Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025
Rayhan Datang
Rayhan keluar dari lift.
Koridor yang tadi penuh suara mendadak seperti kehilangan udara.
Security hotel berdiri kaku. Daniel menoleh. Marco, yang beberapa detik lalu masih menghantam pintu dan berteriak, membeku dengan tangan menggantung di sisi tubuh.
Rayhan tidak bertanya kenapa ada keributan.
Matanya menyapu koridor sekali saja. Rambut Marco yang berantakan. Kerah jasnya basah. Mata merahnya. Daniel yang berdiri di depan pintu ruang meeting. Dua security yang terlambat datang. Lalu tatapannya berhenti pada pintu tertutup di belakang Daniel.
"Di mana Yola?"
Suaranya pelan.
Justru karena pelan, Budi di dalam ruangan sampai menahan napas.
Daniel menjawab lebih dulu, "Di dalam. Ada staf perempuan bersamanya. Dia aman untuk saat ini."
Untuk saat ini.
Tiga kata itu membuat rahang Rayhan bergerak.
Marco cepat menemukan suaranya. "Rayhan, kamu salah paham. Dia panik sendiri. Aku cuma mengejar karena dia lari. Daniel yang malah menyembunyikannya. Kalau orang lihat, yang aneh justru mereka berdua."
Rayhan tidak menoleh kepadanya.
"Buka pintunya."
Daniel ragu setengah detik. "Kak Yola masih takut."
"Aku tidak akan masuk kalau dia tidak mau."
Kalimat itu membuat Marco tertawa kecil, seperti menemukan celah. "Wah, sekarang kamu sopan sekali? Untuk janda kakak sendiri?"
Belum selesai ia bicara, Ardi sudah muncul dari lift berikutnya bersama Rizal. Wajah Ardi tetap datar, tetapi matanya langsung membaca posisi semua orang. Rizal menuju tangga, memastikan jalur belakang aman.
Daniel mengetuk pintu pelan.
"Kak Yola, Pak Rayhan ada di luar. Beliau minta memastikan keadaan Kak Yola. Kalau Kak Yola tidak mau membuka pintu, saya akan bilang."
Di dalam, Yola berdiri di dekat meja dengan gelas air yang belum ia sentuh. Sari belum sampai. Staf hotel perempuan berdiri di sisinya, tetapi tidak menempel. Yola mendengar nama Rayhan dan dadanya justru semakin sesak.
Ia tidak tahu mana yang lebih memalukan: dilihat Marco sebagai mangsa, atau dilihat Rayhan sebagai korban.
Namun di balik pintu, suara Marco kembali terdengar.
"Jangan-jangan memang dari awal sudah janjian."
Tangan Yola yang memegang meja berhenti gemetar.
Bukan karena takutnya hilang.
Karena marah akhirnya menemukan tempat berdiri.
"Buka," katanya.
Budi membuka pintu dari dalam.
Rayhan berdiri di ambang pintu.
Yola melihat matanya lebih dulu. Gelap, sangat tenang, dan sama sekali tidak seperti mata seseorang yang baru datang terlambat. Ia seperti membawa malam sendiri ke koridor terang hotel itu.
Tatapannya turun ke rambut Yola yang lepas, dress ivory yang kusut, pergelangan tangan yang memerah, lalu berhenti pada bahunya yang terbuka karena blazer tertinggal.
Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya selama beberapa detik.
Justru hening itu yang membuat Yola hampir mundur.
"Saya baik-baik saja," katanya otomatis.
Mata Rayhan kembali ke wajahnya.
"Kamu tidak terlihat baik-baik saja."
Kalimat itu tidak keras. Tidak menyalahkan. Tidak bertanya kenapa ia datang ke acara Celine, tidak bertanya kenapa Daniel ada di sana. Untuk pertama kalinya sejak kekacauan dimulai, tidak ada satu pun kata yang membuat Yola merasa harus membela diri.
Rayhan melepas jas hitamnya.
Gerakannya terukur. Ia berhenti setengah langkah dari Yola, lalu menatap staf hotel perempuan.
"Tolong bantu pakaikan."
Yola mengangkat mata, terkejut.
Rayhan tidak menyentuhnya.
Staf hotel perempuan menerima jas itu dan menyampirkannya ke bahu Yola dengan hati-hati. Kain jas masih hangat, berat, dan beraroma kopi hitam tipis. Yola menahan napas, bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya tiba-tiba sadar ia sudah menggigil cukup lama.
Sari tiba di belakang Rizal pada saat yang sama. Begitu melihat Yola, wajahnya runtuh.
"Nona..."
"Sari," kata Rayhan tanpa mengalihkan pandangan dari Yola. "Temani dia. Jangan biarkan siapa pun bertanya tanpa izinku."
"Baik, Pak."
Yola ingin berkata bahwa ia bisa menjawab sendiri. Namun saat Sari berdiri di sisinya, air matanya hampir naik. Ia menelannya lagi, keras-keras.
Rayhan melihat itu.
Dan sesuatu dalam wajahnya mati.
Ia berbalik.
Marco mundur tanpa sadar.
"Rayhan," katanya cepat. "Dengar dulu. Ini acara Celine. Aku diundang. Aku tidak melakukan apa pun. Dia yang histeris."
"Ardi," kata Rayhan.
"Siap, Pak."
"Amankan rekaman CCTV. Semua pintu servis. Semua lift. Nama staf yang mengarahkan Yola ke ruang ganti. Jangan ada yang keluar dari area acara sebelum diperiksa."
Celine yang baru muncul dari ujung koridor berhenti mendengar kalimat itu.
Wajahnya masih rapi. Lipstiknya masih sempurna. Tetapi matanya bergerak terlalu cepat dari Yola yang memakai jas Rayhan, ke Marco yang basah dan berantakan, lalu ke Rayhan yang tidak menatapnya sama sekali.
"Rayhan," panggilnya, berusaha lembut. "Ini pasti salah paham. Marco tamu papaku. Aku tidak tahu kenapa dia sampai ke sini."
Yola menoleh sedikit.
Suara Celine masih manis.
Tetapi untuk pertama kalinya, manis itu terdengar seperti gula yang gosong.
Rayhan akhirnya melihat Celine.
"Kamu yang mengundang Yola."
"Iya, tapi aku mengundang banyak orang. Aku tidak mungkin mengawasi semua tamu satu per satu."
"Kamu yang memisahkan asistennya."
Celine menegang. "Untuk photo session. Itu prosedur acara."
"Kamu yang mengenalkan Marco kepadanya."
"Karena Marco juga pebisnis. Rayhan, kamu tidak bisa menuduhku hanya karena Yola panik."
Nama Yola di mulut Celine membuat tatapan Rayhan bertambah dingin.
"Jangan sebut namanya."
Celine terdiam.
Marco mencoba memanfaatkan jeda itu. "Lihat? Kamu sudah tidak rasional. Semua cuma karena perempuan itu. Dia membuatmu seperti ini. Aku cuma masuk sebentar ke ruang ganti, dia langsung bertingkah seolah aku mau memaksa apa-apa."
Suara itu belum selesai ketika Rayhan bergerak.
Tidak ada teriakan. Tidak ada ancang-ancang panjang.
Satu langkah, lalu tinju Rayhan menghantam wajah Marco.
Bunyi pukulan itu membuat staf hotel menutup mulut. Marco tersungkur ke samping, menabrak dinding koridor sebelum jatuh berlutut. Security bergerak maju karena naluri kerja, tetapi Ardi mengangkat satu tangan.
Mereka berhenti.
Marco memegang hidungnya, napasnya pecah. "Kamu gila!"
Rayhan menariknya dari kerah jas, membuatnya berdiri setengah paksa.
"Di tangan mana kamu menariknya?"
Marco membeku.
Yola juga membeku.
Pergelangan tangannya yang merah seperti kembali berdenyut di bawah jas hitam Rayhan.
"Aku tidak menarik siapa-siapa!"
Rayhan menoleh ke Daniel. "Kamu lihat?"
Daniel menjawab, "Saya melihat pergelangan tangan Kak Yola merah. Saya melihat Marco mengejarnya dari tangga servis."
"Staf hotel?"
Staf perempuan di dekat pintu berkata gemetar, "Saya melihat Ibu Yola meminta kami tidak membiarkan pria itu masuk, Pak. Beliau sangat ketakutan."
Marco tertawa pendek, putus asa. "Tentu saja mereka bela dia. Semua orang bela dia. Janda itu pintar sekali main korban."
Kata itu jatuh.
Janda.
Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak.
Lalu Rayhan memukulnya lagi.
Marco jatuh ke lantai. Kali ini ia tidak langsung bangun. Darah tipis muncul di sudut bibirnya, tetapi Rayhan bahkan tidak melihat darah itu. Matanya tertuju pada tangan Marco yang menekan lantai.
Yola melangkah maju tanpa sadar. "Pak Rayhan."
Suara itu kecil, tetapi cukup untuk membuat Rayhan berhenti.
Ia menoleh.
Yola berdiri di ambang pintu, jasnya terlalu besar di bahu, wajahnya pucat tetapi matanya sadar. Sari memegang lengannya pelan, bukan menahan, hanya berjaga.
"Jangan," kata Yola.
Bukan karena ia memaafkan Marco.
Karena ia tahu satu pukulan lagi bisa mengubah perlindungan menjadi masalah yang akan dipakai orang untuk menyerang Rayhan, Liem, dan dirinya lagi.
Rayhan melihatnya lama.
Untuk sesaat, amarahnya seperti ditahan oleh satu kata dari Yola.
Marco memanfaatkan jeda itu. Ia mencoba merangkak mundur, mulutnya masih berani meski suaranya sudah pecah.
"Lihat, kan? Dia sendiri yang minta berhenti. Karena dia tahu aku tidak salah. Dia cuma takut skandalnya terbuka."
Rayhan menoleh kembali.
Jeda yang tadi menahannya hilang.
Ia berjongkok, meraih pergelangan tangan Marco, tangan yang tadi mencoba menahan tubuhnya di lantai. Marco langsung menjerit sebelum apa pun terjadi, seolah baru sadar Rayhan tidak lagi sedang memukul untuk melampiaskan amarah.
Rayhan sedang memilih hukuman.
Celine maju setengah langkah. "Rayhan, jangan. Papaku tidak akan diam kalau kamu melukai Marco di acaraku."
Rayhan tidak melepaskan tangan Marco.
"Bagus," katanya. "Suruh papamu datang."
Ardi mendekat setengah langkah. "Pak, lantai bawah sudah diamankan. Rizal menahan tamu utama di lounge. Staf yang mengantar Nona Yola ke ruang ganti sedang dipisahkan dari panitia acara."
"Pisahkan dari Celine juga."
Wajah Celine berubah. "Rayhan, kamu memperlakukanku seperti tersangka?"
Rayhan menatapnya sekilas. "Hari ini kamu tuan rumah. Pintu yang membawa Yola ke ruang ganti terbuka lewat acaramu. Marco masuk lewat acaramu. Kamu tidak perlu terlihat bersalah untuk dimintai tanggung jawab."
"Aku tidak tahu!"
"Maka diam sampai orang yang tahu bicara."
Celine seperti ditampar tanpa disentuh. Beberapa tamu yang sudah mulai naik dari tangga jauh berhenti di ujung koridor, melihat tanpa berani mendekat. Bisik-bisik kecil lahir, tetapi langsung mati saat Ardi menoleh.
Rayhan akhirnya melihat ke arah Yola lagi.
"Sari," katanya. "Kalau Yola ingin pulang, bawa dia ke mobilku. Kalau dia ingin lapor polisi malam ini, hubungi Jason. Pengacara perempuan juga harus hadir. Tidak ada yang menekan dia menjawab sekarang."
Yola memegang tepi jas di dadanya.
Di tengah koridor yang penuh tatapan, kalimat itu menahannya dari tenggelam. Untuk pertama kalinya, nasib ceritanya tidak langsung direbut orang lain.
Marco mendengus meski wajahnya pucat. "Lapor saja. Mau lapor apa? Bahwa janda keluarga Liem ketahuan sendirian dengan pria dan sekarang butuh drama untuk bersih-bersih nama?"
Koridor itu benar-benar hening.
Rayhan menunduk ke arah Marco. Suaranya rendah, setiap kata terdengar jelas sampai ke pintu lift.
"Berani sentuh dia, aku patahkan tanganmu."
up lagi, Author. banyak-banyak!😅