seorang gadis remaja yang bertransmigrasi ke tubuh remaja laki-laki
#masihberantakan
#pertamakalibuat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon merypn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Leon sangat risih, ketika daddy dio menatapnya terus - menerus, " Kenapa? " Ucapnya marah
Daddy dio terkekeh. Wajah leon sangat lucu, bibir cemberut, matanya melirik kearah berlawanan. Sungguh pemandangan yang selalu ingin daddy dio lihat.
Terdengar ketukan pintu dari luar. Seorang wanita memanggil daddy dio berkali-kali,
" Dad.. Dad... "
" Tunggu sebentar baby " Teriak daddy dio dari dalam ruang kerja
Akhirnya penderitaan leon berakhir, dirinya sudah bisa keluar dari ruang hampa ini. Dia bangkit dari kursi dan mengikuti dibelakang daddy dio.
Mata leon terus menatap pintu. Ini kesempatan untuknya bisa keluar, ketika pintu terbuka leon langsung berlari keluar darisana.
Kini leon sudah berada didalam kamar. Dia mengunci pintunya agar tidak ada orang yang bisa masuk. Dia mengeluarkan amplop coklat yang sempat disembunyikan.
Leon menatap amplop tersebut, dia merasa tegang, jantungnya berdetak cepat seolah ingin melompat keluar dari dada, " Semoga ini jawaban yang lo inginkan, leon " Ucapnya
Amplop yang baru saja, ia curi dari ruang rahasia itu kini ada di tangannya, siap dibuka. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Perlahan, ia mulai membuka amplop tersebut.
Matanya melebar, ketika ia mendapatkan sebuah foto seorang wanita yang tengah tersenyum berlatarbelakang pantai. Entah kenapa leon seolah mengenal wanita tersebut.
" Apakah ini ibu lo? " Tanya leon sambil menatap foto tersebut
Leon meletakkan foto tersebut disebelah. Dia mengambil isi lainnya yaitu dokumen dan membaca isi dokumen itu.
Ternyata, dokumen itu berisi akta kelahiran milik dirinya dan juga tentang ibu kandungnya, seorang wanita yang dia cari dan rindukan.
Emosi bercampur aduk dalam diri Leon, antara lega, sedih, dan juga rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi. Dia terdiam sejenak, mencoba mencerna setiap informasi yang tertulis di dokumen tersebut.
Hingga tanpa sadar airmata terjun bebas tanpa leon inginkan, " Lo sudah bahagiakan, leon? Akhirnya lo bisa tau siapa ibu lo "
Dokumen itu mengungkapkan bahwa ibu kandung Leon adalah seorang wanita berusia pertengahan yang telah lama menghilang dari kehidupan Leon.
" Makasih givna... Sudah membantu aku sejauh ini... Aku sudah tenang sekarang " Ucap leon ( asli) yang terisak
Ia mencari ke segala arah. Namun, lagi - lagi dirinya tak menemukan leon asli dan hanya suara saja, " Leon, gue janji bakal nemuin lo sama ibu kandung lo " Ucap givna bersungguh-sungguh
" Tidak perlu givna..... Ini sudah cukup untuk aku " Ucap leon ( asli )
" Engga! Lo harus lihat ibu lo, lo harus tau alasan ibu lo ninggalin lo sama gue juga belum kasih pelajaran sama bapak lo! " Bantah givna
" Ku rasa untuk daddy tidak perlu kamu kasih pelajaran... Dia sudah pintar " Ucap leon tertawa, " Sudah..... cukup kamu memikirkan aku... Sekarang sudah waktunya kamu bahagiakan dirimu disini " Lanjutnya
" Lo manusia paling aneh yang pernah gue temui.... Ini juga bukan dunia gue tapi dunia lo, leon " Ucap givna pandangan kosong, " Lalu tubuh ini laki - laki bukan perempuan " Lanjutnya
" Nikmati saja, pasti kamu akan terbiasa dengan tubuh laki - laki " Ucap leon tertawa
" Keluar lo! Mau gue tonjok " Ucap givna melihat ke segala arah dan tangan mengepal seakan siap memukul
" Hahaha, maaf. Aku pergi dulu nanti aku kembali dengan hadiah yang pasti kamu suka "
" Hadiah? Hadiah apa yang mau lo kasih gue leon? 1 M? "
Sebenarnya hadiah apa yang ingin leon asli berikan untuk dirinya? Apakah benar membuatnya bahagia atau itu hanya akal-akalan leon saja.
Leon kembali menatap informasi yang ada di tangan, dia sudah janji pada dirinya sendiri untuk bertemu dengan ibu kandungnya.
Dia juga menyadari bahwa langkah berikutnya akan lebih sulit dan penuh dengan rintangan. Ia harus mencari tahu mengapa ibu kandungnya meninggalkan dirinya, dan di mana wanita itu berada saat ini.
Leon menghela napas panjang, menyimpan dokumen curian itu kembali ke dalam amplopnya dan menyembunyikannya di bawah kasur.
Dia tahu bahwa ia harus berhati-hati, karena ada pihak yang tidak ingin ia menemukan kebenaran ini. Namun, tekad Leon tidak bisa dihentikan.
Dia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan menemukan ibu kandungnya, tidak peduli berapa banyak rintangan yang harus ia hadapi.
Leon merenung dan merencanakan strategi berikutnya. Ia tidak akan menyerah dalam pencariannya, ia merasa bahwa ia berhak mengetahui kebenaran.
Saat Leon tengah termenung terdengar suara pintu kamar diketuk dengan sangat kencang. Siapa yang berani mengetuk pintu kamarnya begitu kencang? , sungguh membuatnya marah.
Leon membuka pintu. Tubuhnya membeku, melihat Daddy Dio berdiri di ambang pintunya dengan wajah penuh kemarahan. "Leon," ujarnya dengan suara berat, "Kau mencuri amplopnya, bukan?" Lanjutnya masuk ke dalam kamar leon dan mengunci
Leon menelan ludah, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Ia merasa terjebak, namun ia tahu ia harus berani menghadapi konsekuensinya. "Ya, itu benar," jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar
Daddy Dio begitu marah. Dokumen itu sangat penting baginya, dan Leon telah mencuri dokumen tersebut. Namun, di balik kemarahannya, ada rasa penasaran dalam dirinya
Mengapa Leon mencuri itu? Pertanyaan - pertanyaan itu berputar di kepala Daddy Dio, dan ia tahu ia harus mencari jawabannya.
Daddy Dio menghela napas berat, mencoba meredakan amarahnya. "Kenapa kamu melakukannya, Leon?" tanyanya dingin
Leon menunduk dan takut, merasa berat untuk menjawab. Namun, ia harus berani jujur. "Saya mencari informasi tentang ibu kandung saya," jawabnya, suaranya hampir berbisik
Daddy Dio terdiam sejenak, terkejut dengan pengakuan Leon. Ia tidak pernah berpikir bahwa Leon akan mencari informasi tentang ibu kandungnya dengan mencuri, " Untuk apa kamu mencari wanita itu, leon! "
Leon marah, apakah saya dirinya mencari ibu kandungnya? Bukankah itu haknya sebagai anak harus mengetahui orangtuanya, " Saya ingin tahu tentang ibu kandung saya. Saya merasa berhak untuk mengetahuinya."ujarnya nada sedikit meninggi
Daddy Dio merasa perasaannya bercampur aduk. Leon tak salah, jika dia ingin mengetahui ibu kandungnya. Namun, daddy dio tidak ingin leon mengetahui, ia juga takut kehilangan leon.
" Urungkan niatmu mencari wanita itu, Leon! " Ucap daddy
" Kenapa anda melarang saya menemui ibu saya? " Ucap Leon nada tinggi dan menatap mata daddy dio berani seakan menantang
" Karena wanita itu bajingan, leon "
Tangan leon mengepal dan melayang tepat dipipi kanan daddy dio. Leon tak terima. Walapun, dirinya belum pernah bertemu. Namun, tetap saja ia tak suka ibunya dihina
" Jaga mulut anda, sialan "