"Pulanglah, Nak!" Caroline menghubungi Sarah dan memintanya pulang. Sudah bertahun-tahun Sarah meninggalakan rumah seorang rumah seorang pembunuh berantai, kini ia kembali. Kembali menghadapi cinta yang dia miliki untuk ayahnya dan tubuh yang di kubur di sana.
Ada rahasia yang belum terungkap di dasar Mile Stone yang terkenal kejam. Sarah harus menghadapi, dan mencari tahu apa yang sebenaranya tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Ketika Sarah berusia dua belas tahun, Brandon pernah mencegat Sarah yang tengah bersepeda menuju mini market. Sarah teringat akan pesan ayahnya yang mengatakan bahwa tidak ada pria mana pun yang boleh menciumnya selain ayahnya, hingga ia menikah. Ayahnya berpesan seperti itu setelah mengetahui Brandon pernah menciumnya.
Sarah menghentikan laju sepedanya, sembari menatap Brandon waspada sembari mengmabil ancang-ancang untuk menendangnya kalau-kalau Brandon mau nyosor lagi.
Brandon pun menatap kaki Sarah yang sudah siap dengan kuda-kudanya. "Aku hanya ingin bicara denganmu," ucapnya.
Sarah menghembuskan napas lega, dan berdiri dengan santai di sepedanya.“Apa yang ingin kamu...” Sarah berhenti sebab melihat Brandon menangis. Tapi sarah tidak berusaha menyentuhnya untuk menenangkannya karena bisa jadi itu hanya tipu muslihat Brandon. Sarah menatap Brandon, menunggunya berhenti menangis dan mengatakan apa yang ingin dia katakan.
“Ayahku hilang,” ucapnya sembari menghapus air matanya. "Ayahku hilang sudah beberapa hari ini, aku pikir ayahku pergi keluar kota tapi tadi aku tak sengaja mendengar percakapan ibuku dengan polisi, rupanya ibuku sudah menghubungi polisi namun belum juga di temukan."
Sarah terkejut bukan karena kabar hilangnya ayah Brandon, sebab ternyata Brandon baru mengetahuinya padahal polisi sudah ke rumahnya beberapa hari yang lalu. “Apakah ada kemungkinan ayahmu kabur?” Sarah bertanya.
Seketika wajah Brandon berubah menjadi marah. “Maaf,” imbuh Sarah buru-buru. “Mungkin saja… ayah dan ibumu bertengkar, lalu—”
“Diam,” geramnya. “Kamu tidak boleh membicarakan hal-hal yang tidak kamu ketahui sama sekali. Ayahku tidak meninggalkan kami, dia tidak akan pernah meninggalkan Kami. Dia tidak seperti ayahmu, pasti terjadi sesuatu padanya.”
Sarah mendekat ke arah Brandon dan menarik kerah bajunya. "Hei, kenapa kau jadi bawa-bawa ayahku? Aku kan hanya bertanya padamu." Sekarang giliran Sarah yang berapi-api dan marah terhadap Brandon.
Dengan sekuat tenaga Brandon menyingkirkan tangan Sarah dari pakaiannya. "Harusnya aku tidak cerita padamu," ucapnya ketus.
"Ya, memang seharusnya kau tak cerita denganku," Sarah kembali ke sepedahnya, ia berbelok menuju rumah secepat mungkin, keinginannya untuk menikmati ice cream telah di hancurkan oleh Brandon.
Angin mencambuk rambut di sekitar wajahnya, rasanya Sarah ingin mengikatnya menjadi simpul, tapi hal itu akan memakan waktu lama, ia ingin segera sampai di rumah sehingga Sarah membiarkan rambutnya kusut.
Sarah meninggalkan sepedanya di halaman depan dan menyerbu masuk, tapi saat tiba di depan pintu kamarnya Sarah berhenti sejenak dengan tangan memegang kenop dan melihat ke pintu di sampingnya yaitu pintu ke ruang bawah tanah.
Ada getaran yang mendorong Sarah untuk masuk ke sana, tapi sebelum tangannya berpindah ke knop pintu ruang bawah tanah, Sarah mendengar namanya di panggil.
"Sarah, apa yang terjadi padamu?"
Sarah berbalik dan melihat ayahnya, ayahnya menatapnya dengan tatapan serius. “Tidak ada,” jawab Sarah. “Aku baru saja keluar, aku pikir tadinya aku mau beli ice cream di mini market tapi ternyata di luar sangat panas jadi aku balik lagi."
Ayahnya mengambil beberapa langkah ke arahnya, dia berada di antara Sarah dan pintu ruang bawah tanah. Matanya bergerak maju mundur, kiri-kanan-kiri-kanan-kiri. Menatapnya begitu dekat hingga rambut di belakang lehernya menusuk. Lubang hidungnya berkedut. “Apakah kamu yakin tidak ingin memberitahuku hal lain? Karena tak biasanya kau menyimpan sepedamu sembarangan.” Samuel bertanya dengan lembut, begitu lembut sehingga Caroline tidak akan dapat mendengarnya meskipun Caroline berdiri tak jauh darinya.
"Ya tidak ada apa-apa, nanti aku akan menyimpannya dengan benar di garasi," jawab Sarah sama tenangnya. "Tapi sekarang sebaiknya aku cuci muka dulu sebab kulitku hampir terbakar karena sinar matahari."
Tatapan ayahnya tertuju pada wajah putrinya yang berkeringat karena mengayuh sepeda dengan begitu cepat, Samuel mengangguk. "Ya, cuci mukalah. Wajahmu penuh keringat."
Sarah masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi, ia berlama-lama di sana karena sepertinya ada sesuatu yang menyumbat saluran air. Sarah menyodok-nyodok berkali-kali, namun pada akhirnya ia menyerah dan membiarkan air menggenang di kamar mandi.
Begitu Sarah keluar dari kamar mandi dan hendak keluar untuk membetulkan sepedanya Sarah mendengar sesuatu seperti benda jatuh dari ruang bawah tanah. Rasa penasaran mengusiknya, ia pun merayap ke kolong tempat tidur menuju lubang kecil yang ia buat untuk mengintip ruang bawah tanah.
Sarah memang tak dapat melihat apa pun di sana, tapi ia bisa mendengar dengan jelas suara dari dalam sana lewat lubang dan gelas kecil yang sudah ia siapkan. Sarah tercekat ketika ia mendengar suara lolongan kesakitan dari pria yang sebelumnya pernah ia dengar, tentu saja bukan suara ayahnya. Sejenak, ia mengingat-ingat suara tersebut dan kemudian ia membekap mulut dengan kedua telapak tangannya. 'Itu suara ayahnya Brandon,' pinkirnya.
Sarah menajamkan telinganya untuk memastikan suara itu namun sayangnya suara itu hilang, dan tak lama kemudian ia mendengar suara derap langkah berat ayahnya keluar dari ruang bawah tanah.
Hanya berselang beberapa menit, setelah ayahnya keluar dari ruang bawah tanah. Sarah mendengar mendengar kedua orang tuanya bertengkar hebat. Bahkan hingga ibunya berteriak dengan lantang.
Tanpa Sarah mencoba untuk mengintip dari pintu kamarnya, Sarah bisa mendengar dengan jelas apa yang ibunya teriakkan kepada ayahnya. 'Jangan bilang kau habis melakukannya lagi?' hening sejenak, kemudian Sarah mendengar ibunya berteriak lagi. 'Apa kau sudah gila? Dia itu rekan kerjamu...." suara ibunya menghilang.
Sarah menjentikan jarinya empat kali, ia mengurungkan niatnya keluar dari kamar untuk membetulkan letak sepedanya. Sarah memilih untuk bersembunyi di lemari agar ia tak mendengar apa pun. Sarah tak ingin mendengar suara lolongan kesakitan dari pria yang berada di ruang bawah tanah, ia juga tak ingin mendengar pertengkaran orang tuanya. Sarah tak ingin mendengar apa pun, dan tak ingin memikirkan apa hal aneh yang terjadi di rumahnya belakangan ini. Sarah ingin rumahnya kembali normal, seperti dulu penuh kehangatan dan cinta bukan teriakan kemarahan ibunya, bukan juga suara-suara dari ruang bawah tanah, serta sikap aneh ayahnya.
semua dibikin teka teki smpai mnuju bab2 akhir...
Ga ada clue alasan atau apa yg melatarbelakangi Samuel melakukan pesugihan/kejahatan...membuat reader mencoba menebak nebak apa yg terjadi 🤭🤭
Overrall ceritanya seru dan menarik..
pesan dari cerita ini.., hiduplah dengan rasa syukur yg telah Tuhan berikan..jangan pernah brrsekutu pada jin utk menghalalkan segala keinginan kita.
akhir yg bahagia utk mereka
tp paling tidak Sarah bs melihat wajah ibunya yg sperti dulu
Apakah ini alasan ibunya Sarah..agar sarah pergi dan jangan pulang ke rumah? agar tidak diambil darahnya...
apa dia mahluk yg menyebabkan ayahnya Sarah melakukan pesugihan..
berarti selama ini Sarah juga tauu klu ayahnya melakukan pesugihan...