NovelToon NovelToon
Derita Istri Yang Kuceraikan

Derita Istri Yang Kuceraikan

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Cerai / Cinta Beda Dunia / Penyesalan Suami / Kontras Takdir / Tamat
Popularitas:206.2k
Nilai: 5
Nama Author: Evie Everly

Amara harus menelan rasa sakit luar biasa ketika suaminya tiba-tiba menceraikan dia tanpa alasan.
Memang, Amara menyadari bahwa dirinya hanya sekedar istri kedua. Rumahnya tangganya pun baru berjalan beberapa bulan. Namun, wanita mana yang tak akan sakit saat suaminya menuding dia mengidap penyakit seksual, lalu menceraikan dirinya tanpa memberi kesempatan untuk bicara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evie Everly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

"Biandra!"

Amara terperanjat kaget dari tidurnya ketika tak mendapati bayinya berada di sampingnya. Bahkan, dia tak menyadari bahwa dirinya berada di dalam kamar yang berbeda dari semalam.

Hal pertama yang Amara ingat dalam benaknya adalah, dia baru bisa tertidur di pelukan Bian ketika mendengar sayup-sayup adzan subuh berkumandang, dan kondisinya yang masih nifas jelas tidak memungkinkan dirinya untuk menunaikan shalat subuh.

Dia tak tahu jam berapa sekarang— mengingat cahaya matahari tampaknya berupaya menembus tirai abu-abu muda yang menjuntai di jendela.

Setelah tak mendapati tanda-tanda keberadaan Biandra atau pun Bian di dalam kamar, Amara bergegas menekan tuas pintu kamar dan menariknya hingga terbuka lebar. Barulah saat itu Amara menyadari bahwa dia tidur di kamar lantai atas— meski dia sedikit pun tak bisa ingat kapan dirinya pindah ke kamar itu.

Dengan diselimuti kepanikan luar biasa karena tak mendapati keberadaan Bian di tengah ruangan yang begitu besar itu, sayup-sayup dia mendengar percakapan diiringi tawa seorang wanita dan anak kecil dari lantai bawah.

"Coba Biandra-nya tidurin di paha Alif."

"Ntaran dulu atuh, ah ... kamu mah suka nggak sabaran gitu. Ini ade kamu aja belum beres ganti bajunya."

"Ntar kalau udah cantik Alif mau gendong Biandra."

Alif?

Kepanikan Amara kian berlipat ketika teringat bahwa itu adalah nama anak Fabian. Dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, Amara berjalan setengah berlari menuju tangga.

Sambil menuruni undakan anak tangga dengan buru-buru, Amara mulai bisa melihat seorang wanita berambut sebahu dan anak lelaki kecil tengah duduk di atas permadani tebal, di dekat ruang tamu. Tentu saja Biandra ada di antara mereka.

Posisi wanita yang memunggungi arah tangga itu membuat Amara tak bisa melihat seperti apa sosok wanita itu. Keberadaan anak lelaki kecil yang Amara yakini sebagai Alif, hal itu membuat dia menebak bahwa wanita yang bersamanya kemungkinan adalah mama Alif.

"Jangan berani-berani pegang anak saya!" Amara memekik panik dan buru-buru berlari ketika terpikirkan bahwa wanita itu kemungkinan adalah Yuanita— Istri pertama Bian.

Tanpa melihat bagaimana reaksi Alif yang langsung meloncat terkejut pada wanita di sampingnya, Amara buru-buru membungkuk dan menyambar Biandra, yang bahkan belum selesai dibalut kain bedongan.

Wanita itu menatap Amara dengan terkejut, terutama saat melihat reaksi waspada ketika uAmara bergegas menjauh dari mereka.

"Amara ...," Akhirnya wanita itu bergumam dan berhasil membuat Amara menatap wajahnya.

Tanpa menghilangkan sedikit pun kewaspadaan, Amara memindai wajah wanita berhidung lancip itu. Tampak tak asing, tetapi dia jelas tak mengenali siapa wanita itu.

"Amara," kata wanita itu sekali lagi dengan ragu-ragu. Dia masih mengunci tatapan mata Amara, yang jelas-jelas memandangnya dengan kewaspadaan penuh, bahkan terkesan sangat curiga.

"Aku Mirna, kakaknya Fabian," lanjut wanita itu kemudian menepuk bahu Alif yang kini duduk di pangkuannya. "Ini Alif, anaknya Fabian. Kita cuma main sama Biandra, makanya kita sengaja dateng ke sini dari—"

"Mana Bian?" tukas Amara dengan nada tinggi, berupaya mempercayai ucapan wanita itu.

Amara bahkan tak sadar sikapnya sangat tak sopan, mungkin karena rasa takut dan kepanikan karena terbangun tanpa mendapati Biandra di sisinya.

Terutama karena kemarin dia baru saja melewati hari yang berat saat Bian membawa Biandra pergi. Dan tanpa Amara sadari, hal itu rupanya menciptakan ketakutan tersendiri, tentang kemungkinan seseorang yang akan mengambil Biandra darinya— tak peduli meski orang itu adalah Bian sendiri.

Jadi, ketika melihat Biandra bersama orang asing, tak heran jika dia bersikap garang seperti seekor singa betina, yang siap menerkam mangsanya jika berani mengambil Biandra darinya.

"Bian lagi ada urusan, bentar lagi dia pasti datang. Udah dari pagi soalnya dia pergi," kata Mirna, berupaya melipat ketidaksenangannya karena Amara terkesan begitu sinis dan tidak sopan.

Tak ada sedikit pun tanda-tanda yang menggambarkan bahwa Amara adalah wanita berhati lembut, seperti yang digambarkan Bian kemarin saat membawakan Biandra ke rumahnya.

Bahkan, Alif sejak tadi tercengang dan bergelayut pada Mirna saat melihat tatapan Amara yang begitu sengit.

"Terus kamu berani ngambil Biandra waktu saya tidur?" tanya Amara kasar, dadanya sedikit bergemuruh saat memikirkan betapa lancangnya orang itu jika sampai berani melakukan hal tersebut.

"Nggak," bantah Mirna dengan alis berkerut suram. Mirna dan Alif sudah berada di sana sejak pukul lima pagi, itu pun karena Bian yang menyuruh mereka datang ke villa. "Tadi adik saya pergi jam setengah enam. Dia yang ngambil Biandra dan nitipin ke saya, karena khawatir anak itu bakalan nangis dan ngebangunin kamu."

Amara menelan ludah dengan susah payah setelah mendengar penjelasan Mirna. Namun, tetap saja hal itu tidak mengurangi kepanikan dalam diri Amara. Bahkan, emosional asing yang meletup-letup dalam hatinya membuat dia semakin gelisah— diliputi ketakutan yang semakin menjadi-jadi.

Satu-satunya hal yang saat ini memadati benak Amara adalah, tak boleh ada satu pun yang mengambil Biandra darinya. Dan dia akan melakukan apa saja untuk melindungi Biandra, dan mempertahankan anak itu agar selalu bersamanya.

Amara melihat Mirna dan Alif sekilas, masih dengan tatapan menyelidik. Debaran jantungnya seolah berdentam tak terkendali, diliputi rasa takut, kesal, jengkel, dan cemas, juga keragu-raguan untuk mempercayai orang asing.

Untuk beberapa saat, Amara sedikit kesulitan mengatur napas yang terasa hanya sampai di kerongkongan.

Tanpa mempedulikan apakah sikapnya agak keterlaluan, Amara beranjak naik ke lantai atas, dan sesekali dia menoleh dengan waspada— khawatir orang-orang asing itu akan mengikutinya.

Setelah tiba di lantai atas, Amara langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Barulah dia mengembuskan napas panjang, dan sedikit berhasil mengurangi kepanikan yang sejak tadi menyelubungi jiwanya.

Detik berikutnya, barulah Amara tersadar bahwa di ujung ranjang berukuran besar itu sudah terpasang boks bayi yang semalam Bian belikan untuk Biandra. Kelambu putih berkain halus mengelilingi bagian atas ranjang bayi, senada dengan warna tempat tidur tersebut.

Masih sambil menggendong bayinya dengan begitu erat, Amara bergerak melangkah, lalu melongokkan kepala dan mendapati satu set kasur busa kecil dengan sprai dan sarung bantal serba pink sudah terpasang di sana, dan dia tak tahu kapan Bian merakit ranjang bayi itu untuk Biandra.

Amara masih mengamati dan mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, lalu menyadari keberadaan kabinet susun terbuka di samping ranjang.

Selain tiga pak diapers new born di samping tumpukan tisu basah dan kering, di antara partisi itu juga terdapat beberapa boks kecil berisi kebutuhan Biandra, mulai dari baby powder, minyak telon, minyak zaitun, dan parfume— dari berbagai merk, perlengkapan mandi khusus bayi disimpan terpisah dalam boks lain.

Entah kapan dan siapa yang sudah merapikan barang-barang yang semalam baru mereka beli itu.

Amara masih mengedarkan pandangan di sekeliling kamar ketika mendengar ketukan di pintu, diiringi suara bariton pria tak asing yang berkata dengan sedikit khawatir, "Amara, kenapa pintunya dikunci? Kamu nggak apa-apa 'kan, Sayang? Buka dulu pintunya, Ra."

Jadi, Amara berjalan buru-buru ke arah pintu. Sambil menggendong Biandra di antara lipatan lengan kirinya, dia memutar kunci dan menekan tuas, lalu menarik pintu hingga terbuka.

"Kamu dari mana sih? Kenapa ngasih Biandra ke orang lain?" gerutu Amara ketika mendapati Bian berdiri di hadapannya.

Amara mungkin tak sadar matanya sudah begitu bengkak, bahkan wajahnya terlihat sedikit buruk— seburuk suaranya yang sangat serak. Namun, dia bisa merasakan kelopak matanya memang terasa berat.

"Kamu kenapa udah bangun lagi? Ini baru jam sembilan pagi, kamu kurang istirahat, Ra." Bian tak berniat menjawab pertanyaan Amara, dia justru mencemaskan kondisi Amara yang tampak kacau.

"Kamu dari mana?" Amara mengulangi pertanyaannya dengan sedikit kesal. "Kenapa nggak bangunin aku kalau mau pergi, dan malah nitipin Biandra ke orang lain?"

"Dari rumah kamu, nemuin bapak kamu dan ngajak dia pergi ke penghulu. Ijab qabul lagi. Nemuin keluarga Zack, dan ngobrol supaya dia nggak ganggu kamu lagi, karena kamu dan aku ... kita udah jadi suami istri lagi."

"Hah?" Amara memekik terkejut. "Kamu gila? Kok bisa-bisanya nikahin aku kayak gitu lagi?"

"Maaf." Bian meninggikan bahu. "Kompromi sama kamu susah, jadi aku pake cara itu lagi. Jangan marah."

"Jangan marah? Sinting kamu!" Amara merasa tercekik, dan dia menatap Bian dengan tak habis pikir. "Kamu kenapa selalu ngambil keputusan sebelah pihak sesuka hati kamu gini sih? Nikahin aku dengan cara ditipu, cerein aku sesukanya, terus sekarang rujuk juga tanpa persetujuan dariku? Emang aku sebegitu nggak berharganya sampe kamu harus nikahin aku kayak gitu?"

"Justru karena kamu terlalu berharga. Makanya aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Maafin, aku maksa kamu lagi. Demi Biandra, jangan marah, ya?"

1
Elfin Mberanga
jgn sampai bian terpengaruh lagi dgn Tiara ya ,kasian bundanya biandra
Elfin Mberanga
bagus bian harus tegas jgn beri kesempatan utk pelakor walaupun itu masalalu.
Rita Nurleni
Lumayan
Rita Nurleni
Kecewa
Lestari Tari
saya punya anak hsil kesalahan juga tp anak saya nggk pernah tanya bapak nya krena nggk penting anak di luar nikah nasab nya ke ibu dan bapak biolagis nya haram hukum nya jdi wali ketika anak ak nikah nanti
Janah Husna Ugy
cerita nya jangan digantung Thor kasihan Tiffany nya,,
Rima baharudin
ibu sambungnya baik banget
cinta semu
awal baca dah serem dgn penyakit kelamin ... moga aja yg punya penyakit bukan Amara ....kasian jabang bayi ....
cinta semu
berani baca Krn sudah tamat ...🙏emang males baca kalo ceritanya gantung & g ada kejelasan ny ... terima kasih Thor ..karya u bagus sekali🥰
anti sinetron suara hati istri
ini knp ko gituch yach,pake hewan d sebut"saya paling ilfil kalau bawa"bahasa binatang,bukan contoh yang baik
Wahyu Kasep: sue ' Lo maksud nya gimana nihhh
yang jelas dong 😏
total 1 replies
aNDiaNa
Bagus kisahnya… meski ada yg ganjal ttg Tifany,, berharap bukan anaknya Bian sih.
Aqella Lindi
kk jgn ada kata anjing dong gk enak baca ny mf ya
M Holis
ku mampir Thor,mudahan crtaya bagus💪💪💪💪💪👍👍
Wisteria
ini ceritanya Casanova dpt Casanovai y kena penyakit pula
Tsalis Fuadah
ini g jelas,,,,,, bagaimanapun bian hrs tahu klo punya anak lain lepas bagaimanapun ceritanya n penyelesaiannya,,,,,,,
Safa Almira
lucunya amara
Atmita Gajiwi
/Determined//Cry//Rose//Rose//Rose/
Safa Almira
gemezxzxx
Safa Almira
amara penakluk bian hahaha
Safa Almira
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!