NovelToon NovelToon
SECOND CHANCE

SECOND CHANCE

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta / Romansa / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:51.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

Mereka dijodohkan oleh sang Kakek sejak kecil dan direstui oleh kedua orang tua. Setelah dewasa, mereka tidak setuju dijodohkan dan melarikan diri sebelum pertunangan dilangsungkan, karena sudah punya kekasih.

Hanya berbekal sisa tabungan semasa kuliah dan sedikit keberanian, mereka lari dari rumah, meninggalkan proses pertunangan demi sang kekasih. Namun sangat menyakitkan, saat tahu kekasih mereka telah berpaling..

》Mungkinkah mereka terus berlari atau kembali pada keputusan orang tua?
》Mungkinkah ada kesempatan kedua untuk melanjutkan proses perjodohan sang kakek?

Ikuti kisahnya di Novel "SECOND CHANCE"

Selamat membaca.
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Berduka 2.

...~•Happy Reading•~...

Maya berjalan kembali mendekati orang tuanya yang masih berdiri di samping peti. Mamanya langsung menariknya untuk berdiri diantara mereka. "Ambil bunganya, lalu tabur dalam peti." Bisik Mama Maya setelah Maya berdiri di antara mereka, mencegah dia meninggalkan peti.

"Kita tidak minta izin dulu sama keluarga duka, Ma?" Maya tidak enak dengan keluarga Philemon untuk melakukan itu. Apalagi respon keluarganya tidak bersahabat padanya.

"Tabur saja." Bisik Papa Maya, agar dia tidak ragu melakukan yang diminta Mamanya.

Untuk meyakinkan Maya bahwa tidak apa-apa melakukan itu, Papa Maya mengambil keranjang bunga yang mereka letakan di bawah peti lalu berikan keranjang tersebut kepada Maya untuk dipegang.

Papa Maya mengambil bunga mawar putih dari dalam keranjang lalu tabur dalam peti, mulai dari bagian atas kepala jenazah. Papa Maya memegang kepala jenazah lama, dengan wajah yang sangat sedih.

Mama Maya juga mengambil keranjang bunga di lantai lalu beranjak ke arah bagian kaki peti, lalu menabur bunga mawar putih di bagian kaki jenazah sambil sesekali memegang kaki jenazah dan tidak berhenti meneteskan air mata.

Apa yang dilakukan kedua orang tuanya menjadi perhatian, karena antrian orang yang mengucapkan turut berduka mulai sepi. Saat Papanya memutar ke arah sisi lain peti, Maya mengikutinya sambil memegang keranjang bunga di tangan.

Yang dilakukan mereka bertiga seakan mereka adalah keluarga dekat, bukan pelayat biasa yang umumnya datang saat ada kedukaan.

Maya sempat melirik ke arah Philemon untuk mengetahui reaksi orang tuanya terhadap apa yang mereka lakukan. Namun dia terkejut, melihat Philemon sedang memandangnya dengan mata berkaca-kaca, sedangkan orang tuanya menunduk sambil menangis, sedih.

Sontak Maya mengalihkan pandangannya ke arah jenazah yang sedang dilihat Papanya. Ketika melihat wajah jenazah seakan sedang tersenyum kepadanya, Maya tertegun lalu melihat ke arah Papanya. Dia makin tertegun melihat Papanya yang ada di sampingnya, sedang meneteskan air mata.

Maya kembali melihat ke wajah jenazah, seakan sedang melihat Kakeknya sedang berbaring di sana. Butiran air mata perlahan mengalir di pipinya. dia juga menabur semua bunga di keranjangnya ke dalam peti, karena Papanya sudah terdiam sambil memegang tangan jenazah, seperti sedang memegang tangan Kakeknya.

Maya mendekati Mamanya lalu terus menabur untuk menghabiskan semua bunga yang ada dalam keranjang di sekeliling jenazah, agar tidak ada tempat kosong dalam peti yang terlihat. Hanya jenazah seorang Kakek yang berbaring tenang di antara taburan bunga mawar putih.

Sedangkan Papa Maya masih berdiri diam di samping peti. Maya kembali mendekati Papanya. "Sudah, Pa." Bisik Maya, sambil mengelus pelan lengan Papanya.

Papa Maya mengambil setangkai bunga mawar putih dari tiga tangkai bunga mawar putih yang mereka bawah, lalu diletakan di antara kaki jenazah, disusul oleh Mamanya. Maya juga melakukan hal yang sama, meletakan di antara kaki jenazah.

Sekali lagi Maya melihat ke arah jenazah Kakek yang telah berbaring di antara taburan mawar putih. Wajah itu seakan makin tersenyum, membuat Maya tercengang dan sontak memegang dadanya dengan tangan kanan. Lalu dia berjalan cepat meninggalkan peti jenazah, mengikuti orang tuanya.

Hatinya terus bertanya-tanya. 'Siapa gerangan Kakek tersebut, yang mungkin adalah Kakek Philemon. Apa hubungannya dengan Papa, sehingga Papa sangat berduka seperti saat Kakek meninggal?'

Kemudian Papa Maya diajak oleh pria yang menjemput di halaman ke tempat duduk yang telah disediakan, masih dalam area ruang keluarga duka. Maya juga baru menyadari, harum bunga mawar memenuhi ruangan duka, ketika Mamanya mengajak dia duduk. Mereka bertiga tidak berinteraksi dengan yang lain, hanya duduk diam sambil menunduk sedih.

Walau pun Maya tidak mengetahui hubungan Kakek yang meninggal dengan keluarganya, Maya jadi terbawa situasi dengan kesedihan orang tuanya dan juga seakan kehilangan Kakeknya.

"Kau mengenal dia di mana?" Tanya Mama Maya setelah mereka bisa mengendalikan hati dan rasa sedih mereka.

"Siapa, Ma? Kakek yang meninggal?" Tanya Maya yang belum mengerti maksud Mamanya. Mereka berbicara pelan sambil terus menunduk.

"Pria yang tadi kau ajak bicara." Jawab Mama Maya, pelan dan cepat.

"Ooh, Philee. Di Moro, Ma. Dia yang bantu Putri saat kaki kecekluk itu. Nanti di rumah baru diceritain." Jawab Maya pelan, karena dia tidak bisa konsentrasi.

"Putri sedang bingung. Mama lihat ngga? Tadi Kakek itu seakan sedang tersenyum melihatku. Jadi horor, tapi Putri jadi ingat Kakek." Ucap Maya pelan dan heran.

Mama Maya tidak menjawab, tapi hanya menepuk pelan kedua tangannya yang ada di pangkuan.

Suasana hati Maya tidak bisa di gambarkan. Ada rasa sedih juga senang, was-was, semuanya campur aduk jadi satu. Sehingga dia terus menunduk untuk mengendalikan perasaannya.

Dia senang bisa bertemu Philemon, tapi ada pertanyaan dalam hatinya yang sangat membingungkan. Mengapa orang tua Philemon tidak mau salaman dengannya? Padahal dia baru pernah bertemu dengan mereka. Apakah tadi aku melakukan sesuatu yang salah atau tidak sopan, saat menyapa Philemon?

Maya terus berpikir, tapi tidak mau bertanya kepada orang tuanya. Mengapa mereka juga tidak mengucapan ikut berduka kepada keluarga duka. Padahal Mama dan Papanya sangat mengenal dan merasa kehilangan Kakek yang meninggal. Banyak pertanyaan di hati dan pikirannya, membuat dia terus menunduk dan berpikir.

Maya juga menghindar untuk tidak melihat ke arah Philemon, agar orang tuanya atau keluarga Philemon yang lain tidak berpikiran negatif tentang mereka. Dia belum bisa merangkai semua yang terjadi.

"Kamayaa." Tiba-tiba Philemon memanggil namanya. Maya sontak menengadah dan melihat Philemon sudah berdiri di depannya.

"Eeh, iya, Philee." Jawab Maya pelan, tapi hatinya senang melihat Philemon datang mendekati mereka.

"Selamat malam, Tante, Om..." Sapa Philemon kepada orang tua Maya dan hendak menyalami mereka. Tetapi melihat reaksi orang tua Maya tidak merespon bahkan tidak melihat ke arahnya, Philemon menarik tangannya dan memberikan isyarat kepada Maya untuk mengikutinya.

Maya berdiri dan tanpa menengok ke arah orang tuanya. Dia berjalan cepat mengikuti Philemon yang sudah berjalan menjauhi keramaian, tapi tidak jauh dari ruang duka.

"Kamaya, aku ngga bisa ngobrol lama, karena sebentar lagi mau Ibadah. Berikan nomor telponmu padaku." Ucap Philemon langsung pada tujuannya, karena situasi tidak memungkinkan mereka berbicara santai.

"Sebentar, aku ambil ponselku." Ucap Maya dan hendak kembali ke tempat duduk orang tuanya untuk mengambil tas yang dia letakan di kursi.

"Ngga usah. Sebut saja nomornya, nanti aku hubungi." Ucap Philemom cepat, mencegah Maya beranjak darinya. Dia khawatir, Maya pulang saat Ibadah selesai dan dia belum sempat meminta nomor teleponnya.

Maya menyebutkan nomornya. "Semoga kau bisa mengingatnya." Maya berkata dengan harapan, mereka tidak hilang kontak lagi.

"Terima kasih sudah datang. Nanti aku hubungi." Ucap Philemon, lalu kembali meminta Maya mengulang nomornya, karena mereka sudah berbicara. Membuat Philemon tidak bisa konsentrasi, hingga jadi ragu dengan nomor telpon Maya yang diingatnya.

"Beb, ayoo. Itu Ibadah sudah mau mulai." Tiba-tiba suara seorang wanita mendekati mereka sambil memanggil Philemon dengan 'Beb'

Mendengar itu, Maya tersentak dan langsung melihat Philemon dangan serius. "Beb?!" Tanya Maya yang tidak bisa menahan rasa ingin tahu, karena hatinya terasa seperti terjun bebas ke jurang.

...~•••~...

...~●○♡○●~...

1
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🇮🇩
wah siapa itu, jangan jangan si lemon apa si anus😎
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🇮🇩
Jaman siti Nurbaya masih jodoh jodohkan lah ini jaman sudah berubah pak.. ngga kenal juga main dilamar aja.. ngga adaptasi dulu apa😎
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🇮🇩
ga salah ini namanya phir lemon tadi anus.. piye iki... 😎
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🇮🇩
maya sam fanus jadi. kaya tim. jerry.. lagian fanus ngapain sih maksa banget.. kan Maya jadi takut boss😎
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🇮🇩
waduh si anus ngapain sih ngintilin maya trus.. kan jadi ilfil deh dinikutin trus.. 😎
zc❖Erti 🇮🇩
kasihannnn kurang gercep kau kamaya kan jadi gak bisa hub sama lemon

apa lemon nanti pria yang dijodohkan sama kamaya
Endang Sulistia
keren
Endang Sulistia
somplak banget si maya🤣🤣🤣
Endang Sulistia
ada aja komentarmaya yg asbun...pantesan si papa kawatir..
Endang Sulistia
si Maya Nyamber aja..🤣🤣
Endang Sulistia
keren si kaya..👍🤪🤪
Endang Sulistia
tadi anus..ini lemon..🤣🤣
Endang Sulistia
🤦🤣🤣🤣🤣
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ok, ini awal2 bahasanya udah asyik ya. Jgn dibikin kaku Lg WoKeeeeeeH... Akoh Padamuuuu... 😅
melting_harmony
Luar biasa
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️🇮🇩: Waaaah... Makasih 👍❤️
Makasih dukungannya K♡ ..🙏😍🤗
total 1 replies
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Stargirl✨
Kalau orang lagi murung terus gak ngomong, yang berada dekat dengan dia bakal penuh tanda tanya pastinya
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Stargirl✨
Siapa yang tak haru melihat pemadangan seperti itu, anak yang sudah besar dan mampu bekerja dengan baik
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Stargirl✨
Maya sungguh sangat teliti ya, dia memang anak yang sangat bisa di andalkan jika seperti ini
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Stargirl✨
Ya, lagian lebih baik tak terlalu menunjukkan kekurangan kalau masih mampu. Biar gak terlalu di anggab lain
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Stargirl✨
Orang pada ricuh Maya sibuk dengan urusannya sendiri adem ayem, namanya juga masih baru hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!