Edi Gunawan Sari
Pengusaha yang sukses diusia yang masih muda, ia mampu membawa perusahannya merambah ke berbagai negara.
Namun kesuksesannya sebagai pengusaha tidak membuatnya sukses untuk mendapatkan pendamping hidup.
Berbagai cara orangtuanya pun turun tangan dengan cara menjodohkannya dengan anak kolega-koleganya namun dengan berbagai cara pula Guna menolaknya.
Suatu ketika Anita sang mama yang bosan dengan hiruk pikuk metropolitan pergi jalan-jalan ke kampungnya sekaligus temu kangen dengan sahabatnya yang sudah lama ia nggak temui.
Di sanalah Anita menemukan gadis yang tidak lain anak sang sahabat, menurutnya sangat cocok dengan sang anak.
Berbagai rencana pun telah ia susun agar perjodohan tidak akan batal seperti sebelum-sebelumnya.
Giana Anastasya
Putri tunggal dari sahabat Anita, angun dan cantik ternyata ia baru saja menyelesaikan Magisternya di sebuah universitas ternama di kota J dengan nilai terbaik.
Giana masih ingin menganggur, walaupun beberapa perusahaan bonafit sudah menawarkan untuk bergabung dengan posisi yang sangat menggiurkan karena mengingat kecerdasan yang ia miliki perusahaan-perusahaan tersebut tidak takut untuk menawarkan posisi yang tinggi.
Edi Gunawan Sari dan Giana Anastsya
Akankah menerima dengan lapang dada dan bahagia dalam perjodohan tersebut demi membahagiakan orangtua mereka?
Yuukkk simak ceritanya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cakrawala Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Rumah sakit 2
"Guna! Di mana Giana, apa dia baik-baik saja?" tanya salah satu dari mereka dengan mode panik on.
Guna menoleh, ternyata sang mama.
"Giana masih di dalam, Ma. Belum sadar." jawab Guna.
Anita menatap ke ara Linda, "Lin, Tante mau kamu tangani calon istrinya Guna dengan baik ya, Nak!" ucap Anita lembut.
Linda terkejut mendengar ucapan Anita, ternyata feelingnya benar, perempuan yang tengah terbaring di dalam sana orang spesialnya Guna.
"Calon istrinya, Guna?"
Anita mengangguk, "Iya, sayang. Maka dari itu tante minta tolong tangani dia dengan baik ya."
Linda tersenyum smirk menatap Guna, ia ingin mambuat Guna kesal sekarang, 'Kapan lagi melihat manusia kutub ini kesal.'
"Anak Tante yang bernama Guna berapa orang?"
Anita mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan pertanyaan sahabat kental anaknya tersebut.
"Kamu tahu tante cuman punya anak satu biji ini saja 'kan, Lin?"
'Satu biji, emang aku biji jagung?' gumam Guna kesal.
Linda semakin tertarik untuk mengusili sahabatnya tersebut, "Bukan begitu, Tan. Tadi anak Tante yang ini mengaku bahwa yang di dalam sana bukan siapa-siapanya."
"Linda!" seru Guna yang mode kesalnya semakin bertambah karena ucapan sang sahabat.
Anita menatap tajam sang anak, "Apa yang kamu bilang barusan itu, benar Linda?"
"Tante tahu kalau dari dulu aku selalu nggak pernah bisa bohong," ucap Linda sendu yang dibuat-buat. Dalam hati bersorak gembira.
"Guna, sekarang kamu siap-siap untuk memdapatkan hukuman!"
"Anita, sudah-sudah. Jangan begitu ah, sama anak sendiri!" tiba-tiba Tina menimpali Anita yang menatap tajam anaknya tersebut.
"Lihat! Calon mertuamu saja, sayang kepadamu. Kenapa kamu sedikit saja mencoba menyayangi anak gadisnya?" tanya Anita kepada Guna.
Sontak Guna berdiri menatap dua orang yang datang dengan mama papanya barusan, ia merasa takut sekarang karena jika mereka tahu kenapa Giana bisa pingsan seperti saat ini.
"Bapak Ibu, orangtuanya gadis itu?" tanya Linda.
"I-iya, Dok. Saya ibunya Giana, gadis yang ada di dalam. Gimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Tina kwatir yang tidak dapat disembunyikan, sebagai seorang ibu Tina sangat menghawatirkan anak gadis satu-satunya tersebut.
Linda tersenyum, "Anak ibu tidak apa-apa, dia baik-baik saja. Tapi ada yang mau saya tanyakan, boleh ikut saya ke ruangan sebentar? Ah, ya. Kalau kita masih salam lingkup keluarga begini tidak perlu formal manggilnya bu. Panggil Linda saja!"
"Tante ikut juga," sela Anita.
Mereka pun berlalu ke ruangan Linda meninggalkan para lelaki di depan ruangan IGD tersebut karena Giana belum dipindahkan ke ruang rawat.
Guna duduk di tengah, di apit sang papa dan papanya Giana.
Hening ....
"Sudah lama Giana tidak seperti ini, dulu sering makanya kami sangat takut, takut dia kambuh lagi!" suara papanya Giana memecahkan keheningan yang mereka ciptakan.
"Memang Giana sakit apa?"
"Giana pernah mengalami trauma karena kecelakaan, makanya melihat kendaraam yang melaju kencang atau terjadi kecelakaan di depan matanya pasti dia pingsan berjam-jam bahkan berhari-hari baru sadar," ucap papanya Giana sendu karena mengingat kondisi anak gadis semata wayangnya.
Guna tertegun mendengar cerita papanya Giana, ia semakin merasa bersalag karena sudah membuat gadis itu berada di dalam ketakutan.
'Ternyata Gadis itu punya trauma,' batin Guna.
"Apa tidak pengaruh ke psikisnya?" tanya Angga.
"Dokter hanya menyatakan kalau Giana mengalami depresi ringan saja, makanya dia sudah dinyatakan sembuh dan kami yakin dia sudah sembuh menyelesaikan Magisternya dengan nilai terbaik," jawab Prayoga.
"Ya sudah. Jangan terlalu khawatir, nanti kita sama-sama akan memantau Giana dengan baik. Bukan begitu Guna?"
Guna yang mendapat pertanyaan dari sang papa hanya mengangguk dan tidak karena ia masih ragu akan semuanya.
Sementara di ruangan Linda, sedang mengajukan beberapa pertanyaan kepada mamanya Giana.
"Tante! Boleh 'kan Linda memanggil ibu Tante biar akrab?" tanya Linda sumbringah.
Tina tersenyum lalu mengangguk, "Iya nggak apa-apa, mana enaknya saja, Dok. Eh, Lin!"
"Linda hanya ingin bilang, kalau Giana baik-baik saja. Tidak ada yang serius yang perlu dikhawatirkan namun Linda mau bertanya, apa Giana punya semacam trauma, Tan?"
Tina menunduk sedih memikirkan sang anak lalu mengangguk pelan, "Iya."
"Dulu ketika menjelang semester akhir kuliah S1 nya, Giana pernah mengalami kecelakaan, sehingga pernah depresi ringan tapi dokter sudah menyatakan bahwa Giana telah sembuh dan kami pun yakin bahwa dia sudah sembuh karena dapat menyelesaikan Magisternya dengan nilai-nilai terbaik!" cerita Tina sendu.
Anita mengusap lembut punggung sahabatnya untuk menenangkannya, ia tahu bahwa sang sahabat sedang dalam mode sedih karena anak gadis semata wayang pernah mengalami fase menyedihkan.
Tina manatap Anita dengan mata berkaca-kaca, "Ta! Apa kamu masih mau menjodohkan Giana dengan anakmu?"
Anita mengangkat alisnya heran dengan pertanyaan sahabatnya.
"Memang kenapa, pertanyaan macam apa itu?"
"Aku takut, Ta. Giana hanya bisa menyusahkan kalian, terutama Guna."
"Hei! Sekarang jaman sudah serba canggih, tidak ada yang tidak mungkin dan juga semasih kita mempunyai Allah tempat untuk melabuhkan segala harapan!"
Tina menangis, ia sangat terharu dengan ucapan sahabatnya. Anita memang terkenal perempuan cerewet tingkat dewa namun berhati lembut dan gampang mengukurkan tangan.
"Sudah-sudah! Jangan menangis terus dong, nanti aku juga ikut nangis loh."
Sementara Linda menatap haru dan senang melihat dua perempuan yang masih cantik diumurnya sekarang yang saling menyayangi dan memahami, sejenak Linda teringat akan sosok mamanya yang telah tiada sejak ia masih duduk di bangku SMP kelas satu. Sosok penyayang yang kini ia temukan dalam sosok mamanya Guna makanya Linda sangat menyayangi mamanya Guna sepenuh hati. Dan sang papa sampai sekarang memilih hidup menduda mengurus Linda dan Lily adiknya Linda yang sekarang telah menikah juga dengan pengusaha dan sekarang tinggal di Inggris.
"Tante, apa yang dibilang oleh Tante Anita itu benar, banyak berdo'a sambil kita terus memantau keadaan Giana dengan fasilitas teknologi canggih jaman sekarang,' ucap Linda sambil tersenyum ikut menenangkan Tina.
"Iya! Ta, makasih masih mau menerima Giana sebagai menantu kamu."
"Siapa yang nggak mau bermenantukan gadis cerdas dan terampil seperti Giana. Kamu belum lihat hasil tangannya selama di rumah Guna."
"Memang apa, Tante. Tanya Linda penasaran karena sudah lama juga ia tidak bertandang ke rumah sahabat esnya itu."
"Kamu tahu, Lin? Rumah anak tante itu gersang, kayak tidak berpenghuni gitu? Tapi sekarang, di bagian belakang rumah itu sudah ada taman yang penuh dengan tanaman-tanaman yang indah terus pot-pot kecil dengan berbagai bunga-bunga yang menggoda mata. Sudah asri pokoknya!" cerita Anita sumbringah.
"Wah, sudah nggak sabar pengen ke sana, Tante."
"Ada ayunan, bangku mini untuk duduk. Dan bangku-bangku tersebut Giana bikin sendiri dengan kayu-kayu bekas yang Guna simpan di gudang rumahnya."
"Kalau Giana sudah boleh pulang, Linda harus ke sana!" ucap Linda lalu terkekeh.
"Apa Giana sudah boleh pulang sekarang?"
"Belum, Tante. Besok atau lusa baru boleh, soalnya Giana masih lemah juga. Giana juga banyak kehilangan cairan karena dia juga tadi muntah-muntah kata petugas yang menjemputnya," ucap Linda.
Anita dan Tina mengangguk paham dengan ucapan Linda.
"Oh iya. Kalau bisa Giana di jaga dengan baik, hindari berkendaraan kencang atau melihat langsung orang yang kecelakaan. Dan bawa dia ke Psikiater, bukan berarti Giana gila atau apa cuman untuk membuat Giana tenang dan perlahan melupakan traumanya tersebut!" ucap Linda lembut.
"Oke, Dokter Linda Triyana yang cantik."
"Tante berdua juga sangat cantik sama kayak almarhumah mamaku."
"Anita merangkul Linda, jangan sedih di sini masih ada Tante. Jangan lupa kirim doa buat mamamu."
Mereka tersenyum lalu keluar karena mau menengok Giana. Ternyata Giana sudah dibawa ke ruang rawat, Angga meminta ruangan VVIP untuk calon menantunya itu agara mendapatkan perawatan terbaik.
"Giana sudah siuman nggak, Pa?"
"Sudah dari tadi, dia nyari mamanya," jawab Angga yang sedang duduk di ruang depan kamar inap Giana.
'Ruang inap yang lengkap bagai di rumah sendiri, pasti sangat mahal,' batin Tina.
Tina dan Anita pun bergegas masuk untuk melihat keadaan Giana yang Angga bilang sudah siuman.
Sejenak Anita membalikkan badannya, "Ah ya. Guna mana, Pa?"
"Katanya dia mau beli makanan buat kita semua, kan kita belum ada yang makan, Ma!" jawab Angga.
Anita ber oh ria, mendengar jawaban sang suami lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk lagi tanpa bersuara.