminya.
***
Sesuai perjanjian, Dipta datang ke sebuah club yang terkenal. Isabella telah mengirim pesan singkat kepadanya untuk datang ke room VVIP di club tersebut. Dipta langsung mendatangi Isabella.
Kaki Dipta melangkah mencari sebuah nomor di sebuah lorong yang panjang, telinganya sakit sekali mendengar suara musik dj yang sangat kencang. Di lorong itu banyak sepasang lelaki dan wanita sedang bercumbu.
Setelah mendapatkan nomor yang di kirim oleh Isabella, Dipta mengetuk pintu itu lalu membukanya. Ia melihat seorang wanita berbadan seksi yang sedang membelakanginya. Dipta menutup pintu, secara ajaib musik keras itu tidak lagi terdengar.
"Miss Isabella?" panggil Dipta dengan hati-hati.
Wanita di hadapannya menoleh dan menatap Dipta. Ia sempat tak berkutik setelah melihat Isabella di hadapannya. Wanita itu sungguh cantik, wajahnya yang terlihat blesteran, matanya yang biru, dan tubuhnya yang berliuk yang dipadukan dengan pakaian ketat yang ia kenalan membuatnya langsung terpukau.
"Hai, please," ucap Isabella mempersilahkan Dipta untuk duduk.
"Aku dengar, anda mencari saya?" tanya Isabella to the point.
Dipta tampak berdehem membasahi kerongkongannya. Ia langsung berbicara ke intinya bahwa dia akan membeli saham Isabella. Wanita itu malah tertawa, lalu matanya melihat Dipta dari bawah sampai ke atas, dia juga menggigit bibir bawahnya untuk menggoda Dipta.
"Hmmm ... Let me think," ucap Isabella. "Ada satu syarat," sambung Isabella.
"Apa itu? Aku akan penuhi syarat itu," sahut Dipta.
Isabella mendekatkan duduknya menempel pada Dipta, lalu memajukan wajahnya sedekat mungkin dengan wajah Dipta. Wanita itu bahkan bisa merasakan napas lelaki yang sedang berada di hadapannya ini.
"Apakah kau mau tidur denganku malam ini?" ucap Isabella sembari mengedipkan mata kirinya.
Tangan Isabella menyentuh paha Dipta lalu tangannya mulai naik ke atas. Dipta menahan napasnya saat tangan Isabella mendekati bagian pusakanya. Tanpa berpikir panjang Dipta langsung ******* bibir tebal Isabella. Wanita itu bahkan langsung duduk di pangkuan Dipta. Mereka saling mencium dengan sangat brutal. Tangan Dipta juga langsung menyentuh tubuh wanita yang berada di pangkuannya itu.
"Dipta ... Touch me more," rintih Isabella di sela ciuman panasnya.
"Begini maumu?" sahut Dipta sembari menciumi leher Isabella membuat wanita itu mendesah nikmat.
***
Gea menonton Dipta dan Isabella palsu dari monitor cctv, dia tertawa puas bersama dengan papanya. Dia berhasil membuat jebakan terhadap Dipta.
"Dipta, ternyata kelemahanmu adalah seorang wanita seksi," ucap Gea.
kenapa sih barra lemah banget jadi laki udah tau dipta jahat banget kenapa ngak tegas gitu harusnya dia cari bukti semua kejahatanya dipta dan febby
lagian kenapa barra bisa semudah itu sih memaafkan dipta yg sudah mencelakai ryana
gea penuh misteri